Compartilhar

[7]

Autor: Major_Canis
last update Data de publicação: 2026-04-09 13:00:29

“Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.

“Semoga semua orang sudah tertidur.” Begitu harapan Althea saat membuka pintu utama, sedikit berterima kasih pada pelayan yang menyambutnya.

Sayangnya ... hal itu tak terjadi.

“Pulang j

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [7]

    “Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.“Semoga semua orang sudah tertidur.” Begitu harapan Althea saat membuka pintu utama, sedikit berterima kasih pada pelayan yang menyambutnya.Sayangnya ... hal itu tak terjadi.“Pulang juga akhirnya,” suara dingin menyambutnya dari arah ruang duduk.Althea menoleh pelan. Catherine Callister, ibu mertuanya, berdiri dengan segelas wine di tangan. Tatapan matanya menusuk disertai senyumnya yang tajam.“Sendirian?” Catherine mengangkat alis. “Daven tidak pulang bersamamu?”Althea menunduk sedikit, memilih untuk tidak menjawab.“Sudah kuduga,” lanjut Catherine dengan tawa mengejek. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan namun penuh tekanan. “Vanessa ad

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [6] b

    “Kau tidak pernah bertanya,” jawab Althea datar.Daven menggeleng heran. “Kau mengejutkanku.”Althea memilih tak memberi tanggapan apa pun. Baginya, apa yang ia rasa malam ini sangat mewah. Tak pernah ia sangka bisa berdiri di samping suaminya dan bicara sesantai ini. Sungguh, jika ini mimpi, Althea tak ingin segera kembali ke alam nyata.Kendati begitu, Daven kembali diajak berbincang oleh para koleganya. Sementara Althea berdiri bersama istri Duta Besar Jepang dan beberapa tamu wanita lainnya.“Oh, I’m so impressed with your Japanese, Althea-san,” ujar Nyonya Sugimura sambil menepuk pelan tangan Althea. “Kau pasti sudah lama mempelajarinya?”“Saya mulai mempelajarinya sejak tahun pertama kuliah. Awalnya karena saya suka sastra klasik Jepang,” jawab Althea sambil tertawa kecil. “Ternyata sangat menarik dan… menenangkan.”Mereka tertawa bersama, obrolan berl

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [6] a

    Gema tawa dan denting gelas anggur menyambut pasangan itu saat memasuki aula utama Kedutaan Besar Jepang malam itu. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal, orkestra klasik mengalun lembut di sudut ruangan. Daven, dalam setelan hitam Armani yang sempurna, segera menjadi pusat perhatian. Beberapa kolega dan tokoh penting menyapanya lebih dulu, mengulurkan tangan dan sapaan hangat.“Mr. Callister! What a surprise to see you here,” seru salah satu rekan bisnisnya, Pak Edmund, sambil menepuk bahu Daven dengan akrab.“Tuan Edmund,” jawab Daven singkat dengan anggukan kecil, senyum tipis mengiringi suaranya yang tetap datar.Sejak mereka turun dari mobil, Althea merasakan atmosfer yang berbeda. Mungkin karena ini pertama kalinya ia mengikuti Daven menghadiri acara resmi. Bohong rasanya kalau Althea tak gugup. Apalagi sekarang, di saat Daven banyak ditemui oleh koleganya.Meski Althea berdiri di samping Daven, berada di tengah riuh pem

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [5]

    “Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perjanjian mereka.Toh, mereka tak akan pernah bertemu lagi. Anggap saja, Althea sedang bermain di dunia khayalan yang sangat romantis bersama suaminya tercinta. Lalu kembali pada kenyataan jika ia adalah wanita yang ditakdirkan menghabiskan waktu sendirian di dunia.Althea menjalankan perannya dengan tenang, tanpa menuntut balasan apa pun dari suaminya. Selama Daven tak mendorongnya menjauh, wanita itu anggap Daven menerimanya—meski terpaksa. Namun, setiap gerakan tangan Althea, setiap pilihan kata yang wanita itu gunakan, perlahan menorehkan sesuatu yang tak bisa Daven diabaikan.Daven mengangkat alis. “Kau tahu, aku bisa memilih bajuku sendiri.”&

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [4]

    “Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang, bisa diungkapkan dengan air mata.Bisa jadi saking kecewanya luka itu datang menyakiti, sudah tak mampu lagi air mata mengungkapkannya.“Kau bisa mengatakan hal itu semaumu,” kata Althea dengan senyuman tipis. “Tapi kurasa itu adalah satu-satunya kesempatan yang datang ke hidupku.”“Kau memiliki aku, Althea. Kau tak sendirian di dunia ini,” sergah Lydia dengan gusar. “Aku sudah sering mengatakan padamu, keluarga Callyster bukanlah tempat untuk orang sepertimu. Kau terlalu baik ... terlalu lembut untuk dipaksa bertahan di tengah mereka."Althea memandangi cangkir tehnya yang sudah mendingin. Tangannya tetap membungkus cangkir itu, seakan kehangatan yang tertinggal bisa menenangkan gemuruh y

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [3]

    Bohong kalau Althea tak sakit hati. Munafik kalau Althea tak merasa sedih dan kecewa. Tapi ... apa yang bisa ia lakukan untuk menahan semua ini? Bahkan pria yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, justru orang pertama yang paling membuatnya patah hati. Althea tak buta melihat bagaimana Daven yang terang-terangan tak menyembunyikan hubungannya dengan sang kekasih.Meski di depan sang nenek, Daven berkamuflase sebagai sosok suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.“Tuhan,” lirihnya seraya berusaha terpejam. Malam kian larut. Hari esok masih harus Althea hadapi. “Tolong beri aku kemurahan-Mu. Berbaik hatilah sedikit padaku, Tuhan. Beri aku kesempatan untuk mendapatkan keinginanku.”Saat Althea memberi tahu keinginannya, ia tak menyangka jika Daven mengabulkannya. Karena itulah, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.Anak.Althea menginginkan anak. Sebagai teman hidupnya kelak. Seseorang yang bisa ia cintai tanpa syarat. Ses

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status