ログインBugatti Veyron hitam meluncur masuk ke area parkir Universitas Elmridge dengan suara mesin yang menggema. Beberapa mahasiswa menoleh, menatap kagum pada mobil super sport yang jarang terlihat bahkan di kampus untuk anak-anak orang kaya ini.
David memperlambat laju mobilnya, mencari spot parkir yang kosong. Matanya kemudian menangkap sosok yang sudah menunggunya di area parkir khusus. Seorang wanita muda berdiri di sana, tangan di pinggul, ekspresi kesal jelas terukir di wajahnya yang cantik. Matanya menatap tajam ke arah mobil David yang mendekat. David langsung mengenalinya. Vanessa Clarke. Salah satu wanita paling cantik di kampus. Rambut cokelat panjang bergelombang jatuh sempurna melewati bahunya. Wajah seperti diukir seniman. Mata cokelat besar dengan bulu mata tebal. Bibir penuh berwarna merah muda alami. Tulang pipi tinggi yang memberikan struktur model profesional. Tapi yang membuat setiap pria menggilainya bukan hanya wajahnya. Payudaranya besar dan kencang. Ukuran 36D yang mengisi blus ketat dengan sempurna. Bokongnya besar, bulat, kencang, menonjol jelas di balik rok pendek. Setiap kali Vanessa berjalan, bokong itu bergoyang dengan ritme yang hipnotis. Cara berpakaiannya selalu di batas. Tidak terlalu vulgar, tapi cukup untuk membuat setiap pria membayangkan tidur dengannya. Dan Vanessa tahu persis efek yang dia ciptakan. David ingat betapa bodohnya dirinya dulu. Dia mengejar Vanessa seperti anjing yang mengejar tulang. Membeli barang-barang mewah untuknya. Tas Chanel. Sepatu Louboutin. Perhiasan Tiffany. Makan malam di restoran paling mahal. Liburan keluar negeri. David menghabiskan jutaan dollar untuk Vanessa. Hampir lima tahun. Mungkin sepuluh juta total. Dan apa yang dia dapatkan sebagai balasannya? Tidak ada. Benar-benar tidak ada. Bahkan ciuman saja tidak pernah. Vanessa selalu menolak. "Aku belum siap." "Aku ingin kita mengenal lebih dalam dulu." "Jangan terburu-buru." Tapi dia tidak pernah menolak kartu kreditnya. Tidak pernah "belum siap" untuk shopping spree puluhan ribu dollar. Dan ketika David hancur, ketika dia kehilangan segalanya, Vanessa meninggalkannya tanpa ragu. Lebih dari itu. Dia meludah di wajahnya. Harfiah meludah. Di depan umum. "Kau pikir aku akan tinggal dengan pecundang sepertimu? Kau tidak punya apa-apa sekarang. Kenapa aku harus membuang waktuku untuk sampah sepertimu?" Dua minggu kemudian, David menerima foto. Vanessa telanjang di tempat tidur hotel mewah, tubuhnya dipeluk pria lain. Pria yang lebih tua. Lebih kaya. Caption-nya sederhana: "Ini yang kau lewatkan, tapi kau tidak layak." Provokasi murni. Untuk menyakiti. Dan itu berhasil waktu itu. Tapi melihatnya sekarang, dendam itu kembali muncul. David tidak akan menghancurkan Vanessa seperti Miranda dan Amanda. Wanita ini tidak cukup penting. Tapi bermain-main sedikit dengannya? Membalas apa yang pernah dia lakukan? Itu terdengar menyenangkan. David memarkirkan mobilnya tepat di depan Vanessa dan mematikan mesin. Sebelum dia bahkan membuka pintu, Vanessa sudah mendekat. Langkahnya cepat. Dia berhenti tepat di samping pintu driver, menyilangkan kedua tangannya di dada. Gerakan itu membuat payudaranya terlihat lebih menonjol. "Mengapa kau tidak menjemputku tepat waktu, David?!" Suaranya keras. Menuntut. "Apakah kau ingin aku meninggalkanmu?! Jika kau tidak memberikan alasan yang masuk akal, aku akan benar-benar meninggalkanmu!" Ancaman, seperti biasa. Vanessa selalu menggunakan ini. Mengancam untuk meninggalkan David jika dia tidak melakukan apa yang dia mau. Dan dulu, itu selalu berhasil. David akan panik, memohon, berjanji akan jadi lebih baik. Tapi sekarang? David membuka pintu dengan tenang. Keluar dari mobil, menutup pintu di belakangnya. Dia berdiri tegak, menatap Vanessa. Tidak ada ekspresi panik. Tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan dingin. "Kau mengancamku?" Suara David tenang. Terlalu tenang. Matanya mengunci tatapan Vanessa. "Apa menurutmu dirimu itu sebegitu pentingnya?" Vanessa membuka mulutnya, terkejut. "Baiklah," David melanjutkan, senyum tipis dan dingin muncul. "Kau boleh pergi. Aku bisa menemukan wanita lain." Dia melangkah maju, berhenti tepat di depan Vanessa. Hanya selisih setengah meter. Dan untuk pertama kalinya, Vanessa benar-benar melihat David. Tubuhnya... lebih besar. Jauh lebih besar. Bahu lebarnya mengisi kemeja dengan sempurna. Lengan berotot. Dada bidang yang kokoh. Dan wajahnya. Ya Tuhan, wajahnya. Kenapa dia tidak pernah menyadari betapa tampannya David? Rahang yang tegas. Tulang pipi yang menonjol. Mata yang intens. Rambut yang disisir rapi ke belakang. Ini bukan David yang Vanessa kenal. "Apa yang terjadi padamu?" Vanessa bertanya, hampir tidak sadar dia berkata keras. Mengapa dia berubah sebanyak ini dalam semalam? Dan yang lebih penting... mengapa dia sekarang berani membentaknya? Mengapa dia tidak panik? Bukankah David sangat menyukainya? Bukankah David selalu bersedia menjadi anjingnya? Sementara Vanessa masih terdiam dalam kejutannya, David sudah berbalik. Dia berjalan menuju gedung kampus tanpa menoleh kembali. Seperti dia tidak peduli. Seperti Vanessa tidak ada. "Tu-tunggu!" Vanessa tersentak, tersadar. Kakinya bergerak sebelum otaknya sempat berpikir. Dia berlari mengejar David, heels-nya berbunyi keras. "Tunggu, David!" David tidak berhenti. Tidak memperlambat langkahnya, bahkan tidak menoleh. Vanessa harus berlari lebih cepat, hampir tersandung dengan heels-nya. "Aku... aku hanya kesal karena kau tidak menjemputku," katanya, suaranya terdengar terengah. "Mengapa kau langsung meninggalkanku?" Entah mengapa, melihat punggung lebar David yang menjauh, melihat cara dia berjalan dengan percaya diri tanpa peduli padanya, Vanessa merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan untuk David sebelumnya. Ketertarikan. Bukan hanya pada uangnya. Tapi pada David sendiri. Pada pria yang berjalan di depannya dengan tubuh yang sempurna dan sikap yang tidak peduli. Pria yang baru saja menolaknya. Pria yang baru saja memperlakukannya seperti dia tidak penting. Dan entah kenapa, itu membuatnya... menginginkan David lebih. "David, tolong! Tunggu sebentar!" Tapi David tetap berjalan.David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah
Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat
Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar
Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,
Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan
Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b







