로그인Seorang perawat muncul tergesa dari balik pintu, wajahnya cemas. “Ada pihak keluarga Nyonya Kate Callister?”Daven dan Felicia segera berdiri serempak. “Ya, kami,” jawab Felicia cepat, sorot matanya bingung. “Beliau ibu saya.”Perawat menunduk sedikit, suaranya serius. “Nyonya Kate dalam kondisi cukup mengkhawatirkan. Tekanan darah tingginya melonjak drastis setelah mendonorkan darah. Beliau pingsan, dan saat ini sedang mendapat perawatan khusus.”“Apa?!” Daven hampir tak percaya, wajahnya pucat. “Mommy? Dia pingsan?”Felicia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Tuhan … Mommy.”Althea membeku di tempat. Ia memandang Daven dan Felicia, hatinya ikut terhimpit rasa bersalah. “Apa ... karena mendonorkan darah untuk Josh? Jadi keadaan Nyonya Kate memburuk?”“Bisa dibilang begitu tapi tepat tepatnya, Nyonya Cal
Dokter itu menatap mereka satu per satu, wajahnya serius. “Operasi penyelamatan Josh berhasil. Donor darah yang datang tepat waktu sangat membantu. Untuk saat ini, kondisinya sudah jauh lebih stabil, tapi—” ia menekankan kata terakhir, membuat semua orang menahan napas, “kami masih membutuhkan tambahan donor agar kondisi Josh tetap bisa dipertahankan.”Althea langsung menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali turun begitu saja. Tapi kali ini, rasanya kelegaan besar datang di hati. Seolah beban berat di tubuhnya terangkat begitu saja. Dan bukan hanya Althea yang merasakan hal itu, Felicia, Daven, dan Chase juga merasakan hal yang sama.Helaan lega terdengar bersamaan dan hal itu membuat dokter yang menangani Josh juga ikut tersenyum lega. Pertaruhannya di meja operasi bersama pasien serta tim dokter lainnya, benar-benar menegangkan.“Oh, Tuhan … terima kasih … terima kasih …” isak Althea. &l
Daven hanya bisa menatap punggung ibunya yang pergi menjauh bersama seorang perawat. Sepertinya mereka sangat terburu-buru melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa ada hal buruk yang terjadi selama Daven tak ada di sini? Kenapa Althea tak mengatakan apa pun pada Chase? Apa lagi-lagi wanita itu menanggung banyak hal seorang diri?“Jadi ... Felicia,” Kali ini Daven menatap adiknya dengan sorot tegas. Yang membuat Felicia hanya bisa menelan ludah gugup karena Daven tak akan dengan mudah membuatnya memberi banyak alasan.“Katakan padaku, apa yang terjadi?”Felicia menunduk, bibirnya bergetar. “Daven ... dokter baru saja memberi kabar yang—“ Ia semakin menunduk. “Kau tahu, buruk sekali. Josh kehilangan banyak darah. Dia membutuhkan banyak kantung darah.”“Kalau begitu, aku bersedia memberikan darahku. Sebanyak yang dokter inginkan,” sela Daven dengan cepat. “Di mana dokternya? Aku harus menemuinya
“Felicia? Di mana Josh? Tidak. Bagaimana keadaan Josh?”Felicia tertegun sejenak. Ia tak menyangka jika orang yang ingin dihubungi, ternyata sudah ada di depan matanya. Meski wanita itu tampak pucat, wajahnya penuh gelisah, dan saat kate memeluk Felicia, tubuhnya gemetar hebat.“Mommy,” bisik Felicia tak percaya. “Bagaimana ... kau bisa ada di sini?”Bukannya menjawab tapi Kate malah tersedu di putrinya. “Aku tidak bisa membayangkan, Felicia. Josh… cucuku… bagaimana bisa dia terlibat dalam kecelakaan mengerikan itu? Ya Tuhan!” tangisnya semakin kencang. Ia tak peduli bagaimana penampilannya sekarang. “Aku benar-benar tak bisa memercayai hal ini. Padahal kemarin aku baru saja bertemu Josh, Felicia.”Felicia berusaha menenangkan ibunya. Ia memberi usapan lembut di punggung Kate sembari berkata. “Aku yakin tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Josh. Aku dan Althea
Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke
Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.
Beberapa jam sebelum Daven muncul di TK tempat Josh bersekolah.“Tuan ... Daven?”Apartemen itu sunyi. Tak ada suara apa pun terkecuali bunyi pendingin ruangan. Bahkan sekadar suara televisi atau musik pun tak ada. Arsen cukup khawatir dengan keadaan ini. Pikira
“Mommy, kenapa Sunny di kamarku?” kata Josh setengah berteriak. “Astaga, Sunny! Berhenti menjilatiku!”Althea yang ada di area dapur hanya bisa tersenyum. Tangannya sibuk menyiapkan bekal makan siang dan sarapan untuk mereka. Tidak. Untuk Chase juga karena sebentar
“Josh benar-benar tertidur. Kurasa dia lelah bermain bersama Emma dan dua sepupuku yang lain,” kata Chase sembari tersenyum lebar. Ia menutup pintu kamar Josh dengan perlahan dan penuh hati-hati.“Ya.” Althea tertawa pelan. Ia pun menyodorkan teh hangat pada Chase.
“Saya sangat senang dengan kedatangan Anda ke Suncity, Tuan Daven,” sambut Harold, walikota SunCity dengan senyum penuh harap. “Kehadiran Anda benar-benar menjadi kabar baik untuk kota ini. Sudah lama beberapa proyek ini terbengkalai karena keterbatasan pendanaan dan kurangnya a