MasukElena dan Malik begitu antusias menanti kehadiran buah hati mereka. Terutama Malik yang bersikap layaknya suami siaga.Di apartement ini, mereka sudah menyiapkan satu ruang khusus untuk kamar bayi. Wallpaper kartun sudah dipasang, box bayi juga sudah dirangkai oleh Malik. Seluruh pakaian yang dibutuhkan sudah dilipat Elena dalam lemari."Aku akan mencari asisten rumah tangga satu lagi untukmu. Khusus sebagai pengasuh." Ucap Malik ikut membantu istri keduanya mengemasi pakaian bayi ke dalam koper. Perkiraan persalinan sekitar 1 bulan lagi."Untuk mengurus anak aku masih mampu. Kamu jangan khawatir.""Jelas aku akan khawatir. Aku takut kamu kelelahan."Elena tersenyum dan memberi kecupan di pipi Malik sebagai tanda terima kasihnya. Pernikahan keduanya ini begitu membahagiakan. Tak lagi dia mendengar suara kasar dan ancaman dari suaminya."Apa kamu masih mau melakukan tes dna kalau dia lahir nanti?" Tanya Elena memandang suaminya lekat."Kita lihat saja nanti."Elena hanya bisa menarik n
Selesai membayar, Malik mengajak Elena untuk pulang ke rumah. Perutnya yang mulai membuncit membuat wanita itu kesulitan untuk bangun."Hati-hati," Malik jadi terkekeh melihat Elena yang kesulitan bangun dari tempat duduknya."Dia menendang lagi!" Elena menggerutu. Setiap makan, bayi dalam kandungannya akan sibuk bermain bola.Malik tertawa sambil mengusap perut istri keduanya. "Anak pintar."Elena tersenyum. Ia lalu melingkarkan tangannya di lengan Malik. Pria inipun memegang barang belanjaan yang mereka beli tadi.Saat keduanya keluar dari restoran, baik Malik dan Elena terkejut karena berpapasan dengan Bram. Pemilik perusahaan tempat Malik bekerja.Bram baru saja masuk ke restoran bersama sekretaris dan koleganya.Ketiganya tampak saling memandang sebentar. Terlebih mata Bram yang memperhatikan tangan Elena terkait di lengan Malik. Menyadari itu, Elena pun menarik tangannya.Bram hanya tersenyum dan berlalu melewati mereka berdua. Tak mungkin untuk menyapa mengingat Bram tengah ber
Elena terperangah dengan ucapan Malik. Apa kepala lelaki ini terbentur sesuatu sehingga memiliki pendirian yang berubah-ubah?"Kamu barusan bilang apa?" Elena mencoba memastikan."Aku bilang kita akan menikah malam ini.""Kamu gila?"Malik berdecak. "Sudah kuputuskan bahwa aku akan menikahimu.""Tapi masa iddahku belum selesai.""Apa?" Astaga. Kenapa Malik sampai lupa soal itu. "Kapan selesainya?""Satu bulan lagi.""Kalau begitu, kita tunggu satu bulan lagi.""Kenapa?" Tanya Elena memandang Malik lekat. Ia ingin tahu kenapa Malik berubah pikiran. "Bukannya kamu bilang akan bertanggung jawab setelah mengetahui hasil tes DNA."Untuk sebentar Malik terdiam. Tiba-tiba saja pikirannya berubah. Mungkin pengaruh saat ia melihat janin yang ada di layar USG tadi. Apalagi saat mendengar detak jantung janin itu. Sekonyong-konyong ada rasa haru meliputi hatinya. Seperti rasa ingin memiliki, rasa ingin menjaga. Terlebih kondisi Elena yang tengah rapuh seperti ini."Aku tidak tahu." Ucap Malik pel
Zayn menghempaskan ponsel yang baru dibelinya begitu saja.Sial! Kenapa nasibnya begitu sial! Sudah jatuh tertimpa tangga ini namanya.Email pribadi yang terhubung dengan drivenya telah diretas. Semua data-data menghilang. Baik file pribadi, pekerjaan atau video penting yang bisa menghancurkan hidup Malik itu. Semuanya lenyap!"Brengsek! Dia mengerjaiku!" Zayn mengumpat.Yakin sekali ada Malik dibalik ini semua. Pria itu begitu licik dan Zayn baru tahu itu. Ternyata selama ini dia serigala yang menyamar menjadi domba.Zayn menghentakkan tubuhnya di atas sofa hotel. Kepalanya menggeleng. Kalau sudah begini, dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menghancurkan Malik.***"Kamu sudah datang bulan, sayang?" Tanya Malik seraya mengusap lembut pucuk kepala istrinya yang tengah berpangku di bahunya."Sudah. Dua minggu yang lalu rasanya. Kenapa, mas?" Shireen mendongak menatap suaminya."Aku mau kamu hamil."Shireen tersenyum. "Kamu mau punya anak? Bukannya pas awal menikah kamu bilang ingi
Seluruh mata bersiap menyaksikan video yang akan diputar di layar tersebut. Termasuk Bram yang semakin kuat memegang bahu Malik yang menegang.Zayn menyeringai seraya menatap tajam Malik. Harus diakui, Malik sungguh tak pandai bersandiwara.Video tersebut diputar..Ada yang terkejut. Ada yang heran. Ada juga yang tersenyum.Malik yang sedari tadi menahan nafas lalu mengusap wajahnya. Ternyata video yang dimaksud adalah video dokumentasi perjalanan Malik dari karyawan biasa hingga menjadi karyawan unggulan.Senyum terbit di bibir Shireen. Ya, dia bangga karena memiliki suami yang pekerja keras.Tepuk tangan kembali membuat riuh seisi ruangan. Jantung yang hampir lepas tadi, sekarang sudah bisa memompa dengan normal kembali."Kamu memang luar biasa." Ucap Bram menepuk bahu Malik.Malik tersenyum. Pandangannya lalu menuju Zayn yang keluar dari ballroom.***"Suka kejutannya?" Tanya Zayn.Dia baru keluar dari toilet pria dan pergi ke washtafel untuk mencuci tangan. Rupanya, Malik juga bar
Elena memarkirkan mobilnya sebatas di depan pagar. Baru saja turun dari mobil, ia sudah mencium bau bakar."Asap apa ini? Apa ada kebakaran?" Elena sampai heran.Namun dirinya begitu terkejut ketika melihat asal api berasal dari perkarangan rumah."Zayn, apa yang kamu lakukan?" Jerit Elena.Zayn menoleh dan menandang wanita itu dengan dingin.Elena berlari menuju ke arah Zayn. Buku, tas, baju, sepatu, bahkan photo pernikahan mereka dilemparkan begitu saja oleh pria itu ke dalam api."Apa yang kamu lakukan?""Membakar kenangan menjijikan!" Sahut Zayn dingin."Itu barangku!" Teriak Elena. Dia pulang siang ini untuk mengambil sisa barangnya yang tertinggal. Tapi, malah terkejut karena Zayn membakar barang-barangnya.Tak ada jawaban dari Zayn, pria itu sedang sibuk merobek novel-novel tulisan Elena."Dimana komputer jinjingku?" Elena sampai histeris. "Jangan bilang kalau kamu bakar juga!" Elena akan marah sekali kalau itu sampai terjadi."Tidak tahu!"Elena menghempaskan kakinya dengan ka







