Masuk“Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu
Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan
Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin
“Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti
Ketika Arjuna hendak memejamkan matanya, tiba-tiba sebuah kilatan pantulan lensa ultra kecil muncul berasal dari balik mata boneka beruang di atas lemari. Boneka itu hadiah ulang tahun dari Lintang untuknya. Sebagai seorang pria yang selalu bersikap waspada, instingnya menyala. Pria dingin itu baru menyadari telah terjadi sesuatu yang mencurigakan di kamar yang sudah lama tidak ia tempati itu. Beberapa detik berlalu, barulah ia menyadari jika pantulan kecil itu adalah kamera berukuran mikroskopis. Ia juga pernah melihat bentuknya seperti itu.Arjuna lantas melirik Jingga yang masih menegang memeluk guling. Sudut bibir sang CEO terangkat, mengukir senyum jahil nan licik. Kalau ada yang sedang menonton mereka, kenapa tidak diberi pertunjukan sekalian?“Jingga,” panggil Arjuna halus, suaranya mendadak berubah menjadi teramat manis dan dalam.“Y-ya, Pak?” Jingga menjawab lirih. Arjuna mendadak memiringkan tubuhnya, menatap Jingga lekat-lekat, lalu dengan sengaja, menarik guling milik J
“Kapan kalian merayakan pesta pernikahan?” Pertanyaan itu seperti petasan banting yang mengejutkan Jingga. Gadis itu berkedip cepat mendengarnya. Terlalu banyak kejutan semenjak ia masuk ke dalam keluarga Widjayakusuma. Jingga menelan salivanya beberapa kali. Ia tidak menjawab sebab tak punya jawaban. Ia hanya menoleh ke arah Arjuna yang wajahnya itu tetap datar, sama sekali tidak ada tanda-tanda tertekan. “Soal rencana pesta pernikahan, kami belum merencanakannya. Jingga masih kuliah.” Arjuna menjawab cepat. “Jingga masih sangat sibuk untuk persiapan skripsi.” Raut wajah pria bersurai keperak-perakan itu langsung berubah dingin mendengarnya. Menyadari perubahan suasana hati sang patriarch, Arjuna dengan sigap melanjutkan kalimatnya dengan begitu tenang. “Yang penting sekarang Eyang sudah sembuh dan sehat kembali. Bagi kami, itu jauh lebih dari cukup.”Bagi Arjuna, kesehatan kakeknya merupakan sebuah keajaiban. Entah mendapat semangat dari mana pria tua itu benar-benar patuh meng







