Share

Bocah

Author: Susi_miu
last update Last Updated: 2026-02-07 16:02:44

Mata kelabu itu perlahan terbuka mengerjap.

Moreau tersenyum lebar setelah terlalu lama menikmati pemandangan seperti ini. Abihirt tidur seperti bayi mengingat semalam; usai menemani anak – anak tidur dan mencuri kesempatan untuk kembali ke kamar utama, pria itu tidak pernah menunjukkan sikap puas.

Dia akan mengerti jika Abihirt membutuhkan sedikit waktu untuk meregangkan otot – otot yang terasa kaku, kemudian memutuskan sekadar berkata, “Kau tidur seperti kudanil.”

Tidak ada ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perjanjian Terlarang   Bicara Penting

    Sekarang ... hanya berdua. Abihirt memberi tatapan yang sudah bisa Moreau duga dengan baik. Sengaja menunggu di tempat agar pria itu mengatur situasi di sekitar. Tebakannya benar ketika Abihirt mulai mengambil posisi duduk lebih tegak.“Aku ingin kalian lebih lama di sini,” pria itu kemudian berkata. Moreau berusaha memahami jika keinginan Abihirt begitu besar. Sama seperti dia yang mulai merasa sedikit lebih nyaman berada di sini. Namun, aturannya tidak seperti ini. Tidak ada keinginan untuk mengubah sesuatu yang telah diputuskan sejak awal.“Lore dan Arias sebentar lagi akan berulang tahun. Kami tidak mungkin meninggalkan Italia terlalu lama,” ucapnya, berharap akan ada prospek bagus dari tanggapan Abihirt.Mula – mula pria itu terlihat terkejut, seolah butuh waktu lebih lama untuk memahami hari istimewa anak – anak. Setidaknya, Abihirt perlu mengerjap beberapa kali, kemudian menatap ke arahnya dengan ekspresi nyaris tak percaya.“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” pria itu b

  • Perjanjian Terlarang   Bocah

    Mata kelabu itu perlahan terbuka mengerjap. Moreau tersenyum lebar setelah terlalu lama menikmati pemandangan seperti ini. Abihirt tidur seperti bayi mengingat semalam; usai menemani anak – anak tidur dan mencuri kesempatan untuk kembali ke kamar utama, pria itu tidak pernah menunjukkan sikap puas. Dia akan mengerti jika Abihirt membutuhkan sedikit waktu untuk meregangkan otot – otot yang terasa kaku, kemudian memutuskan sekadar berkata, “Kau tidur seperti kudanil.”Tidak ada tanggapan lisan secara langsung. Abihirt hanya tersenyum—harus setidaknya Moreau akui bahwa pria itu masih cukup mengantuk. Atau sebaiknya dia membiarkan pria itu mengumpulkan lebih banyak nyawa. Meski tiba – tiba, sentuhan dari ujung jemari Abihirt malah meninggalkan reaksi tak terduga. Dia menatap pria itu skeptis. Menunggu apa yang akan dikatakan. Bukan sebaliknya menunjukkan sikap tak berdaya ketika Abihirt sudah meletakkan wajah dalam – dalam di ceruk lehernya.“Kapan kau bangun, Mom

  • Perjanjian Terlarang   Kapan Punya Adik

    “Mommy, kapan aku dan Lore akan bertemu adik kami?”Moreau hampir tersedak ludah sendiri mendengar pertanyaan Arias, yang begitu tiba – tiba di tengah gemuruh di ruang tamu. Dia langsung menatap bocah lelaki di hadapannya secara bergantian bersama Lore. Si kembar benar – benar menunggu jawaban dengan ekspresi teramat polos.Aneh. Moreau tak mengerti mengapa akhirnya mereka mengajukan pertanyaan seperti ini, karena sedikitpun tidak ada yang mengingatkan mereka tentang anggota tambahan. Dia berusaha berpikir keras. Beberapa nama pelaku menyeruak di benaknya. Spontan, Moreau melirik Abihirt. Tahu betul bahwa pria itu mendengar setiap detil pertanyaan Arias, tetapi memutuskan untuk tetap menaruh perhatian ke arah televisi. Cerita romansa tidak pernah menarik minat pria itu, apalagi hanya sekadar kartun biasa. Abihirt jelas hanya berpura – pura supaya tidak terlibat ke dalam percakapan.Moreau menipiskan bibir geram. Pelbagai kesimpulan telah membentuk bagian yang bertingkat – tingkat di

  • Perjanjian Terlarang   Tidak Pernah Terlewatkan

    Moreau menggigit bibir bawah, tanpa pernah mengira itu akan membuat Abihirt menggeram kasar. Pria tersebut kembali melumatnya; lebih rakus; penuh kebutuhan menuntut. Dia hampir kewalahan, tetapi berusaha tetap tenang. Bagaimanapun, Abihirt hanya mengambil jeda ketika menyadari Moreau hampir kehabisan napas. Mata kelabu itu masih meninggalkan hasrat membara di sana. Kebutuhan menyatukan bibir mereka masih menjadi tujuan utama, meski kali ini sedikit ditambahkan tindakan meremas payudaranya.Moreau mendesah tertahan di sela – sela ciuman mereka. Tidak menyayangkan ketika pria itu memutuskan untuk menyingkir; turun mengecup permukaan kulitnya sedikit demi sedikit, hingga wajah yang bergerak tertahan persis menghadap remasan tangan di sana.Sial. Mulut Abihirt menargetkan puncak payudaranya. Moreau menggeliat gelisah menghadapi reaksi kombo dari tindakan pria itu. Yang tidak berhenti. Sebaliknya, dia yakin Abihirt akan meninggalkan bekas kemarahan—begitu dekat di putingnya.

  • Perjanjian Terlarang   Kesempatan

    “Setelah anak – anak selesai bermain dengan Pipao, mereka akan mencariku atau mungkin akan mencarimu,” ucap Moreau, mencoba peruntungan kalau – kalau Abihirt barangkali akan mempertimbangkan kembali niat membara pria itu ... di sini.“Aku sudah mengunci pintu. Tidak perlu khawatir.”Moreau menelan ludah kasar sesaat. Masalahnya, jari – jemari Abihirt sudah menjalar dari satu sisi di tubuhnya ke satu sisi berbeda. Bahkan, kali ini pria itu telah berhasil menyibak ujung kain yang dia kenakan. Sentuhan tangan kasar di sana, membuat dia harus menahan napas sesaat.“Apa yang kau lakukan, Daddy?” tanya Moreau sekadar memancing perhatian Abihirt. Sebelah alis pria itu terangkat tinggi, seakan ada ketidaksetujuan dan memang tak ragu – ragu untuk diungkapkan. “Kau melarangku memanggilmu mommy, tapi kau sendiri ....”Ini cukup menggelitik. Moreau nyaris tak bisa menahan kekehan samar, tetapi tetap memaksa agar hanya sedikit senyum—cara awal menanggapi protes dari mulut Abihirt, sebelum akhirn

  • Perjanjian Terlarang   Putus Asa

    Nyaris tak ada kata yang dapat Moreau ucapkan ketika dia tahu ... Abihirt sudah menunggu sejak tadi. Dia mungkin membiarkan pria itu menunggu lebih lama, tetapi ini sedikit lebih baik daripada tidak pernah menemui makhluk yang menatap lapar ke arahnya dari beberapa jengkal jarak dan sedang duduk di pinggir ranjang.“Kau akhirnya setuju untuk kemari, Mommy.”Suara serak dan Abihirt akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Moreau memutar mata malas. Panggilan dari pria itu terdengar menyebalkan. Tidak seperti anak – anak yang jelas dengan senang hati dia terima dengan baik.“Bisakah kau berhenti memanggilku seperti?”Jarak mereka sudah begitu dekat. Moreau melipat lengan di depan dada, meski dia tahu setiap detil hal yang dia lakukan tak pernah luput dari pandangan Abihirt. Mata kelabu itu bahkan tak segan – segan memperlihatkan hasrat yang sedang membara.Moreau sedikit terkejut ketika tiba – tiba Abihirt menarik pinggulnya dan bagaimana pria itu memberi deka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status