LOGIN“Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.
“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”
Ucapan Arsen barusan
Suara hujan mengetuk lembut kaca jendela ruang kerja. Malam sudah larut, namun lampu di lantai tertinggi kantor Callister Group masih menyala. Di balik kaca besar itu, Daven berdiri dengan jas yang sudah dilonggarkan, menatap kelap-kelip lampu kota yang memantul di matanya yang lelah.Sudah hampir 2 tahun Daven membuat kantor khusus Callister Grup di SunCity. Semua itu demi agar dirinya tak terlalu repot pulang pergi Mighatan-SunCity.Ketika pintu diketuk, suaranya terdengar rendah namun tenang. “Masuk.”Arsen melangkah dengan sopan, membawa beberapa dokumen di tangannya. “Maaf mengganggu, Tuan. Saya perhatikan Anda belum pulang sejak sore.”Daven menoleh sedikit, tersenyum samar. “Tidak apa. Saya hanya butuh waktu sendiri.”Arsen meletakkan dokumen di meja, lalu berkata pelan, “Kalau boleh jujur, saya jarang melihat Anda sekeras ini bekerja… tapi juga jarang melihat Anda setenang ini.”
Hujan deras mengguyur SunCity malam itu. Langit gelap, petir sesekali menyambar. Di ruang bermain yang hangat, Daven tertidur di lantai berkarpet, dengan Josh bersandar di dadanya dan Grace terlelap di pelukannya.Althea berdiri di ambang pintu, memandangi pemandangan itu dengan dada sesak.Ia melangkah perlahan, lalu berbisik lembut, “Daven…”Daven mengerjap pelan, suaranya serak karena kantuk. “Hm? Sudah jam berapa?”“Jam sebelas lewat,” jawab Althea, menunduk sedikit. “Kau ketiduran lagi.”Daven menatap dua anak di pelukannya lalu tersenyum kecil. “Kelihatannya mereka menang malam ini.”“Kau lembur semalam, kan?”“Cuma sedikit,” katanya santai. “Josh minta aku bantu buat roket dari kardus, aku kalah cepat. Jadi ya… hukuman tidur di sini.”Althea menghela napas lembut, lalu mengambil selimut untuk menutupi mereka. &ld
Hujan turun pelan di luar jendela. Aroma tanah basah menyelinap lewat celah kaca yang sedikit terbuka.Di ruang keluarga, Althea duduk di sofa dengan selimut di pangkuannya, menatap kosong ke arah api perapian yang kecil. Di pangkuannya, Grace menggeliat, masih terlelap. Sementara di seberang, Josh sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.“Mommy,” panggilnya pelan. “Boleh aku tambahin Papa di gambar ini?”Althea menoleh perlahan. “Tentu saja, Sayang. Papa kamu harus ada di sana.”Josh tersenyum kecil. “Tapi Daddy juga harus ada. Daddy yang tanam pohon di sekolah, kan?”Althea menunduk, matanya hangat tapi lembab. “Iya. Daddy yang tanam.”“Jadi... dua-duanya boleh ada di sini.” Josh menunjuk gambarnya dengan polos. “Karena aku sayang mereka berdua.”Sebelum Althea bisa menjawab, bel rumah berbunyi.Ia menarik napas dalam, menatap sekilas ke ara
“Mommy, lihat! Grace tersenyum!”Suara Josh memecah keheningan pagi di ruang keluarga yang hangat.Althea menoleh dari kursi tempat ia duduk menyusui bayi kecilnya. Wajahnya lembut tapi lelah. “Iya, sayang… dia memang suka senyum kalau dengar suara Josh.”Josh terkekeh kecil, menatap adik bayinya dengan bangga. “Berarti dia suka aku.”“Tentu saja,” jawab Althea, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba terasa mendesak naik. “Semua orang suka kamu.”Dari balik jendela besar, Lydia memperhatikan mereka sambil tersenyum lembut. Ia duduk di kursi rodanya, jemarinya mengetuk pelan lengan kayu di sisinya. “Kau melakukannya dengan baik, Althea. Chase pasti bangga padamu.”Althea menatapnya sejenak. “Aku hanya mencoba bertahan, Lydia. Kadang rasanya seperti berjalan di tengah kabut tebal. Tapi setiap kali aku melihat anak-anak…”
“Dia ditemukan pagi ini.”Suara Chris terdengar parau, menahan emosi yang hampir meledak. Semua orang di ruang keluarga Callister mendadak terdiam. Hanya suara isak pelan dari Lydia yang terdengar samar di sudut ruangan.“Di mana...?” suara Daniel nyaris berbisik.“Di perairan dekat lokasi jatuhnya pesawat,” jawab Chris dengan napas berat. “Tim SAR mengkonfirmasi dari tanda identitas di tangannya. Itu benar Chase.”Riana langsung menutup mulutnya, menahan teriakan. Lydia beringsut memeluknya, tapi air matanya sendiri jatuh deras. Cale hanya menunduk, memijit pelipisnya, seolah mencoba menahan kenyataan pahit yang baru saja menghantam mereka semua.“Sudah... sudah diberitahu Althea?” tanya Daven pelan, berdiri di dekat jendela.Chris menggeleng. “Belum. Aku ingin memastikan dulu semuanya sebelum dia tahu.”Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, suara
Malam itu, ruang rawat terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak lembut, menyatu dengan deru napas Althea yang belum benar-benar stabil. Ia belum bisa tidur. Tangannya bergetar ketika meraih ponsel di meja kecil samping ranjang.Tayangan berita masih berulang di layar.Siaran langsung dari pantai Turki—gelombang besar, serpihan logam, dan tim pencari yang mengangkat barang-barang pribadi dari lautan.“Pesawat yang hilang sejak dua hari lalu, kini telah ditemukan dalam kondisi hancur di perairan dekat Selat Dardanella. Berdasarkan laporan awal, tidak ditemukan tanda-tanda korban selamat di antara 180 penumpang dan kru…”Althea menatap layar tanpa suara. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar.Hanya air mata yang perlahan mengalir.Tangannya terangkat, menyentuh layar ponsel seolah ingin meraih wajah Chase dari balik berita itu. “Kau... sungguh tidak akan kembali, ya?” bis
Entah sudah berapa kali Kate menghela napas setelah mendengar kabar ini. Ada banyak sekali hal yang berkecamuk di dadanya. Termasuk ...“Jadi ... saat aku bertanya padamu mengenai berita itu, kau berbohong?”Daven mengangguk tanpa ada keinginan untuk membantah lagi.
“Kenapa kau terkejut begitu?”Daven segera menoleh pada Arsen untuk mendapatkan jawaban tapi ternyata, asistennya itu sama terkejutnya dengan dia. Itu artinya sang ibu, Kate Callister, berkunjung secara mendadak. Sebenarnya Daven tak mempermasalahkan kunjungan ibunya, kapan pun
“Apa kau bersenang-senang?” tanya Chase pada Josh yang ada di dekatnya. Mereka tengah menikmati santap siang yang disediakan resort di tepi pantai.“Ya!” Josh menenggak habis sirup rasa kelapa yang ia sukai. “Aku ingin menyelam lagi. Apa boleh, Daddy?”
“Terima kasih sudah meluangkan waktu bicara denganku,” kata Daven begitu mereka keluar dari area kafe. Meski tak banyak yang bisa Daven tanya—lebih tepatnya ia sangat menahan banyak pertanyaan hanya agar hubungan yang sedikit membaik ini, tak lagi berjarak.Sungguh, tidak