Mag-log inSamuel berkata, “Aku juga bukannya nggak ngapa-ngapain. Nenekku bilang yang terpenting buatku sekarang adalah pernikahanku. Daripada pekerjaan, itu jauh lebih penting. Makanya nenekku minta kakak adikku untuk mengambil alih pekerjaanku dulu. Jadi aku bisa meluangkan cukup waktu untuk mengejar cewek idamanku. Aku juga pastinya masih cari uang. Tujuanku untuk menikah dan punya anak nanti, jadi aku tetap butuh uang. Membesarkan anak itu perlu modal besar. Aku sekarang nggak kekurangan uang, tapi aku tetap mau cari lebih banyak supaya istriku nanti nggak perlu capek-capek kerja. “Aku kirim dua jenis bunga untuk calon istriku. Yang satu melambangkan aku punya uang, yang kedua melambangkan aku bisa menggunakan uangku semaunya. Adhitama Group juga punya usaha di sini dengan modal yang lumayan besar. Sesekali aku juga ke sana untuk ngecek keadaan. Kak Joshua, kamu kan lebih tua dari aku dan Katarina. Sekarang pasti sudah umur 30-an, ‘kan? Keluarga kamu apa nggak khawatir sama pernikahan kamu?
“Kamu harus pakai produk perawatan kulit.” Seiring dengan itu, Samuel mengeluarkan beberapa produk yang sudah dia beli dan memberikannya kepada Katarina sambil senyum-senyum. “Ini merk yang biasa suka kamu pakai. Ada satu yang baru launching. Coba, deh. Mau cowok atau cewek harus bisa merawat diri. Aku juga pakai merk yang ini tapi untuk cowok. Bagus banget, deh,” kata Samuel sembari dia mengusap wajahnya sendiri. “Katarina, coba lihat kulitku. Cukup terawat, ‘kan? Coba kamu elus juga, lembut banget.” “Kalau aku elus mukamu, nanti aku dibilang curi-curi kesempatan dan diminta bertanggung jawab.” “Aku nggak sebejat itu,” kata Samuel dengan wajah memerah. Samuel merasa sangat senang akhirnya Katarina mau menerima hadiah yang dia belikan. Bola mata Joshua terlihat menyala berkilauan. Dia segera mencari topik pembicaraan dengan Katarina terkait proyek kerja sama mereka hari ini. Samuel tidak mungkin bisa menyela pembicaraan mereka karena dia tidak tahu apa-apa. Sesekali Joshua juga su
Dalam hati Joshua pasti mengomel mengapa Samuel begitu pelit tidak mengizinkan dia berada di samping Katarina. Namun mengingat jika Bella didekati oleh pria lain, Joshua juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Samuel. Joshua bisa mengerti apa yang Samuel rasakan. “Kamu tadi sudah menunggu lama, ya?” tanya Joshua seraya tersenyum ramah kepada Samuel. Joshua tidak masalah Samuel tidak mengizinkan dia dekat-dekat dengan Katarina. Saat menginjakkan kaki di negara asalnya dan melihat Katarina datang bersama Samuel, Joshua sadar dia tidak mungkin bisa bersama dengan Katarina. Katarina memiliki pendirian yang kuat. Dia tidak sudi menikah dengan pria yang bukan pilihannya, dan keluarganya tidak akan bisa memaksa dia. Joshua sebagai kakak justru tidak bisa tegas seperti Katarina. “Asal bisa ketemu Katarina, nunggu selama apa pun aku nggak keberatan,” kata Samuel. “Kak Joshua sendiri kenapa malam begini baru datang?” Jika bukan gara-gara kedatangan Joshua selarut ini, Samuel tidak pe
Katarina hanya khawatir Joshua terlalu terbawa perasaan dalam perannya. Jika hanya mengobrol, tertawa, dan makan bersama, itu masih tidak apa-apa. Namun Katarina tidak ingin ada kontak fisik dengan Joshua. Bukan karena Katarina takut Samuel cemburu, tetapi karena dia juga memikirkan perasaan Bella. Di mata Katarina, Joshua adalah milik Bella. Katarina memanggil Bella dengan sebutan “Kak”, maka Joshua adalah kayak iparnya. “Aku tunggu sampai kamu selesai kerja,” kata Samuel. “Katarina, kamu sudah selesai, ‘kan? Lapar, nggak? Ayo aku traktir kamu makan.” Samuel tidak sudi membiarkan Joshua yang mengajak Katarina makan malam bersama. Jika ada yang mentraktir Katarina, harus Samuel-lah orangnya. Sebelum Katarina sempat menjawab, Joshua berkata, “Kalau kamu yang mau traktir, boleh saja. Katarina, gimana kalau kita kasih dia kesempatan. Kebetulan aku juga lapar.” Maksud Joshua adalah dia ingin Samuel mengajak dia dan sekretarisnya juga. Tujuan Joshua tidak lain dan tidak bukan adalah me
“Pak Samuel.” Saat Samuel baru memasuki area lobi, seorang petugas di meja resepsionis memanggilnya. Di malam hari hanya ada satu orang yang bertugas di sana. Dia sudah mendapatkan instruksi dari Katarina. Ketika melihat Samuel masuk, dia dengan santun menyapa dan menuntunnya ke ruang tunggu khusus untuk tamu istimewa. “Pak Samuel, Bu Katarina mengizinkan Bapak untuk menunggu di ruang VIP karena udara di luar dingin. Pak Samuel bisa menghangatkan badan dulu sebelum pulang.” “Aku mau tunggu sampai dia pulang kerja,” kata Samuel dengan ramah. Namun, si petugas resepsionis hanya menanggapi ucapannya dengan senyum dan tidak berkata banyak. Yang penting dia sudah menyampaikan apa yang diminta oleh bosnya. Apakah Samuel menangkap maksudnya atau tidak, itu urusan dia sendiri. Dia juga sudah terbiasa melihat Samuel datang dengan bunga dan berbagai macam hadiah. Setiap kali datang ke gedung ini, Samuel tidak pernah datang dengan tangan kosong. Dia pasti membawa barang-barang yang dia belika
Selama saingan cintanya belum keluar, Samuel bertekad tidak akan pergi. Dia dengan tenang menunggu di dalam mobil sambil terus menatap ke gedung tinggi yang ada di hadapannya. Sesekali dia menarik jaketnya untuk menghangatkan diri. Suhu di dalam mobil sudah cukup hangat, tetapi dia masih kedinginan dan sering mengusap kedua tangannya. Dalam dua hari terakhir ini, suhu udara di Mambera juga sedang turun. Sekarang sudah memasuki akhir musim semi. Setiap tahunnya akan ada periode waktu di mana terjadi penurunan suhu yang cukup drastis. Akan tetapi perubahan suhu di Mambera terlalu ekstrim. Tiga hari yang lalu, warga sana masih bisa mengenakan pakaian lengan pendek. Lalu tiba-tiba turun hujan deras selama dua hari ini, dan suhu udara juga tentu saja menurun tajam. Semua orang bergegas mengeluarkan mantel paling tebal yang mereka miliki. Di Harsa sendiri selalu dingin, terutama dalam beberapa hari ke belakang ini. Begitu pergi dari tempat yang memiliki penghangat ruangan, Samuel langsung







