MasukPintu ruang kelas terbuka.
David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri. Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya. "Gila... lihat cowok itu." "Tampan banget." "Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya." "Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari." "Wajahnya juga... seperti model." Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah. David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang. Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya. "Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?" "Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..." Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali. "Tunggu... itu..." Detik berikutnya, matanya melebar. "Ya Tuhan. Itu David!" Seperti bom yang meledak, seluruh kelas langsung ribut. "APA?!" "David?! David Lewis?!" "Tidak mungkin! Bagaimana bisa?!" "Itu benar-benar David?!" Semua orang sekarang menatap dengan ekspresi tidak percaya. Terkejut. Bingung. Bahkan ada yang menggosok matanya seolah tidak yakin dengan apa yang mereka lihat. David Lewis. Anak kaya tapi bodoh yang biasanya datang dengan penampilan berantakan. Postur tubuh bungkuk. Wajah yang... biasa saja. Sikap yang canggung dan mudah dimanipulasi. Tapi pria yang berjalan di depan mereka sekarang? Ini pria yang berbeda. Sepenuhnya berbeda. "Bagaimana mungkin?" "Kemarin dia masih terlihat seperti... seperti pecundang." "Apa yang terjadi padanya dalam satu malam?!" "Ini tidak masuk akal. Orang tidak berubah secepat ini." "Tapi lihat dia. Itu benar-benar David." "Gila... aku bahkan tidak mengenalinya." David mencapai kursinya di tengah ruangan. Dengan gerakan santai, dia melepaskan messenger bag dan meletakkannya di meja. Lalu duduk dengan postur yang rileks tapi tetap tegak. Semua mata masih terpaku padanya. Wanita-wanita di kelas menatapnya dengan cara yang berbeda sekarang. Bukan lagi tatapan yang mengabaikan atau meremehkan. Tapi tatapan yang... tertarik. Penasaran. Bahkan beberapa dengan jelas menatapnya penuh nafsu. Mata mereka menelusuri lengan berotot yang terlihat jelas di bawah kemeja yang digulung. Dada bidang yang mengisi kemeja dengan sempurna. Rahang tegas. Wajah tampan. Beberapa wanita berbisik satu sama lain, pipi mereka memerah. "Kenapa aku tidak pernah menyadari dia sebelumnya?" "Aku bodoh. Harusnya aku lebih perhatian." "Kalau aku tahu dia akan jadi seperti ini..." "Dia kaya, tampan, tubuhnya luar biasa. Dia definisi pria sempurna yang sesungguhnya." Penyesalan jelas terukir di wajah mereka. Mereka yang dulu mengabaikan David. Mereka yang dulu meremehkannya. Sekarang melihat apa yang mereka lewatkan. Tapi David tidak peduli. Dia hanya duduk di sana, mengambil novel, membacanya dengan casual, seolah semua perhatian itu tidak ada. Pintu kelas terbuka lagi. Seorang pria masuk dengan langkah percaya diri, senyum lebar di wajahnya. Blake Morrison. Pria berambut pirang yang ditata rapi, wajah yang bisa dibilang tampan dengan cara yang preppy. Dia selalu berpakaian bagus. Selalu tersenyum. Selalu terlihat seperti teman yang menyenangkan. Tapi siapa pun yang mengenalnya cukup lama tahu kebenaran di balik senyum itu. Blake Morrison adalah manipulator kelas satu! Dia pandai berpura-pura. Pandai membuat orang merasa nyaman. Pandai meminjam uang dengan janji-janji manis yang tidak pernah dia tepati. Dan David adalah target favoritnya. Selama bertahun-tahun, Blake "meminjam" uang dari David. Ratusan kali. Ribuan kali. Selalu dengan alasan yang berbeda. Keluarga sakit. Mobil rusak. Tagihan menumpuk. Emergency ini itu. Dan David, bodohnya, selalu memberikan. Karena dia tidak tahu bagaimana mengatakan tidak. Karena Blake sangat pandai memanipulasi. Totalnya? David tidak terlalu ingat. Tapi yang jelas itu lebih dari seratus ribu dollar. Mungkin bahkan mendekati dua ratus ribu. Dan tidak satu sen pun pernah dikembalikan. Ketika David bangkrut, ketika dia diusir oleh Miranda dan Amanda, ketika hidupnya hancur, David mencoba menagih hutang Blake. Dia butuh uang untuk makan. Untuk tempat tinggal. Untuk bertahan hidup. Apa yang Blake lakukan? Dia tertawa di wajah David. "Kau serius? Kau pikir aku akan bayar? Itu bukan hutang, Dave. Itu... donasi. Kau yang bodoh memberikannya." Dan ketika David memaksa, ketika David mengatakan dia benar-benar butuh uang itu... Blake melontarkan pukulan keras di wajahnya. David masih ingat rasa sakit itu. Rasa bibir pecah. Darah di mulutnya. Tubuhnya jatuh ke tanah. "Jangan pernah ganggu aku lagi, pecundang." Itu kata-kata terakhir Blake sebelum dia pergi, meninggalkan David tergeletak di jalanan. Dan sekarang? Sekarang Blake berjalan menuju David dengan senyum yang sama. Senyum manipulatif yang hangat tapi palsu. "Dave! Bro!" Blake duduk di kursi sebelah David tanpa diundang. Lengannya merangkul bahu David dengan akrab, seolah mereka sahabat dekat. "Teman, apa yang terjadi padamu? Apakah kau gym kemarin? Badanmu jadi gede banget!" Nada suaranya ramah. Antusias. Seperti teman lama yang senang bertemu. Tapi David tahu. Di balik senyum itu, Blake hanya melihat David sebagai mesin ATM berjalan. "Aku punya video porno terbaru!" Blake berbisik, nadanya seperti berbagi rahasia berharga. "Kualitasnya gila, bro. Model-model Eropa. Aku yakin kau pasti suka!" Blake menyeringai, matanya berkilat. "Tapi seperti biasa, aku pinjam uangmu dulu. Seribu dollar saja. Aku bayar minggu depan, janji." Janji yang sama. Kebohongan yang sama. David merasakan jijik naik di tenggorokannya. Bukan hanya pada Blake. Tapi juga pada dirinya yang dulu. Yang begitu bodoh. Yang begitu mudah dimanipulasi. Tapi sekarang? David mengangkat kepalanya, menatap Blake dengan ekspresi yang tidak berusaha menyembunyikan rasa jijiknya. Lalu dia berbicara. Suaranya keras. Sengaja keras. Cukup keras untuk seluruh kelas mendengar. "Gooner sialan! Nikmati sendiri video pornomu itu, bajingan! Aku tidak tertarik." Hening. Seluruh kelas terdiam. Blake membeku. Senyumnya masih di wajahnya tapi sekarang terlihat kaku. Matanya melebar sedikit, terkejut. Dan perlahan, semua orang mulai menatap Blake dengan cara yang berbeda. Jijik. Penghinaan. "Gooner? Serius?" "Ya Tuhan, dia kecanduan video porno?" "Itu menjijikkan." Wajah Blake langsung memerah. Dari leher sampai ke ujung telinga. Bukan merah karena marah, tapi merah karena malu. Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Tidak pernah. Selalu dia yang memegang kendali. Selalu dia yang memanipulasi orang lain. Tapi sekarang? Sekarang semua orang menatapnya seperti sampah. Blake mencoba berbisik, suaranya gemetar sedikit, "Bro, apa yang baru saja kau katakan?! Tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan harga diriku..." Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, David melepaskan rangkulan Blake dengan gerakan kasar. Lalu mendorongnya. Keras. Blake kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras dan memalukan. Pantatnya menghantam lantai. Tasnya terjatuh, isinya berserakan. Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sudut kelas. David berdiri, menatap Blake dari atas dengan ekspresi merendahkan yang jelas. "Jauhi mulut baumu itu dariku." Suaranya dingin. Penuh penghinaan. "Kau membuatku ingin muntah." Tawa semakin keras. Beberapa orang bahkan tidak berusaha menyembunyikan. Menunjuk-nunjuk. Bisik-bisik. Cekikikan. Blake duduk di lantai, wajahnya sekarang merah padam. Campuran antara malu, marah, dan tidak percaya.Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me
David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be
Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat
Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar
David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah







