Share

Bab 116

Penulis: Vannisa
"Kalau begitu, malam ini kamu datang ke Vila Swallow? Untuk berjaga-jaga, lebih baik divaksin dulu." Easton memberi perintah.

Di seberang telepon, suara langsung meninggi. "Easton, kamu itu nggak punya hati. Aku nggak salah dengar? Tengah malam begini, aku harus nyetir melintasi setengah kota, cuma buat suntik vaksin rabies buat istrimu?"

"Seekor anak kucing yang baru lahir dua tiga hari bisa mencakar separah apa sih? Kamu ini benar-benar gila!"

"Dia dicakar kucing, sampai kulitnya robek."

Telep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 626

    Dia merapatkan kedua tangan. Mata hitamnya yang dalam ikut menatap ke arah Maggie. Sama seperti semua orang, dia menunggu jawabannya dalam diam.Maggie menarik napas dalam-dalam, terpaksa menjawab meskipun terasa berat, "Bukan lajang. Saat ini sedang menjalani hubungan yang sangat stabil."Jawaban itu seperti batu kecil yang dilempar ke danau tenang, membuat semua orang terguncang.Easton pun tak menyangka dia benar-benar akan berkata jujur dan mengakuinya dengan terbuka. Meskipun mereka belum mengumumkan hubungan pernikahan mereka, ketika melihat sebagian besar pria yang hadir berubah murung, suasana hati Easton langsung membaik.Terutama pria muda yang tadi berkali-kali berusaha mendekati Maggie, jelas masih muda dan tak pandai menyembunyikan perasaan. Begitu mendengar jawaban Maggie, ekspresinya langsung berubah."Baik, pertanyaan kedua." Rekan yang bertanya tadi sempat terdiam, terlalu terkejut hingga tidak tahu harus bertanya apa selanjutnya."Menurut Bu Maggie, seperti apa Pak Al

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 625

    Angin laut berembus pelan, tetapi tidak mampu menghapus tawa riang orang-orang.Pikiran Maggie perlahan-lahan melayang jauh, tetapi rekan di sampingnya menariknya masuk ke dalam permainan. Namun, setelah dua tiga putaran, dia mulai tersisih. Dia sepertinya hanya ditarik untuk menggenapkan jumlah pemain, lalu kembali diabaikan. Dia tidak begitu peduli karena sejak awal dia memang tidak antusias menjaga relasi sosial di lingkungan kerja.Saat Maggie sedang melamun, semua orang tiba-tiba menoleh ke arah Maggie. Setelah tertegun sejenak, dia baru sadar mulut botol kosong itu berhenti tepat mengarah padanya. Dia menggigit bibirnya tanpa berkata apa-apa, merasa agak bersalah. Dia sejak awal memang tidak tertarik pada permainan itu, sehingga dia tidak mendengarkan dengan saksama saat tadi aturannya dijelaskan."Apa aturan permainannya?" tanya Maggie.Salah seseorang menjawab, "Orang yang ditunjuk botol harus memilih jujur atau tantangan. Kalau jujur, harus menjawab dua pertanyaan. Kalau tanta

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 624

    Alvian berbicara dengan tulus dan kedua tangannya menyatu, lalu digerakkan dengan pelan.Ucapan Alvian sudah sampai sejauh itu, Maggie tidak memiliki alasan untuk menolak lagi. Setelah ragu sejenak, dia berkata, "Kalau begitu, aku kembali untuk ganti baju dulu.""Nggak perlu, nggak perlu. Kamu sudah cantik seperti ini. Lihat saja rekan-rekan wanitamu, bukankah mereka juga berpakaian dengan ... sejuk? Kalau memang dingin, aku punya jaket. Kamu tinggal pakai saja," jawab Alvian yang takut Maggie kabur, sehingga terus mencegah Maggie untuk kembali ke hotel.Saat menundukkan kepala, pandangan Maggie tanpa sengaja jatuh ke sepatu kulit Alvian. Melihat bekas injakan dan debu yang jelas, dia bisa menebak bagaimana caranya Easton memaksa Alvian. Dia menganggukkan kepala, lalu mereka pun berjalan kembali menuju pesta api unggun.Easton mengenakan kemeja putih dan lengannya digulung hingga siku. Dia terlihat segar dan bersemangat, bahkan hanya sekilas saja pun terlihat beberapa tahun lebih muda.

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 623

    Teresa menyipitkan matanya dan tertawa. Dia sudah bisa melihat jelas pikiran Maggie, tetapi sengaja tidak mengatakannya. "Tadi baik-baik saja, kenapa sekarang malah cari sesuatu untuk tutupi diri lagi?"Maggie menyatukan kedua tangan di depan dada dan memasang ekspresi memohon dengan tulus. "Ampuni aku."Teresa akhirnya berhenti menggoda Maggie. Dia mengenakan kacamata hitam dan menikmati pemandangan pria-pria bertubuh kekar dengan terang-terangan, terlihat sangat santai.Maggie malah tidak bisa menenangkan dirinya. Dia memperkirakan waktu dan bersiap diam-diam kabur kembali ke hotel sendirian. Namun, matahari kebetulan sudah mulai terbenam, para wisatawan yang bermain air pun kembali ke darat dan berjalan berkelompok di atas pasir sambil mengobrol. Di bawah tatapan begitu banyak orang, jelas bukan waktu yang tepat untuk pergi.Sinar matahari tidak menyengat lagi dan angin laut yang sejuk bertiup, membuat rasa kantuk perlahan-lahan menyerang.Maggie yang tadinya merasa sangat tegang,

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 622

    "Wanita cantik, maaf sudah lancang bertanya, apa kamu masih lajang? Boleh tinggalkan kontak?" tanya pria blasteran itu.Maggie mundur langsung setengah langkah. Namun, sebelum dia sempat membuka mulut untuk menolak, dia sudah melihat sosok yang sangat familier melintas di tepi pantai dan membuatnya tersentak kaget. "Nggak begitu bagus, maaf."Maggie langsung menarik Teresa pergi setelah mengatakan itu, tidak ingin berlama-lama di sana.Setelah keduanya berjalan cukup jauh, Teresa masih merasa sayang dan terus membicarakan pria blasteran tampan itu. "Sepanjang jalan tadi, entah berapa banyak pria yang matanya hampir menempel di tubuhmu dan diam-diam melempar tatapan genit. Hanya kamu si bodoh yang menganggap perhatian pria itu seperti bencana, buru-buru menghindar."Maggie tersenyum tak berdaya, tetapi pikirannya sudah melayang jauh. Dia menoleh ke sekeliling, tetapi tidak menemukan sosok familier tadi lagi. Apa mungkin tadi dia salah lihat? Salah mengenali orang?Saat Maggie masih seda

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 621

    Pantai yang membentang tanpa batas dan matahari sore yang bersinar.Begitu Maggie menginjakkan kaki di atas pasir yang lembut, panasnya membuat kulit halusnya terasa perih karena terbakar. Hanya sekilas saja, dia langsung melihat warna merah menyala di kursi pantai dan ternyata memang benar. Dia baru saja mendekat, Teresa sudah melompat turun dari kursi. Teresa melepaskan kacamata hitamnya, lalu melambaikannya sambil berteriak memanggil namanya."Maggie! Di sini!" teriak Teresa."Wah! Hari ini kamu cantik sekali, tapi rasanya ada yang aneh."Teresa berdecak, lalu mengelilingi Maggie sambil mengamati dengan saksama. Setelah itu, dia tiba-tiba menepuk punggung Maggie dengan tidak terlalu kuat. "Lepaskan baju jelek ini dan tegakkan punggungmu, percaya diri sedikit!"Maggie tersentak. Namun, sebelum dia sempat bereaksi, Teresa sudah menarik dan melepaskan baju luar tipis yang dikenakannya terlebih dahulu. Sinar matahari langsung menyinari kulitnya yang putih dan bersih. Pakaian renang biru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status