MasukKeluarga Leonarto memang tidak sekaya keluarga Sanjaya, tetapi mereka masih termasuk dalam keluarga konglomerat, dan pernikahan antara Aksa dan Tiara juga masih sesuai dengan standar kedua keluarga. Tuntutan Yuna terhadap Tiara sedikit lebih tinggi karena Tiara akan menjadi istri dari putra sulungnya. Jika Tiara berasal dari keluarga yang biasa saja, dikhawatirkan gaya hidup dan selera akan jauh berbeda, sehingga dia tidak bisa memikul beban yang keluarga Sanjaya tuntut darinya. Namun untuk menantu kedua, Yuna hanya meminta dia memiliki karakter yang baik. “Kak Aldi kan cowok yang baik. Dia pasti bisa ketemu cewek yang cocok. Soal pernikahan begini juga tergantung takdir. Kalau memang sudah takdirnya ketemu, pasti bakal ketemu. Tapi kalau belum takdir, dipaksa juga percuma. Mungkin takdirnya Kak Aldi itu menikah di usia yang agak tua,” kata Amelia berusaha untuk menghibur ibunya. “Sekarang menikah saja sudah termasuk tua. Nggak perlu diramal juga sudah ketahuan,” keluh Yuna. lalu tib
“Aku nggak cemburu, kok. Aku cuma lagi bercanda sama Mama. Siapa suruh Mama duluan yang meledek aku,” ujar Amelia tersenyum. “Aku juga tahu Mama baik ke Jonas demi aku. Semoga saja keluarga mertuaku juga baik sama aku karena kalian baik ke Jonas. Ma, kalaupun nanti aku ikut Jonas tinggal di Aldimo, Mama nggak perlu khawatir. Aku percaya Jonas bisa melindungi aku. Aku juga bisa melindungi diriku sendiri. Mama lupa aku ini siapa? Dari dulu nggak pernah ada yang berani menindas aku.” Yuna menggeser tangan Amelia dari bahu dan mencubit wajahnya. “Mama nggak khawatir sedikit pun kamu bakal kesusahan di sana. Keluarga Junaidi itu baik banget. Keluarga mereka harmonis dan reputasinya juga dikenal baik. Kamu beruntung bisa ketemu cowok sebaik Jonas.” Dengan bangga Amelia membalas, “Itu karena seleraku bagus. Cowok yang bisa bikin aku tertarik pasti punya latar belakang pribadi dan keluarga yang bagus.” “Iya, iya. Selera kamu memang yang terbaik.” Yuna mencubit lagi wajah Amelia sambil ters
Seketika Tiara melihat adik iparnya pulang, dia pun bertanya, “Amelia, kamu sudah makan? Kalau belum, nanti aku masak untuk kamu.” Yuna menarik tangan menantunya dan menyahut, “Nggak usah pedulikan dia. Dia sudah suruh Jonas masak untuk dia. Pokoknya selama ada Jonas, Amelia nggak mungkin kelaparan, deh.” Mendengar itu, Tiara pun duduk kembali ke sofa dan tersenyum. “Mama kok ngomong begitu. Jonas yang menawarkan diri untuk masak, tapi Mama bilang begitu seolah-olah aku yang suruh dia. Sekarang Mama makin pilih kasih, ya. Mama sekarang sayangnya sama Jonas, bukan sayang aku lagi. Padahal kalau bukan karena aku, Mama juga nggak bakal punya menantu sebaik Jonas. Makanya, harusnya Mama masih sayang sama aku kayak dulu.” Yuna membalas dengan tawa kekeh, “Kalau kamu nggak bilang mau makan masakannya Jonas, memangnya dia bakal masak? Mama tadi sudah panggil kalian berdua untuk makan bareng, tapi kamu nggak mau. Jonas sudah capek kerja seharian, pulang ke rumah masih harus melayani kamu.”
“Aku nggak pilih-pilih makanan. Apa yang kamu suka, aku juga suka, jadi kamu yang tentukan saja.” Apa pun yang terjadi, Jonas selalu menempatkan Amelia sebagai prioritas nomor satu dalam hidupnya. Dengan rasa puas mendengar ucapan Jonas, Amelia membalas, “Aku mau pulang sebentar. Tadi aku dengar keponakanku nangis. Kalau sudah selesai masak, panggil saja dari tembok.” “Oke. Kamu pulang saja dulu, sekalian bawa dia main ke sini sebentar.” Semenjak diajak jalan-jalan keluar, anaknya Aksa sekarang jadi lebih suka di luar rumah. Jika sudah puas tidur dan kenyang makan tetapi masih menangis juga, itu berarti dia minta diajak jalan-jalan keluar menikmati pemandangan. “Sebentar lagi kita mau makan. Kalau aku bawa dia kemari dan dia nangis-nangis terus, nanti kita yang malah terganggu. Mending dia tetap di sana saja biar ada Pak Setya yang jagain. Dia itu anak kesayangan Pak Setya. Pak Setya saja bilang dia bakal berusaha untuk hidup selama mungkin supaya bisa lihat mereka tumbuh besar.”
Sedangkan untuk anak perempuan akan tetap menggunakan marga Junaidi, marga mereka sendiri. Dari sini terlihat betapa pentingnya anak perempuan di mata para senior. Namun Jonas merasa sepertinya keponakan perempuannya lebih hebat daripada keponakan laki-lakinya. Tidak menutup kemungkinan di masa depan Audrey yang akan menjadi kepala keluarga. “Au sudah kangen sama Audrey. Nggak tahu kenapa, sekarang kalau lihat anak perempuan, aku langsung suka banget sama mereka. Mungkin karena makin tua, jiwa keibuanku jadi keluar.” “Tapi kamu belum tua, aku yang lebih tua dari kamu. Jangan ngomong kalau kamu sudah tua di depanku.” Jonas tidak suka mendengar Amelia mengatakan kalau dia sudah tua. Jika Amelia tua, berarti Jonas lebih tua lagi. Jonas merasa dia masih muda, bahkan menikah saja belum. “Aku lebih tua dari Olivia. Anaknya dia dua bulan lagi sudah lahir. Jonas, tadi selain marahin aku karena suruh kamu masak malam-malam, mamaku juga minta kita untuk siap-siap punya anak, supaya nanti bis
“Seperti apa kata Nenek Sarah ke Stefan dan yang lain. Bisa masak itu nggak cuma nilai plus untuk mendapatkan istri, tapi juga untuk menghadiahi lambung sendiri.” Neneknya Jonas sendiri justru tidak pernah mengatakan itu. Neneknya hanya berpesan tidak ada yang abadi. Sekarang keluarga Junaidi berada di atas angin dan diberkahi dengan kelimpahan. Akan tetapi dunia ini selalu berubah. Siapa yang tahu bisa saja suatu hari mereka akan jatuh. Tidak ada salahnya belajar hal baru. Andaikan satu saat mereka jatuh, mereka masih bisa hidup dengan keahlian yang ada. Oleh karena itu, para senior selalu meminta generasi muda untuk mencoba segala hal. Walaupun tidak sampai ke level mahir, setidaknya mereka bisa sedikit-sedikit. Sejujurnya kemampuan memasak Jonas biasa saja. Namun setelah jatuh hati pada Amelia, dan tahu kalau pujaan hati Amelia dulu adalah Stefan, barulah Jonas mendalami kemampuannya itu secara diam-diam agar tidak kalah saing. Ketika Jonas akhirnya jadian dengan Amelia, kemampua







