LOGINSuara serak dan dalam Abihirt tiba – tiba terdengar begitu dekat. Sesaat Moreau tersentak setelah hampir tidak ada petunjuk mengenai apa yang pria itu lakukan. Jarak di antara mereka sungguh melewati batas prediksi dan ketika mencoba untuk memahami situasi yang terasa begitu gamblang, dia baru menyadari bahwa pemutaran film selesai. Derap kaki beberapa orang terduga melangkah pada satu titik meninggalkan ruang teater. Akan lebih baik jika melakukan hal serupa. Bukankah mereka tidak datang ber
[Kau tidak menganggap ancamanku dengan serius, bukan begitu?]Kening Moreau berkerut dalam membaca pesan yang mengambang di ponsel Abihirt, ketika pemiliknya sedang berada di kamar mandi. Dia bertanya – tanya ancaman seperti apa dan tidak dianggap serius? Apa yang sebenarnya sedang Abihirt hadapi? Mengapa pria itu sama sekali tidak tidak bercerita?Satu pertanyaan lain muncul. Siapa di balik pengirim pesan dengan nomor pribadi? Moreau tidak akan memiliki akses untuk mencari tahu langsung. Tidak ada petunjuk apa pun di sini. Mungkin ... jika dia bersedia mengambil keputusan penuh tekad; mengulik jawaban langsung dari Abihirt adalah pilihan paling tepat. Masih menatap ponsel itu lamat. Perhatian Moreau segera teralihkan ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Abihirt muncul dengan pemandangan yang selalu sanggup membuatnya terdiam beberapa saat. Sedikit butuh usaha keras sekadar mengerjap. Moreau mendadak gugup karena sorot kelabu Abihirt menatapnya seolah dia baru saja melakuk
“Aku dan Mommy pernah ke rumah sakit. Di salah satu gedung di rumah sakit itu pernah terjadi kebakaran. Ada begitu banyak mobil pemadam. Aku melihat para pemadam kebakaran itu bekerja dengan sigap. Mereka hebat, Daddy. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin membantu banyak orang yang berada dalam musibah.”Ketika Abihirt memberi respons dengan baik; mendukung apa pun keinginan bocah kecil mereka. Moreau diam – diam tersenyum. Tidak pernah menyangka bahwa sikap takjub Arias terhadap peristiwa yang baru saja diceritakan itu, ternyata memiliki dampak besar. Memang sempat terjadi kebakaran di rumah sakit; kejadian yang sudah cukup lama, dan hal tersebut menjadi alasan mengapa Moreau seolah dikejutkan oleh ingatan Arias yang begitu tajam.“Sekarang bagaimana denganmu, Princess. Apa cita-citamu?”Lore mungkin termenung mengamati percakapan antara saudara kembar dan ayahnya.Moreau tidak bisa menahan reaksi yang segera muncul ke permukaan setelah gadis kecil itu mengerjap. Dia
“Kau tidak berencana memasukkan Lore ke pelatihan khusus?”Suara serak dan dalam Abihirt tiba – tiba mencuak ke permukaan setelah mereka terlalu lama hanyut ke dalam permainan anak – anak. Memang secara tidak langsung terlibat, tetapi menyaksikan mereka tenang, menyusun banyak boneka di atas lantai, sudah menjadi bagian dari prospek membuat Moreau termenung.Dia mengerjap cepat sambil menatap Abihirt dengan kernyitan dalam. “Pelatihan khusus? Maksudmu?” dan bertanya. Beberapa kesimpulan sudah bersarang serius di puncak kepala, tetapi Moreau ingin memastikan kembali tujuan pria itu ketika membawa mereka ke dalam percakapan seperti ini.“Latihan ice skating mungkin?”Pertanyaan Abihirt terdengar ragu – ragu. Barangkali karena pria itu tahu pembicaraan ini terlalu mendadak. Memang sangat mendadak. Moreau sendiri tak pernah memikirkan bahwa salah satu dari si kembar akan mengikuti jejaknya. Dia hanya ingin mereka menikmati hidup seperti biasa. Tidak harus diikuti dengan latihan keras atau
Tidak tahu harus seperti apa menjelaskan suasana yang sedang dia hadapi saat ini. Di tengah keramaian ... beberapa bagian mengingatkan bagaimana dulu; begitu banyak pasang mata memandang rendah ke arahnya.Moreau juga tak bisa memungkiri ... terkadang, gemuruh bentuk dukungan penonton seakan menyeretnya ke dalam arus ketika dulu; Barbara berhasil menyeret masa untuk berada di pihak wanita itu. Dia tidak mengerti mengapa akhirnya seperti ini. Mengapa masih harus terjebak pada saat – saat, yang seharusnya tidak lagi menjadi masalah besar setelah lima tahun berlalu.Ya, semua orang memeriahkan kemenangan. Sementara, dia duduk nyaris terlalu kaku di antara kerumunan. Sulit sekali menggambarkan perasaan ekspresif, meski akan terdengar lebih adil jika Moreau berusaha berdamai dengan situasi yang pernah begitu membekas.Dia nyaris tanpa sadar mendekap tubuh Arias. Bocah kembar memang ... masing – masing berada di pangkuannya dan Abihirt. “Kau baik – baik saja?” pria itu segera berbisik, se
“Aku akan sangat merindukanmu, Amiga.”Moreau terharu saat Juan melebarkan kedua tangan, memberinya petunjuk supaya segera masuk ke dalam dekapan pria itu. Dia tersenyum; harus mati – matian menahan mata yang telah memanas pedih. Juan baru beberapa hari di sini dan rasanya keberadaan pria itu merekat terlalu pekat. Tidak ada pilihan. Perpisahan tetap menjadi ujian utama. Jadwal latihan yang padat tidak bisa membawa Juan bertahan lebih lama di sini. Turnamen sudah dekat. Moreau yakin Juan dan Olivia telah didesak untuk mencetak skor terbaik, meski pelatih mereka bukan lagi pelatih yang sama seperti pelatihnya dulu. Moreau juga tidak ingin tahu tentang kehidupan Mrs. Voudly. Tidak cukup yakin bisa hadir andai wanita itu masih berada di federasi yang sama, meski dia juga tak bisa menjamin bisa melihat aksi panggung Juan.“Kau harus janji untuk menampilkan yang terbaik,” ucap Moreau setelah mengambil beberapa langkah ke belakang, kemudian melirik ke arah si kembar yang menatap dia dan Ju
“Kau terlihat memikirkan sesuatu. Ada yang mengganggumu?” tanya Moreau pelan setelah mengenyakkan punggung ke sandaran jok. Dia memang tidak menolak ketika Abihirt mengajukan ajakan pulang bersama. Pola yang mereka hadapi selalu sama. Gabriel akan membawa mobilnya, sementara ... mereka berdua di sini. Masih dengan kebutuhan menunggu apa yang akan Abihirt katakan. Moreau akan coba mengerti jika pria itu butuh waktu sedikit lebih lama.“Tidak apa – apa. Aku mungkin kelelahan.”Senyum tipis di sana, menyiratkan sesuatu yang berbeda. Moreau tidak tahu mengapa tiba – tiba dia merasa sangat mengerti konflik perasaan yang sedang Abihirt hadapi. Firasat memberi tahu bahwa pria itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu—ntahlah—sesuatu yang berharga—sebisa mungkin darinya.“Kau yakin hanya kelelahan?” dia kembali bertanya, kemudian mendapati Abihirt mengangguk samar.Mesin mobil dinyalakan, tetapi atmosfernya benar – benar berbeda. Mengapa dia mendadak sangat takut? Benak Moreau berusaha meny
Wajah pria itu kemudian menunduk, menjatuhkan mulut di depan dada Moreau dan samar – samar geraman tertahan terdengar di sana. “Jangan nakal, Abi. Apa kau tidak lelah terus meminta hal ini dariku?” tanya Moreau, sekadar ingin tahu apakah Abihirt sering melakukan hubungan badan bersama ibuny
“Kau merasa ibuku berusaha menjerumuskanku?” tanya Moreau lambat dan pria itu segera menambahkan jawaban. “Ya.” “Mengapa ibuku harus melakukannya?” Lagi. Moreau mengajukan pertanyaan untuk melihat sejauh mana Abihirt dapat menambahkan komentar, meski tampaknya pria itu tidak berus
“Kau tidak boleh melakukan itu,” ucap Moreau sarat nada waspada. “Kenapa?” Dia terkesiap saat satu tangan Abihirt masuk ke dalaman satin, sementara telunjuk pria itu telah mencelup ke inti tubuhnya. Geraman puas ketika merasakan dia telah basah membuat Moreau seperti menghadapi masalah
“Tidak, Abi. Kau tahu aku dan Juan—“ “Dia sudah menerima uangnya. Sekarang kita pulang.” Keputusan Abihirt masih sama. Meninggalkan sesuatu yang tidak biasa Moreau singkirkan, tetapi dia merasa sangat harus. “Aku tidak mau ikut denganmu,” ucapnya, diliputi suara yang terdengar cuku







