MasukSuara Barbara sudah setengah kesal. Betapa dia berusaha keras tidak meledakkan kemarahan terhadap beberapa kekonyolan Froy. Prasangka buruk membuatnya hampir turut memikirkan hal – hal tidak semestinya, tetapi kali ini tidak akan lagi terjerembab ke dalam urusan tidak menyenangkan. Abihirt sudah menegaskan bahwa pria tersebut tidak memperhatikan seseorang dari rupa kecantikan. Mereka menikah, itu yang harus selalu di jaga.
“Tapi, Bibi—“ Bagaimanapun, tampaknya Froy masih berusaha“Kau terlihat memikirkan sesuatu. Ada yang mengganggumu?” tanya Moreau pelan setelah mengenyakkan punggung ke sandaran jok. Dia memang tidak menolak ketika Abihirt mengajukan ajakan pulang bersama. Pola yang mereka hadapi selalu sama. Gabriel akan membawa mobilnya, sementara ... mereka berdua di sini. Masih dengan kebutuhan menunggu apa yang akan Abihirt katakan. Moreau akan coba mengerti jika pria itu butuh waktu sedikit lebih lama.“Tidak apa – apa. Aku mungkin kelelahan.”Senyum tipis di sana, menyiratkan sesuatu yang berbeda. Moreau tidak tahu mengapa tiba – tiba dia merasa sangat mengerti konflik perasaan yang sedang Abihirt hadapi. Firasat memberi tahu bahwa pria itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu—ntahlah—sesuatu yang berharga—sebisa mungkin darinya.“Kau yakin hanya kelelahan?” dia kembali bertanya, kemudian mendapati Abihirt mengangguk samar.Mesin mobil dinyalakan, tetapi atmosfernya benar – benar berbeda. Mengapa dia mendadak sangat takut? Benak Moreau berusaha meny
Tidak ada keinginan murni untuk mengirimkan foto memalukan miliknya secara suka rela. Namun, Abihirt mengerti bagaimana Moreau akan marah jika dia tidak setuju. Gambar yang baru saja diambil sudah dikirim, dan sekarang merupakan momen paling menyenangkan untuk mengamati setiap detil tindakan yang Moreau lakukan.Satu bagian penting. Abihirt tidak pernah melewatkan kesempatan saat memperhatikan bagaimana pinggul itu bergerak seksi. Moreau benar – benar hampir membuatnya tak bisa menahan diri dan menjadi sedikit tidak waras.Tak bisa menyangkal bahwa pengaruh Moreau memang besar. Sesekali mereka akan melakukan kontak mata saat iris biru terang di sana dengan sengaja melirik ke arahnya. Tidak ada protes, tetapi Abihirt bisa melihat bagaimana Moreau sengaja melotot tajam.Sialnya, dia hanya tersenyum konyol. Berusaha melupakan bahasa isyarat yang melambung ke udara. Ironi. Tidak dibutuhkan waktu lebih lama untuk membuat Abihirt menyadari satu hal.Dia nyaris terpaku menyadari gelombang ba
“Kuku yang bagus, Daddy. Dari mana kau mendapatkannya?” Meski Moreau cukup keberatan melihat keberadaan Abihirt. Dia tetap tak bisa menolak satu pemandangan menggemaskan di hadapannya. Lore dapat dipastikan telah melakukan sesuatu sebelum pria itu bisa melarikan diri; sekadar memesan minum atau meminta dia duduk lebih lama di sini. Mereka berhadapan. Cara Abihirt mengamati kuku tangan sendiri tidak dapat dimungkiri. Ada rasa kesal, tetapi juga semacam suatu kebanggaan ketika pria itu berkata, “Dari little princess, dia mengaku tidak ingin tidur jika belum melakukan ini.” Sebelah alis Moreau terangkat tinggi. Bertanya – tanya tindakan apa saja yang sudah dilakukan anak – anak saat dia tidak di rumah? Mereka senang bermain. Moreau tahu. Menyimak itu sebagai proses di mana Abihirt menjadi kewalahan dan harus menunggu saat – saat paling tepat sekadar berada di sini. “Sekarang anak – anak sudah tidur?” tanyanya sambil menyelidik. Abihirt sempat memberi gestur tak acuh sebelum
“Dia mengambil sepedaku.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar di antara teriakan anak – anak yang berusaha mengejar Juan. Harus Moreau akui bahwa ini adalah pemandangan—nyaris tidak pernah dia dapatkan; Lore dan Arias begitu menggemaskan saat sedang tersulut keinginan mengejar posisi Juan di depan. Ntah bagaimana pria itu melihat keberadaan sepeda Abihirt dan memutuskan untuk menaikinya tanpa izin.Sambil tersenyum, Moreau menyentuh lengan pria yang masih menjulang tinggi di sampingnya. Mereka sama – sama terbangun dengan keadaan—persis terakhir kali sebelum tertidur; bertelanjang, berantakan, dan akhirnya dia harus mengambil tindakan cepat, sebelum terlambat. Sebelum Abihirt kembali meminta sesuatu yang sudah pria itu dapatkan.Dan di sini. Berada di depan pintu rumah dan menyaksikan pemandangan menenangkan di pagi hari, Moreau tak ingin Abihirt melakukan sesuatu, selain tetap bersamanya.“Juan hanya memakai sebentar. Lagi pula, dia menemani Lore dan Arias bermain. Meminjamkan se
Tubuh mereka sama – sama gemetar. Ini bukan kali pertama Abihirt mengeluarkan bagian dalam diri pria itu ke dalam tubuhnya. Ada sedikit ketakutan bahwa dia mungkin akan hamil, tetapi bagaimana Moreau bisa menolak kehadiran bayi lucu lagi ketika dia melahirkan nanti? Sebuah pertanyaan yang tanpa sadar membuat dia tersenyum konyol. Seharusnya tidak berpikir sejauh ini, karena bagaimanapun ... kesiapan harus selalu berada di kedua belah pihak. Namun, Moreau juga tidak akan memungkiri pertanyaan anak – anak beberapa waktu lalu. Sekarang cukup penasaran dengan pemikiran Abihirt. “Kau tidak takut aku hamil?” Dia tak bisa menahan diri lebih lama dan bertanya. Ada jeda beberapa saat, seolah Abihirt butuh waktu berpikir, meski akhirnya pria itu bertanya, “Hamil?” Moreau mendengkus. Sepertinya Abihirt terlalu fokus dengan kesibukan di kantor, sehingga apa pun yang menjadi kemungkinan di antara mereka nyaris tidak terpikirkan. “Yang kutahu, kau tidak melakukannya
Abihirt masih menunggu. Betapa tidak sabar pria itu, yang langsung menyusupkan jari – jari tangan sekadar menjambak rambutnya, tetapi cukup pelan; memberi Moreau petunjuk supaya melakukan sesuatu—secara tidak langsung telah mereka sepakati.Kenyataan bahwa dia pelan – pelan menyingkirkan jarak antara bibir dan permukaan perut Abihirt, membuat pria itu menggeram singkat, yang tertahan di udara ketika Moreau menjulurkan lidah sekadar menjilat tubuh seksi di hadapannya, meski tindakan yang dia lakukan menjadi kecupan – kecupan ringan.Sesekali Moreau akan menengadah hanya untuk mendapati bagaimana Abihirt menikmati setiap tindakan yang dia lakukan. Tangannya tak diam. Mulai membuka resleting celana kain di sana. Abihirt mungkin sedikit terkejut, tetapi pria itu mengerti sisanya. Prospek yang membuat Moreau sedikit ragu, meski dia benar – benar mengambil keputusan penuh tekad sekadar menggenggam bagian dari tubuh Abihirt; mengurut pria itu, sampai kejantanan di sana membengkak mantap.Ab
“Manggamu masih cukup banyak. Kau keberatan jika aku menaruhnya di kulkas?” Abihirt bertanya lambat. Tidak ada tanggapan. Dia setengah menunduk, tetapi mendapati mata Moreau sudah menutup rapat. Gadis itu benar – benar tertidur dengan nyaman, sedikit memberi peringatan agar Abihirt bergerak
“Kau membuatku takut ....” Akhirnya, sekarang Moreau bisa mendengar bagaimana suaranya nyaris terdengar bergetar. Dia menatap Juan sangat ragu, kemudian melipat tangan di atas meja. Mereka seharusnya menikmati saat – saat selesai latihan dengan tenang di restoran ini. “Saranku, sebaikny
Berulang kali kelopak mata Moreau mengerjap oleh sulur – sulur suara yang merambat semakin jelas saat dia akhirnya menatap ke sekeliling ruangan. Tidak ada perubahan signifikan. Hanya beberapa bagian, setidaknya, terlihat sedikit lebih rapi setelah dia melakukan penataan ulang. Moreau mereg
“Kau sangat manis.” Suara serak dan dalam Abihirt bahkan terdengar parau. Ujung jemari pria tersebut menyapu lembut di bibir bawahnya. Ada sedikit tekanan, yang mengunci iris biru terang Moreau untuk tidak meninggalkan perhatian dari mata kelabu itu—ketika memerangkap hingga dia nyaris tengg







