LOGINGaya Felicia yang terkesan tidak peduli lagi dengan nasibnya justru membuat ketiga kakaknya terkejut. Ivan langsung berdiri dan membalikkan badan. Dia lalu menuju bagasi mobil dan mengambil sebilah pisau. “Kak Ivan ….” Erwin menghampiri Ivan dengan suara gemetar. Ini adalah kali pertama mereka membunuh, dan korbannya adalah adik mereka sendiri. Wajar sekali Erwin merasa takut. “Kak Ivan, a-apa kita benar-benar mau membunuh Felicia?” Ivan menatap balik Erwin sambil menghunuskan pisaunya, “Kenapa, kamu menyesal? Atau kamu takut?” “Bukan itu … Kak, ini pertama kalinya kita membunuh orang lain. Aku takut. Gimanapun juga Felicia adik kita. A-Aku nggak tega.” “Kamu menganggap dia adik, tapi dia nggak menganggap kamu sebagai kakaknya. Lihat saja apa yang dia perbuat, selalu saja membuat kita susah. Tebasan pertama memang paling susah, tapi yang kedua kalinya pasti terasa jauh lebih gampang.” Ivan lantas menyerahkan pisau itu ke Erwin dan berkata, “Nih, kamu giliran pertama. Tebas saja
Di ujung bibir dan di bagian filtrum Felicia masih tersisa noda darah tipis. Julio dan Erwin sama-sama memapah Felicia keluar dari mobil. Ivan langsung mengikat kedua kaki Felicia, kemudian mengikat kedua tangan Felicia di punggung. “Kak Ivan, kamu mau melemparku ke laut?” Terdengar suara deru ombak dan angin laut yang bertiup. Hawa dingin membuat suara Felicia gemetaran. Felicia tidak berdiri. Dia tetap berbaring di lantai dengan posisi yang sama. Ivan menendangnya beberapa kali untuk melampiaskan kekesalannya, dan Felicia hanya menahan diri dalam diam. Setelah puas menendang adik sendiri, Ivan berjongkok dan mencengkeram dagu Felicia dengan keras. “Felicia, nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jangan bilang kami jahat, kamu sendiri yang memaksa kami melakukan ini. Kamu cuma bisa menyalahkan diri sendiri. Di mana kunci dan sandi untuk buka aset pribadi Mama? Cepat kasih tahu, biar kamu nggak perlu lama-lama menderita. Kalau nggak mau kasih tahu, kita masih punya banyak waktu.
“Nggak mungkin kita terus-terusan membiayai hidup mereka, ‘kan?” “Soal itu nggak usah buru-buru. Nanti saja kita bahas lagi. Kalau mereka berani memeras kita, kita kirim mereka ke neraka,” sahut Ivan. “Tapi mereka punya keluarga. Kalau mau membungkam mereka, berarti kita harus membantai semuanya sekalian, jadi nggak ada yang bisa lapor ke polisi. Kita harus bikin seolah kecelakaan, atau mereka pasti curiga.” Julio dan Erwin sepemikiran dengan Ivan. Jika ingin membungkam Felix dan Frederick, berarti mereka juga harus membunuh seluruh keluarganya. Felicia yang mendengar itu dalam hati berpikir sungguh kejam tiga kakak kandungnya ini. Dua kakak angkatnya berpikir mereka bisa jadi kaya melalui Ivan. Namun siapa sangka ternyata itu malah membawa petaka bagi mereka sekeluarga. Namun ada satu hal yang Ivan dan dua adiknya tidak tahu. Kedua kakak kandung Fani dipaksa untuk mengatakan itu. Mereka belum pergi, karena tidak bisa pergi. Mereka sudah ditahan oleh polisi. Polisi meminta mereka m
Apa yang dilakukan oleh ibu orang lain, itu juga yang Patricia lakukan. Jelas-jelas Patricia menyayangi ketiga putranya, tetapi saat pembagian warisan, apa yang mereka bertiga dapatkan dijumlahkan pun masih di bawah apa yang Felicia dapat. Patricia malah memberikan lebih banyak untuk cucu-cucunya, mengingat hidup mereka masih panjang. Ivan dan kedua adiknya suka menghamburkan uang, investasi juga selalu gagal, dan selalu bermain dengan wanita simpanan. Namun terlepas dari perselingkuhan itu, Patricia tetap membela tiga putranya dengan membujuk para menantu untuk tidak bercerai. Sesungguhnya Patricia sangat membenci ketiga putranya yang mewarisi sifat suaminya, yaitu tidak bisa mengendalikan nafsu. Cakra dikontrol dengan sangat ketat sehingga dia tidak punya kesempatan untuk melampiaskan nafsunya. Namun kemudian begitu ada kesempatan, dia langsung diam-diam berselingkuh. Pada akhirnya Patricia mengusir semua wanita simpanan ketiga putranya keluar dari Cianter. Dia tidak ingin mereka
Fani yang dari kecil mereka manjakan ternyata bukan adik kandung, melainkan anak dari pelayan rumah mereka. Ayah kandung Fani memiliki ambisi yang terlalu besar, berharap anaknya bisa menggantikan Felicia menjadi pewaris Gatara Group. “....” “Kak Erwin, lepasin aku. Kalian sudah berhasil menculikku, untuk apa lagi takut aku kabur? Tolong buka karungnya, napasku mulai sesak.” Erwin sekilas tampak masih sedikit menyayangi adik perempuannya. Tidak … kalau dia masih sayang, dia pasti akan berusaha untuk mencegah kakaknya, bukannya malah ikut berkomplot bersama. Andaikan Felicia memiliki nasib yang baik, dia memiliki lima orang kakak yang sayang padanya. Namun sayangnya hidup tidak seindah itu. Dari lima kakaknya, tidak ada satu pun yang menyayanginya. Justru mereka berlima berharap Felicia cepat mati. Apakah ini karena Felicia yang gagal menjadi orang baik, atau memang mereka saja yang terlalu kejam? “Felicia, kamu jangan aneh-aneh. Nanti baru kulepasin kalau kita sudah sampai,” ujar
Felicia tidak bisa memberikan perlawanan. Mulutnya disumpal oleh kain, dan kepalanya ditutup dengan karung, setelah itu dia dipaksa masuk ke dalam mobil. Felicia mendengar suara kakaknya yang berkata lirih kedua adiknya, “Ayo jalan. Suruh dua kakaknya Fani untuk ikut di belakang. Sisanya bersihkan daerah TKP, habis itu cepat pergi.” Kemudian Felicia juga mendengar suara mesin mobil menyala, tanpa mereka akan segera pergi. Felicia tidak bisa melihat apa lagi yang terjadi setelah itu. Felicia yang ditempatkan di deret kursi belakang masih bisa menggerakan kaki tangannya dengan bebas. Dia juga berhasil melepeh kain yang menyumpal mulutnya, tetapi dia tidak bisa membebaskan diri dari karung yang membungkus kepalanya. Bagian ujung karung ditahan oleh dua tangan yang sangat kuat. Selain ada satu orang lagi yang memukuli Felicia agar tidak melawan. “Kak Julio, cepat ikat ujung karungnya,” ujar Erwin. Rupanya yang menahan ujung karung adalah Julio, dan yang memukuli Felicia adalah Erwin. “






