Share

Bab 004

Penulis: BOSSSESamaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 08:15:36

Bugatti Veyron hitam meluncur masuk ke area parkir Universitas Elmridge dengan suara mesin yang menggema. Beberapa mahasiswa menoleh, menatap kagum pada mobil super sport yang jarang terlihat bahkan di kampus untuk anak-anak orang kaya ini.

David memperlambat laju mobilnya, mencari spot parkir yang kosong. Matanya kemudian menangkap sosok yang sudah menunggunya di area parkir khusus.

Seorang wanita muda berdiri di sana, tangan di pinggul, ekspresi kesal jelas terukir di wajahnya yang cantik. Matanya menatap tajam ke arah mobil David yang mendekat.

David langsung mengenalinya.

Vanessa Clarke.

Salah satu wanita paling cantik di kampus.

Rambut cokelat panjang bergelombang jatuh sempurna melewati bahunya. Wajah seperti diukir seniman. Mata cokelat besar dengan bulu mata tebal. Bibir penuh berwarna merah muda alami. Tulang pipi tinggi yang memberikan struktur model profesional.

Tapi yang membuat setiap pria menggilainya bukan hanya wajahnya.

Payudaranya besar dan kencang. Ukuran 36D yang mengisi blus ketat dengan sempurna. Bokongnya besar, bulat, kencang, menonjol jelas di balik rok pendek. Setiap kali Vanessa berjalan, bokong itu bergoyang dengan ritme yang hipnotis.

Cara berpakaiannya selalu di batas. Tidak terlalu vulgar, tapi cukup untuk membuat setiap pria membayangkan tidur dengannya.

Dan Vanessa tahu persis efek yang dia ciptakan.

David ingat betapa bodohnya dirinya dulu.

Dia mengejar Vanessa seperti anjing yang mengejar tulang. Membeli barang-barang mewah untuknya. Tas Chanel. Sepatu Louboutin. Perhiasan Tiffany. Makan malam di restoran paling mahal. Liburan keluar negeri.

David menghabiskan jutaan dollar untuk Vanessa. Hampir lima tahun. Mungkin sepuluh juta total.

Dan apa yang dia dapatkan sebagai balasannya?

Tidak ada.

Benar-benar tidak ada.

Bahkan ciuman saja tidak pernah. Vanessa selalu menolak. "Aku belum siap." "Aku ingin kita mengenal lebih dalam dulu." "Jangan terburu-buru."

Tapi dia tidak pernah menolak kartu kreditnya. Tidak pernah "belum siap" untuk shopping spree puluhan ribu dollar.

Dan ketika David hancur, ketika dia kehilangan segalanya, Vanessa meninggalkannya tanpa ragu.

Lebih dari itu. Dia meludah di wajahnya. Harfiah meludah. Di depan umum.

"Kau pikir aku akan tinggal dengan pecundang sepertimu? Kau tidak punya apa-apa sekarang. Kenapa aku harus membuang waktuku untuk sampah sepertimu?"

Dua minggu kemudian, David menerima foto. Vanessa telanjang di tempat tidur hotel mewah, tubuhnya dipeluk pria lain. Pria yang lebih tua. Lebih kaya.

Caption-nya sederhana: "Ini yang kau lewatkan, tapi kau tidak layak."

Provokasi murni. Untuk menyakiti.

Dan itu berhasil waktu itu.

Tapi melihatnya sekarang, dendam itu kembali muncul.

David tidak akan menghancurkan Vanessa seperti Miranda dan Amanda. Wanita ini tidak cukup penting.

Tapi bermain-main sedikit dengannya? Membalas apa yang pernah dia lakukan?

Itu terdengar menyenangkan.

David memarkirkan mobilnya tepat di depan Vanessa dan mematikan mesin.

Sebelum dia bahkan membuka pintu, Vanessa sudah mendekat. Langkahnya cepat. Dia berhenti tepat di samping pintu driver, menyilangkan kedua tangannya di dada. Gerakan itu membuat payudaranya terlihat lebih menonjol.

"Mengapa kau tidak menjemputku tepat waktu, David?!"

Suaranya keras. Menuntut.

"Apakah kau ingin aku meninggalkanmu?! Jika kau tidak memberikan alasan yang masuk akal, aku akan benar-benar meninggalkanmu!"

Ancaman, seperti biasa.

Vanessa selalu menggunakan ini. Mengancam untuk meninggalkan David jika dia tidak melakukan apa yang dia mau.

Dan dulu, itu selalu berhasil. David akan panik, memohon, berjanji akan jadi lebih baik.

Tapi sekarang?

David membuka pintu dengan tenang. Keluar dari mobil, menutup pintu di belakangnya.

Dia berdiri tegak, menatap Vanessa.

Tidak ada ekspresi panik. Tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan dingin.

"Kau mengancamku?"

Suara David tenang. Terlalu tenang.

Matanya mengunci tatapan Vanessa.

"Apa menurutmu dirimu itu sebegitu pentingnya?"

Vanessa membuka mulutnya, terkejut.

"Baiklah," David melanjutkan, senyum tipis dan dingin muncul. "Kau boleh pergi. Aku bisa menemukan wanita lain."

Dia melangkah maju, berhenti tepat di depan Vanessa. Hanya selisih setengah meter.

Dan untuk pertama kalinya, Vanessa benar-benar melihat David.

Tubuhnya... lebih besar. Jauh lebih besar. Bahu lebarnya mengisi kemeja dengan sempurna. Lengan berotot. Dada bidang yang kokoh.

Dan wajahnya.

Ya Tuhan, wajahnya.

Kenapa dia tidak pernah menyadari betapa tampannya David?

Rahang yang tegas. Tulang pipi yang menonjol. Mata yang intens. Rambut yang disisir rapi ke belakang.

Ini bukan David yang Vanessa kenal.

"Apa yang terjadi padamu?" Vanessa bertanya, hampir tidak sadar dia berkata keras.

Mengapa dia berubah sebanyak ini dalam semalam?

Dan yang lebih penting... mengapa dia sekarang berani membentaknya? Mengapa dia tidak panik?

Bukankah David sangat menyukainya? Bukankah David selalu bersedia menjadi anjingnya?

Sementara Vanessa masih terdiam dalam kejutannya, David sudah berbalik.

Dia berjalan menuju gedung kampus tanpa menoleh kembali.

Seperti dia tidak peduli. Seperti Vanessa tidak ada.

"Tu-tunggu!"

Vanessa tersentak, tersadar. Kakinya bergerak sebelum otaknya sempat berpikir.

Dia berlari mengejar David, heels-nya berbunyi keras.

"Tunggu, David!"

David tidak berhenti. Tidak memperlambat langkahnya, bahkan tidak menoleh.

Vanessa harus berlari lebih cepat, hampir tersandung dengan heels-nya.

"Aku... aku hanya kesal karena kau tidak menjemputku," katanya, suaranya terdengar terengah. "Mengapa kau langsung meninggalkanku?"

Entah mengapa, melihat punggung lebar David yang menjauh, melihat cara dia berjalan dengan percaya diri tanpa peduli padanya, Vanessa merasakan sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan untuk David sebelumnya.

Ketertarikan.

Bukan hanya pada uangnya.

Tapi pada David sendiri.

Pada pria yang berjalan di depannya dengan tubuh yang sempurna dan sikap yang tidak peduli. Pria yang baru saja menolaknya. Pria yang baru saja memperlakukannya seperti dia tidak penting.

Dan entah kenapa, itu membuatnya... menginginkan David lebih.

"David, tolong! Tunggu sebentar!"

Tapi David tetap berjalan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 016

    Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 015

    David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 014

    Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 013

    Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 012

    Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 011

    David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status