Share

[4]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-04-07 15:40:56

“Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”

Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang, bisa diungkapkan dengan air mata.

Bisa jadi saking kecewanya luka itu datang menyakiti, sudah tak mampu lagi air mata mengungkapkannya.

“Kau bisa mengatakan hal itu semaumu,” kata Althea dengan senyuman tipis. “Tapi kurasa itu adalah satu-satunya kesempatan yang datang ke hidupku.”

“Kau memiliki aku, Althea. Kau tak sendirian di dunia ini,” sergah Lydia dengan gusar. “Aku sudah sering mengatakan padamu, keluarga Callyster bukanlah tempat untuk orang sepertimu. Kau terlalu baik ... terlalu lembut untuk dipaksa bertahan di tengah mereka."

Althea memandangi cangkir tehnya yang sudah mendingin. Tangannya tetap membungkus cangkir itu, seakan kehangatan yang tertinggal bisa menenangkan gemuruh yang tersembunyi di dadanya.

“Aku tahu,” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Jika boleh mengulang waktu, aku juga tak ingin hadir di tengah keluarga mereka.” Althea tersenyum miris. Pada hidupnya yang seperti gelombang tsunami tak berkesudahan.

Lydia menghela napas panjang, mencondongkan tubuhnya pada Althea yang duduk dengan lesu. "Kenapa kau memilih menunda satu bulan? Pada akhirnya kau juga akan diceraikan Daven, kan?"

Althea mengangguk pelan. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, siapa tahu dalam waktu satu bulan itu ada waktu di mana Daven menghabiskan malam denganku.” Althea tersenyum miris. Wajahnya kiat tertunduk. “Menyedihkan sekali hidupku, kan?”

Mereka berdua terdiam.

“Tapi siapa tahu, Tuhan berbaik hati padaku. Aku bisa hamil.”

“Kau tak khawatir?” tanya Lydia dengan hati-hati. “Jika suatu saat Daven mengetahui kenyataan ini?”

“Kenapa aku harus takut? Ini hanya malam yang biasa Daven lalui dengan orang lain, kan? Aku bisa memberinya banyak alasan. Aku tak akan meminta apa pun dari Daven. Tak akan ada lagi nama Callister yang melekat padaku juga anakku kelak.”

Lydia menghela panjang. Rasa putus asa yang Althea rasakan bukan tanpa alasan. Jika itu yang Althea inginkan, maka tak ada yang bisa Lydia lakukan selain mendukungnya. “Dan kau yakin akan menjual rumahmu itu?”

“Iya,” sahut Althea tanpa ragu.

Lydia menatapnya dengan campuran kagum juga iba. “Tapi rumah itu—peninggalan ibumu. Bukankah banyak kenangan kalian di sana?”

Althea berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Aku tak ingin meninggalkan jejak di kota ini lagi, Lydia. Aku benar-benar memutuskan untuk pergi.”

***

Langit sudah gelap ketika Daven Callister membuka pintu rumah dengan suara kunci yang khas—sunyi tapi menggelegar di tengah keheningan rumah megah itu. Sepatu hitamnya menyentuh lantai marmer foyer, sementara jas abu gelap yang dikenakannya terlihat sedikit kusut. Aroma parfum elegan wanita masih samar tercium dari kerahnya—jejak dari makan malam rahasia bersama Vanessa.

Ia menghela napas, melepaskan dasi dengan satu gerakan malas, lalu melangkah masuk. Lampu-lampu ruang utama masih menyala, menyiratkan kehangatan yang kontras dengan hawa dingin di luar.

“Selamat datang di rumah, Daven.”

Langkahnya terhenti sejenak.

Althea berdiri di ambang ruang makan, mengenakan gaun rumahan warna krem yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, beberapa helai jatuh lembut di sisi wajah. Ia tersenyum lebar dan tulus, dengan sorot hangat di mata cokelatrnya. Menatap sang suami seperti tak ada hal yang salah.

Sejenak Daven hanya balas memandang. Biasanya, ia mengabaikan sapaan itu. Tapi malam ini, ia tak bisa mengabaikan Althea begitu saja.

“Aku menyiapkan makan malam. Kudengar cuaca dingin hari ini, jadi kupikir kau akan menyukai sup daging dan roti hangat.”

Ucapan itu membuat Daven melirik ke arah meja makan. Makan malam tersaji dengan rapi. Semangkuk sup masih mengepul, roti buatan sendiri, dan satu piring kecil salad yang ditata cantik. Di atas meja juga terdapat sebatang lilin menyala temaram, menciptakan bayangan lembut di dinding.

Daven menghela napas pelan. “Aku sudah makan.”

Althea mengangguk. “Tak apa. Tapi akan lebih buruk kalau makanan ini dingin dan terbuang. Kau bisa sedikit mencicipinya.”

Kalimat itu disampaikan dengan nada ringan, tak memaksa. Tapi entah kenapa, Daven menarik kursi dan duduk tanpa protes. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tatapan mata Althea yang terlihat sangat berharap. Atau mungkin karena janji yang pernah ia buat—menjadikan Althea istri yang sesungguhnya selama sebulan.

Dan makan malam bersama istri termasuk dalam janji tersebut, kan?

Althea duduk di seberangnya, tangannya sibuk menuangkan air putih ke gelas. “Silakan,” katanya pada Daven. Ia tidak menyentuh makanannya, hanya menatap pria di depannya dengan sorot tenang.

“Bagaimana harimu?” tanyanya, lembut. “Apakah rapat pagi berjalan lancar?”

Daven mengangkat sendok, mencicipi sup itu perlahan, lalu menelan tanpa menjawab.

Althea tersenyum tipis. Ia tahu. Daven bukan tipe pria yang akan langsung membuka diri, apalagi dengan seseorang yang dianggapnya ‘istri karena keadaan.’

“Aku dengara tentang merger perusahaan tekstil Korea yang ingin ekspansi ke Mighatan. Bukankah itu kompetitor Callister Enterprise?”

Kepala Daven terangkat sedikit.

“Bukan kompetitor langsung,” gumamnya. “Tapi mereka punya koneksi ke pasar bahan mentah yang kita incar.”

Althea mengangguk pelan. “Kupikir kau akan mengambil pendekatan aliansi, bukan persaingan.”

Daven berhenti mengunyah sejenak. Ada jeda, lalu ia meletakkan sendok perlahan. “Kau mengerti banyak.”

“Beberapa portal berita menayangkan hal itu. Aku hanya mengikutinya sedikit.”

Alis Daven sedikit terangkat. Ia tak mengatakan apa-apa. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menatap Althea—bukan dengan tatapan sinis atau jengkel, melainkan dengan sedikit ketertarikan.

Althea tersenyum, bukan untuk menyombongkan diri, tapi karena dia tahu ia baru saja membuat Daven memperhatikannya.

“Aku ingin tahu beberapa hal yang menjadi duniamu. Setidaknya, jika aku akan pergi suatu hari nanti, aku ingin pergi dengan tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Kata ‘pergi’ menggantung di udara seperti kabut malam yang berat.

Daven tak menanggapi. Tapi dia kembali mengambil sendoknya dan menyelesaikan sup di mangkuknya.

Ada keheningan yang panjang, nyaman dalam cara yang tak mereka sadari.

Hingga akhirnya, Daven berkata—datar seperti biasa, tapi kali ini suaranya tak sedingin biasanya.

“Dua hari lagi, ada makan malam di Kedutaan Besar Mighatan. Duta Besar dari Jepang akan hadir.”

Althea menoleh perlahan. “Pertemuan yang sangat penting, kurasa.”

“Duta Besar Jepang sangat memerhatikan Callister Enterprise dan mereka mengundangku secara personal.”

“Bukankah itu bagus?” Althea tampak antusias.

“Mereka mengundangku ... bersama pasangan.”

Althea masih dengan senyum lebarnya. “Kau bisa melakukannya, Daven.”

“Istriku.”

Althea terdiam.

“Aku diminta datang bersama istriku, Althea.”

Ucapan Daven barusan membuat Althea terdiam. Ada rasa nyeri di hatinya yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Sudah dipastikan jika Daven menghadirinya bersama Vanessa. Dan kenapa juga Daven harus mengatakan hal ini padanya?

Hanya agar Althea menyadari posisinya? Tanpa perlu disinggung pun, Althea sudah sangat mengetahui dan sadar diri, siapa dirinya di rumah ini.

“Persiapkan dirimu untuk menghadiri undangan itu, Althea.” Daven berdiri, menyentuh meja dengan satu tangan sebelum berjalan ke arah tangga. Tapi sebelum ia menghilang, ia berkata tanpa menoleh:

“Supnya enak.”

Belum. Althea belum sepenuhnya mencerna ucapan Daven barusan tapi ...

“Apa aku bermimpi?” Althea memegangi wajahnya yang mendadak memanas. “Daven ... memuji masakanku?” Oh, itu belum seberapa dibanding ucapan Daven tadi. “Dan dia memintaku menemaninya? Sebagai istrinya?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
love6002
hal sederhana tapi membiat althea bahagia 🥹🥹🥹🥹🥹🥹
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 16

    Hujan deras mengguyur SunCity malam itu. Langit gelap, petir sesekali menyambar. Di ruang bermain yang hangat, Daven tertidur di lantai berkarpet, dengan Josh bersandar di dadanya dan Grace terlelap di pelukannya.Althea berdiri di ambang pintu, memandangi pemandangan itu dengan dada sesak.Ia melangkah perlahan, lalu berbisik lembut, “Daven…”Daven mengerjap pelan, suaranya serak karena kantuk. “Hm? Sudah jam berapa?”“Jam sebelas lewat,” jawab Althea, menunduk sedikit. “Kau ketiduran lagi.”Daven menatap dua anak di pelukannya lalu tersenyum kecil. “Kelihatannya mereka menang malam ini.”“Kau lembur semalam, kan?”“Cuma sedikit,” katanya santai. “Josh minta aku bantu buat roket dari kardus, aku kalah cepat. Jadi ya… hukuman tidur di sini.”Althea menghela napas lembut, lalu mengambil selimut untuk menutupi mereka. &ld

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 15

    Hujan turun pelan di luar jendela. Aroma tanah basah menyelinap lewat celah kaca yang sedikit terbuka.Di ruang keluarga, Althea duduk di sofa dengan selimut di pangkuannya, menatap kosong ke arah api perapian yang kecil. Di pangkuannya, Grace menggeliat, masih terlelap. Sementara di seberang, Josh sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.“Mommy,” panggilnya pelan. “Boleh aku tambahin Papa di gambar ini?”Althea menoleh perlahan. “Tentu saja, Sayang. Papa kamu harus ada di sana.”Josh tersenyum kecil. “Tapi Daddy juga harus ada. Daddy yang tanam pohon di sekolah, kan?”Althea menunduk, matanya hangat tapi lembab. “Iya. Daddy yang tanam.”“Jadi... dua-duanya boleh ada di sini.” Josh menunjuk gambarnya dengan polos. “Karena aku sayang mereka berdua.”Sebelum Althea bisa menjawab, bel rumah berbunyi.Ia menarik napas dalam, menatap sekilas ke ara

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 14

    “Mommy, lihat! Grace tersenyum!”Suara Josh memecah keheningan pagi di ruang keluarga yang hangat.Althea menoleh dari kursi tempat ia duduk menyusui bayi kecilnya. Wajahnya lembut tapi lelah. “Iya, sayang… dia memang suka senyum kalau dengar suara Josh.”Josh terkekeh kecil, menatap adik bayinya dengan bangga. “Berarti dia suka aku.”“Tentu saja,” jawab Althea, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba terasa mendesak naik. “Semua orang suka kamu.”Dari balik jendela besar, Lydia memperhatikan mereka sambil tersenyum lembut. Ia duduk di kursi rodanya, jemarinya mengetuk pelan lengan kayu di sisinya. “Kau melakukannya dengan baik, Althea. Chase pasti bangga padamu.”Althea menatapnya sejenak. “Aku hanya mencoba bertahan, Lydia. Kadang rasanya seperti berjalan di tengah kabut tebal. Tapi setiap kali aku melihat anak-anak…”

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 13

    “Dia ditemukan pagi ini.”Suara Chris terdengar parau, menahan emosi yang hampir meledak. Semua orang di ruang keluarga Callister mendadak terdiam. Hanya suara isak pelan dari Lydia yang terdengar samar di sudut ruangan.“Di mana...?” suara Daniel nyaris berbisik.“Di perairan dekat lokasi jatuhnya pesawat,” jawab Chris dengan napas berat. “Tim SAR mengkonfirmasi dari tanda identitas di tangannya. Itu benar Chase.”Riana langsung menutup mulutnya, menahan teriakan. Lydia beringsut memeluknya, tapi air matanya sendiri jatuh deras. Cale hanya menunduk, memijit pelipisnya, seolah mencoba menahan kenyataan pahit yang baru saja menghantam mereka semua.“Sudah... sudah diberitahu Althea?” tanya Daven pelan, berdiri di dekat jendela.Chris menggeleng. “Belum. Aku ingin memastikan dulu semuanya sebelum dia tahu.”Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, suara

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 12

    Malam itu, ruang rawat terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak lembut, menyatu dengan deru napas Althea yang belum benar-benar stabil. Ia belum bisa tidur. Tangannya bergetar ketika meraih ponsel di meja kecil samping ranjang.Tayangan berita masih berulang di layar.Siaran langsung dari pantai Turki—gelombang besar, serpihan logam, dan tim pencari yang mengangkat barang-barang pribadi dari lautan.“Pesawat yang hilang sejak dua hari lalu, kini telah ditemukan dalam kondisi hancur di perairan dekat Selat Dardanella. Berdasarkan laporan awal, tidak ditemukan tanda-tanda korban selamat di antara 180 penumpang dan kru…”Althea menatap layar tanpa suara. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar.Hanya air mata yang perlahan mengalir.Tangannya terangkat, menyentuh layar ponsel seolah ingin meraih wajah Chase dari balik berita itu. “Kau... sungguh tidak akan kembali, ya?” bis

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [SS] 11

    Langit di atas taman itu tampak begitu cerah. Sinar matahari menembus dedaunan, menciptakan bayangan berkilau di antara kelopak bunga yang bergoyang lembut diterpa angin. Althea duduk di bangku kayu, mengenakan gaun putih sederhana. Hatinya terasa ringan, tenang — sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini.“Cantik sekali, ya?”Suara itu terdengar lembut di sampingnya. Althea menoleh, dan senyum lebar langsung muncul di wajahnya.“Chase…” suaranya bergetar pelan. “Kau di sini.”Chase tersenyum, duduk di sebelahnya, lalu menggenggam tangan Althea dengan erat. “Tentu saja aku di sini. Di mana lagi aku bisa melihat bunga favoritmu mekar begini indah?”Althea tertawa kecil. “Kau selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum.”“Itu tugasku,” jawab Chase ringan. “Membuatmu tersenyum, bahkan saat kau tidak ingin tersenyum.”Althea bersandar di bah

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [62]

    My Wife :Jadwalku selama sebulan ini sudah kuberitahu Arsen. Kenapa kau tak memberitahuku mengenai jadwalmu? Aku ingin bicara padamu. Apa sulit sekali bicara dengan suami sendiri? Apa kesibukanmu setara dengan presiden?Daven hanya menatap layar ponselnya tanpa minat. Hanya satu hal yang ia lakuka

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [61]

    Berulang kali Althea menghela panjang, berulang kali juga ia memastikan penampilannya sempurna. Dress yang ia gunakan, senada dengan polo shirt yang Chase dan Josh kenakan. Di meja ruang tamu juga sudah Althea persiapkan buah tangan yang akan ia bawa ke rumah Chase. Meski pria itu mengatakan tak pe

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [58]

    Althea mendorong pintu keluar di ujung lorong lantai lima—sebuah pintu besi dengan pegangan dingin yang mengarah langsung ke atap taman rahasia di gedung sekretariat. Tempat yang belum lama Althea tahu, yang kali disebut Chase sebagai tempat favoritnya melepas lelah. Begitu pintu terbuka, semilir

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [55]

    Beberapa jam sebelum Daven muncul di TK tempat Josh bersekolah.“Tuan ... Daven?”Apartemen itu sunyi. Tak ada suara apa pun terkecuali bunyi pendingin ruangan. Bahkan sekadar suara televisi atau musik pun tak ada. Arsen cukup khawatir dengan keadaan ini. Pikira

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status