Share

Bab 100

Author: Vannisa
Alvian melangkah maju. "Easton, kamu lagi cari apa?"

Lantaran tidak menemukan orang yang ingin dia temui, hati Easton sedikit kecewa, tetapi dia tidak mau menunjukkannya. Setelah menyembunyikan emosinya, dia berkata datar, "Di mana Kaeso?"

Kaeso agak terkejut. Selama bertahun-tahun dia bekerja keras dengan hati-hati dan penuh waspada, merangkak dari posisi paling bawah di grup hingga menjadi asisten khusus. Biasanya, Easton terlihat dingin, tajam, dan tak berperasaan. Tak disangka, setelah mengalami kejadian mematikan seperti ini, orang pertama yang dia cari saat membuka mata justru dirinya.

Kaeso terharu sampai terisak, lalu berkata terbata-bata, "Saya di sini, Pak Easton. Ada instruksi apa?"

Easton mengangkat tangan kirinya dengan susah payah untuk menunjuk ke sekeliling ruangan, lalu berkata lemah, "Orang-orang ini, usir semuanya tanpa terkecuali. Aku ini pasien, butuh tempat tenang untuk beristirahat."

Lucano menatapnya tak percaya. Kepalanya miring dan mulutnya ternganga sambil me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (6)
goodnovel comment avatar
Ntree Wan Yan Yan
bagus, tapi terlalu slow ceritanya,
goodnovel comment avatar
rin
ayo thor update tiap hari
goodnovel comment avatar
Rina Mamonto
bagus ceritanya tidak berbelit belit
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 376

    Easton paling tidak tahan melihat Maggie menangis. Dia meraih tisu dengan panik dan membantu Maggie menyeka air mata. Namun, Maggie tetap diam dan malah menangis semakin keras. Dia mendorong Easton dengan kuat, lalu melempar kotak tisu ke arahnya.[ Bentuk tubuhku memang buruk, nggak bisa dibandingkan sama ukuran tubuh Jossie. Kamu paham sekali sama tubuhnya sampai sedetail itu! Bahkan bisa hafal ukuran tubuhnya di luar kepala! ]Tangan Easton membeku di udara, kepalanya terasa mau pecah. Ternyata Maggie menonton siaran langsung itu.Tangis Maggie semakin menjadi-jadi. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak tegar. Akan tetapi, kadar hormon dalam tubuhnya sedang tidak stabil, emosinya naik turun, dan dia benar-benar tidak bisa mengendalikannya.Bahkan saat mendongakkan kepala, air matanya tetap tidak bisa ditahan. Dia menyingkap selimut, berniat kembali ke ruang tamu untuk menenangkan diri, tetapi pergelangan tangannya dicengkeram oleh Easton."Aku salah, ya? Jangan nangis lagi. Mata

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 375

    Bank Maxi meluncurkan program pinjaman subsidi khusus untuk kantor cabang di berbagai provinsi dan kota. Kota tingkat pertama mendapat subsidi kredit komersial; kota tingkat kedua ke bawah mendapat subsidi pinjaman modal untuk usaha mikro dan kecil serta pinjaman kewirausahaan; sementara kota dengan kondisi ekonomi yang relatif lebih lemah mendapat subsidi pinjaman pertanian.Seluruh lembar kliring bisnis yang dihimpun cabang dikumpulkan sebagai arsip dan diserahkan ke kantor pusat. Sejak Owen tidak lagi duduk mengawal departemen kredit, seluruh beban langsung jatuh ke pundaknya seorang. Tahun ini, divisi SDM juga menugaskan tiga lulusan magister kepadanya, sehingga dia masih harus menyisihkan sebagian energi untuk membimbing para karyawan baru.Manajemen puncak di sejumlah kantor cabang berturut-turut tersandung kasus. Hampir setiap hari diisi rapat evaluasi diri dan pembenahan, sekaligus mobilisasi para manajer menengah untuk turun ke cabang-cabang dasar menjalani program kepala caba

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 374

    "Akhir-akhir ini aku sibuk, ada kerja sama dengan pemerintah untuk proyek di barat laut. Baru saja kembali ke Kota Jostam." Easton angkat bicara membantu Maggie keluar dari situasi canggung.Hana meliriknya sekilas. "Aku menunggu cucu menantuku pulang, apa urusannya sama kamu? Dasar anak ini, terlalu percaya diri.""Dia memang sempat bilang ingin pulang menjenguk Nenek, tapi aku nggak mengizinkan. Akhir-akhir ini bank sedang sibuk, setiap hari lembur."Hana mengangguk, lalu berkata dengan pengertian kepada Maggie, "Seberapa sibuk pun pekerjaan, tetap harus istirahat. Kesehatan itu yang paling penting. Nenek hanya bicara sekilas saja. Kamu pasti lapar, 'kan? Karena semua sudah datang, ayo makan."Maggie menghela napas lega, lalu melirik Easton dengan heran. Dia memang terlihat benar-benar berubah.Meja makan dipenuhi dengan hidangan yang menggugah selera. Perut Maggie tak kuasa menahan bunyi. Dia buru-buru menundukkan kepala, takut terdengar orang lain.Untungnya tidak ada yang memperha

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 373

    Mobil berhenti di depan rumah lama Keluarga Devantara. Di pinggir jalan sudah terparkir sebuah sedan. Maggie menarik napas. Tanpa perlu berpikir panjang, dia tahu jamuan keluarga kali ini pasti takkan terelak dari pertemuan dengan orang tua Easton.Maggie gugup sampai-sampai tidak bisa melepaskan sabuk pengaman. Setelah dua kali gagal mencoba, akhirnya dia bersandar lesu ke kursi. Easton menoleh dan menatapnya dalam-dalam."Sudah jadi pasangan lama, masih tegang juga mau ketemu mertua?" Easton meraih tubuhnya mendekat, pandangannya jatuh ke sabuk pengaman dan alisnya terangkat. "Perlu bantuan, Nyonya Devantara?"Maggie mengangguk tanpa daya. Dengan dalih membantu melepas sabuk pengaman, Easton perlahan mendekat. Ujung hidung Maggie tanpa sengaja menyentuh pipi Easton.Klik .... Sabuk pengaman terlepas. Maggie menghela napas lega, tangannya sudah bertumpu di gagang pintu."Buru-buru amat? Masuk nanti kamu juga nggak akan nyaman," kata Easton sambil melilitkan jari-jarinya pada rambut Ma

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 372

    "Mempertahankan posisi yang sekarang itu yang paling penting." Teresa masih saja merasa tidak tenang, takut Maggie tiba-tiba nekat lalu mendaftar.Maggie terhibur olehnya. Karena sengaja ingin menggoda Teresa, dia mengetik di ponsel.[ Bukannya bagus kalau aku pergi? Biar aku kosongkan posisi buat kamu! ]Teresa menggelengkan kepala. "Kak, kamu mikir kejauhan. Aku ini nggak punya latar belakang, nggak punya pencapaian, dan nggak punya ambisi. Aku cuma mau hidup tenang sebagai karyawan biasa, terima gaji, kerja sama atasan yang enak diajak kerja dan masuk akal, sehat sampai pensiun!"Maggie tersenyum tak berdaya dan menepuk bahu Teresa sebagai bentuk penyemangat, lalu berbalik kembali ke kantornya. Dia memang tidak benar-benar membuang formulir pendaftaran kantor cabang ke tempat sampah. Dengan santai, dia membuka laci dan menyimpannya di dalam.Saat melirik jam, waktu pulang kerja juga sudah dekat.Maggie mengusap pinggangnya, lalu mengeluarkan sebatang lipstik dari laci dan mengoleska

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 371

    Alvian berdiri di dekat pintu masuk sambil menenteng sekantong besar buah persik madu yang masih segar. Dia mendengarkan Jossie menelepon Easton, meminta Easton datang untuk menjenguknya.Alvian meletakkan kantong persik yang didapatkannya dengan susah payah itu ke samping, lalu berbalik dan keluar dari ruang perawatan.Jossie mengatakan dirinya ingin makan persik yang mengeluarkan banyak sari jika digigit. Karena itu, Alvian menunda semua pekerjaannya dan meminta perawat menjaga Jossie, lalu pergi ke jalanan asing sendirian untuk mengelilingi semua toko buah segar. Setelah itu, dia baru berhasil mendapatkan sekantong persik ini di wilayah barat laut.Ternyata, itu hanya alasan Jossie untuk menyingkirkannya.Alvian berdiri di bawah koridor sambil merokok. Di Rumah Sakit Taraka, bunga krisan liar yang berwarna kuning terlihat di mana-mana. Dalam sekilas pandang, yang terlihat hanyalah hamparan kuning yang hening.Saat telepon dari Easton masuk, rokoknya baru terisap setengah."Dia nggak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status