Share

Bab 143. Mengadu Pada 'Romeo'

Author: nanadvelyns
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-20 00:17:01

“Wanita gila itu resmi didiagnosa Borderline Personality Disorder,” ujar Amira begitu melangkah masuk menembus pintu ruang residen.

Adhira terduduk lemas di kursinya dengan tatanan rambut yang sudah berantakan tak beraturan. Di sampingnya, Qanita tampak begitu telaten mengoleskan salep antibiotik pada beberapa luka bekas cakaran di area wajah Adhira.

“Dia sungguh sudah kehilangan akal sehatnya! Menyerang orang lain secara brutal di depan umum? Benar-benar sinting!” semprot Qanita berapi-api, me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 160. Akal Cerdik Nyonya Muda

    Adhira membuka matanya perlahan saat merasakan usapan lembut di dahinya.“Mm…” Ia menggeliat pelan, mengumpulkan kesadarannya.“Sudah bangun?” Suara berat Marsena terdengar dari dekatnya.Adhira mengerjapkan mata beberapa kali lalu bangkit duduk di sofa. Ia baru sadar selembar selimut tebal yang hangat sudah membungkus tubuhnya dengan rapi.Ia mendongak menatap suaminya. “Kenapa kamu memberiku selimut sehangat ini? Bukannya semalam aku sudah bilang tidak usah memedulikanku dulu?”Marsena menggeleng pelan. “Bukan aku yang menyelimutimu, tapi Nenek.”Adhira langsung tertegun. Matanya membelalak kaget. “Nenek yang menyelimutiku?”Marsena mengangguk mantap. “Pelayan yang mengantar selimut ini menceritakannya langsung padaku.”Adhira tersenyum puas, bangga dengan pencapaian kecilnya. Ia lalu berbalik dan mengambil sapu tangan yang sudah selesai disulamnya.“Lihat ini, bagus dan lucu, ‘kan? Aku sengaja menyul

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 159. Merayu Hati Sang Nenek

    “Cucuku?” cemooh sang nenek.Namun, Adhira sama sekali tidak memedulikan tatapan sinis itu. Ia tetap tersenyum ramah dan melangkah mendekat ke tepi ranjang.“Nenek sebenarnya sakit apa?”Marsena menyusul tepat di belakang Adhira, menatap sang nenek dengan saksama.Wanita tua itu membuang muka dengan enggan. “Cuma flu biasa dan darah tinggiku naik sedikit akhir-akhir ini. Itu saja. Kamu tidak perlu pura-pura khawatir padaku.”Adhira menghela napas pelan, lalu duduk di tepi ranjang tanpa ragu.“Kenapa aku harus pura-pura khawatir, Nek? Nenek tidak lihat kantung mataku yang hitam dan tebal ini?” Adhira menunjuk bawah matanya yang menghitam dengan wajah memelas.Sang nenek melirik malas.Dari belakang, Marsena menyela pelan, “Adhira baru saja selesai jaga malam di rumah sakit, Nek. Aku sudah menyuruhnya istirahat di rumah, tapi begitu dengar Nenek sakit, dia tetap keras kepala minta ke sini.”Sang nenek sem

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 158. Nenek yang Sakit

    “Ini belum semuanya. Masih ada puluhan sertifikat gedung dan tanah di brankas rumah. Nanti kutunjukkan begitu kita pulang,” ujar Marsena lagi. Adhira makin bungkam. Apa-apaan ini? Ia menatap takjub deretan kartu bernilai fantastis di atas meja. Apa pria kaku di depannya ini mendadak mengubahnya jadi orang terkaya nomor satu di dunia? “Semua kartu ini aset pribadiku. Jadi dana operasional rumah sakit maupun bisnis Buana Group tidak akan terganggu sama sekali,” tambah Marsena dengan wajah polos. Adhira tersentak dari lamunannya. Ia berdeham pelan untuk menutupi rasa canggung, lalu memasang wajah acuh tak acuh sambil kembali menatap mangkuk makanannya. “Untuk apa kamu repot-repot memberikan semua kartu ini padaku?” tanya Adhira. “Merasa kasihan karena melihatku hampir ‘kalah saing’ dari mantan tunanganmu di lobi tadi?” Kening Marsena berkerut dalam. “Kamu sungguh berpikir begitu?” Adhira menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya tidak?” Marsena terdiam kaku, mencerna kalimat tajam ist

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 157. Kuasai Hartaku

    “Luar biasa sekali aksimu di lobi tadi!” bisik Amira heboh, membuntuti langkah Adhira begitu memasuki ruang observasi. Qanita yang berjalan di sampingnya ikut menyahut bersemangat. “Itu keren, sih!” Ia lantas memasang raut wajah datar yang dibuat-buat demi menirukan gaya bicara Adhira. "Jadi... menurut sudut pandang Anda, saya jauh lebih tidak berhak mengawasi rumah sakit ini ketimbang Anda?" Adhira menghembuskan napas tipisnya, menyusun berkas di mejanya. “Kenapa kalian berdua belum pulang? Ini sudah larut malam.” Amira membalas luwes. “Mana bisa kami langsung pulang kalau ada tontonan seru seperti tadi?” Adhira memutar kedua bola matanya malas, melemparkan pertanyaan lain. “Di mana Abid?” Amira menyahut cepat. “Dia sakit. Ibunya bahkan sampai datang langsung dari kampung untuk merawatnya. Di rak rumahnya sekarang menumpuk banyak sekali obat-obatan tradisional.” Adhira menghela napas tipis. “Jadi aku harus bertugas sendirian malam ini?” Namun selang beberapa detik, Adhira mend

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 156. Harta Suamiku, Hartaku

    Keringat dingin membasahi kening sang satpam, membuat atmosfer di lobi utama rumah sakit semakin menegang.Layla menatap Adhira dengan sorot mata sengit. "Ah... Adhira, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan di sini?"Adhira mengalihkan pandangan matanya ke arah Layla, lalu menyunggingkan senyuman tipis. "Saya mendengar ada suara keributan di lobi, jadi saya kemari untuk memeriksanya sebentar. Sepertinya—""Sepertinya jajaran dokter residen di rumah sakit cabang kedua milik Buana Group ini kelewat senggang ya?" potong Layla tanpa ragu.Ia menghembuskan napas gusarnya, melanjutkan kalimatnya dengan nada meremehkan. "Sekarang aku paham. Tidak heran jika petugas kebersihan di tempat ini bekerja sangat ceroboh, karena dokter residennya saja bersikap terlalu santai. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku sendiri yang akan menyampaikan kecerobohan ini langsung pada Sena."Adhira tertegun. Wanita ini sudah gila atau bagaimana? Kenapa dia bertingkah dan bicara seolah-olah dialah sosok penguasa b

  • Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!   Bab 155. Nona Djuana VS Nyonya Buana

    “Apa kau baik-baik saja?” tanya Marsena saat mereka sudah kembali duduk di dalam mobil untuk bergegas pulang dari mansion utama.Adhira memasang seat belt di tubuhnya seraya bersandar, menghembuskan napas tipis. “Menurutmu bagaimana?”Marsena membisu kaku untuk beberapa saat. Paras tampannya memancarkan raut yang seperti sedang berpikir keras.Adhira memijat keningnya yang berdenyut, bersuara di dalam hati. Pria tembok ini sanggup mengurus seluruh proyek bisnis raksasa tanpa celah, tapi mendadak kebingungan setengah mati saat mendapati istrinya sedang kesal?!Namun secara mendadak, Marsena kembali memecah keheningan. “Aku tidak tahu wanita itu akan hadir di sana hari ini.”Adhira membuka kedua kelopak matanya, melayangkan pendar mata tajam ke arah Marsena. “Oh, tidak tahu ya?”Ia lantas memejamkan matanya kembali, bersuara dengan nada malas. “Sepertinya pertemuan kalian di mansion tadi juga bukan pertemuan pertama kalian belakangan ini, kan?”Saat Marsena hendak menyusun kalimat penje

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status