로그인“Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”
Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang, bisa diungkapkan dengan air mata.
Bisa jadi saking kecewanya luka itu datang menyakiti, sudah tak mampu lagi air mata mengungkapkannya.
“Kau bisa mengatakan hal itu semaumu,” kata Althea dengan senyuman tipis. “Tapi kurasa itu adalah satu-satunya kesempatan yang datang ke hidupku.”
“Kau memiliki aku, Althea. Kau tak sendirian di dunia ini,” sergah Lydia dengan gusar. “Aku sudah sering mengatakan padamu, keluarga Callyster bukanlah tempat untuk orang sepertimu. Kau terlalu baik ... terlalu lembut untuk dipaksa bertahan di tengah mereka."
Althea memandangi cangkir tehnya yang sudah mendingin. Tangannya tetap membungkus cangkir itu, seakan kehangatan yang tertinggal bisa menenangkan gemuruh yang tersembunyi di dadanya.
“Aku tahu,” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Jika boleh mengulang waktu, aku juga tak ingin hadir di tengah keluarga mereka.” Althea tersenyum miris. Pada hidupnya yang seperti gelombang tsunami tak berkesudahan.
Lydia menghela napas panjang, mencondongkan tubuhnya pada Althea yang duduk dengan lesu. "Kenapa kau memilih menunda satu bulan? Pada akhirnya kau juga akan diceraikan Daven, kan?"
Althea mengangguk pelan. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, siapa tahu dalam waktu satu bulan itu ada waktu di mana Daven menghabiskan malam denganku.” Althea tersenyum miris. Wajahnya kiat tertunduk. “Menyedihkan sekali hidupku, kan?”
Mereka berdua terdiam.
“Tapi siapa tahu, Tuhan berbaik hati padaku. Aku bisa hamil.”
“Kau tak khawatir?” tanya Lydia dengan hati-hati. “Jika suatu saat Daven mengetahui kenyataan ini?”
“Kenapa aku harus takut? Ini hanya malam yang biasa Daven lalui dengan orang lain, kan? Aku bisa memberinya banyak alasan. Aku tak akan meminta apa pun dari Daven. Tak akan ada lagi nama Callister yang melekat padaku juga anakku kelak.”
Lydia menghela panjang. Rasa putus asa yang Althea rasakan bukan tanpa alasan. Jika itu yang Althea inginkan, maka tak ada yang bisa Lydia lakukan selain mendukungnya. “Dan kau yakin akan menjual rumahmu itu?”
“Iya,” sahut Althea tanpa ragu.
Lydia menatapnya dengan campuran kagum juga iba. “Tapi rumah itu—peninggalan ibumu. Bukankah banyak kenangan kalian di sana?”
Althea berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Aku tak ingin meninggalkan jejak di kota ini lagi, Lydia. Aku benar-benar memutuskan untuk pergi.”
***
Langit sudah gelap ketika Daven Callister membuka pintu rumah dengan suara kunci yang khas—sunyi tapi menggelegar di tengah keheningan rumah megah itu. Sepatu hitamnya menyentuh lantai marmer foyer, sementara jas abu gelap yang dikenakannya terlihat sedikit kusut. Aroma parfum elegan wanita masih samar tercium dari kerahnya—jejak dari makan malam rahasia bersama Vanessa.
Ia menghela napas, melepaskan dasi dengan satu gerakan malas, lalu melangkah masuk. Lampu-lampu ruang utama masih menyala, menyiratkan kehangatan yang kontras dengan hawa dingin di luar.
“Selamat datang di rumah, Daven.”
Langkahnya terhenti sejenak.
Althea berdiri di ambang ruang makan, mengenakan gaun rumahan warna krem yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, beberapa helai jatuh lembut di sisi wajah. Ia tersenyum lebar dan tulus, dengan sorot hangat di mata cokelatrnya. Menatap sang suami seperti tak ada hal yang salah.
Sejenak Daven hanya balas memandang. Biasanya, ia mengabaikan sapaan itu. Tapi malam ini, ia tak bisa mengabaikan Althea begitu saja.
“Aku menyiapkan makan malam. Kudengar cuaca dingin hari ini, jadi kupikir kau akan menyukai sup daging dan roti hangat.”
Ucapan itu membuat Daven melirik ke arah meja makan. Makan malam tersaji dengan rapi. Semangkuk sup masih mengepul, roti buatan sendiri, dan satu piring kecil salad yang ditata cantik. Di atas meja juga terdapat sebatang lilin menyala temaram, menciptakan bayangan lembut di dinding.
Daven menghela napas pelan. “Aku sudah makan.”
Althea mengangguk. “Tak apa. Tapi akan lebih buruk kalau makanan ini dingin dan terbuang. Kau bisa sedikit mencicipinya.”
Kalimat itu disampaikan dengan nada ringan, tak memaksa. Tapi entah kenapa, Daven menarik kursi dan duduk tanpa protes. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tatapan mata Althea yang terlihat sangat berharap. Atau mungkin karena janji yang pernah ia buat—menjadikan Althea istri yang sesungguhnya selama sebulan.
Dan makan malam bersama istri termasuk dalam janji tersebut, kan?
Althea duduk di seberangnya, tangannya sibuk menuangkan air putih ke gelas. “Silakan,” katanya pada Daven. Ia tidak menyentuh makanannya, hanya menatap pria di depannya dengan sorot tenang.
“Bagaimana harimu?” tanyanya, lembut. “Apakah rapat pagi berjalan lancar?”
Daven mengangkat sendok, mencicipi sup itu perlahan, lalu menelan tanpa menjawab.
Althea tersenyum tipis. Ia tahu. Daven bukan tipe pria yang akan langsung membuka diri, apalagi dengan seseorang yang dianggapnya ‘istri karena keadaan.’
“Aku dengara tentang merger perusahaan tekstil Korea yang ingin ekspansi ke Mighatan. Bukankah itu kompetitor Callister Enterprise?”
Kepala Daven terangkat sedikit.
“Bukan kompetitor langsung,” gumamnya. “Tapi mereka punya koneksi ke pasar bahan mentah yang kita incar.”
Althea mengangguk pelan. “Kupikir kau akan mengambil pendekatan aliansi, bukan persaingan.”
Daven berhenti mengunyah sejenak. Ada jeda, lalu ia meletakkan sendok perlahan. “Kau mengerti banyak.”
“Beberapa portal berita menayangkan hal itu. Aku hanya mengikutinya sedikit.”
Alis Daven sedikit terangkat. Ia tak mengatakan apa-apa. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menatap Althea—bukan dengan tatapan sinis atau jengkel, melainkan dengan sedikit ketertarikan.
Althea tersenyum, bukan untuk menyombongkan diri, tapi karena dia tahu ia baru saja membuat Daven memperhatikannya.
“Aku ingin tahu beberapa hal yang menjadi duniamu. Setidaknya, jika aku akan pergi suatu hari nanti, aku ingin pergi dengan tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Kata ‘pergi’ menggantung di udara seperti kabut malam yang berat.
Daven tak menanggapi. Tapi dia kembali mengambil sendoknya dan menyelesaikan sup di mangkuknya.
Ada keheningan yang panjang, nyaman dalam cara yang tak mereka sadari.
Hingga akhirnya, Daven berkata—datar seperti biasa, tapi kali ini suaranya tak sedingin biasanya.
“Dua hari lagi, ada makan malam di Kedutaan Besar Mighatan. Duta Besar dari Jepang akan hadir.”
Althea menoleh perlahan. “Pertemuan yang sangat penting, kurasa.”
“Duta Besar Jepang sangat memerhatikan Callister Enterprise dan mereka mengundangku secara personal.”
“Bukankah itu bagus?” Althea tampak antusias.
“Mereka mengundangku ... bersama pasangan.”
Althea masih dengan senyum lebarnya. “Kau bisa melakukannya, Daven.”
“Istriku.”
Althea terdiam.
“Aku diminta datang bersama istriku, Althea.”
Ucapan Daven barusan membuat Althea terdiam. Ada rasa nyeri di hatinya yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Sudah dipastikan jika Daven menghadirinya bersama Vanessa. Dan kenapa juga Daven harus mengatakan hal ini padanya?
Hanya agar Althea menyadari posisinya? Tanpa perlu disinggung pun, Althea sudah sangat mengetahui dan sadar diri, siapa dirinya di rumah ini.
“Persiapkan dirimu untuk menghadiri undangan itu, Althea.” Daven berdiri, menyentuh meja dengan satu tangan sebelum berjalan ke arah tangga. Tapi sebelum ia menghilang, ia berkata tanpa menoleh:
“Supnya enak.”
Belum. Althea belum sepenuhnya mencerna ucapan Daven barusan tapi ...
“Apa aku bermimpi?” Althea memegangi wajahnya yang mendadak memanas. “Daven ... memuji masakanku?” Oh, itu belum seberapa dibanding ucapan Daven tadi. “Dan dia memintaku menemaninya? Sebagai istrinya?”
“Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.“Semoga semua orang sudah tertidur.” Begitu harapan Althea saat membuka pintu utama, sedikit berterima kasih pada pelayan yang menyambutnya.Sayangnya ... hal itu tak terjadi.“Pulang juga akhirnya,” suara dingin menyambutnya dari arah ruang duduk.Althea menoleh pelan. Catherine Callister, ibu mertuanya, berdiri dengan segelas wine di tangan. Tatapan matanya menusuk disertai senyumnya yang tajam.“Sendirian?” Catherine mengangkat alis. “Daven tidak pulang bersamamu?”Althea menunduk sedikit, memilih untuk tidak menjawab.“Sudah kuduga,” lanjut Catherine dengan tawa mengejek. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan namun penuh tekanan. “Vanessa ad
“Kau tidak pernah bertanya,” jawab Althea datar.Daven menggeleng heran. “Kau mengejutkanku.”Althea memilih tak memberi tanggapan apa pun. Baginya, apa yang ia rasa malam ini sangat mewah. Tak pernah ia sangka bisa berdiri di samping suaminya dan bicara sesantai ini. Sungguh, jika ini mimpi, Althea tak ingin segera kembali ke alam nyata.Kendati begitu, Daven kembali diajak berbincang oleh para koleganya. Sementara Althea berdiri bersama istri Duta Besar Jepang dan beberapa tamu wanita lainnya.“Oh, I’m so impressed with your Japanese, Althea-san,” ujar Nyonya Sugimura sambil menepuk pelan tangan Althea. “Kau pasti sudah lama mempelajarinya?”“Saya mulai mempelajarinya sejak tahun pertama kuliah. Awalnya karena saya suka sastra klasik Jepang,” jawab Althea sambil tertawa kecil. “Ternyata sangat menarik dan… menenangkan.”Mereka tertawa bersama, obrolan berl
Gema tawa dan denting gelas anggur menyambut pasangan itu saat memasuki aula utama Kedutaan Besar Jepang malam itu. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal, orkestra klasik mengalun lembut di sudut ruangan. Daven, dalam setelan hitam Armani yang sempurna, segera menjadi pusat perhatian. Beberapa kolega dan tokoh penting menyapanya lebih dulu, mengulurkan tangan dan sapaan hangat.“Mr. Callister! What a surprise to see you here,” seru salah satu rekan bisnisnya, Pak Edmund, sambil menepuk bahu Daven dengan akrab.“Tuan Edmund,” jawab Daven singkat dengan anggukan kecil, senyum tipis mengiringi suaranya yang tetap datar.Sejak mereka turun dari mobil, Althea merasakan atmosfer yang berbeda. Mungkin karena ini pertama kalinya ia mengikuti Daven menghadiri acara resmi. Bohong rasanya kalau Althea tak gugup. Apalagi sekarang, di saat Daven banyak ditemui oleh koleganya.Meski Althea berdiri di samping Daven, berada di tengah riuh pem
“Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perjanjian mereka.Toh, mereka tak akan pernah bertemu lagi. Anggap saja, Althea sedang bermain di dunia khayalan yang sangat romantis bersama suaminya tercinta. Lalu kembali pada kenyataan jika ia adalah wanita yang ditakdirkan menghabiskan waktu sendirian di dunia.Althea menjalankan perannya dengan tenang, tanpa menuntut balasan apa pun dari suaminya. Selama Daven tak mendorongnya menjauh, wanita itu anggap Daven menerimanya—meski terpaksa. Namun, setiap gerakan tangan Althea, setiap pilihan kata yang wanita itu gunakan, perlahan menorehkan sesuatu yang tak bisa Daven diabaikan.Daven mengangkat alis. “Kau tahu, aku bisa memilih bajuku sendiri.”&
“Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang, bisa diungkapkan dengan air mata.Bisa jadi saking kecewanya luka itu datang menyakiti, sudah tak mampu lagi air mata mengungkapkannya.“Kau bisa mengatakan hal itu semaumu,” kata Althea dengan senyuman tipis. “Tapi kurasa itu adalah satu-satunya kesempatan yang datang ke hidupku.”“Kau memiliki aku, Althea. Kau tak sendirian di dunia ini,” sergah Lydia dengan gusar. “Aku sudah sering mengatakan padamu, keluarga Callyster bukanlah tempat untuk orang sepertimu. Kau terlalu baik ... terlalu lembut untuk dipaksa bertahan di tengah mereka."Althea memandangi cangkir tehnya yang sudah mendingin. Tangannya tetap membungkus cangkir itu, seakan kehangatan yang tertinggal bisa menenangkan gemuruh y
Bohong kalau Althea tak sakit hati. Munafik kalau Althea tak merasa sedih dan kecewa. Tapi ... apa yang bisa ia lakukan untuk menahan semua ini? Bahkan pria yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, justru orang pertama yang paling membuatnya patah hati. Althea tak buta melihat bagaimana Daven yang terang-terangan tak menyembunyikan hubungannya dengan sang kekasih.Meski di depan sang nenek, Daven berkamuflase sebagai sosok suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.“Tuhan,” lirihnya seraya berusaha terpejam. Malam kian larut. Hari esok masih harus Althea hadapi. “Tolong beri aku kemurahan-Mu. Berbaik hatilah sedikit padaku, Tuhan. Beri aku kesempatan untuk mendapatkan keinginanku.”Saat Althea memberi tahu keinginannya, ia tak menyangka jika Daven mengabulkannya. Karena itulah, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.Anak.Althea menginginkan anak. Sebagai teman hidupnya kelak. Seseorang yang bisa ia cintai tanpa syarat. Ses