登入“Anda sudah siap?” tanya Adrian sebelum memberikan berkas yang ada di tangannya.
Pagi ini, mereka berkumpul di ruang tamu tempat Althea menginap. Kamar hotel yang ia tempati menyediakan area ruang tamu yang luas, dengan pemandangan kota Mighatan yang megah dan layak disebut pusat kota dan bisnis.
Bukan hanya Adrian yang datang, tapi tim pengacara yang ikut menangani kasus Althea. Mereka tak main-main memberikan tekanan pada pihak Vanessa. Termasuk dengan tim pengacar
“Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld
Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya
“Kali ini ulah apalagi yang akan kau lakukan, Vanessa.”Kate menyalakan TV dan tanpa perlu mengganti channel, berita mengenai persidangan akhir putranya dan Vanessa muncul sebagai headline utama. Banyak wartawan menunggu bagaimana hasil sidang yang digadang-gadang, akan menjadi topik pemberitaan yang tak akan habis dibahas untuk beberapa waktu ke depan.Tersiar kabar kalau Vanessa menuntut banyak hal dari Daven, selaku mantan suami. Mendengar tuntutan Vanessa saja, Kate sangat kesal dan marah. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki pemikiran yang luar biasa menjengkelkan seperti itu?Ia memilih duduk sendirian di kursi empuk ruang tamu. Cangkir teh hangat mengepul di tangannya. Pandangannya terarah pada televisi besar di hadapannya. Siaran langsung sidang perceraian Daven dan Vanessa mengisi ruangan dengan suara reporter yang bersemangat memberitakan setiap detail.Rangkuman selama sidang perceraian itu berlangsung, kembali diulas dengan singka
“Tuan, ini berkas tambahan dari bagian keuangan,” kata Arsen yang perlahan menaruh tumpukan berkas baru di meja kerja Daven.Daven hanya melirik tanpa minat tapi kemudian fokus pada layar kerjanya. “Jam berapa kita meeting dengan bagian keuangan?”“Satu jam lagi.”Daven memberi tanggapan dengan anggukan.“Apa Anda ingin mendengarkan laporan mengenai hasil sidang perceraian yang sebentar lagi diputuskan?”Pria bermata biru itu menatap tajam asistennya. Membuat Arsen diserang gugup yang membuatnya mengambil langkah, “Ah, tidak perlu rupanya. Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan saya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, mohon segera hubungi saya.”Arsen menyeringai tipis dan segera melesat pergi meninggalkan Daven. Padahal niat Arsen baik, jadi Daven tak perlu mendengarkan laporan panjang dari tim pengacara. Tapi sepertinya CEO Callister Grup tak ingin diganggu dengan berita apa pun. Ja
“Apa kegiatanmu hari ini?” suara Chase terdengar renyah di seberang. Nada bicaranya santai, seolah tak ada kegiatan yang dia lakukan sejak pagi.Althea tertawa kecil, menaruh sepotong buah melon ke mulutnya. “Tidak banyak. Semua barang-barangku dan juga Josh sudah rapi di dalam koper. Jadi nanti saat waktunya pulang ke SunCity, kita tinggal berangkat saja.”“Bagus.” Terdengar helaan napas lega dari Chase. “Aku sempat khawatir kau kerepotan mengemas barang-barang. Syukurlah.”“Aku ini terbiasa mengurus semuanya sendiri, tahu,” sahut Althea, pura-pura merajuk. “Lagi pula Josh juga ikut membantu, meskipun lebih banyak berlarian daripada membereskan.”Chase tertawa lepas. “Bukankah Josh memang tak bisa diam? Aneh rasanya jika melihat anak itu diam, kan?”“Kau benar.” Althea benar-benar menikmati waktunya yang sendiri ini. “Apa kau tidak sibuk?&rd
Sorot mata Chase kala bertanya, tak ada sedikit pun keraguan. Seolah pertanyaan itu memang sudah dipersiapkan saat mereka membicarakan mengenai proyek ini. Dan sepertinya, ini adalah pertukaran yang diinginkan pihak Miller—terutama Chase.Daven menarik napas pelan, lalu mengembuskann
“Walikota Harold mengundang Anda makan malam, Tuan Daven,” kata Arsen begitu mereka dalam perjalanan menuju gedung TnC yang ada di pusat kota. “Seperti yang Anda perintahkan, Walikota Harold saya informasikan kedatangan Anda ke SunCity siang ini.”Daven hanya mengan
“Aku akan menjemputmu tepat waktu,” kata Chase sembari menyalakan mesin mobil. Ia baru saja mengantarkan Josh bertemu Miss Spencer. Dan kali ini gilirannya mengantarkan Althea sampai sekolah.Seharusnya ia juga berkantor, mengurus beberapa berkas terkait dengan kurikulum ajar yang dikelola
Agak lama Daven mencerna ucapan asisten kepercayaannya itu. Manik mata birunya terus menatap Arsen lekat. Membuat Arsen menunduk canggung. “Jika Anda keberatan, saya segera memberi info—““Tidak,” sela Daven segera. “Hanya saja ini mengejutkanku.” Alis Daven kemudian terangkat. “James?” Na