Share

[3]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-04-07 15:38:15

Bohong kalau Althea tak sakit hati. Munafik kalau Althea tak merasa sedih dan kecewa. Tapi ... apa yang bisa ia lakukan untuk menahan semua ini? Bahkan pria yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, justru orang pertama yang paling membuatnya patah hati. Althea tak buta melihat bagaimana Daven yang terang-terangan tak menyembunyikan hubungannya dengan sang kekasih.

Meski di depan sang nenek, Daven berkamuflase sebagai sosok suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.

“Tuhan,” lirihnya seraya berusaha terpejam. Malam kian larut. Hari esok masih harus Althea hadapi. “Tolong beri aku kemurahan-Mu. Berbaik hatilah sedikit padaku, Tuhan. Beri aku kesempatan untuk mendapatkan keinginanku.”

Saat Althea memberi tahu keinginannya, ia tak menyangka jika Daven mengabulkannya. Karena itulah, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.

Anak.

Althea menginginkan anak. Sebagai teman hidupnya kelak. Seseorang yang bisa ia cintai tanpa syarat. Seseorang yang akan memanggilnya Mama—walau hanya itu satu-satunya panggilan hangat yang akan ia dengar seumur hidupnya.

Dan dia tahu, mungkin inilah satu-satunya kesempatan.

Ia tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Ia juga tak akan menuntut apa pun dari Daven. Bahkan dia sudah berniat untuk bersembunyi, hidup berdua dengan anaknya di belahan dunia lain. Dunia yang tak mungkin Daven singgahi. Karena bisa dipastikan, pria itu akan sibuk dengan istrinya yang dicintai.

Itulah keinginannya. Tak peduli siapa pun mengatakan betapa konyol dan gila pemikirannya, tapi ia berharap, sungguh ia berharap ... Tuhan baik hati. Mengabulkan keinginannya. Dan karena itulah, paginya Althea berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya. Jemarinya yang mungil merapikan poni tipis yang baru dipotong, sedikit ragu tapi tersenyum melihat pantulan dirinya. Wajahnya dirias lembut—tidak mencolok, tapi cukup untuk memunculkan pesona yang jarang ia tunjukkan.

Hari ini, dia ingin terlihat cantik.

Althea mengenakan gaun sederhana berwarna nude, membingkai lekuk tubuhnya yang anggun. Ia sempat tersenyum kecil saat mengelus kainnya. Pagi ini ia berniat membuatkan Daven sarapan spesial. "Aku siap," bisiknya pada diri sendiri. “Andai Daven memelukku di dapur—“ ugh! Rona panas segera menjalari wajahnya.

Novel romansa yang pernah ia baca, sekelebatan hilir mudik di benaknya. Bagaimana manis dan indahnya romansa suami istri yang memadu kasih. Penuh cinta. Di setiap sudut rumah, mereka tandai sebagai tempat bercinta yang panas dan menggelora.

“Ah, betapa naifnya dirimu, Althea,” cemoohnya pada diri sendiri. “Daven tak mungkin melakukan hal itu.”

Tapi ... bukankah di atas kemustahilan selalu ada harapan? Sayangnya harapan itu runtuh begitu suara dering bel di lantai bawah berbunyi—diikuti suara langkah kaki dan tawa tinggi meremehkan.

“Siapa, ya?”

 Langkah Althea menurun pelan dari tangga. Senyum tipis yang tadi ia latih di depan cermin mulai memudar, terganti oleh ekspresi siaga yang tenang. Di ruang tamu, wanita itu duduk dengan santainya. Mengenakan jumpsuit merah marun yang mencolok dan sepatu hak tinggi yang mengkilap. Vanessa Blake—angkuh, cantik, dan sangat sadar akan pesonanya.

Wajah cantiknya sama seperti apa yang terlihat di layar kaca atau berbagai iklan, bahkan kalau Althea boleh jujur, Vanessa adalah gambaran malaikat paling cantik yang turun ke bumi. Sayangnya ... tidak dengan senyum serta perangainya. Terutama jika ditujukan pada Althea.

“Oh?” Vanessa menoleh, menatap Althea dari ujung kepala hingga kaki. Senyumannya miring. “Kukira kau akhirnya tahu caranya berdandan juga.”

Althea tetap berdiri tegak. “Ada yang bisa kubantu, Nona Vanessa?”

“Ah, langsung ke inti pembicaraan kita?” Vanessa berdiri, menepuk-nepuk tas bermerek di pangkuannya. “Kau tak ingin menyuguhkan apa pun untukku?” Ia menyibak rambut panjangnya dengan tenang. “Kupikir kau seharusnya tahu diri. Di rumah ini, kau yang paling layak menjamu tamu. Wajahmu sangat mendukung hal itu, Althea.”

Althea memilih tersenyum saja.

“Aku tak ingin berbasa basi denganmu,” Vanessa tersenyum sinis. “Aku hanya mampir. Sekadar ingin tahu, apa yang calon suamiku lakukan bersama wanita yang tak tahu diri ini. Kupikir kau hanya menggertakku dengan meminta waktu Daven tapi sepertinya, kau benar-benar kehilangan akal sehatmu.”

“Aku masih bisa berpikir rasional, Nona Vanessa.”

Vanessa tertawa geli. “Dengan berpakaian seperti ini? Untuk menggoda Daven?” Ia pun bangun dari duduknya. “Benar-benar wanita murahan!”

Sebelum tangan itu menarik gaun yang Althea kenakan, Althea sudah lebih dulu bertindak. Ia mencengkeram pergelangan tangan Vanessa hanya agar ia menghentikan rencananya. “Aku tak peduli jika kau anggap aku wanita murahan, Nona Vanessa. Tapi statusku di rumah ini masih istri dari Daven Callister.”

Sorot mata Althea tak tergoyahkan. Sama halnya seperti cengkeraman yang baru saja ia lakukan pada Vanessa.

“Jaga batasanmu, Sialan!” kata Vanessa dengan geramnya. Tapi kemudian Vanessa tertawa pelan, suara tawanya tajam seperti kaca pecah. “Oh, sayangku ... status ‘istri dari Daven Callister’ itu hanya di atas kertas. Semua orang tahu itu.”

“Semua orang juga tahu jika pernikahan kalian belum terjadi,” balas Althea lembut, tapi jelas. “Jadi sampai saat itu tiba, aku tetap istrinya. Dan akan kujalani peran itu dengan baik, Nona Vanessa.”

Vanessa menyipitkan mata. “Kau sungguh berpikir bisa ... menyentuhnya? Membuat dia tidur bersamamu? Kau benar-benar wanita yang sangat putus asa, hah?!”

“Aku tidak berharap apa pun,” Althea mengangkat dagunya sedikit. “Kau tak perlu merasa terusik dengan semua ini, kan? Lagi pula bukankah sudah ditentukan siapa pemenangnya?” Cengkeraman tangan itu segera Althea lepaskan. Ia tak ingin berlama-lama bersentuhan dengan wanita yang dicintai Daven.

Jika bukan karena tekad yang kuat di hatinya, mungkin menghadapi Vanessa pagi ini, Althea sudah bercucuran air mata.

Vanessa mengusap tangan yang tadi dicekal oleh Althea. Sialan wanita itu! Berani-beraninya memperlakukan dia seperti ini! Ia tak akan membiarkannya begitu saja. Akan ia buat Althea membayar harganya.

“Kau tahu, Althea, aku selalu bertanya-tanya ... kenapa Daven mau menikahimu,” kata Vanessa. Suaranya seperti belati yang tajam menggoreskan luka pada Althea. “Kau bukan siapa-siapa. Tak punya latar belakang keluarga terpandang, tak punya koneksi, bahkan tak punya nama yang bisa dibanggakan.”

Jikalau sang mertua, Kate Callister, yang menyinggung hal ini mungkin Althea akan memaklumi. Namun perkataan ini berasal dari Vanessa, orang luar yang sialannya, keberadaan dia di keluarga Callister begitu berharga. Sangat berharga sampai bisa berkata apa pun pada Althea tanpa ada yang memeringatiya.

Althea tak menjawab, hanya berdiri berusaha tenang. Ia tahu Vanessa sedang mencari celah untuk menyerangnya lebih jauh. Sungguh, Althea menahan agar air matanya tak jatuh membasahi pipi.

“Aku kira dulu Daven hanya kasihan padamu. Tapi sekarang kupikir ... mungkin dia mulai menyadari kau memiliki keserakahan tersendiri. Kau diam, tak banyak bicara. Tapi di balik wajah pura-pura polos itu, kau ternyata licik, ya?”

“Cukup, Nona Vanessa,” kata Althea pelan. “Jika kau datang untuk menghina, aku tak akan menanggapinya. Aku tak ingin mempermalukan siapa pun.”

“Mempermalukan?” Vanessa mendengus geli. “Sayangku, kau sudah mempermalukan dirimu sendiri dengan berdandan seperti itu. Apa yang kau pikirkan? Daven akan melihatmu lalu jatuh cinta? Bahwa dia akan meninggalkanku untukmu?”

“Aku tidak pernah mengharapkan itu,” suara Althea masih tenang. “Aku hanya menjalani peranku, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang.”

“Menjalani peran?” Vanessa menyeringai. “Kau terdengar seperti wanita tua yang ditinggal mati suaminya. Tragis sekali. Tapi lebih menyedihkan lagi karena suaminya saat ini masih hidup ... dan mencintai wanita lain.”

Althea menggigit bibir bawahnya perlahan. Ia menunduk sejenak, menarik napas. Ia tak akan membiarkan air mata jatuh. Tidak di depan Vanessa. Tapi belum sempat ia menjawab, langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Daven.

Ia baru saja keluar dari kamarnya, mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang.  Penampilannya santai, tapi sorot matanya langsung menangkap situasi di bawah tangga. Vanessa yang berdiri terlalu dekat dengan Althea. Wajah Althea terlihat pucat seperti tengah menahan sesuatu.

Dan belum sempat ia berkata apa-apa, suara Kate terdengar dari belakang.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali pagi-pagi begini?” suara tajam Kate Callister mengisi ruangan. Ia turun dari anak tangga bersama kedua putrinya—Karina dan Felicia Callister—keduanya menatap Althea dengan pandangan yang sama menyebalkannya seperti sang ibu.

Vanessa langsung mengambil peran. “Tante Kate ... aku datang untuk menyampaikan rasa keprihatin. Lihat saja, Althea berdandan seperti ini hanya untuk menarik perhatian Daven. Aku khawatir ... dia mulai tak tahu tempatnya.”

“Oh, astaga,” Kate menatap Althea dari atas ke bawah. “Apa maksudmu dengan pakaian seperti itu, Althea? Di mana sopan santunmu!”

“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun dengan pakaian ini. Saya juga terbiasa menggunakannya di rumah,” sahut Althea pelan, berusaha sopan.

Karina terkikik menanggapi ucapan wanita yang seharusnya ia anggap sebagai kakak ipar. “Astaga, satu tahun kau tinggal di rumah ini, kau sudah memberi kesan jika kaulah pemilik rumah ini?”

Bukan hanya Siena, Felicia pun melakukan hal yang sama. “Semakin hari wanita ini makin tak tahu diri!” Ia pun mendorong bahu Althea dengan cukup kuat. Membuat wanita itu terhuyung hampir saja terjatuh. “Sadarkan dirimu di rumah ini, Althea! Kau benar-benar tak tahu diri!”

“Cukup!”

Ucapan Daven barusan membuat mereka semua menoleh.

“Daven, kau tak berniat membelanya, kan?” tanya Karina dengan keheranan.

Daven menarik napas, jelas menahan lelah. “Aku tidak sedang membela siapa-siapa. Aku hanya ingin pagi ini tidak diisi dengan drama kalian. Aku sudah cukup pusing dengan urusan kantor.”

Vanessa mengerucutkan bibir. “Ucapanmu kuanggap pembelaan untuknya, Sayang.”

Daven menghela pelan. “Tidak mungkin hal seperti itu terjadi.” Ia pun mendekat pada Vanessa. Mengusap lembut rambut kekasihnya yang tergerai indah. Mengabaikan pandangan sendu milik Althea yang tak jauh dari posisinya.

Apa Daven peduli? Sama sekali tidak.

“Aku minta kalian semua tak meneruskan perdebatan ini. Aku butuh ketenangan.” Nada suara Daven datar, tanpa emosi, tapi cukup tegas untuk membuat semua orang bungkam.

Kate mendengus kesal. “Ya ampun, baiklah. Aku memilih sarapan di luar.” Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban, diikuti oleh Karina dan Felisia yang masih melontarkan pandangan menghina pada Althea. Vanessa tetap diam di tempat, memandang Althea penuh kemarahan sebelum akhirnya melangkah pergi dengan langkah jengkel.

Begitu keempatnya menghilang dari ruang tamu, suasana langsung hening.

Daven mengusap wajahnya pelan, terlihat sangat lelah. “Apa pun yang terjadi di antara kalian, jangan buat itu jadi urusan utamaku pagi ini.”

Althea, yang sejak tadi berdiri tenang meski hatinya tercabik, akhirnya memberanikan diri untuk menatap suaminya. Lalu berkata dengan suara lembut namun mantap. “Kalau begitu, izinkan aku menyiapkan sarapan. Hanya butuh lima menit. Kau belum sarapan, kan?”

Daven tak langsung menjawab. Ia menatap Althea sejenak, ekspresinya sulit ditebak. Tapi akhirnya ia mengangguk sekali. “Terserah. Jangan membuang waktuku terlalu lama.”

Althea mengangguk pelan dan berbalik menuju dapur. Lima menit kemudian, ia kembali dengan nampan berisi sepiring roti panggang, telur mata sapi, dan secangkir kopi panas—semuanya disusun rapi, bahkan serbet pun dilipat sempurna.

Daven sudah duduk di ruang makan, membuka beberapa dokumen di tablet-nya.

“Ini,” kata Althea sambil meletakkan nampan di hadapannya. “Aku tahu ini sederhana. Tapi ... aku harap hidangan ini bisa kau jadikan untuk mengawali hari dengan baik.”

Daven menatap sarapan itu sebentar, lalu mulai makan tanpa banyak komentar.

Althea menarik kursi dan duduk di seberangnya. Tangannya bertaut di pangkuan, bibirnya ragu-ragu sebelum akhirnya bersuara lagi.

“Kau tak lupa dengan janjimu, kan?” tanyanya perlahan. “Aku hanya ingin mengingatkan.”

Daven meletakkan sendok garpunya, menatapnya datar. “Tidak.”

Althea mengangguk kecil. “Kalau begitu, aku akan menjalani peran sebagai istri seperti seharusnya. Menyiapkan sarapan, memastikan kau tidak lupa membawa berkas penting ke kantor,” Ia tersenyum tipis. “Dan hal-hal lain yang mungkin biasa dilakukan pasangan suami istri.”

Daven menghela napas, memijat pelipisnya sebentar. “Aku tidak mau ada drama berlebih. Kau tahu batasannya, Althea. Jangan membuatku menyesal menyetujui ini.”

“Aku tidak akan membuatmu menyesal,” jawab Althea berusaha tenang. Manik kecokelatan itu menatap Daven tanpa ragu. “Kau tenang saja. Aku hanya akan meminta satu hal di pagi ini.”

Daven membalas tatapan itu tanpa minat. “Apa?”

“Bisakah kau memberiku ... ciuman selamat pagi?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
love6002
althea, kamu terlalu sabar mengnghadapi penghinaan ini ...‍......‍......‍......‍......‍......‍......‍...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [131] b

    Harold melambaikan tangannya, seakan ingin menunjukkan keramahan. “Lihat, bukankah pemandangan ini menenangkan? Tak ada kebisingan kota, tak ada mata-mata media. Hanya kita ... dan hutan pinus.”Daven menatap ke luar kaca sejenak, lalu kembali menoleh pada pria itu dengan senyum tipis. “Tenang memang. Tapi terkadang ketenangan justru menyembunyikan badai.”Harold tertawa. “Silakan duduk, Tuan Daven. Saya yakin perjalanan Anda ke SunCity pasti melelahkan.”Daven memilih mengabaikan ucapan Harold barusan. Ia mengambil duduk di tempat yang sekiranya leluasa untuk bergerak. Arsen duduk di sisi kiri Daven sementara Andy berdiri tak jauh dari Daven. Ia tetap bersikap waspada dan siaga. Mengamati pergerakan setiap orang yang ada di ruangan ini. Sementara empat pengawal Harold berdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua kegiatan di ruangan ini tanpa berkedip.“Baiklah,” Harold membuka percakapan, menyandarkan tubu

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [131] a

    “Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”Ucapan Arsen barusan membuat Daven menoleh. Saat itu juga, mereka saling menatap seolah tanpa kata, mereka menyepakati satu hal—ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini. Namun mereka tak bisa bertindak gegabah. Jangan sampai justru membuat mereka tak bisa berkutik atau paling parah, mereka dibuat tak berdaya.“Terima kasih,” sahut Daven berusaha terdengar senatural mungkin. Lewat ekor matanya, Daven bisa memastikan jika mereka diawasi.Mobil akhirnya berhenti setelah menempuh pe

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [130]

    “Weekend yang gagal dihabiskan bersama keluarga,” keluh Arsen begitu masuk ke dalam mobil. Tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah Daven untuk mempersiapkan diri ke SunCity. Dan kali ini, kemungkinan mereka menetap di sana untuk waktu yang agak lama.“Kita jemput Tuan Daven di rumah keluarga Callister, Andy,” perintah Arsen pada sopir pribadi Daven yang seharusnya ... sama sepertinya—menikmati waktu libur. “Kau sudah mempersiapkan diri? kemungkinan kita menetap di SunCity agak lama.”“Sudah, Tuan Arsen.”Arsen mengangguk dan duduk dengan nyaman. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman keluarga Callister memakan waktu empat puluh lima sampai satu jam lamanya. Akan Arsen manfaatkan waktu yang ada untuk memeriksa sekali lagi, berkas yang harus dipersiapkan untuk pertemuan dengan Harold di SunCity.Tak butuh waktu lama, mobil SUV mewah milik Daven memasuki area lobby. Dua orang pelayan di rumah Daven seg

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [129]

    “Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu pada Althea di masa lalu.“Kau yakin?” tanya Kate dengan mata memicing curiga. “Jangan tutupi sesuatu sepenting ini, Daven.”“Aku bisa pastikan itu, Mom,” kata Daven dengan raut tenang. Ia semakin erat menggenggam tangan ibunya seolah mengatakan dengan penuh ketegasan. “Seharusnya kau bisa menduga jika wartawan pasti menyangkut pautkan hal yang belum tentu kebenarannya.”Kate menghela panjang. Raut penasarannya mulai luntur ta

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [128]

    “Untuk sementara waktu, aku pulang ke rumah ibuku. Jadi, jika ada berkas yang tertinggal di apartemenku, kau bisa mengambilnya segera.”“Baik, Tuan Daven,” kata Arsen dengan patuh. “Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga Anda.”Arsen mengantarkan Daven sampai ke mobil. Untuk kali ini, Daven memintanya pulang. Hal yang sangat berarti bagi Arsen—bisa meluangkan waktu akhir pekan tanpa banyak mengurus pekerjaan. Sungguh, beberapa bula belakangan ia seperti bekerja di bawah kejaran serigala kelaparan. Belum lagi drama yang terjadi di sekitar mereka. Sangat melelahkan dan menguras banyak waktu dan energi.“Kau juga, selamat menikmati akhir pekanmu,” kata Daven sebelum masuk ke dalam mobil. Arsen terlihat membungkuk hormat dan saat Daven sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang, mobil pun bergerak perlahan meninggalkan lobby kantor.Sore harinya, setelah menyelesaikan urusan kantor,

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [127]

    “Bagaimana, Thomas? Sudah sejauh mana persiapan yang diperlukan? Apa kau masih membutuhkan berkas penting?” suara Daven terdengar rendah namun tegas.Di hadapannya, Thomas Harrison—pengacaranya—menutup map cokelat dan meletakkannya di atas meja. “Semuanya sudah cukup, Tuan Daven. Berkas pengajuan gugatan cerai juga sudah resmi diajukan ke pengadilan. Sidang pertama akan dijadwalkan minggu depan. Pihak Vanessa Blake sudah menerima pemberitahuan resmi.”Daven mengangguk sekali. “Bagus. Saya ingin semua berlangsung secepat mungkin. Tanpa celah dan tanpa drama tambahan.”Thomas menatapnya lekat. “Sayangnya, drama yang terjadi sudah terlanjur besar. Banyak spekulasi yang muncul mengenai gugatan ini. Media juga terus mengendus setiap langkah Anda, mencari informasi agar bisa dibocorkan ke masyarakat umum. Dan saya rasa, Vanessa jelas akan menggunakan semua cara untuk memperlambat proses ini.”“Ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status