MasukDavid terus berjalan dengan langkah panjang, tidak peduli dengan suara heels Vanessa yang mengejarnya di belakang. Tidak peduli dengan teriakan putus asa wanita itu.
Vanessa merasakan kepanikan mulai merayap. David benar-benar tidak peduli. Dia benar-benar akan meninggalkannya. Dan entah mengapa, pikiran itu membuatnya... takut. Napasnya mulai terengah, bukan hanya karena berlari dengan heels, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tidak pernah merasa takut kehilangan David. Dulu, dia yang memegang kendali. Dia yang membuat aturan. David selalu mengejarnya. Tapi sekarang? Sekarang dia yang mengejar. Dan David tidak menoleh. "David!" Suaranya keluar lebih putus asa dari yang dia maksudkan, tapi David tetap tidak berhenti. Vanessa merasakan sesuatu patah di dadanya. Kebanggaannya. Egonya. Dan kata-kata keluar dari mulutnya sebelum dia sempat berpikir. Kata-kata yang tidak pernah dia katakan kepada David. Kata-kata yang tidak pernah dia pikir akan dia katakan. "David, maafkan aku!" Suaranya keras. Jelas. Penuh dengan sesuatu yang terdengar seperti... penyesalan. "Aku sungguh minta maaf. Aku salah!" Langkah David berhenti. Vanessa hampir menabraknya dari belakang, kakinya tersandung sedikit, tapi dia berhasil menahan diri. David berdiri diam. Punggungnya masih menghadap Vanessa. Dan di balik ekspresi dinginnya, senyum puas muncul di wajah David. Kau sekarang masuk ke perangkapku, jalang! Permintaan maaf dari Vanessa Clarke yang sombong. Dari wanita yang dulu meludah di wajahnya dan mengirim foto telanjangnya dengan pria lain. Ini lebih manis dari yang dia bayangkan. David berbalik perlahan. Gerakannya tenang, terkontrol. Seperti predator yang tahu mangsanya sudah terjebak. Dia mengambil langkah ke arah Vanessa, berhenti tepat di depannya. Wajahnya dingin. Matanya menatap Vanessa dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. "Minta maaf tidak mengubah apa pun, Vanessa." Suaranya datar. Tanpa emosi. Vanessa membuka mulutnya, ingin berkata sesuatu, tapi David melanjutkan sebelum dia sempat. "Selama satu tahun ini, aku tidak mendapatkan apa pun darimu. Sementara aku sudah menghabiskan banyak uang untukmu." Matanya mengunci tatapan Vanessa, tidak berkedip. "Mari kita buat ini mudah." Jeda sebentar. Lalu kata-kata itu keluar, jelas dan tegas. "Tidurlah denganku." Hening. Vanessa berdiri membeku. Matanya melebar. Mulutnya terbuka sedikit. David sangat blak-blakan. Tanpa basa-basi. Tanpa rayuan. Tanpa permintaan yang lembut. Hanya perintah langsung. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? David yang kemarin tidak pernah seperti ini. David yang kemarin akan malu-malu meminta ciuman. Akan memohon untuk pegangan tangan. Akan menunggu berbulan-bulan hanya untuk sentuhan kecil. Tapi pria di depannya sekarang? Dia menuntut. Dia tidak meminta. Dia memerintah. Vanessa terdiam. Otaknya mencoba memproses. Tubuhnya bereaksi dengan cara yang membuatnya bingung. Jantungnya berdetak cepat. Pipinya terasa panas. Dan di antara pahanya... ada sesuatu yang hangat. Detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik. Vanessa tidak menjawab. Hanya berdiri di sana, menatap David dengan ekspresi yang campur aduk antara terkejut, bingung, dan... sesuatu yang lain. David kehilangan kesabaran. Atau setidaknya, dia berpura-pura kehilangan kesabaran. "Jika kau tidak mau, tidak masalah." Dia berbalik lagi, siap untuk pergi. "Aku bisa menemukan mainan lain." "Tunggu!" Tangan Vanessa bergerak lebih cepat dari pikirannya. Jari-jarinya meraih lengan David, mencengkeram kain kemejanya. David berhenti. Menoleh sedikit. Menatap tangan Vanessa yang masih mencengkeram lengannya. Wajah Vanessa memerah. Dari leher sampai ke telinga. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tidak pernah merasa... malu? Gugup? Tapi ada sesuatu di cara David menatapnya. Sesuatu di tubuh sempurna itu. Sesuatu di sikap dingin dan dominan itu yang membuat tubuhnya bereaksi. Dan kata-kata keluar dari mulutnya. "Baiklah." Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan. "Aku bersedia." Jeda sebentar. Lalu dia menambahkan, pipinya semakin merah. "Kapan kau mau melakukannya? Malam ini? Di hotel?" Senyum muncul di wajah David. Bukan senyum yang hangat. Itu senyum kemenangan. "Setelah kelas berakhir." Suaranya tegas. Final. "Kita ke rumahmu." Ekspresi Vanessa berubah. Matanya melebar sedikit. "Ta-tapi..." dia ragu-ragu. "Ibuku ada di rumah. Bagaimana mungkin kita melakukannya di sana... di siang hari?" "Kau tidak mau?" Tiga kata. Dingin. Mengancam. Dan Vanessa tahu itu bukan pertanyaan. Itu ultimatum. Ekspresinya menjadi rumit. Dia menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap wajah David, mencari... sesuatu. Tapi yang dia lihat hanya tatapan dingin yang sama. Beberapa detik berlalu yang terasa seperti selamanya. Lalu Vanessa mengangguk pelan. "Baiklah." Suaranya lebih mantap sekarang. Keputusan sudah dibuat. "Aku bersedia. Tidak masalah." Senyum David melebar. "Gadis pintar." Dia melepaskan lengannya dari cengkeraman Vanessa dengan gerakan lembut tapi tegas. "Mari bertemu lagi setelah kelas berakhir." Dan tanpa kata-kata lain, David berbalik. Mengambil langkah panjang meninggalkan Vanessa yang masih berdiri di sana. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman di pipi. Tidak ada "sampai jumpa nanti, sayang." Hanya kepergian yang dingin dan tegas. Vanessa berdiri di sana, menatap punggung David yang menjauh. Menatap cara dia berjalan dengan percaya diri penuh, seperti dia baru saja memenangkan negosiasi bisnis, bukan mengatur kencan. Dia tercengang. David tidak mengantarkannya ke kelas. Dia bahkan tidak menoleh lagi. Hanya meninggalkannya berdiri sendirian di area parkir. David telah berubah. Tiba-tiba menjadi kasar dan dingin. Dominan dan tidak peduli. Dan Vanessa seharusnya marah. Seharusnya tersinggung. Seharusnya berbalik dan meninggalkan David seperti dia meninggalkan pria-pria lain yang berani tidak memperlakukannya seperti ratu. Tapi... Mengapa dia justru tidak membenci David? Mengapa jantungnya masih berdetak cepat? Mengapa wajahnya masih terasa panas? Dia bahkan sangat menyukainya. Tanpa disadarinya, tangan Vanessa bergerak ke perutnya. Ada sesuatu yang hangat di sana. Sesuatu yang menyebar ke bawah. Ke antara pahanya. Celana dalamnya terasa basah. Sial. Dia terangsang. Benar-benar terangsang. Hanya dari percakapan itu. Hanya dari cara David menatapnya. Dari cara David memerintah. Dari cara David tidak peduli. Pikiran mulai bermunculan di kepala Vanessa. Pikiran tentang nanti. Tentang setelah kelas berakhir. Tentang rumahnya. Tentang kamarnya. Tentang David mendorongnya ke tempat tidur. Tangan besarnya mencengkeram pinggulnya. Tubuh berotot itu menekannya ke bawah. Suara rendah itu berbisik perintah di telinganya. Vanessa merasakan panas semakin menyebar. Napasnya sedikit terengah. Dia menjadi tidak sabar. Benar-benar tidak sabar. Bagaimana dia akan bertahan sampai kelas berakhir? Dengan wajah masih memerah dan tubuh yang masih terasa panas, Vanessa akhirnya mengambil langkah menuju gedung kampus. Tapi pikirannya tidak di kelas. Tidak di pelajaran. Hanya di David. Dan di apa yang akan terjadi nanti.Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me
David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be
Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat
Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar
David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah







