Share

Bab 224

Penulis: Vannisa
Di ruang tamu juga ada meja kartu yang baru digelar. Di samping Hana duduk beberapa anak muda yang wajahnya belum pernah dilihat Maggie. Di sebelah mereka terdapat setumpuk camilan dan buah-buahan.

Suasana rumah sangat ramai. Di meja makan, beberapa anak muda makan sambil mengobrol. Para wanita semuanya mengenakan setelan rok yang sederhana dan rapi. Rambut panjang mereka tergerai santai. Para pria tampak sedang membicarakan sesuatu ....

Maggie terkejut menemukan ada beberapa wajah blasteran di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 590

    Maggie memang sudah lelah. Saat dia akhirnya melepaskan ketegangannya, seluruh tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya makin berat. Dia sepertinya mendengar Easton berkata sesuatu saat dalam keadaan setengah sadar, tetapi dia terlalu mengantuk dan bahkan tidak memiliki tenaga untuk memikirkannya. Dia samar-samar merasakan pelukan yang sangat erat dan kecupan pelan.Keesokan paginya, Maggie membalikkan badan dan hendak melanjutkan tidurnya. Namun, dia tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan langsung meraih ponselnya untuk melihat waktu.09.40?Melihat waktu itu, Maggie tiba-tiba bangkit. Namun, pergelangan tangannya ditarik dan pinggangnya dirangkul, tubuhnya pun ditarik kembali ke atas tempat tidur.Easton bergumam dengan tidak puas, "Kenapa buru-buru? Tidur sebentar lagi, masih pagi."Maggie berusaha memberontak beberapa kali, tetapi sia-sia. Dia mencoba membuka tangan besar yang merangkul di pinggangnya dan memohon, "Jangan bercanda. Jam sepuluh harus kumpul di bawah, benar-benar

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 589

    Suasana di kamar mulai berubah menjadi terasa agak mesra.Maggie merasa dunianya berputar dan lampu di atas kepalanya terlihat terus bergoyang. Gaun tidur sutranya juga sudah dilepaskan. Ciuman Easton makin dalam dan membuatnya kewalahan."Nggak boleh."Maggie mencoba mendorong Easton dengan sisa akal sehat yang masih ada, tetapi semuanya sia-sia. Dia hampir menangis karena panik. Dia jelas tahu ini tidak seharusnya terjadi, tetapi tubuhnya malah merespons Easton dengan jujur. "Easton, benar-benar nggak boleh. Aku mohon.""Kenapa nggak boleh?" tanya Easton yang menghentikan gerakannya, rambut di dahinya pun sudah dibasahi keringat. Dengan tatapannya yang dalam, dia menatap Maggie dan menuntut jawaban dengan keras kepala.Maggie menggigit bibir bawahnya. Setelah pergulatan batin yang panjang, dia berkata dengan sangat pelan, "Aku hamil.""Apa?"Easton langsung tertegun, lalu berkata dengan napas yang masih terengah-engah dan suara serak, "Kamu bilang apa?""Aku bilang aku sudah hamil, s

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 588

    Tidak mengirim satu pesan pun, ini yang namanya khawatir?Maggie sendiri juga tidak tahu mengapa dia merasa kesal. Dia melempar ponselnya kembali ke dalam tas, lalu pergi ke resepsionis untuk check-in dan naik lift ke lantai atas. Setibanya di kamar, dia langsung mandi karena beraktivitas seharian membuat tubuhnya penuh keringat.Saat gaun Maggie dilempar ke keranjang pakaian, kartu kamar yang diberikan Kaeso padanya terjatuh keluar. Dia terdiam beberapa detik, lalu berpura-pura tidak melihatnya dan berbalik pergi.Maggie berbaring di tempat tidur dan membaca sekilas jadwal kegiatan besok. Dia harus berkoordinasi dengan pihak klien mengenai progres proyek dan menghadiri acara endorsement offline di markas tim e-sports.Sore harinya, pihak bank akan mengeluarkan formulir penilaian kualifikasi risiko. Maggie harus memeriksa pembukuan sesuai prosedur, lalu melakukan evaluasi risiko dan memperkirakan secara awal potensi keuntungan investasi basis e-sports itu.Setelah itu, Jilly menelepon.

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 587

    Tanpa menoleh, Maggie langsung naik ke bus dan bus pun perlahan-lahan bergerak maju.Owen tertinggal jauh di belakang. Sosoknya yang tinggi dan kurus makin lama makin kecil, hingga akhirnya hanya menjadi sebuah titik hitam.Yogi membuka tutup botol air mineral untuk Maggie dengan penuh perhatian. "Kamu sangat dekat dengan Pak Owen ya? Aku sebenarnya agak takut dengannya. Meskipun dia yang paling muda di antara tiga direktur utama, entah kenapa aku selalu merasa segan."Ekspresi Maggie agak muram. "Maaf, aku ingin sendirian dulu."Yogi menganggukkan kepala, lalu membawa tasnya dan duduk di kursi kosong di depan dengan patuh. Dia berbalik, lalu tersenyum dengan hangat dan menular. "Aku punya roti dan cokelat. Kalau kamu lapar, bilang saja ya. Aku nggak akan mengganggumu lagi."Seperti matahari kecil, Yogi memiliki sifat yang hangat, antusias, dan tahu diri juga. Dia benar-benar tidak mengganggu Maggie lagi.Setelah bersandar di jendela, Maggie tanpa sadar mulai mengantuk.Saat dua bus be

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 586

    Kaeso terdiam satu dua detik, lalu menyampaikan kata-kata Easton persis tanpa mengubah satu kata pun. "Kamu boleh mencobanya."Maggie menarik napas dalam-dalam, tetapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Kartu kamar itu terasa membakar telapak tangannya. "Ada hal lain?""Pak Easton minta aku mengingatkanmu untuk menyalakan ponsel. Kalau nggak bisa menghubungimu, dia akan sangat khawatir. Kalau begitu, aku pamit dulu. Kamu hati-hati ya," kata Kaeso, lalu segera pergi seperti melarikan diri karena takut Maggie akan mengembalikan kartu itu padanya.Bus untuk rombongan bank juga sudah tiba dan rekan-rekan kerja Maggie sudah antre naik dengan tertib. Yogi menarik kopernya sambil menoleh beberapa kali ke sekitar. Dia menyimpan kartu itu, lalu berjalan keluar dengan ekspresi tetap tenang. Mobil hitam itu masih terparkir di tepi jalan, tetapi dia tidak bisa melihat jelas orang di dalamnya karena kaca mobil itu berwarna gelap."Bu Maggie, kamu baik-baik saja, 'kan? Orang tadi mencarimu untu

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 585

    Maggie tersenyum pahit.Terdengar suara Jilly yang heran dari ujung telepon. "Kenapa kamu duduk di kelas satu?""Kalau nggak duduk di kelas satu, jadi duduk di kokpit?" kata Easton sambil mengernyitkan alisnya dan melirik Easton dengan tatapan seperti melihat orang bodoh."Bukan begitu maksudku, hanya heran kenapa kalian berdua nggak duduk bersama. Jangan-jangan bertengkar lagi?" kata Jilly.Seolah-olah hatinya ditusuk oleh kata lagi, Easton menoleh ke arah Jilly dengan tatapan muram. "Kamu sangat santai ya? Banyak sekali pertanyaanmu. Kenapa nggak tanya langsung padanya?"Jilly berdecak, lalu berbalik dan memaki Easton habis-habisan dalam hatinya.Tepat saat itu, pramugari di pengeras suara mengingatkan agar ponsel diubah ke mode pesawat. Jilly hendak menutup telepon, tetapi tangannya tergelincir dan malah menekan tombol pengeras suara."Bu Maggie, kebetulan sekali, kursi kita berdampingan. Ini benar-benar jodoh ya."Terdengar jelas suara Yogi yang nadanya sangat terkejut dari pengera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status