Share

[5]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-04-08 12:00:09

“Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perjanjian mereka.

Toh, mereka tak akan pernah bertemu lagi. Anggap saja, Althea sedang bermain di dunia khayalan yang sangat romantis bersama suaminya tercinta. Lalu kembali pada kenyataan jika ia adalah wanita yang ditakdirkan menghabiskan waktu sendirian di dunia.

Althea menjalankan perannya dengan tenang, tanpa menuntut balasan apa pun dari suaminya. Selama Daven tak mendorongnya menjauh, wanita itu anggap Daven menerimanya—meski terpaksa. Namun, setiap gerakan tangan Althea, setiap pilihan kata yang wanita itu gunakan, perlahan menorehkan sesuatu yang tak bisa Daven diabaikan.

Daven mengangkat alis. “Kau tahu, aku bisa memilih bajuku sendiri.”

“Aku tahu,” Althea tersenyum kecil. “Tapi izinkan aku memilihkan sesuatu yang cocok untukmu pagi ini.”

Ia menaruh pilihan jas dan dasi di atas sofa. “Terserahlah. Lakukan apa pun yang kau mau. Kau memang bodoh,” gumam Daven tanpa menatapnya. “Menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.”

Althea menoleh, tidak sakit hati, tidak tersinggung. Senyum kecil masih menggantung di wajahnya.

“Mungkin. Tapi bertahanlah selama sebulan ini.”

“Daven, Sayangku!”

Teriakan seorang wanita yang tamak bersemangat membuat Althea menghentikan kegiatannya. Sama seperti Daven yang kini sedikit tergesa mengenakan blazernya seolah sudah ada seseorang yang menunggu.

“Apa itu ... Nona Vanessa?” tanya Althea.

“Aku tak tahu kenapa dia berkunjung pagi ini.” Daven segera keluar dari kamarnya. Disusul oleh Althea yang berusaha untuk tenang menghampiri tamu yang datang pagi ini.

Di ruang tamu, sudah ada Vaneesa juga Kate Callyster yang berbincang seru. Saat melihat Daven menghampiri mereka, wajah mereka semakin semringah. Namun ...

“Kenapa kau ikut ke sini?” tanya Kate dengan sinisnya. Pada sosok wanita yang ada di belakang Daven.

Althea memilih tersenyum. “Mengantarkan suamiku berangkat kerja.”

Vanessa terbahak sementara Kate ikut tertawa. Merendahkan Althea.

“Oh, astaga! Apa kau tak salah dengar, Vanessa?” tanya Kate yang masih tertawa.

“Benar-benar wanita yang tak tahu diri.” Vanessa melipat tangannya di dada.

“Sudahlah,” sela Daven. Ia tak ingin ada keributan di pagi hari. “Apa yang membawamu berkunjung pagi ini, Sayang?”

Vanessa segera menghilangkan kekesalan di wajahnya. Dengan sikap manja, ia bergelayutan mesra pada Daven. Tak peduli jika Althea menatap mereka dengan sendu. Lagi pula inilah yang seharusnya terjadi. Vanessa bersama Daven. Althea hanya orang luar yang seharusnya tak ada di dalam rumah ini.

“Aku ingin kau mengantarkanku ke studio, Sayang,” kata Vanessa.

Daven tampak terganggu tapi tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti permintaan Vanessa. “Baiklah. Ayo, kita berangkat sekarang.”

Sementara Althea yang melihat itu semua, berusaha menahan diri. Toh bukan sekali dua kali dia melihat kemesraan yang Daven dan Vanessa pamerkan padanya. Seharusnya ia sudah tak lagi sakit hati. Namun ... tetap saja. Hatinya terasa nyeri.

“Hati-hati di jalan, Daven.”

Perkataan Althea mendapatkan atensi kecil dari Daven. Pria itu terhenti sejenak dan menoleh. Lantas ia melihat Althea tersenyum tipis. Manik mata cokelatnya memancarkan kehangatan.

“Semoga harimu menyenangkan,” kata Althea.

“Ayo, kita pergi.” Vanessa segera menggamit tangan Daven. Sedikit menariknya agar lekas pergi dari rumah itu. Wajah Vanessa terlihat kesal dan menahan amarah. Andai saja ia tak teringat janjinya pagi ini di studio, mungkin akan dia pergunakan sisa hari ini untuk membuat Althea menyadari posisinya.

Sial! Ini semua karena Daven memberi wanita itu kelonggaran!

Begitu Daven dan Vanessa keluar dari ruangan, Althea menghela panjang. Nyeri di dadanya tak kunjung berkurang. Ia butuh menenangkan diri. Namun saat akan beranjak dari ruang tamu, sebuah tamparan melayang ke pipinya.

Sakit sekali rasanya.

“Jaga batasanmu, Althea!” tuding Kate dengan mata melotot tajam ke arah Althea. “Kau pengganggu hubungan anakku dan kekasihnya. Sadarkan dirimu, Wanita Sialan!”

Althea mengusap pipinya yang terasa nyeri.

“Apa kau buta melihat kemesraan mereka? Mereka adalah pasangan serasi, Althea. Dan kau?” Kate masih belum puas mengarahkan telunjuknya ke wajah Althea. “Kau hanya orang luar yang mendapatkan belas kasih ibuku. Seharusnya kau menyadari tempatmu, Althea.”

Althea hanya bisa menunduk. Tubuhnya mulai gemetaran.

“Jangan pernah berharap kau bisa menjadi bagian dari keluarga ini!”

***

“Ibu,” lirih Althea. Pipinya masih terasa nyeri. Tapi ia tak bisa mundur dari apa yang sudah menjadi keputusannya. “Tolong bantu aku menguatkan diri ini.”

Althea menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun yang ia kenakan adalah hadiah dari Evelyn Callyster. Wanita tua yang sangat baik hati dan dekat dengannya. Kematiannya membuat Althea benar-benar sedih dan kehilangan. Sama seperti saat ibunya mengembuskan napas terakhir karena luka yang diderita di kepala akibat kecelakaan itu, Althea tak henti-hentinya menangis.

Wanita itu diam-diam membelikan banyak gaun mewah sebagai hadiah, katanya siapa tahu nanti Althea akan hadir di acara resmi bersama Daven. Sayangnya, hari itu tak pernah datang.

Kecuali malam ini.

Gaun itu berwarna emas pucat, berkilau samar di bawah cahaya lampu, membalut tubuhnya dengan potongan yang anggun namun tidak mencolok. Lehernya dibiarkan terbuka, dihiasi hanya oleh kalung mutiara tipis yang menjadi satu-satunya peninggalan ibunya.

Rambut Althea disanggul rendah, rapi namun tetap lembut membingkai wajah. Riasannya tipis, cukup untuk menonjolkan matanya yang tenang dan senyumnya yang lembut. Ia tidak tampak seperti perempuan dari keluarga sederhana. Malam ini, Althea Grayson tampak seperti seorang wanita bangsawan yang datang dari cerita klasik.

“Ini permintaan Daven, juga bagian dari peranku sebagai istrinya, kan? Setidaknya ... biarkan malam ini berlalu dengan baik.” Althea menyemangati dirinya. Saat ia membuka pintu kamar dan melangkah ke aula utama, Daven sudah ada di sana. Berdiri sambil mengecek ponsel seolah ada begitu banyak kegiatan yang menyita.

Pria itu menghentikan aktivitasnya seketika lantaran suara langkah kaki yang beradu dengan lantai. Mata pria itu mengangkat, sorotnya sedikit berubah. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi pandangannya terhenti pada Althea. Tangannya semula menggenggam ponsel perlahan menurun, dan alisnya sedikit berkerut.

Althea mendekat, senyum kecil tetap terjaga di wajahnya. “Kau ... sudah menunggu lama?”

“Tidak,” sahut Daven singkat.

“Apa ... gaun ini terlalu mencolok? Jika iya, aku akan segera menggantinya.” Althea sedikit gugup lantaran Daven belum pernah menatapnya seintens ini.

“Tidak perlu,” jawab Daven pelan. “Kita pergi sekarang,” ucapnya dingin. “Mobil sudah menunggu.”

Dalam perjalanan, Daven lebih banyak diam. Tapi ia tidak menjaga jarak seperti biasanya. Ia duduk dengan tenang di sebelah Althea, dan untuk pertama kalinya, tidak mengalihkan pandang saat Althea membenarkan letak dasinya secara spontan.

Tangannya berhenti sejenak saat jemari Althea menyentuh kerahnya. Mata mereka bertemu. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat Daven menarik napas dan memalingkan wajah ke arah jendela.

“Ah, maafkan aku,” kata Althea yang segera membuat jarak di antara mereka.

Daven masih belum mau bicara.

“Aku tidak akan berdiri terlalu dekat denganmu malam ini,” ucap Althea akhirnya, dengan suara tenang tapi hati-hati. “Kupikir, mengingat sebentar lagi kau akan menikahi Vanessa, aku seharusnya tahu batasku.”

Daven menoleh dengan pelan, sorot matanya tajam. “Apa maksudmu?”

“Aku hanya akan berdiri agak di belakangmu, mungkin di sisi kanan, sedikit menjauh. Cukup bagimu untuk tahu aku di sana ... tapi tidak menghalangi,” jelas Althea dengan senyum tipis, mencoba terdengar masuk akal. “Aku tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.”

Daven memejamkan mata sejenak, lalu membuka matanya dengan berat. Suaranya rendah dan dingin saat berbicara. “Kalau kau berani menjauh atau mencoba berpura-pura bukan istriku di depan mereka,” katanya pelan namun penuh ancaman, “kau akan menyesal.”

Althea membeku di tempatnya. Ia menatap Daven, tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Daven, aku hanya—”

“Tidak ada ‘hanya’.” Daven menatapnya tajam. “Malam ini, kau akan berdiri di sampingku. Sebagai istriku, seperti yang seharusnya.”

Hening sejenak mengisi udara. Althea menunduk, membiarkan helai-helai rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

“…Baik,” jawabnya akhirnya, nyaris seperti bisikan. “Kalau itu maumu.”

Namun dalam hatinya, pertanyaan itu terus bergema.

Kenapa? Kenapa Daven melakukan hal ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [131] b

    Harold melambaikan tangannya, seakan ingin menunjukkan keramahan. “Lihat, bukankah pemandangan ini menenangkan? Tak ada kebisingan kota, tak ada mata-mata media. Hanya kita ... dan hutan pinus.”Daven menatap ke luar kaca sejenak, lalu kembali menoleh pada pria itu dengan senyum tipis. “Tenang memang. Tapi terkadang ketenangan justru menyembunyikan badai.”Harold tertawa. “Silakan duduk, Tuan Daven. Saya yakin perjalanan Anda ke SunCity pasti melelahkan.”Daven memilih mengabaikan ucapan Harold barusan. Ia mengambil duduk di tempat yang sekiranya leluasa untuk bergerak. Arsen duduk di sisi kiri Daven sementara Andy berdiri tak jauh dari Daven. Ia tetap bersikap waspada dan siaga. Mengamati pergerakan setiap orang yang ada di ruangan ini. Sementara empat pengawal Harold berdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua kegiatan di ruangan ini tanpa berkedip.“Baiklah,” Harold membuka percakapan, menyandarkan tubu

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [131] a

    “Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”Ucapan Arsen barusan membuat Daven menoleh. Saat itu juga, mereka saling menatap seolah tanpa kata, mereka menyepakati satu hal—ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini. Namun mereka tak bisa bertindak gegabah. Jangan sampai justru membuat mereka tak bisa berkutik atau paling parah, mereka dibuat tak berdaya.“Terima kasih,” sahut Daven berusaha terdengar senatural mungkin. Lewat ekor matanya, Daven bisa memastikan jika mereka diawasi.Mobil akhirnya berhenti setelah menempuh pe

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [130]

    “Weekend yang gagal dihabiskan bersama keluarga,” keluh Arsen begitu masuk ke dalam mobil. Tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah Daven untuk mempersiapkan diri ke SunCity. Dan kali ini, kemungkinan mereka menetap di sana untuk waktu yang agak lama.“Kita jemput Tuan Daven di rumah keluarga Callister, Andy,” perintah Arsen pada sopir pribadi Daven yang seharusnya ... sama sepertinya—menikmati waktu libur. “Kau sudah mempersiapkan diri? kemungkinan kita menetap di SunCity agak lama.”“Sudah, Tuan Arsen.”Arsen mengangguk dan duduk dengan nyaman. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman keluarga Callister memakan waktu empat puluh lima sampai satu jam lamanya. Akan Arsen manfaatkan waktu yang ada untuk memeriksa sekali lagi, berkas yang harus dipersiapkan untuk pertemuan dengan Harold di SunCity.Tak butuh waktu lama, mobil SUV mewah milik Daven memasuki area lobby. Dua orang pelayan di rumah Daven seg

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [129]

    “Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu pada Althea di masa lalu.“Kau yakin?” tanya Kate dengan mata memicing curiga. “Jangan tutupi sesuatu sepenting ini, Daven.”“Aku bisa pastikan itu, Mom,” kata Daven dengan raut tenang. Ia semakin erat menggenggam tangan ibunya seolah mengatakan dengan penuh ketegasan. “Seharusnya kau bisa menduga jika wartawan pasti menyangkut pautkan hal yang belum tentu kebenarannya.”Kate menghela panjang. Raut penasarannya mulai luntur ta

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [128]

    “Untuk sementara waktu, aku pulang ke rumah ibuku. Jadi, jika ada berkas yang tertinggal di apartemenku, kau bisa mengambilnya segera.”“Baik, Tuan Daven,” kata Arsen dengan patuh. “Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga Anda.”Arsen mengantarkan Daven sampai ke mobil. Untuk kali ini, Daven memintanya pulang. Hal yang sangat berarti bagi Arsen—bisa meluangkan waktu akhir pekan tanpa banyak mengurus pekerjaan. Sungguh, beberapa bula belakangan ia seperti bekerja di bawah kejaran serigala kelaparan. Belum lagi drama yang terjadi di sekitar mereka. Sangat melelahkan dan menguras banyak waktu dan energi.“Kau juga, selamat menikmati akhir pekanmu,” kata Daven sebelum masuk ke dalam mobil. Arsen terlihat membungkuk hormat dan saat Daven sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang, mobil pun bergerak perlahan meninggalkan lobby kantor.Sore harinya, setelah menyelesaikan urusan kantor,

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [127]

    “Bagaimana, Thomas? Sudah sejauh mana persiapan yang diperlukan? Apa kau masih membutuhkan berkas penting?” suara Daven terdengar rendah namun tegas.Di hadapannya, Thomas Harrison—pengacaranya—menutup map cokelat dan meletakkannya di atas meja. “Semuanya sudah cukup, Tuan Daven. Berkas pengajuan gugatan cerai juga sudah resmi diajukan ke pengadilan. Sidang pertama akan dijadwalkan minggu depan. Pihak Vanessa Blake sudah menerima pemberitahuan resmi.”Daven mengangguk sekali. “Bagus. Saya ingin semua berlangsung secepat mungkin. Tanpa celah dan tanpa drama tambahan.”Thomas menatapnya lekat. “Sayangnya, drama yang terjadi sudah terlanjur besar. Banyak spekulasi yang muncul mengenai gugatan ini. Media juga terus mengendus setiap langkah Anda, mencari informasi agar bisa dibocorkan ke masyarakat umum. Dan saya rasa, Vanessa jelas akan menggunakan semua cara untuk memperlambat proses ini.”“Ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status