เข้าสู่ระบบ“Daddy, apa Daddy mencintai Mommy?”Ini seharusnya hanya mengenai hari bahagia anak – anak. Abihirt sendiri tidak pernah berpikir akan mendapat pertanyaan yang begitu mendadak. Arias sama sekali tidak memberi petunjuk dan tiba – tiba saja, bocah lelaki kecil ... yang menatap dengan wajah polos—membuat situasi di balik punggung Abihirt terasa berbeda.Dia akhirnya bersimpuh di hadapan bocah kembar, yang masih dengan posisi siap mengemudikan sepeda. Mereka menunggu jawaban. Setidaknya, sedikit senyum tipis tak bisa dikendalikan.“Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?”Abihirt belum berpikir untuk menyerahkan jawaban jujur atau berusaha tidak mengungkapkan kebenaran. Hanya ingin menggantung bocah kembar di hadapannya ... sampai percakapan ini cenderung menjadi lebih serius. Lore dan Arias masih terlalu kecil sekadar menanyakan sesuatu seperti ini, tetapi tidak tahu siapa yang perlu disalahkan jika mereka memiliki pemikiran dewasa. Abihirt bahkan tidak yakin ap
Sepeda dengan roda empat.Agak terkejut, sebenarnya, tetapi respons tersebut tersamarkan oleh reaksi Arias, yang seketika melompat kegirangan. Begitu pula Lore. Gadis kecil itu ikut merayakan kegembiraan saudara kembarnya. Bahkan mereka ... sudah saling memeluk diliputi posisi melompat secara berulang.Pemandangan seperti ini hampir terlalu jarang. Sesekali, Moreau akan melirik Abihirt. Mencari tahu langsung bagaimana reaksi pria itu. Tidak terlalu buruk, karena dia justru mendapati Abihirt sudah begitu sibuk dengan ponsel sendiri, yang jelas – jelas sedang mengabadikan kesenangan anak – anaknya.“Alright, Princess. Sekarang selesaikan apa isi kadomu,” pria itu menambahkan setelah energi si kembar tampaknya mulai terkuras.Moreau menunjukkan respons sigap ketika Lore kembali mendekat. Gadis kecil itu begitu terburu – buru. Bungkus kertas sudah disingkirkan dan sekarang ... gilirannya untuk menggunting kardus penutup.Hadiah yang sama; respons anak – anak yang jug
Nyanyi bersama; kegiatan meniup lilin; hingga pemberian potongan kue pertama. Semua. Menyisakan perasaan paling damai yang Moreau miliki setelah dulu ... dia pernah begitu putus asa.Keberadaan Abihirt melengkapi suasana di sekitar. Setidaknya, tak lain ... ulang tahun anak – anak; yang dirayakan secara diam – diam. Tidak ada protes dari mereka. Hal yang patut Moreau banggakan karena tidak membiasakan si kembar memiliki pesta besar.Sekarang, dia harus menaruh perhatian karena anak – anaknya yang baru genap berusia lima tahun, sedang begitu sibuk bersama ayah mereka. Moreau tidak pernah ingat kapan Abihirt pergi ke suatu tempat untuk berbelanja dan pria itu memang kembali membawakan hadiah dengan bungkus paling besar.Pria tersebut menemani Lore dan Arias, ketika tangan – tangan kecil si kembar merobek setiap lapis kertas bermotif kartun—ntah atas dasar seperti apa Abihirt membungkus dua kado di sana begitu tebal. Mungkin ingin mengerjai anak – anaknya. Mereka tampak tidak sabar saat
Sekarang ... hanya berdua. Abihirt memberi tatapan yang sudah bisa Moreau duga dengan baik. Sengaja menunggu di tempat agar pria itu mengatur situasi di sekitar. Tebakannya benar ketika Abihirt mulai mengambil posisi duduk lebih tegak.“Aku ingin kalian lebih lama di sini,” pria itu kemudian berkata. Moreau berusaha memahami jika keinginan Abihirt begitu besar. Sama seperti dia yang mulai merasa sedikit lebih nyaman berada di sini. Namun, aturannya tidak seperti ini. Tidak ada keinginan untuk mengubah sesuatu yang telah diputuskan sejak awal.“Lore dan Arias sebentar lagi akan berulang tahun. Kami tidak mungkin meninggalkan Italia terlalu lama,” ucapnya, berharap akan ada prospek bagus dari tanggapan Abihirt.Mula – mula pria itu terlihat terkejut, seolah butuh waktu lebih lama untuk memahami hari istimewa anak – anak. Setidaknya, Abihirt perlu mengerjap beberapa kali, kemudian menatap ke arahnya dengan ekspresi nyaris tak percaya.“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” pria itu b
Mata kelabu itu perlahan terbuka mengerjap. Moreau tersenyum lebar setelah terlalu lama menikmati pemandangan seperti ini. Abihirt tidur seperti bayi mengingat semalam; usai menemani anak – anak tidur dan mencuri kesempatan untuk kembali ke kamar utama, pria itu tidak pernah menunjukkan sikap puas. Dia akan mengerti jika Abihirt membutuhkan sedikit waktu untuk meregangkan otot – otot yang terasa kaku, kemudian memutuskan sekadar berkata, “Kau tidur seperti kudanil.”Tidak ada tanggapan lisan secara langsung. Abihirt hanya tersenyum—harus setidaknya Moreau akui bahwa pria itu masih cukup mengantuk. Atau sebaiknya dia membiarkan pria itu mengumpulkan lebih banyak nyawa. Meski tiba – tiba, sentuhan dari ujung jemari Abihirt malah meninggalkan reaksi tak terduga. Dia menatap pria itu skeptis. Menunggu apa yang akan dikatakan. Bukan sebaliknya menunjukkan sikap tak berdaya ketika Abihirt sudah meletakkan wajah dalam – dalam di ceruk lehernya.“Kapan kau bangun, Mom
“Mommy, kapan aku dan Lore akan bertemu adik kami?”Moreau hampir tersedak ludah sendiri mendengar pertanyaan Arias, yang begitu tiba – tiba di tengah gemuruh di ruang tamu. Dia langsung menatap bocah lelaki di hadapannya secara bergantian bersama Lore. Si kembar benar – benar menunggu jawaban dengan ekspresi teramat polos.Aneh. Moreau tak mengerti mengapa akhirnya mereka mengajukan pertanyaan seperti ini, karena sedikitpun tidak ada yang mengingatkan mereka tentang anggota tambahan. Dia berusaha berpikir keras. Beberapa nama pelaku menyeruak di benaknya. Spontan, Moreau melirik Abihirt. Tahu betul bahwa pria itu mendengar setiap detil pertanyaan Arias, tetapi memutuskan untuk tetap menaruh perhatian ke arah televisi. Cerita romansa tidak pernah menarik minat pria itu, apalagi hanya sekadar kartun biasa. Abihirt jelas hanya berpura – pura supaya tidak terlibat ke dalam percakapan.Moreau menipiskan bibir geram. Pelbagai kesimpulan telah membentuk bagian yang bertingkat – tingkat di







