LOGIN"Benar juga, kamu 'kan dokter. Dia pasti mau dengar kata-katamu. Cepat bujuk dia." Lucano menarik Landon dengan kuat, menyeretnya masuk ke ruang VIP.Alvian memasang ekspresi dingin, mengikuti dari belakang.Begitu masuk, mereka melihat Easton duduk di sudut ruangan. Di depannya berderet botol-botol kosong yang tak beraturan. Pipi Easton sedikit memerah. Dia menekan mulut botol bir, mengetukkannya ke sudut meja, lalu busa bir langsung muncrat keluar.Wajah Easton tampak dingin. Dia menenggak minuman itu dengan kepala menengadah."Easton, tubuhmu belum pulih. Kamu nggak boleh minum berlebihan." Landon membungkuk, hendak merebut botol itu, tetapi gagal."Pergi. Jangan sentuh aku." Suara Easton rendah. Gerakannya lambat karena mabuk, tetapi dia tetap menuang bir ke mulutnya.Landon kurus, tinggi, putih, pintar, tampangnya nyaris sempurna. Namun, kemampuan fisiknya nol. Di hadapan Easton, dia tidak punya tenaga sedikit pun untuk melawan.Sejak kecil, empat orang ini hampir tidak pernah ber
Alvian mengernyit, menoleh ke arah pengemudi dengan kesabaran setipis tisu. "Sebaiknya kamu bisa memberi alasan yang pantas untuk waktuku yang terbuang."Landon menggeleng, menatap kaca spion dengan wajah tak berdosa. "Kamu harus tanya ke Lucano. Aku juga baru turun dari meja operasi dan langsung diseret ke sini buat kerja rodi. Lucano di telepon juga nggak menjelaskan secara detail, cuma bilang kita harus datang."Alvian mengangkat tangan memijat pelipis. "Anak itu bikin onar apa lagi?"Landon mengenakan hoodie putih. Jari-jarinya yang ramping menari dengan malas di atas keyboard. Lima jarinya merapat untuk menyesuaikan bingkai kacamatanya. "Eh, bukan Lucano. Kudengar Easton mengurung diri di ruang VIP dan habisin satu kotak penuh minuman keras. Dia nggak bisa menahan Easton.""Dia kenapa lagi?" Alvian terdiam, menatap ke luar jendela. Di sepanjang jalan dipenuhi lampu dan dekorasi meriah. Suasana tahun baru sangat kental. "Aneh juga. Sejak Easton nikah sama si bisu itu, tiga hari sek
Untuk sesaat, emosi yang berubah-ubah itu begitu jelas dan semuanya tidak luput dari mata Easton.Apa hari itu benar-benar akan tiba? Apakah Easton melakukannya dengan sengaja?Fakta bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan memang tak terbantahkan. Kondisi medis saat ini memang sudah jauh lebih baik. Berbagai teknologi tinggi telah memasuki bidang medis. Namun ... apakah Maggie benar-benar bisa melahirkan anaknya?Tidak ada yang lebih paham kondisi tubuh Easton selain dirinya sendiri. Jika syarat itu harus dipenuhi, barulah dia bersedia membatalkan perjanjian dan mengakhiri hubungan suami istri mereka. Lantas, kapan hari itu akan datang?"Lain kali sebelum mengeluarkan perjanjian ini, buka halaman ini dan baca baik-baik. Kamu nggak bisa bicara, tapi bisa baca, 'kan?""Maggie, aku nggak pernah merendahkanmu karena kamu bisu, jadi jangan merendahkanku hanya karena aku nggak bisa punya anak. Kita berdua jalani saja hidup ini seadanya. Setelah kamu melahirkan anakku, aku pasti akan menganta
Maggie berusaha menampilkan senyuman yang bahkan lebih buruk dari tangisan. Easton mengangkat tangan, memberi isyarat padanya. "Aku ingin bicara denganmu."Maggie sudah memperkirakan hari ini akan datang, hanya saja tidak menyangka akan secepat ini. Dia berbalik masuk ke kamar tidurnya, lalu turun kembali sambil membawa surat perjanjian itu di bawah tatapan bingung Easton."Apa maksudnya?" Easton menatapnya dari atas dengan dingin.Maggie tidak bicara, melainkan hanya meletakkan berkas perjanjian itu di hadapannya. Baru saja mengangkat tangan, lalu seolah teringat sesuatu, dia kembali mengambil kertas dan pena.[ Kita bercerai. ]Tulisan itu kuat dan tegas. Sulit bagi Easton untuk menghubungkannya dengan wanita kurus dan rapuh yang berdiri di depannya."Alasan."Ini kedua kalinya Maggie mengeluarkan perjanjian itu, mengatakan dua kata yang paling tidak ingin Easton dengar. Easton tidak lagi impulsif seperti sebelumnya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa emosi.[ Kita memang bukan berasal da
Maggie merasa kedua kakinya lemas, tangannya mencengkeram erat pegangan tangga. Gino masih sama seperti dulu, selalu saja menempatkan kepentingannya di posisi pertama. Selalu saja berbohong dan mengatakan semua itu demi kebaikannya."Aku ulangi sekali lagi, keluar dari rumahku. Mulai sekarang, jangan pernah lagi datang mengganggu Maggie. Dia nggak ada hubungannya lagi denganmu dan kamu nggak punya hak untuk menghancurkan masa depannya." Urat di pelipis Easton menegang. Dia bahkan tidak yakin apa yang akan dia lakukan jika benar-benar kehilangan kendali.Easton mencengkeram kuat pergelangan tangan Gino, lalu mendorongnya dengan jijik. "Keluar dari rumahku, atau pergi jelaskan semuanya pada polisi. Aku jamin kamu akan menanggung konsekuensinya."Gino dengan susah payah menstabilkan tubuhnya yang gemuk dan berusaha tetap berdiri seimbang. Dengan pose yang sangat memalukan, dia bangkit sambil gemetar karena marah. "Yang seharusnya masuk penjara itu kamu! Kamu menculik putriku! Bahkan senga
Maggie mendorong mangkuk itu menjauh. Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual yang kuat membuatnya berdiri buru-buru dan berlari kecil menuju kamar mandi di lantai satu, lalu muntah seketika.Dia belum makan apa pun sejak kemarin pagi. Yang keluar hanya lendir dan dua teguk sup ayam yang baru diminumnya."Ada apa?" Easton membawa segelas air putih, lalu mengangkat tangannya untuk menepuk lembut punggung Maggie.Maggie berdiri dan hendak berbahasa isyarat. Namun baru menggerakkan tangan sedikit, dia kembali membungkuk dan muntah, bahkan memuntahkan sedikit cairan bening tepat di depan Easton.[ Aku ... sepertinya karena demam ... jadi perutku nggak enak. Kamu jangan salah paham. ]Belajar dari kejadian "positif palsu" sebelumnya, Maggie takut Easton kembali salah paham."Mm, aku tahu."Easton tidak mengatakan apa pun lagi. Dia hanya membuka keran dan membilas kotoran di wastafel. Dia sama sekali tidak terlihat jijik. Andai tidak melihatnya langsung, Maggie sulit membayangkan bahwa pria bes







