ログインDavid turun tangga dengan langkah percaya diri.
Rambutnya disisir rapi ke belakang. Kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot. Celana chino hitam yang pas. Messenger bag kulit cokelat gelap di bahu kirinya. Ketika David melangkah memasuki ruang makan, Amanda yang sudah duduk langsung menoleh. Napasnya tertahan. Sialan! Kenapa dia terlihat sangat tampan?! Matanya menelusuri tubuh David. Kemeja yang ketat di bagian dada. Celana yang pas di pinggul. Postur tegak. Tanpa sadar, paha Amanda merapat. Dia menggigit bibir bawahnya. Gambaran tubuh David tadi masih jelas di kepalanya. Dada bidang. Perut sixpack. Dan... ukuran itu. Panas merayap di wajahnya. Dia cepat-cepat menunduk. David tersenyum tipis melihat reaksi Amanda, tapi dia memutuskan mengabaikannya. Ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan. Dia duduk di kursi berhadapan dengan ayahnya. Miranda di sebelah kanan Richard. Amanda di sebelah kiri. Matanya sekilas melirik Miranda. Wanita 42 tahun itu duduk dengan postur sempurna. Gaun rumahan krem yang elegan memeluk tubuhnya. Payudara besar dan kencang terlihat jelas. Pinggang ramping. Rambut pirang panjang jatuh sempurna. Kulit mulus. Wajah yang terlihat muda. Bibir merah yang sensual. David ingat bagaimana Miranda terlihat di pembacaan wasiat. Tubuh sempurna dalam gaun hitam ketat. Senyum kemenangan yang kejam. Jalang yang cantik tapi beracun. Dan David menginginkannya. Sangat. Lihat saja, dia akan menghancurkan jalang ini! David tersenyum pada Richard. "Selamat pagi, Ayah." Suaranya tenang, ramah. Tentu saja, ini hanya formalitas. Karena faktanya, David membenci ayahnya. Richard Lewis selalu memberikan uang tanpa nasihat. Tanpa bimbingan. Tidak ada hubungan ayah-anak yang sebenarnya. Seolah uang bisa menggantikan perhatian. Itulah yang membuat David jadi anak yang manja dan bodoh. Dan konyolnya, di akhir hayatnya, Richard bahkan tidak memberikannya satu sen pun. Benar-benar ayah yang buruk. Tapi tetap saja, David harus terlihat peduli pada ayahnya ini demi mendapatkan harta warisan itu, juga menunjukkan bahwa dia adalah putra yang kompeten. Richard mengangkat kepalanya, matanya melebar. Sejak pernikahannya dengan Miranda setahun lalu, David tidak pernah tersenyum padanya. Tidak pernah menyapanya dengan ramah. Ini senyuman pertama dalam setahun. Richard mengangguk ringan. "Pagi." Singkat, kaku, lalu melanjutkan sarapannya. Miranda bahkan tidak melirik David. Dia duduk elegan, menyendok oatmeal-nya, seolah David tidak ada. Hening. Hanya suara sendok dan garpu. Tidak ada percakapan. David mengambil roti panggang, mengoleskan selai. Makan dengan tenang. Lalu dia mulai. "Setelah kelas hari ini," David berkata, suaranya jelas, "aku akan datang ke kantormu dan belajar bisnis darimu, Ayah." Garpu Richard berhenti di tengah udara. Kepalanya terangkat, menatap David. Terkejut. Belajar bisnis? Sejak kapan? Miranda juga berhenti makan. Kepalanya menoleh, mata hijaunya menyipit. Bajingan ini... apakah dia berubah? Alarm berbunyi di kepala Miranda. David harus selalu terlihat bodoh dan pemalas. Jika David berubah, warisan bisa jatuh ke tangannya. Miranda tidak akan membiarkan itu terjadi. "Apa yang membuatmu tiba-tiba tertarik pada bisnis, David?" Suara Miranda lembut, tapi tajam di bawahnya. Dia tersenyum tipis, melanjutkan, "Saranku, lebih baik fokus pada pendidikanmu dulu. Aku dengar prestasimu di kampus... kurang memuaskan. Belajarlah lebih giat. Buat ayahmu bangga. Setelah itu, baru pikirkan bisnis." Kata-katanya terdengar seperti nasihat. Tapi nada di baliknya jelas. Ini penolakan. Richard mengangguk perlahan, "Miranda benar." Suaranya tegas. "Kau belum siap, David. Fokus pada pendidikanmu. Bisnis itu kompleks. Kau butuh lebih dari sekadar keinginan." Richard menatap David dengan tatapan yang merendahkan, "Jika kau berusaha menarik perhatianku demi uang tambahan, katakan saja. Aku akan memberikanmu uang tanpa kau melakukan apa pun." David merasakan panas naik di dadanya. Kesal, marah. Benar-benar jalang dengan mulut beracun dan ayah yang buruk. Tapi David sudah hidup 39 tahun. Dia tidak akan membiarkan emosi mengendalikannya. Ini baru awal. Dia masih punya banyak cara. Jadi dia tersenyum ringan. "Baiklah. Tidak masalah." Suaranya kasual. Tidak ada kecewa. Hanya penerimaan yang tenang. Richard dan Miranda langsung terdiam, menatap David dengan tidak percaya. Bahkan Amanda mengangkat kepalanya, bingung. Biasanya, David akan meledak jika ditolak. Akan marah, berteriak, membanting pintu. Tapi kali ini? Dia tenang. Terlalu tenang. Apa yang terjadi padanya? Miranda menatap David lebih lama. Matanya menyipit. Ada sesuatu yang berbeda. Tubuh David terlihat lebih besar. Bahu lebih lebar. Lengan berotot. Dan wajahnya... lebih tampan? Kemarin dia tidak terlihat seperti ini. Apa yang terjadi padanya dalam satu malam? Orang tidak berubah secara fisik dalam semalam. Tapi sekarang... ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat alarm di tubuhnya berbunyi. David sudah selesai sarapannya. Dia meletakkan serbet di atas piring, berdiri. "Aku sudah selesai. Aku akan ke kampus." Suaranya sopan, formal, tanpa menunggu respon. Dia mengambil messenger bag-nya, berjalan menuju pintu dengan langkah tenang. Richard hanya menatapnya pergi. Miranda masih menatap dengan tatapan sulit dibaca. Amanda... menatap punggung lebar David, lalu cepat-cepat menunduk ketika merasakan panas di pipinya. David keluar dari ruang makan, melewati lorong mansion, menuju garasi. Pintu garasi otomatis terbuka. Di dalamnya, deretan mobil mewah terparkir rapi. Dan di ujung, ada mobilnya. Bugatti Veyron. Warna hitam metalik berkilau. Desain aerodinamis yang agresif. David tersenyum puas. Senang rasanya bisa melihat mobil ini lagi. Mobil yang diambil Miranda dan Amanda di kehidupannya yang lama. Tapi sekarang? Mobil ini masih miliknya, dan akan seterusnya seperti itu. David membuka pintu, masuk. Interior kulit mewah. Dashboard futuristik. Dia menyalakan mesin. VROOM. Suara mesin V16 yang menggelegar. Powerful. David tersenyum lebih lebar. Dia memasukkan gigi, mengeluarkan mobil dari garasi. Tujuannya jelas. Universitas Elmridge.David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah
Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat
Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar
Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,
Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan
Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b







