Share

Bab 35. Denial

Author: Just Mommy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 08:02:39

"Jangan lupa, di luar sana ada ribuan wanita yang mengantre dan memohon untuk bisa berada di posisimu. Jangan pernah menggangguku atau mencari tahu siapa wanita bersamaku lagi. Mulai detik ini, kamu bukan siapa-siapa lagi di hidupku!”

"Julian! Jangan tutup! Julian—"

Klik!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 159

    Julian tampak kesal karena kesenangannya diganggu. “Apa dokter tidak tahu cara mengetuk pintu?” sindirnya tajam. Brian dan Leon langsung membeku sejenak. Namun kemudian Brian terkekeh. “Wah, kalau begini sepertinya Pak Julian sudah benar-benar sehat,” balasnya. Elena langsung memelototi kekasihnya itu. Dia malu karena sikap Julian terlalu ketus. Julian pun berbaring malas. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Brian. Dokter itu sampai terkekeh melihat sikap sahabatnya tersebut. “Nona Elena sepertinya harus belajar kedokteran. Supaya bisa mewakili saya memeriksa kondisi Pak Julian.” “Ck! Sudahlah, cepat!” keluh Julian, kesal. Akhirnya dia menatap Brian. Sang dokter pun seraya memeriksa pupil mata dan detak jantung pria itu. "Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Elena cemas, meremas jemarinya sendiri. "Tekanan darahnya sedikit tinggi karena emosi yang melonjak tadi, tapi fungsi organ vitalnya stabil secara ajaib," terang Dokter Brian. Ia lalu menoleh ke arah perawat pendamping y

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 158

    Suara bentakan Julian menggelegar. Membuat dinding koridor seolah ikut bergetar. “Kamu berani membentakku hanya karena jalang ini?” protes Helena, dramatis.Pria itu melindungi tubuh Elena di belakang punggung tegapnya, menatap ibunya dengan kilatan membunuh yang tak lagi bisa ditoleransi.“Ya! Kenapa? Apa aku harus takut pada orang yang telah menelantarkanku?” balas Julian tanpa ragu.“Menelantarkan? Kamu tidak paham apa arti kata menelantarkan, hah?”Julian enggan berdebat. "Pergi dari sini sekarang!" desis pria itu dengan napas memburu, menunjuk ke arah lorong keluar. "Bawa semua pengawalmu dan Amanda keluar dari rumah sakit ini.”“Kalau sampai dalam waktu lima detik wajahmu masih ada di depan mataku, aku pastikan seluruh akses keuangan dan fasilitas atas nama keluarga Wardana yang kamu nikmati akan kucabut hari ini juga!"Helena membeku kaku. Ancamannya kali ini bukan gertakan belaka. Ia tahu betul betapa dingin dan tanpa ampunnya Julian jika batas kesabarannya sudah habis."J-J

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 157

    Suara baritone, dingin, berat, dan dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat membelah udara di koridor tersebut.Suara itu bagaikan guntur yang menghantam bumi.Tangan Helena mendadak membeku kaku di udara, hanya beberapa sentimeter dari pipi Elena. Tubuh wanita paruh baya itu gemetar seketika, matanya membulat sempurna dipenuhi ketakutan luar biasa. Amanda di sampingnya menutup mulut dengan kedua tangan. Wajahnya memucat bagai mayat.Elena membuka matanya perlahan, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa mau melompat keluar. Ia memutar tubuhnya ke arah datangnya suara.Tak jauh darinya, berdiri tegap seorang pria tinggi besar dengan pakaian pasien rumah sakit yang longgar. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangannya memegang tiang infus besi beroda yang diseretnya perlahan. Wajahnya masih pucat pasca-koma. Namun sepasang mata tajamnya menyala-nyala oleh amarah murka yang siap menerkam siapa saja."J-Julian?" gumam Helena gagap, suaranya menciut drastis. "Kamu? Kenapa kamu

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 156

    Perlawanan Elena # Leon berlutut di samping kursi Elena, menatap mata gadis itu dengan kesungguhan dan ketegasan penuh untuk memberikan ketenangan. "Nona, dengarkan saya," ujar Leon dengan nada mantap. "Kita memang terdesak hari ini, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Kita hanya perlu menanti beberapa hari lagi." "Menunggu?" cicit Elena. "Ya, menunggu," tegas Leon. "Pak Julian baru saja bangun dari koma panjang. Kondisi fisiknya pasti masih sangat lemah dan kesadarannya belum pulih seratus persen. Efek obat bius dan trauma pasca kecelakaan tentu membuat otak dan tubuhnya butuh waktu untuk stabil." "Percayalah pada saya, Nona. Begitu kondisi Pak Julian membaik dan tenaganya pulih, hal pertama yang akan beliau lakukan adalah mencari Anda dan saya. Pak Julian bukan pria yang bisa didekte atau dikendalikan oleh ibunya begitu saja. Jika beliau sudah bersuara dan menuntut keberadaan Anda, Nyonya Helena tidak akan punya alasan lagi untuk menghalangi." "Kamu yakin Julia

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 155

    Kejadian hampir terbongkarnya perawat misterius hari itu membuat paranoia di kepala Helena semakin tinggi. Kecurigaannya bahwa Elena menyusup masuk ke rumah sakit untuk menemui putranya semakin menggebu-gebu. Pagi harinya, suasana di lantai lima ICU VIP berubah total menjadi bak benteng pertahanan yang ketat. "Nyonya Besar memperketat penjagaan hingga sepuluh kali lipat," bisik dokter Brian saat menemui Elena dan Leon secara tersembunyi di ruang konsultasi. Wajah dokter senior itu tampak sangat serius. "Maksud dokter?" tanya Elena cemas, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. "Nyonya Helena menempatkan empat pengawal pribadi tepat di depan pintu kamar Pak Julian," terang dokter Brian. "Dan yang lebih parah, Nyonya Besar memberi instruksi yang tidak bisa diganggu gugat.” “Setiap tenaga medis, baik dokter, perawat senior, maupun petugas sanitasi, yang hendak melangkah masuk ke kamar Pak Julian .... ... wajib melepaskan masker dan menurunkan pelindung wajah di depan

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 154

    "Dasar tidak tahu diri!"Helena melangkah lebar dengan napas memburu. Tanpa memberi kesempatan bagi sosok bertubuh mungil itu untuk bergeming.Tangan Helena berhias cincin berlian melayang, mencengkeram bahu sang perawat. Menyentaknya kasar hingga tubuh Elena terputar balik menghadapnya."S-saya, saya bisa jelaskan, Nyonya!" jawab Elena dari balik maskernya. Suaranya gemetar parah, matanya terbelalak ketakutan seraya berusaha tetap menunduk."Jelaskan apa, hah?" bentak Helena. Dia masih belum menyadari bahwa itu adalah Elena."Mataku tidak buta! Kamu menempelkan wajahmu di dada putraku dan memeluknya! Apa yang kamu lakukan pada Julian?""Saya tidak bermaksud melanggar batas, Nyonya!" sahut Elena cepat, otaknya berputar keras mencari celah di tengah kepanikan yang nyaris melumpuhkannya. "S-saya sedang memeriksa kondisi jantung Pak Julian!""Memeriksa jantung?" cemooh Amanda yang berdiri di samping Helena dengan senyum merendahkan. "Pakai cara memeluk begitu? Jangan membodohi kami!""

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status