Share

Bab 35. Denial

Penulis: Just Mommy
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 08:02:39

"Jangan lupa, di luar sana ada ribuan wanita yang mengantre dan memohon untuk bisa berada di posisimu. Jangan pernah menggangguku atau mencari tahu siapa wanita bersamaku lagi. Mulai detik ini, kamu bukan siapa-siapa lagi di hidupku!”

"Julian! Jangan tutup! Julian—"

Klik!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 158

    Suara bentakan Julian menggelegar. Membuat dinding koridor seolah ikut bergetar. “Kamu berani membentakku hanya karena jalang ini?” protes Helena, dramatis.Pria itu melindungi tubuh Elena di belakang punggung tegapnya, menatap ibunya dengan kilatan membunuh yang tak lagi bisa ditoleransi.“Ya! Kenapa? Apa aku harus takut pada orang yang telah menelantarkanku?” balas Julian tanpa ragu.“Menelantarkan? Kamu tidak paham apa arti kata menelantarkan, hah?”Julian enggan berdebat. "Pergi dari sini sekarang!" desis pria itu dengan napas memburu, menunjuk ke arah lorong keluar. "Bawa semua pengawalmu dan Amanda keluar dari rumah sakit ini.”“Kalau sampai dalam waktu lima detik wajahmu masih ada di depan mataku, aku pastikan seluruh akses keuangan dan fasilitas atas nama keluarga Wardana yang kamu nikmati akan kucabut hari ini juga!"Helena membeku kaku. Ancamannya kali ini bukan gertakan belaka. Ia tahu betul betapa dingin dan tanpa ampunnya Julian jika batas kesabarannya sudah habis."J-J

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 157

    Suara baritone, dingin, berat, dan dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat membelah udara di koridor tersebut.Suara itu bagaikan guntur yang menghantam bumi.Tangan Helena mendadak membeku kaku di udara, hanya beberapa sentimeter dari pipi Elena. Tubuh wanita paruh baya itu gemetar seketika, matanya membulat sempurna dipenuhi ketakutan luar biasa. Amanda di sampingnya menutup mulut dengan kedua tangan. Wajahnya memucat bagai mayat.Elena membuka matanya perlahan, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa mau melompat keluar. Ia memutar tubuhnya ke arah datangnya suara.Tak jauh darinya, berdiri tegap seorang pria tinggi besar dengan pakaian pasien rumah sakit yang longgar. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangannya memegang tiang infus besi beroda yang diseretnya perlahan. Wajahnya masih pucat pasca-koma. Namun sepasang mata tajamnya menyala-nyala oleh amarah murka yang siap menerkam siapa saja."J-Julian?" gumam Helena gagap, suaranya menciut drastis. "Kamu? Kenapa kamu

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 156

    Perlawanan Elena # Leon berlutut di samping kursi Elena, menatap mata gadis itu dengan kesungguhan dan ketegasan penuh untuk memberikan ketenangan. "Nona, dengarkan saya," ujar Leon dengan nada mantap. "Kita memang terdesak hari ini, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Kita hanya perlu menanti beberapa hari lagi." "Menunggu?" cicit Elena. "Ya, menunggu," tegas Leon. "Pak Julian baru saja bangun dari koma panjang. Kondisi fisiknya pasti masih sangat lemah dan kesadarannya belum pulih seratus persen. Efek obat bius dan trauma pasca kecelakaan tentu membuat otak dan tubuhnya butuh waktu untuk stabil." "Percayalah pada saya, Nona. Begitu kondisi Pak Julian membaik dan tenaganya pulih, hal pertama yang akan beliau lakukan adalah mencari Anda dan saya. Pak Julian bukan pria yang bisa didekte atau dikendalikan oleh ibunya begitu saja. Jika beliau sudah bersuara dan menuntut keberadaan Anda, Nyonya Helena tidak akan punya alasan lagi untuk menghalangi." "Kamu yakin Julia

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 155

    Kejadian hampir terbongkarnya perawat misterius hari itu membuat paranoia di kepala Helena semakin tinggi. Kecurigaannya bahwa Elena menyusup masuk ke rumah sakit untuk menemui putranya semakin menggebu-gebu. Pagi harinya, suasana di lantai lima ICU VIP berubah total menjadi bak benteng pertahanan yang ketat. "Nyonya Besar memperketat penjagaan hingga sepuluh kali lipat," bisik dokter Brian saat menemui Elena dan Leon secara tersembunyi di ruang konsultasi. Wajah dokter senior itu tampak sangat serius. "Maksud dokter?" tanya Elena cemas, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. "Nyonya Helena menempatkan empat pengawal pribadi tepat di depan pintu kamar Pak Julian," terang dokter Brian. "Dan yang lebih parah, Nyonya Besar memberi instruksi yang tidak bisa diganggu gugat.” “Setiap tenaga medis, baik dokter, perawat senior, maupun petugas sanitasi, yang hendak melangkah masuk ke kamar Pak Julian .... ... wajib melepaskan masker dan menurunkan pelindung wajah di depan

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 154

    "Dasar tidak tahu diri!"Helena melangkah lebar dengan napas memburu. Tanpa memberi kesempatan bagi sosok bertubuh mungil itu untuk bergeming.Tangan Helena berhias cincin berlian melayang, mencengkeram bahu sang perawat. Menyentaknya kasar hingga tubuh Elena terputar balik menghadapnya."S-saya, saya bisa jelaskan, Nyonya!" jawab Elena dari balik maskernya. Suaranya gemetar parah, matanya terbelalak ketakutan seraya berusaha tetap menunduk."Jelaskan apa, hah?" bentak Helena. Dia masih belum menyadari bahwa itu adalah Elena."Mataku tidak buta! Kamu menempelkan wajahmu di dada putraku dan memeluknya! Apa yang kamu lakukan pada Julian?""Saya tidak bermaksud melanggar batas, Nyonya!" sahut Elena cepat, otaknya berputar keras mencari celah di tengah kepanikan yang nyaris melumpuhkannya. "S-saya sedang memeriksa kondisi jantung Pak Julian!""Memeriksa jantung?" cemooh Amanda yang berdiri di samping Helena dengan senyum merendahkan. "Pakai cara memeluk begitu? Jangan membodohi kami!""

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 153

    Usai terlepas dari kejaran obsesif Ryan di kampus, Elena bergerak secepat kilat. Tanpa membuang waktu untuk beristirahat, ia berganti pakaian seragam perawat di ruangan biasanya. Ia melangkah mantap menyusuri koridor steril lantai ICU VIP.Ia memasuki ruangan Julian. Suasana tenang nan remang langsung menyambutnya. Elena meletakkan nampan sanitasi di atas meja kaca, lalu melangkah mendekati ranjang. "Julian, aku datang lagi," bisik Elena lembut sambil menggenggam jemari kekasihnya. Di sana, Julian terbaring kaku. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura dominasi itu kini tampak begitu pucat dan ringkih.Saat mengusap garis rahang pria itu, bayangan wajah Ryan yang menyeringai di kampus tadi mendadak melintas di benaknya. Tiba-tiba ide liar yang lahir dari rasa putus asa, terbersit di kepala Elena.Dokter Brian pernah mengatakan bahwa terkadang, emosi yang kuat atau dorongan pemicu dari luar bisa menembus alam bawah sadar seorang pasien koma.Emosi apa yang paling membakar seora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status