共有

Bab 006

last update 最終更新日: 2026-01-09 08:56:08

Pintu ruang kelas terbuka.

David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.

Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya.

"Gila... lihat cowok itu."

"Tampan banget."

"Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya."

"Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari."

"Wajahnya juga... seperti model."

Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.

David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.

Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya.

"Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?"

"Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."

Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali.

"Tunggu... itu..."

Detik berikutnya, matanya melebar.

"Ya Tuhan. Itu David!"

Seperti bom yang meledak, seluruh kelas langsung ribut.

"APA?!"

"David?! David Lewis?!"

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa?!"

"Itu benar-benar David?!"

Semua orang sekarang menatap dengan ekspresi tidak percaya. Terkejut. Bingung. Bahkan ada yang menggosok matanya seolah tidak yakin dengan apa yang mereka lihat.

David Lewis. Anak kaya tapi bodoh yang biasanya datang dengan penampilan berantakan. Postur tubuh bungkuk. Wajah yang... biasa saja. Sikap yang canggung dan mudah dimanipulasi.

Tapi pria yang berjalan di depan mereka sekarang?

Ini pria yang berbeda. Sepenuhnya berbeda.

"Bagaimana mungkin?"

"Kemarin dia masih terlihat seperti... seperti pecundang."

"Apa yang terjadi padanya dalam satu malam?!"

"Ini tidak masuk akal. Orang tidak berubah secepat ini."

"Tapi lihat dia. Itu benar-benar David."

"Gila... aku bahkan tidak mengenalinya."

David mencapai kursinya di tengah ruangan. Dengan gerakan santai, dia melepaskan messenger bag dan meletakkannya di meja. Lalu duduk dengan postur yang rileks tapi tetap tegak.

Semua mata masih terpaku padanya. Wanita-wanita di kelas menatapnya dengan cara yang berbeda sekarang. Bukan lagi tatapan yang mengabaikan atau meremehkan. Tapi tatapan yang... tertarik. Penasaran. Bahkan beberapa dengan jelas menatapnya penuh nafsu.

Mata mereka menelusuri lengan berotot yang terlihat jelas di bawah kemeja yang digulung. Dada bidang yang mengisi kemeja dengan sempurna. Rahang tegas. Wajah tampan.

Beberapa wanita berbisik satu sama lain, pipi mereka memerah.

"Kenapa aku tidak pernah menyadari dia sebelumnya?"

"Aku bodoh. Harusnya aku lebih perhatian."

"Kalau aku tahu dia akan jadi seperti ini..."

"Dia kaya, tampan, tubuhnya luar biasa. Dia definisi pria sempurna yang sesungguhnya."

Penyesalan jelas terukir di wajah mereka. Mereka yang dulu mengabaikan David. Mereka yang dulu meremehkannya. Sekarang melihat apa yang mereka lewatkan.

Tapi David tidak peduli. Dia hanya duduk di sana, mengambil novel, membacanya dengan casual, seolah semua perhatian itu tidak ada.

Pintu kelas terbuka lagi. Seorang pria masuk dengan langkah percaya diri, senyum lebar di wajahnya.

Blake Morrison.

Pria berambut pirang yang ditata rapi, wajah yang bisa dibilang tampan dengan cara yang preppy. Dia selalu berpakaian bagus. Selalu tersenyum. Selalu terlihat seperti teman yang menyenangkan.

Tapi siapa pun yang mengenalnya cukup lama tahu kebenaran di balik senyum itu.

Blake Morrison adalah manipulator kelas satu! Dia pandai berpura-pura. Pandai membuat orang merasa nyaman. Pandai meminjam uang dengan janji-janji manis yang tidak pernah dia tepati.

Dan David adalah target favoritnya.

Selama bertahun-tahun, Blake "meminjam" uang dari David. Ratusan kali. Ribuan kali. Selalu dengan alasan yang berbeda. Keluarga sakit. Mobil rusak. Tagihan menumpuk. Emergency ini itu.

Dan David, bodohnya, selalu memberikan. Karena dia tidak tahu bagaimana mengatakan tidak. Karena Blake sangat pandai memanipulasi.

Totalnya? David tidak terlalu ingat. Tapi yang jelas itu lebih dari seratus ribu dollar. Mungkin bahkan mendekati dua ratus ribu. Dan tidak satu sen pun pernah dikembalikan.

Ketika David bangkrut, ketika dia diusir oleh Miranda dan Amanda, ketika hidupnya hancur, David mencoba menagih hutang Blake.

Dia butuh uang untuk makan. Untuk tempat tinggal. Untuk bertahan hidup.

Apa yang Blake lakukan?

Dia tertawa di wajah David.

"Kau serius? Kau pikir aku akan bayar? Itu bukan hutang, Dave. Itu... donasi. Kau yang bodoh memberikannya."

Dan ketika David memaksa, ketika David mengatakan dia benar-benar butuh uang itu...

Blake melontarkan pukulan keras di wajahnya.

David masih ingat rasa sakit itu. Rasa bibir pecah. Darah di mulutnya. Tubuhnya jatuh ke tanah.

"Jangan pernah ganggu aku lagi, pecundang."

Itu kata-kata terakhir Blake sebelum dia pergi, meninggalkan David tergeletak di jalanan.

Dan sekarang?

Sekarang Blake berjalan menuju David dengan senyum yang sama. Senyum manipulatif yang hangat tapi palsu.

"Dave! Bro!"

Blake duduk di kursi sebelah David tanpa diundang. Lengannya merangkul bahu David dengan akrab, seolah mereka sahabat dekat.

"Teman, apa yang terjadi padamu? Apakah kau gym kemarin? Badanmu jadi gede banget!"

Nada suaranya ramah. Antusias. Seperti teman lama yang senang bertemu.

Tapi David tahu. Di balik senyum itu, Blake hanya melihat David sebagai mesin ATM berjalan.

"Aku punya video porno terbaru!" Blake berbisik, nadanya seperti berbagi rahasia berharga. "Kualitasnya gila, bro. Model-model Eropa. Aku yakin kau pasti suka!"

Blake menyeringai, matanya berkilat. "Tapi seperti biasa, aku pinjam uangmu dulu. Seribu dollar saja. Aku bayar minggu depan, janji."

Janji yang sama. Kebohongan yang sama.

David merasakan jijik naik di tenggorokannya. Bukan hanya pada Blake. Tapi juga pada dirinya yang dulu. Yang begitu bodoh. Yang begitu mudah dimanipulasi.

Tapi sekarang?

David mengangkat kepalanya, menatap Blake dengan ekspresi yang tidak berusaha menyembunyikan rasa jijiknya.

Lalu dia berbicara. Suaranya keras. Sengaja keras. Cukup keras untuk seluruh kelas mendengar.

"Gooner sialan! Nikmati sendiri video pornomu itu, bajingan! Aku tidak tertarik."

Hening.

Seluruh kelas terdiam.

Blake membeku. Senyumnya masih di wajahnya tapi sekarang terlihat kaku. Matanya melebar sedikit, terkejut.

Dan perlahan, semua orang mulai menatap Blake dengan cara yang berbeda.

Jijik.

Penghinaan.

"Gooner? Serius?"

"Ya Tuhan, dia kecanduan video porno?"

"Itu menjijikkan."

Wajah Blake langsung memerah. Dari leher sampai ke ujung telinga. Bukan merah karena marah, tapi merah karena malu.

Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Tidak pernah. Selalu dia yang memegang kendali. Selalu dia yang memanipulasi orang lain.

Tapi sekarang?

Sekarang semua orang menatapnya seperti sampah.

Blake mencoba berbisik, suaranya gemetar sedikit, "Bro, apa yang baru saja kau katakan?! Tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan harga diriku..."

Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, David melepaskan rangkulan Blake dengan gerakan kasar.

Lalu mendorongnya.

Keras.

Blake kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras dan memalukan. Pantatnya menghantam lantai. Tasnya terjatuh, isinya berserakan.

Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sudut kelas.

David berdiri, menatap Blake dari atas dengan ekspresi merendahkan yang jelas.

"Jauhi mulut baumu itu dariku."

Suaranya dingin. Penuh penghinaan.

"Kau membuatku ingin muntah."

Tawa semakin keras. Beberapa orang bahkan tidak berusaha menyembunyikan. Menunjuk-nunjuk. Bisik-bisik. Cekikikan.

Blake duduk di lantai, wajahnya sekarang merah padam. Campuran antara malu, marah, dan tidak percaya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 011

    David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 010

    Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 009

    Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 008

    Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 007

    Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 006

    Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status