INICIAR SESIÓN“No. Daddy tidak boleh pulang. Kenapa Daddy tidak tinggal di sini saja bersama kita? Kami belum puas main bersama Daddy.”
Itu adalah sisa ingatan di benak Moreau mengenai permintaan anak – anak kepada Abihirt. Dia pikir, mantan suami Barbara akan benar – benar kembali ke Spanyol saat meminta izin Lore dan Arias supaya mengizinkannya pergi.Ternyata tidak.Semua pemandangan di klub tempat dia bekerja sudah menjelaskan semua. Pria itu di sini. Memesan bir“Mommy, di mana, Daddy? Kenapa kami tidak melihatnya dari tadi?”Ini yang paling tidak Moreau harapkan ketika anak – anak mulai mengajukan pertanyaan terhadap keberadaan Abihirt. Mereka seharusnya segera tidur, maka besok bisa langsung melakukan perjalanan pulang ke Italia. Semua harus benar – benar matang. Paling tidak, Moreau bersyukur bahwa Caroline tidak berusaha mengatakan apa pun sekadar menahannya tetap di sini.Banyak orang membuat kesimpulan kalau keputusan Abihirt memang tidak biasa. Sebagian berpendapat jika ada sesuatu yang menjadi sumbu utama. Mereka hanya tidak bisa menemukan petunjuk apa pun. Moreau harap dia bisa menggali informasi lebih serius, tetapi setelah semua persiapan pernikahan ... semua memang berjalan baik – baik saja. Tidak ada hal aneh yang Abihirt perlihatkan belakangan ini.“Daddy sedang sibuk bekerja, Sayang. Besok kita akan pulang ke Italia. Sebaiknya kalian segera tidur supaya memiliki energi yang cukup untuk melakukan perjalanan.”Moreau tersenyum se
“Kau yakin akan langsung pulang ke Italia, Amiga? Tidak ingin mendengarkan penjelasan Mr. Lincoln mengapa tiba – tiba membatalkan pernikahan kalian?"Suara Juan terdengar sangat hati – hati saat mengajukan pertanyaan. Seharusnya pria itu mengerti ini akan menjadi keputusan paling tepat setelah apa yang terjadi. Moreau tidak bisa menunggu lebih lama, sementara Abihirt tidak terlihat di mana pun setelah memutuskan untuk meninggalkannya seperti orang tolol yang kebingungan.“Jika memang dia ingin memberikan penjelasan. Dia pasti sudah ada di sini, Juan. Sebaiknya kau juga membantuku supaya semua selesai lebih cepat,” ucap Moreau sambil terburu – buru memasukkan pakaian Lore ke dalam koper.Sesaat, napas Juan terdengar berembus kasar sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk mengambil koper milik Arias.“Jadi, besok pagi kau benar – benar akan kembali ke Italia tanpa memberi tahu Mr. Lincoln lebih dulu?”“Dia mungkin sedang sibuk dengan urusannya. Lagi pula, tiket p
Mereka sedang berjalan menuju altar. Itu hal yang sama sekali tidak pernah Moreau pikirkan akan berjalan lancar. Dia sesekali melirik Juan, dan bagian paling penting ... adalah Abihirt yang sedang menunggu dengan wajah tampan.Saat jarak sudah semakin dekat; Moreau sedikit menyadari bahwa sang mempelai pria berusaha untuk tidak menunjukkan sikap emosional, walau sepertinya Abihirt nyaris tak bisa melakukan itu. Harus dengan Roger menyerahkan selembar tisue dan pemandangan tersebut membuat Moreau benar – benar seperti baru saja diledakan oleh sesuatu yang dipikir ... terlalu mustahil. Seharusnya, terhadap segala bentuk usaha yang pernah dilakukan. Dia tidak perlu meragukan hubungan mereka. Bukankah Abihirt baru saja menunjukkan sikap bahwa pria itu memang sangat ingin menikahinya?Ya, ini hari penting—yang seharusnya tak perlu melibatkan masa – masa kelam seperti dulu. Moreau tidak ingin mengacaukan apa pun. Sudut bibirnya melekuk lebar ketika sudah begitu dekat. Juan pe
“Damn! Aku tidak menyangka kalau ternyata tiga bayi di perutmu tidak membuatmu terlihat buruk dalam balutan gaun pernikahan.”Moreau tersenyum ketika mendengar suara Juan berkomentar dengan antusias. Pria itu sudah menyusul di sini, yang artinya ... pernikahannya akan segera dimulaiAtau mungkin tidak. Dia mengernyit sesaat ketika jam digital di atas nakas membuktikan keberadaan Juan 30 menit lebih awal dari seharusnya. Pria itu perlahan berjalan lebih dekat. Secara naluriah pula Moreau beranjak bangun sekadar membuat mereka berhadapan.“Apa upacara pernikahan akan dimulai lebih awal?” tanya Moreau sedikit dengan nada gugup. Tidak tahu mengapa momen penting terasa seperti gencatan senjata yang justru akan dengan mudah meremuk-redamkan jantungnya. Dia berdebar keras setiap kali mengingat bahwa nanti—di atas altar—bersama Abihirt ... mereka akan mengucapkan janji pernikahan. Takut ada kesalahan bicara. Padahal, dia sudah melakukan latihan serius selama beberapa h
Abihirt benar – benar membuktikan kata – katanya untuk meminta pendapat. Sekarang, Moreau sendiri hampir terlalu bingung memilih dekorasi seperti apa, yang tidak berlebihan, tetapi anak – anak juga harus menyukai setiap detil acara. Iris biru terang Moreau masih terlalu serius memperhatikan ide visual dari setiap lembar buku yang dia singkirkan. Harus diakui ... nyaris belum ada yang sanggup menarik seleranya; sampai di beberapa halaman terakhir; perhatian Moreau tertahan. Ujung jemarinya secara naluriah menyentuh bunga dalam tampilan dua dimensi di sana.Putih menggambarkan sesuatu yang murni. Akan sesuai dengan keinginan mereka. Dia segera tersenyum dan menatap Abihirt di sampingnya.“Bagaimana dengan yang ini? Sedikit bunga, tapi Lore dan Arias akan melihatnya sebagai hiasan yang indah. Mereka pasti akan sangat suka.”Tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Moreau hanya tidak mengerti mengapa Abihirt memperlihatkan ekspresi diam—cenderung menyimpulkan sesu
Moreau sedikit tersentak saat cairan Abihirt menyebur ke permukaan perutnya. Mereka saling menatap dengan embusan napas yang saling bertaut ke udara. Dia curiga Abihirt akan mengambil kesempatan untuk kembali memasukinya. Pria itu tidak akan pernah puas.Dan cara yang tepat untuk mengalihkn perhatian Abihirt adalah memulai percakapan.“Aku lupa memberitahumu kalau Juan ingin menjadi ayah baptis untuk anak – anak kita,” dia berkata dengan hati – hati setelah Abihirt menjatuhkan tubuh ke samping dan mengambil kesempatan mendekapnya erat.Jelas tidak ada tanggapan langsung. Moreau mengerti jika Abihirt butuh waktu sekadar menenangkan diri. Meski mulut pria itu terasa benar – benar dekat di bahunya ketika memberi tanggapan.“Bukankah aku sudah bilang kalau Roger yang akan menjadi ayah baptis untuk anak – anak kita?”Moreau sedikit meringis sebagai isyarat bahwa dia masih sangat mengingatnya. “Ya, aku tahu. Tapi, kita akan punya tiga bayi kembar. Juan bisa memili
Lima tahun kemudian....“Lore, jangan ke mana – mana. Mommy akan pergi temui dokter. Kau tunggulah di sini. Caro sedang membeli es krim. Dia tidak akan lama.”Rumah sakit menjadi persinggahan paling sering, tetapi Moreau tidak pernah mengeluh. Dia tetap bahagia bisa hidup d
Itu mereka .... Sedang bersiap – siap melakukan perjalanan ntah ke mana. Abihirt bisa melihat sendiri bagaimana anak – anak begitu antusias, walau kemudian ... tidak pernah melepaskan perhatian di sana. Pada setiap bentuk tindakan yang Moreau lakukan saat sedang menyiapkan topi kecil di k
Pemandangan di hadapannya seperti suatu semburan yang menghentikan saraf di tubuh Moreau supaya berhenti bekerja. Tidak. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Dia berharap pria itu tidak pernah begitu lama di Italia, tetapi sekarang … mereka terperangkap di satu tempat yang sama; bar di
Mata kelabu Abihirt menatap lurus pada beberapa informasi yang dicetak jelas di atas lembaran kertas. Betapa perlu menunggu nyaris seminggu untuk menghadapi saat – saat seperti ini. Saat di mana dia hampir tanpa sadar tersenyum. Rasanya seperti menghadapi sesuatu meledak dengan bunga bertebaran







