Masuk“Aku tahu kau khawatir mengenai kondisi Abi. Tapi, buru – buru menghubungi pihak berwajib ... kurasa, bukan keputusan yang tepat. Aku tahu Abi. Dia mahir. Kau pasti juga tahu itu. Sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi. Atau mungkin ... saat Roger tiba, dia akan memberikan pendapatnya.”Sebenarnya, Moreau tidak setuju jika mereka harus menunggu lebih lama. Namun, apa pun yang Roki katakan barangkali benar. Mereka tahu Abihirt memiliki bekal ilmu bela diri. Mungkin menunggu sedikit lebih lama tidak akan menjadi masalah. Lagi pula, Roger sedang dalam perjalanan ke Italia. Mereka bisa berdiskusi intens tentang hilangnya Abihirt dan bersama – sama melakukan pencarian.“Oh, Tuhan! Moreau!”Suara teriakan Caroline terdengar menggelegar. Moreau terkejut. Secara naluriah melirik Roki untuk kemudian berlari ke halaman depan. Sebuah pemandangan tak terduga ketika mendapati Caroline tampak menahan beban berat dari tubuh Abihirt. Pria itu berjalan tersaruk – saruk dengan kead
“Senang bertemu langsung denganmu, Rowan.”Abihirt belum sepenuhnya sadar saat mendengar pernyataan Mansilo Hubber. Belakang lehernya cukup terasa sakit karena hantaman keras semalam. Bahkan, pandangan mata ke sekitar masih cukup buram untuk memahami bahwa dia sedang terikat di kursi dan terjebak di satu ruang usang bersama sekelompok orang, termasuk pria paruh baya itu—yang menjijikkan.“Persiapan nikah membuat wajahmu lebih tampan, kurasa. Aku sangat menyukainya.”Abihirt mencoba sekadar mengelak saat ujung jemari Mansilo Hubber terduga berusaha menyentuhnya. Ancaman sialan itu telah membuat hari pernikahan; hubungan bersama Moreau menjadi runyam. Apa lagi yang sebenarnya pria paruh baya tersebut inginkan?“Aku tidak punya urusan lagi denganmu. Biarkan aku pergi.”Pemberontakan keras terasa percuma ketika kondisi tubuh tak benar – benar fit untuk menghadapi situasi tak terduga. Mansilo Hubber berdecak, memberi petunjuk bahwa apa pun yang coba Abihirt lakuk
Moreau berulang kali melirik layar ponselnya yang menyimpan rekaman real time di halaman depan rumah; untuk berjaga – jaga jika ternyata Abihirt akan melakukan sesuatu yang buruk. Untungnya tidak.Malam sudah cukup larut dan dia hanya mendapati pria itu menjulang tinggi sambil menatap pintu yang menutup rapat. Sudah sekian jam Abihirt ada di sana. Seperti yang pernah Moreau katakan kepada Juan ... tidak akan butuh waktu lama bagi pria tersebut menyusul.Sebenarnya ... sempat ada ketukan pintu kali pertama Abihirt muncul. Anak – anak juga sudah begitu antusias mendapati ayah mereka ada di Italia. Namun, ego melarang Moreau untuk menuruti keinginan si kembar, termasuk keinginan di benaknya sendiri.Andai Abihirt muncul satu minggu setelah peristiwa yang masih terasa hangat ... mungkin dia akan memikirkan kembali bagaimana cara mempesilakan pria itu masuk. Sayangnya, ini tak seperti yang diharapkan. Terlalu cepat jika dia harus memaksakan diri terlihat baik – baik saj
“Setelah apa yang terjadi kemarin malam. Kau yakin akan tetap pergi, Amiga?”Mobil Juan sedang dipanaskan, sementara semua kebutuhan sudah benar – benar siap. Moreau menghela napas kasar—merasa tidak ada yang perlu diragukan lagi ketika hari ini tiba. Anak – anak bahkan terlihat sangat siap dengan pakaian menggemaskan mereka.“Tidak ada alasan yang bisa menahanku lebih lama di sini,” ucap Moreau sambil menjatuhkan perhatian lurus ke arah kaca jendela. Sampai saat ini, dia tidak pergi menemui Abihirt, karena memang memutuskan untuk tidak melakukannya.“Bagaimana dengan Mr. Lincoln jika kau membawa anak – anak kalian pergi?”Suara Juan kembali terdengar. Itu membuat Moreau secara naluriah menghela napas kasar.“Dia bukan anak kecil lagi. Kau tahu dia akan baik – baik saja,” dan menambahkan sambil menatap Juan setengah enggan.“Mengapa kau bersikeras untuk tetap pergi, bahkan setelah melihat kondisi Mr. Lincoln, yang tidak stabil dan mengerikan seperti semalam?”
“Mommy, di mana, Daddy? Kenapa kami tidak melihatnya dari tadi?”Ini yang paling tidak Moreau harapkan ketika anak – anak mulai mengajukan pertanyaan terhadap keberadaan Abihirt. Mereka seharusnya segera tidur, maka besok bisa langsung melakukan perjalanan pulang ke Italia. Semua harus benar – benar matang. Paling tidak, Moreau bersyukur bahwa Caroline tidak berusaha mengatakan apa pun sekadar menahannya tetap di sini.Banyak orang membuat kesimpulan kalau keputusan Abihirt memang tidak biasa. Sebagian berpendapat jika ada sesuatu yang menjadi sumbu utama. Mereka hanya tidak bisa menemukan petunjuk apa pun. Moreau harap dia bisa menggali informasi lebih serius, tetapi setelah semua persiapan pernikahan ... semua memang berjalan baik – baik saja. Tidak ada hal aneh yang Abihirt perlihatkan belakangan ini.“Daddy sedang sibuk bekerja, Sayang. Besok kita akan pulang ke Italia. Sebaiknya kalian segera tidur supaya memiliki energi yang cukup untuk melakukan perjalanan.”Moreau tersenyum se
“Kau yakin akan langsung pulang ke Italia, Amiga? Tidak ingin mendengarkan penjelasan Mr. Lincoln mengapa tiba – tiba membatalkan pernikahan kalian?"Suara Juan terdengar sangat hati – hati saat mengajukan pertanyaan. Seharusnya pria itu mengerti ini akan menjadi keputusan paling tepat setelah apa yang terjadi. Moreau tidak bisa menunggu lebih lama, sementara Abihirt tidak terlihat di mana pun setelah memutuskan untuk meninggalkannya seperti orang tolol yang kebingungan.“Jika memang dia ingin memberikan penjelasan. Dia pasti sudah ada di sini, Juan. Sebaiknya kau juga membantuku supaya semua selesai lebih cepat,” ucap Moreau sambil terburu – buru memasukkan pakaian Lore ke dalam koper.Sesaat, napas Juan terdengar berembus kasar sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk mengambil koper milik Arias.“Jadi, besok pagi kau benar – benar akan kembali ke Italia tanpa memberi tahu Mr. Lincoln lebih dulu?”“Dia mungkin sedang sibuk dengan urusannya. Lagi pula, tiket p
Bukan ide bagus jika melompat tanpa persiapan khusus. Moreau takut sekaligus khawatir terhadap apa yang akan terjadi kepadanya nanti. Dia menelan ludah kasar. Berjuang keras menahan debaran menyakitkan. Talu di jantungnya benar – benar melonjak brutal. Ini terlalu riskan. “Tidak ada
Moreau nyaris tak pernah memikirkan bagaimana dia harus bersikap saat mereka berada di satu ruang bersama di dekat Froy. “Karena kau tahu aku akan menikah.” Tidak masuk akal. Butuh usaha keras supaya Moreau tidak benar – benar tersulut ke dalam perasaan ganjil. Akan muncuk lebih serin
Jantung Moreau terasa karam ketika iris biru terangnya memperhatikan bahu kokoh Abihirt di meja makan. Pria itu sibuk dengan ponsel di tangan, yang segera dihentikan setelah mendeteksi, mungkin, derap kaki seseorang mendekat. Wajah tampan Abihirt separuh berpaling, nyaris menghentikan
Satu tujuan Barbara adalah mendatangi sang suami. Dia tersenyum tipis saat sebentuk bahu besar, kokoh Abihirt sudah begitu dekat. Pria itu sibuk menemani anjing yang ditinggalkan selama beberapa waktu dengan sebelah tangan mengusap bulu sewarna kecokelatan yang lembut, meski terkadang perlu sandi







