Share

[145]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-05-31 11:00:25

Dua hari sebelumnya.

Gudang tua di pelabuhan barat daya itu seakan menjadi tempat di mana waktu berhenti. Bau asin laut bercampur dengan aroma besi berkarat yang menusuk hidung, meninggalkan sensasi yang cukup mendebarkan. Atap sengnya bolong di beberapa sisi, membuat cahaya matahari sore masuk dalam garis-garis tipis yang menyorot debu beterbangan. Setiap tiupan angin laut menimbulkan suara lengkingan pada engsel pintu yang nyaris copot, menyerupai jeritan lirih yang menambah muram su

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [173]

    “Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [172]

    Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [171]

    Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [170]

    “Kali ini ulah apalagi yang akan kau lakukan, Vanessa.”Kate menyalakan TV dan tanpa perlu mengganti channel, berita mengenai persidangan akhir putranya dan Vanessa muncul sebagai headline utama. Banyak wartawan menunggu bagaimana hasil sidang yang digadang-gadang, akan menjadi topik pemberitaan yang tak akan habis dibahas untuk beberapa waktu ke depan.Tersiar kabar kalau Vanessa menuntut banyak hal dari Daven, selaku mantan suami. Mendengar tuntutan Vanessa saja, Kate sangat kesal dan marah. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki pemikiran yang luar biasa menjengkelkan seperti itu?Ia memilih duduk sendirian di kursi empuk ruang tamu. Cangkir teh hangat mengepul di tangannya. Pandangannya terarah pada televisi besar di hadapannya. Siaran langsung sidang perceraian Daven dan Vanessa mengisi ruangan dengan suara reporter yang bersemangat memberitakan setiap detail.Rangkuman selama sidang perceraian itu berlangsung, kembali diulas dengan singka

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [169]

    “Tuan, ini berkas tambahan dari bagian keuangan,” kata Arsen yang perlahan menaruh tumpukan berkas baru di meja kerja Daven.Daven hanya melirik tanpa minat tapi kemudian fokus pada layar kerjanya. “Jam berapa kita meeting dengan bagian keuangan?”“Satu jam lagi.”Daven memberi tanggapan dengan anggukan.“Apa Anda ingin mendengarkan laporan mengenai hasil sidang perceraian yang sebentar lagi diputuskan?”Pria bermata biru itu menatap tajam asistennya. Membuat Arsen diserang gugup yang membuatnya mengambil langkah, “Ah, tidak perlu rupanya. Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan saya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, mohon segera hubungi saya.”Arsen menyeringai tipis dan segera melesat pergi meninggalkan Daven. Padahal niat Arsen baik, jadi Daven tak perlu mendengarkan laporan panjang dari tim pengacara. Tapi sepertinya CEO Callister Grup tak ingin diganggu dengan berita apa pun. Ja

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [168]

    “Apa kegiatanmu hari ini?” suara Chase terdengar renyah di seberang. Nada bicaranya santai, seolah tak ada kegiatan yang dia lakukan sejak pagi.Althea tertawa kecil, menaruh sepotong buah melon ke mulutnya. “Tidak banyak. Semua barang-barangku dan juga Josh sudah rapi di dalam koper. Jadi nanti saat waktunya pulang ke SunCity, kita tinggal berangkat saja.”“Bagus.” Terdengar helaan napas lega dari Chase. “Aku sempat khawatir kau kerepotan mengemas barang-barang. Syukurlah.”“Aku ini terbiasa mengurus semuanya sendiri, tahu,” sahut Althea, pura-pura merajuk. “Lagi pula Josh juga ikut membantu, meskipun lebih banyak berlarian daripada membereskan.”Chase tertawa lepas. “Bukankah Josh memang tak bisa diam? Aneh rasanya jika melihat anak itu diam, kan?”“Kau benar.” Althea benar-benar menikmati waktunya yang sendiri ini. “Apa kau tidak sibuk?&rd

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [154]

    “Apa kau bersenang-senang?” tanya Chase pada Josh yang ada di dekatnya. Mereka tengah menikmati santap siang yang disediakan resort di tepi pantai.“Ya!” Josh menenggak habis sirup rasa kelapa yang ia sukai. “Aku ingin menyelam lagi. Apa boleh, Daddy?”

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [151]

    “Sidang gugatan pencemaran nama baik Nona Althea dan Vanessa, dimenangkan oleh Nona Althea,” kata Arsen. Tapi nadanya terdengar bersemangat. Matanya juga tak teralih dari tablet yang berisi berita mengenai sidang siang ini. Bahkan video permintaan maaf yang Vanessa lakukan di depan um

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [150]

    “Di luar sudah banyak wartawan yang menunggu, Nona Vanessa,” kata Reid dengan wajah frustrasi. Selain ia kalah dalam persidangan kali ini—dia sudah bisa memprediksi hal ini hanya saja, kliennya sama sekali tak mau menurunkan egonya. Jika saja Vanessa mau memikirkan langkah yang

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [149]

    “Aku pasti bisa melaluinya,” kata Althea dalam hati.Ruang sidang terasa seperti arena pertempuran. Setiap kata adalah peluru, setiap bukti adalah senjata. Sorot mata puluhan pasang mata terarah ke dua sosok wanita yang berdiri berhadapan—Vanessa Blake dan Althea Grayson.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status