Share

Bab 003

last update Huling Na-update: 2026-01-09 08:13:48

David turun tangga dengan langkah percaya diri.

Rambutnya disisir rapi ke belakang. Kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot. Celana chino hitam yang pas. Messenger bag kulit cokelat gelap di bahu kirinya.

Ketika David melangkah memasuki ruang makan, Amanda yang sudah duduk langsung menoleh.

Napasnya tertahan.

Sialan! Kenapa dia terlihat sangat tampan?!

Matanya menelusuri tubuh David. Kemeja yang ketat di bagian dada. Celana yang pas di pinggul. Postur tegak.

Tanpa sadar, paha Amanda merapat. Dia menggigit bibir bawahnya.

Gambaran tubuh David tadi masih jelas di kepalanya. Dada bidang. Perut sixpack. Dan... ukuran itu.

Panas merayap di wajahnya. Dia cepat-cepat menunduk.

David tersenyum tipis melihat reaksi Amanda, tapi dia memutuskan mengabaikannya. Ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan.

Dia duduk di kursi berhadapan dengan ayahnya. Miranda di sebelah kanan Richard. Amanda di sebelah kiri.

Matanya sekilas melirik Miranda.

Wanita 42 tahun itu duduk dengan postur sempurna. Gaun rumahan krem yang elegan memeluk tubuhnya. Payudara besar dan kencang terlihat jelas. Pinggang ramping. Rambut pirang panjang jatuh sempurna.

Kulit mulus. Wajah yang terlihat muda. Bibir merah yang sensual.

David ingat bagaimana Miranda terlihat di pembacaan wasiat. Tubuh sempurna dalam gaun hitam ketat. Senyum kemenangan yang kejam.

Jalang yang cantik tapi beracun.

Dan David menginginkannya. Sangat.

Lihat saja, dia akan menghancurkan jalang ini!

David tersenyum pada Richard.

"Selamat pagi, Ayah."

Suaranya tenang, ramah.

Tentu saja, ini hanya formalitas. Karena faktanya, David membenci ayahnya.

Richard Lewis selalu memberikan uang tanpa nasihat. Tanpa bimbingan. Tidak ada hubungan ayah-anak yang sebenarnya. Seolah uang bisa menggantikan perhatian.

Itulah yang membuat David jadi anak yang manja dan bodoh.

Dan konyolnya, di akhir hayatnya, Richard bahkan tidak memberikannya satu sen pun.

Benar-benar ayah yang buruk.

Tapi tetap saja, David harus terlihat peduli pada ayahnya ini demi mendapatkan harta warisan itu, juga menunjukkan bahwa dia adalah putra yang kompeten.

Richard mengangkat kepalanya, matanya melebar.

Sejak pernikahannya dengan Miranda setahun lalu, David tidak pernah tersenyum padanya. Tidak pernah menyapanya dengan ramah.

Ini senyuman pertama dalam setahun.

Richard mengangguk ringan.

"Pagi."

Singkat, kaku, lalu melanjutkan sarapannya.

Miranda bahkan tidak melirik David. Dia duduk elegan, menyendok oatmeal-nya, seolah David tidak ada.

Hening.

Hanya suara sendok dan garpu. Tidak ada percakapan.

David mengambil roti panggang, mengoleskan selai. Makan dengan tenang.

Lalu dia mulai.

"Setelah kelas hari ini," David berkata, suaranya jelas, "aku akan datang ke kantormu dan belajar bisnis darimu, Ayah."

Garpu Richard berhenti di tengah udara. Kepalanya terangkat, menatap David. Terkejut.

Belajar bisnis? Sejak kapan?

Miranda juga berhenti makan. Kepalanya menoleh, mata hijaunya menyipit.

Bajingan ini... apakah dia berubah?

Alarm berbunyi di kepala Miranda.

David harus selalu terlihat bodoh dan pemalas. Jika David berubah, warisan bisa jatuh ke tangannya.

Miranda tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Apa yang membuatmu tiba-tiba tertarik pada bisnis, David?"

Suara Miranda lembut, tapi tajam di bawahnya.

Dia tersenyum tipis, melanjutkan, "Saranku, lebih baik fokus pada pendidikanmu dulu. Aku dengar prestasimu di kampus... kurang memuaskan. Belajarlah lebih giat. Buat ayahmu bangga. Setelah itu, baru pikirkan bisnis."

Kata-katanya terdengar seperti nasihat. Tapi nada di baliknya jelas. Ini penolakan.

Richard mengangguk perlahan, "Miranda benar."

Suaranya tegas.

"Kau belum siap, David. Fokus pada pendidikanmu. Bisnis itu kompleks. Kau butuh lebih dari sekadar keinginan."

Richard menatap David dengan tatapan yang merendahkan, "Jika kau berusaha menarik perhatianku demi uang tambahan, katakan saja. Aku akan memberikanmu uang tanpa kau melakukan apa pun."

David merasakan panas naik di dadanya. Kesal, marah.

Benar-benar jalang dengan mulut beracun dan ayah yang buruk.

Tapi David sudah hidup 39 tahun. Dia tidak akan membiarkan emosi mengendalikannya.

Ini baru awal. Dia masih punya banyak cara. Jadi dia tersenyum ringan.

"Baiklah. Tidak masalah."

Suaranya kasual. Tidak ada kecewa. Hanya penerimaan yang tenang.

Richard dan Miranda langsung terdiam, menatap David dengan tidak percaya. Bahkan Amanda mengangkat kepalanya, bingung.

Biasanya, David akan meledak jika ditolak. Akan marah, berteriak, membanting pintu.

Tapi kali ini? Dia tenang. Terlalu tenang.

Apa yang terjadi padanya?

Miranda menatap David lebih lama. Matanya menyipit.

Ada sesuatu yang berbeda.

Tubuh David terlihat lebih besar. Bahu lebih lebar. Lengan berotot. Dan wajahnya... lebih tampan?

Kemarin dia tidak terlihat seperti ini.

Apa yang terjadi padanya dalam satu malam?

Orang tidak berubah secara fisik dalam semalam.

Tapi sekarang... ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat alarm di tubuhnya berbunyi.

David sudah selesai sarapannya.

Dia meletakkan serbet di atas piring, berdiri.

"Aku sudah selesai. Aku akan ke kampus."

Suaranya sopan, formal, tanpa menunggu respon.

Dia mengambil messenger bag-nya, berjalan menuju pintu dengan langkah tenang.

Richard hanya menatapnya pergi. Miranda masih menatap dengan tatapan sulit dibaca. Amanda... menatap punggung lebar David, lalu cepat-cepat menunduk ketika merasakan panas di pipinya.

David keluar dari ruang makan, melewati lorong mansion, menuju garasi.

Pintu garasi otomatis terbuka.

Di dalamnya, deretan mobil mewah terparkir rapi.

Dan di ujung, ada mobilnya.

Bugatti Veyron. Warna hitam metalik berkilau. Desain aerodinamis yang agresif.

David tersenyum puas. Senang rasanya bisa melihat mobil ini lagi. Mobil yang diambil Miranda dan Amanda di kehidupannya yang lama.

Tapi sekarang? Mobil ini masih miliknya, dan akan seterusnya seperti itu.

David membuka pintu, masuk. Interior kulit mewah. Dashboard futuristik.

Dia menyalakan mesin.

VROOM.

Suara mesin V16 yang menggelegar. Powerful.

David tersenyum lebih lebar. Dia memasukkan gigi, mengeluarkan mobil dari garasi.

Tujuannya jelas.

Universitas Elmridge.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 016

    Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 015

    David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 014

    Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 013

    Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 012

    Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 011

    David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status