เข้าสู่ระบบJika Darlene tahu bahwa Kenward dan Gianna juga akan hadir, dia pasti tidak akan setuju dengan permintaan Adelio."Darlene, kamu datang juga!" Adelio melambaikan tangan ke arah Darlene.Karena sudah terlanjur datang, Darlene hanya bisa memberanikan diri untuk duduk. Dia duduk berhadapan dengan Adelio. Di sampingnya adalah Kenward.Keduanya jelas duduk bersebelahan, tetapi seolah-olah ada lapisan penghalang tak kasatmata yang memisahkan mereka.Suasana di meja makan terasa aneh. Gianna yang lebih dulu membuka suara, "Adelio, kamu ini ya. Studio Darlene baru saja berjalan, perkembangannya pun belum lancar. Gimana bisa kamu memilih restoran seperti ini? Darlene jadi harus keluarin banyak uang!"Darlene melirik dengan dingin daftar pesanan di meja. "Kalau sudah tahu aku harus keluar banyak uang, seharusnya kamu nggak datang. Apalagi kamu juga memesan lobster biru, otoro kelas atas, kepiting laba-laba, dan kaviar."Seiring ucapan Darlene, wajah Gianna semakin masam."Itu semua aku yang pesa
Belum sempat Adelio menyelesaikan ucapannya, dia sudah didorong keluar oleh Darlene."Hubungi aku lagi setelah kamu memikirkannya dengan matang. Aku nggak akan berutang apa pun padamu."Dengan suara dentuman keras, Darlene menutup pintu. Adelio yang terkunci di luar pun menggaruk belakang kepalanya. Perasaan kecewa langsung muncul di hatinya.Dia mengemudi kembali ke perusahaan. Di perjalanan, dia melewati sebuah pasar kecil dan membeli panekuk untuk mengganjal perut.Dia merasa dirinya jelas-jelas telah melakukan perbuatan baik, tetapi Darlene sama sekali tidak menghargainya. Dia bahkan tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.Tidak sempat sarapan, makan siang pun hanya seadanya. Setelah kembali ke perusahaan, Adelio awalnya berniat meminta sekretarisnya untuk membuatkan janji makan malam mewah, tetapi sekretarisnya lebih dulu memberi tahu bahwa Kenward sedang menunggunya di kantor."Kak Kenward, angin apa yang membawamu ke sini?" Begitu melihat Kenward, Adelio tiba-tiba merasa sedikit b
Adelio merasa Darlene sangat menjijikkan. Awalnya dia ingin meletakkan naskah desain yang ada di tangannya, tetapi tanpa sadar dia meliriknya beberapa kali lagi, lalu menyadari bahwa pada naskah desain itu terdapat banyak bekas revisi.Dilihat sekilas, itu tidak tampak seperti hasil plagiarisme, melainkan lebih seperti tambahan dan penyempurnaan atas inspirasinya sendiri."Nggak mungkin ...."Jangan-jangan beberapa produk Grup Bramantyo yang belakangan ini sangat laris itu benar-benar semuanya dirancang oleh Darlene?Adelio memiliki tanda tanya besar di dalam hatinya. Rasa jijiknya terhadap Darlene tak lagi sekuat sebelumnya.Darlene mengalami mabuk berat. Saat terbangun dari tidur, kepalanya terasa sakit luar biasa dan ingatannya pun terputus-putus.Ketika membuka mata, dia mendapati dirinya tidur di ranjang rumahnya sendiri yang sudah sangat familier baginya. Pakaiannya pun belum diganti.Meskipun semua yang ada di hadapannya menunjukkan bahwa semalam setelah mabuk dia tidak bertemu
Hari itu sudah bukan hari ulang tahun Darlene lagi."Darlene, begitu kamu membuka studio sendiri, kamu sudah menjadi seorang bos. Anggap saja batu mentah itu sebagai pelajaran dariku. Di dunia bisnis nggak ada yang namanya siapa datang lebih dulu, nggak ada keadilan, nggak ada alasan. Yang ada hanya saling memangsa. Jangan naif."Nada bicara Kenward kembali dingin seperti biasanya.Darlene duduk di dalam mobil dengan kaca jendela tertutup rapat. Jari-jarinya yang menggenggam ponsel terasa sedingin es."Selain itu, aku juga sudah memberimu kompensasi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Kenward langsung menutup telepon.Kata "kompensasi" membuat Darlene seketika sadar sepenuhnya.Jadi, semua usaha Kenward merayakan ulang tahunnya dengan begitu megah bukan karena tekanan kakek, juga bukan karena dia teringat masa lalu mereka. Melainkan karena Kenward telah merebut batu mentah yang dia incar dan memberikannya kepada Gianna."Kompensasi ...."Kedua tangan Darlene mencengkeram setir dengan ku
Larut malam, suasana sunyi. Di langit malam hanya ada bintang, tidak ada kembang api. Di luar kawasan vila Keluarga Bramantyo, balon udara telah mendarat di tanah.Lampu-lampu rumah lama masih menyala.Kenward baru saja selesai mandi dan keluar mengenakan jubah mandi.Di jalan tol menuju Kota Narni, sebuah BMW Seri 3 putih melaju kencang, meninggalkan lampu jalan dan pepohonan di belakang.Darlene sedang mengemudi. Waktu sudah tidak cukup. Dia menelepon pihak AOD menggunakan headset Bluetooth."Aku ambil batu mentah itu. Aku sedang di jalan, sebentar lagi sampai.""Maaf, Bu Darlene. Batu mentah itu sudah kami jual.""Apa?!"Darlene hampir menginjak rem mendadak."Bukankah sudah disepakati akan ditahan sampai hari ini?""Yang membelinya adalah suamimu. Katanya itu hadiah untukmu."Bayangan Kenward yang bertingkah tidak seperti biasanya malam ini langsung muncul di benak Darlene. Dia tidak tahu apakah Kenward tiba-tiba sadar karena hati nuraninya tersentuh, atau karena tekanan dari Harol
Kenward mendorong sebuah kue ulang tahun tiga tingkat keluar perlahan dari balik balon udara, sambil menyanyikan lagu ulang tahun versi bahasa Inggris tanpa iringan musik.Lagu itu sangat indah.Justru karena tanpa musik pengiring, suaranya terdengar semakin jernih dan menyentuh. Dalam sekejap, Darlene seolah ditarik kembali ke masa ketika dia berusia 13 tahun. Darlene merasa seperti sedang bermimpi. Dia berkedip, nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.Bahkan saat Kenward yang lebih dulu mengejarnya di masa kuliah dulu, pria itu tidak pernah menyiapkan kejutan seromantis ini untuknya.Kenward berhenti tepat di depan Darlene dengan wajah tersenyum. Sepasang mata yang dalam dan penuh perasaan itu berkilau cerah. Darlene merasakan ilusi seolah dirinya akan tersedot ke dalam tatapan Kenward. Dia menahan napas, jantungnya berdebar kacau tak terkendali."Selamat ulang tahun," ucap Kenward. Suaranya rendah dan dalam, seperti getaran senar kontrabas.Darlene dan Kenward be







