Mag-log in“Aku tidak tahu.”
Moreau hampir bisa mendengar sendiri betapa suara yang terungkap dari ujung tenggorokan begitu getir. Rasa takut tidak bisa dihindari begitu saja. Dia tidak punya pengalaman untuk menyembunyikan lonjakan dalam dirinya terhadap sebuah alat detektor. Akan terlalu buruk jika poligraf merekam respons tubuh yang tidak dapat dikendalikan; respons yang dipengaruhi oleh situasi tertentu. Dia yakin; ketika berada di meja sidang Barbara, semua akan menjadi sangat – sangat berbeda“Hi, Mommy. Daddy membuatkan kami sarapan yang lezat.”Sebuah pemandangan tidak biasa di pagi hari. Moreau tahu bagaimana permintaan Abihirt semalam membuatnya terbangun lebih siang. Namun, tidak pernah menduga bahwa pria itu akan terlihat sangat sibuk di dapur—masih cukup sibuk dengan penampilan seksi—yang nyaris tidak bisa membuatnya berkomentar apa pun; hanya dengan celana kain dan apron yang meliputi tubuh seksi di sana. Benar – benar menggiurkan.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Moreau setelah memberi senyum dan ciuman singkat di pipi tebal anak – anak. Sempat menanggapi pernyataan mereka, tetapi tidak dimungkiri ... dia memang langsung mendatangi Abihirt—memberi pria itu tatapan dibuat – buat, supaya mengatakan sesuatu.“Aku sedang menyibukkan diri untuk menyiapkan sarapan untuk kalian.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar tenang, saat pemiliknya sedang membungkuk sekadar memberi toping madu di atas roti panggang itu. Well, Abihirt jarang sekali b
Tuntutan untuk tetap tidur masih terus mendesak. Moreau bahkan nyaris tak menemukan cara terbaik sekadar membuka mata saat merasakan sesuatu yang halus dan menusuk di waktu bersamaan, berusaha memberikan sensasi tambahan, tetapi begitu dekat di ceruk lehernya.Dia bergumam samar; sesekali mencoba menyingkirkan sesuatu yang sangat berat, sesuatu yang terasa keras dan mengingatkannya dengan dada seseorang saat tidak sengaja menempatkan sentuhan terlalu lama di sana.“Abi, apa yang kau lakukan?”Satu pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kesadaran penuh. Namun, Moreau mencoba keras untuk merangkak ke permukaan. Sedikit yakin bahwa kali ini Abihirt memilih cara yang sebenarnya sudah sering kali pria tersebut lakukan, meski dia masih enggan membuka mata.Sapuan hangat dan basah di waktu bersamaan benar – benar tidak dapat dihindari. Pada akhirnya, Moreau memutuskan untuk membuka mata; perlahan – lahan dan menyadari suasana di dalam kamar bahkan masih begitu temaram.S
“Kau tak serius dengan keputusan untuk tidak membiarkanku menyentuhmu, kan, Mommy?”Moreau baru saja menyelesaikan ritual mandi. Sekarang sedang duduk di meja rias diliputi harapan bisa melakukan beberapa kegiatan dengan tenang; seperti memoleskan gel masker di wajah. Namun, harus mendapati Abihirt muncul diliputi ekspresi memelas.Pria itu menjulang tinggi di belakang. Moreau hanya melihat dari pantulan cermin. Tidak ada yang ingin dia katakan, sebenarnya, tetapi Abihirt adalah Abihirt. Tidak akan menyerah sampai mendapat jawaban.Moreau mendengkus. Sedikit berusaha menyingkirkan ujung jemari Abihirt yang terus menjalar di punggungnya—seperti sengaja membentuk pola acak sebagai bentuk bujukan supaya dia berubah pikiran.“Keputusanku masih sama. Jika kau tidak bisa menahan gairahmu. Kau bisa merancap sendiri di kamar mandi,” ucap Moreau setengah kesal. Abihirt bisa melihat bagaimana dia butuh waktu menyelesaikan perawatan wajahnya di sini. Bukan terus mencoba membuju
“Kau seharusnya menciumku di sini.”Masih dengan pernyataan yang sama dan kali ini Moreau bisa melihat sendiri bagaimana Abihirt menunjuk bibir sendiri untuk diberikan ciuman ringan. Rasanya, dia tidak bisa menahan diri selain mengeluarkan suara tawa yang keras. Untunglah, hanya senyum yang Moreau berikan, kemudian berkata, “Batas mencium-mu hanya satu kali. Aku sudah melakukannya,” sambil mengulurkan tangan menyentuh pipi Abihirt—tempat di mana dia menjatuhkan bibir; sesekali memberi sapuan ringan di sana.“Siapa yang bilang kalau menciumku ada batas limitnya?” Suara serak dan dalam Abihirt terdengar sedikit dengan nada geram. Akhirnya membuat kekehan Moreau mencuak samar ke permukaan.“Aku yang membuat aturan itu,” dia menjawab—sedikit harus menenangkan diri dari tawa yang perlahan – lahan menjadi lebih keras. Abihirt kembali terdengar menggeram. Benar – benar tak setuju terhadap apa pun yang dia katakan, sehingga buru – buru berkata, “Aku yang seharusn
“Apa kami sudah terlihat sangat siap untuk bersekolah, Mommy?” Tidak ada yang lebih indah dari menanggapi pertanyaan anak – anak dengan senyum. Seperti yang pernah dia bicarakan di rumah sakit; Moreau ditemani Lore dan Arias untuk membuka paket berisi keperluan sekolah si kembar. Mereka begitu senang melihat tas dan sepatu baru, bahkan tidak ragu – ragu untuk langsung mencobanya. “Kalian sangat menggemaskan. Tentu saja sudah sangat siap untuk bersekolah,” ucap Moreau, tidak hanya sekadar memberi pujian. Sebaliknya, ingin anak – anaknya bersemangat melakukan aktivitas baru mereka. Seharusnya tidak perlu ragu. Dia sendiri tahu bahwa si kembar memang sudah menunggu saat – saat seperti ini. Mereka tidak pernah mengecewakan siapa pun soal keinginan besar yang mereka miliki. “Apa yang sedang kalian lakukan?” Atmosfer terasa sedikit berbeda oleh kemunculan Abihirt. Moreau tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan tiba – tiba bergabung dengan penampilan yang masih terlihat sediki
“Mommy, kenapa setelah pulang dari rumah sakit Daddy menjadi sangat berbeda?”Sudah waktunya tidur, meski bukan sesuatu yang baru jika Moreau mendapati anak – anak mengajak bicara atau sekadar mengajukan pertanyaan seperti yang barusan Lore tanyakan. Apakah sungguh ada sesuatu yang tidak biasa dari Abihirt sehingga pria itu benar – benar meninggalkan petunjuk—tak akan bisa si kembar tahan, selain mengeluarkan semua dari isi kepala mereka?“Dia masih Daddy kalian. Apa yang berbeda?”Moreau menjatuhkan bokong persis di pinggir ranjang milik Lore, karena memang menyusul menyelimuti gadis kecil itu setelah Arias. Dia menatap si kembar secara bergantian. Posisi mereka sudah siap untuk tidur, tetapi keinginan membahas tentang ayah mereka masih terlalu besar.“Daddy tidak banyak bicara. Saat bermain pun, Daddy hanya melihat, tidak mau bergabung bersama kami. Biasanya Daddy tidak pernah menolak. Tadi harus Paman Roger yang menemani kami berdua,” tambah Arias—lebih rinci, leb
Moreau mendambakan jika dia memiliki sayap, lalu melakukan penelusuran panjang di sekitar kota – kota Dubai. menginginkan kebebasan yang mungkin akan terlalu sulit diperkirakan. Memang terdengar hampir terlalu mustahil. Sikap tegas Barbara terkadang terlalu prihatin; selalu membuatnya mengacu pad
“Jangan bergerak!” Moreau menyerahkan perintah secara naluriah usai mendeteksi gerakan menghindar yang samar dari ayah sambungnya. Dia sudah berusaha berjinjit lebih tinggi dan sikap enggan pria itu hanya akan membuat tindakannya menjadi sia – sia. “Menunduklah sedikit, Abi.” Atau
“Aku sudah bilang tidak mau.” Seperti ini lebih adil. Moreau menggigit bibir sendiri saat merasa cukup terhibur. Abihirt tidak menunjukkan kapan pria itu akan bertindak. Berharap tidak, maka dia dapat melanjutkan kebutuhan tertunda. Kali ini mungkin akan menargetkan dagu ayah sambungnya seba
“Bukankah seharusnya kita pulang? Kenapa kau malah mengajakku ke hotel?” Sejak awal Moreau sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa dari keputusan Abihirt. Hanya menunggu saat – saat paling tepat sekadar mengajukan pertanyaan. Paling tidak di sini, ketika mereka terjebak di satu kamar berdua







