MasukZafran menggenggam erat perjanjian perceraian yang diserahkan Clara, termenung sejenak. Pada akhirnya, dia mengembalikan perjanjian milik Clara dan berkata, "Rendra sudah menyiapkan yang ini. Dia pasti hanya akan menandatangani perjanjian versinya sendiri. Aku akan pergi menemuinya dan bicara dengannya."Kemudian, dia menambahkan, "Selama beberapa tahun ini, kamu sudah banyak menderita."Zafran tidak menahannya. Karena Zafran bersedia pergi menemui Rendra untuk membicarakan hal ini, Clara pun langsung merasa lega. Dia tersenyum dan berkata, "Semuanya sudah berlalu, anggap saja sebagai pengalaman hidup.""Terima kasih, Kakek. Hanya saja selama beberapa tahun ini aku sudah merepotkan Keluarga Adresta, maafkan aku."Melihat sikap sopan Clara, Zafran melambaikan tangannya. "Kami baik-baik saja. Kami hanya menyayangkan pernikahan kalian. Justru kamu yang jangan sampai terpengaruh."Clara menjawab, "Nggak akan, Kakek. Kalau begitu, Kakek istirahat dulu. Aku mau ke depan mencari Renata."Zafr
Sudah bertahun-tahun menjadi sopir Aidan, jarang sekali dia melihat Aidan berbicara begitu banyak, bahkan sampai berinisiatif mencari topik.Karena itu, dia juga merasa cukup aneh ketika di jam makan mereka tidak makan bersama.Menanggapi pertanyaan sopir itu, Aidan tersenyum, lalu menyahut, "Gadis itu agak pemalu. Kalau sekarang diajak makan, dia akan merasa sungkan."Sopir pun tersadar. "Ya, Nona Clara memang cukup pemalu."Aidan hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.....Di sisi lain.Setelah kembali ke kantor, Clara memesan satu porsi makanan pesan antar secara asal, lalu langsung fokus bekerja.Beberapa hari berikutnya, dia juga selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Hanya saja, jam kerjanya sedikit disesuaikan. Dia pulang lebih awal dibanding beberapa hari sebelumnya.Entah disengaja atau tidak, dalam beberapa hari ini dia dan Rendra tidak pernah bertemu, padahal keduanya sama-sama tinggal di rumah. Setidaknya saat masih terjaga, Clara tidak pernah bertemu Rendra
Clara menunduk menatap Aidan yang duduk di kursi belakang mobil, lalu berkata, "Terima kasih, aku sudah pesan taksi."Aidan berkata, "Di sini agak sulit dapat taksi. Naik saja."Dengan berkas-berkas di atas kepala, Clara menoleh ke kiri dan kanan. Memang tidak ada kendaraan lain yang lewat. Akhirnya, Clara hanya bisa berkata, "Kalau begitu, terima kasih."Setelah itu, dia membuka pintu kursi penumpang depan, tetapi melihat beberapa berkas tersusun rapi di atas kursi itu.Saat itu, suara Aidan kembali terdengar dengan lembut. "Duduk di belakang saja."Berkas milik instansi tidak boleh disentuh sembarangan, apalagi itu berkas milik Aidan. Clara pun menutup pintu kursi depan, membungkuk, dan masuk ke kursi belakang.Pintu belakang mobil dibiarkan terbuka sampai Clara naik, lalu dia sendiri yang menutupnya. Pintu yang tidak ditutup itu seolah-olah memang sengaja dibuka untuknya.Mobil melaju dengan stabil. Clara menoleh dan melirik Aidan, lalu berkata, "Maaf sudah menyita waktumu."Aidan t
Setelah dikelilingi dan dielu-elukan bak pusat perhatian, Caroline tersenyum anggun lalu berkata,"Semua terlalu memuji. Kalau begitu saya terima saja dengan hormat. Nanti kalau ada yang kurang berkenan dalam penyampaian saya, mohon dimaklumi.""Bu Caroline terlalu rendah hati.""Bu Caroline silakan bicara dengan percaya diri. Kalau sampai Bu Caroline saja dianggap kurang, kami semua malah nggak pantas tampil."Di tengah riuh dukungan itu, Manuel terkekeh sinis di sisi Clara dan berkata dengan nada meremehkan, "Memangnya dia pantas jadi pembicara forum teknologi tinggi? Bercanda."Clara tidak menanggapi. Dia tetap tenang membolak-balik materi rapat hari itu, seolah tidak mendengar apa pun.Di sampingnya, Hans berbisik pelan, "Sudahlah. Ini cuma urusan pencitraan di permukaan, nggak perlu terlalu dipikirkan."Fenomena seperti ini memang umum, banyak orang yang menjilat satu sama lain. Namun, jika benar-benar ingin mencari uang di bidang ini dan ingin menghasilkan pencapaian nyata, tetap
Tangan kanan yang terangkat di udara itu perlahan mengepal, lalu dia menurunkannya kembali. Dengan nada datar, Clara berkata, "Rendra, aku nggak menamparmu karena kamu pernah menyelamatkanku. Kita sudah saling mengenal bertahun-tahun. Aku nggak ingin ...."Ucapannya terhenti sejenak. Lalu dia mengubah arah pembicaraan, "Hubungan kedua keluarga kita masih ada. Demi para orang tua, aku harap kita bisa berpisah dengan baik."Sesaat kemudian, dia menambahkan lagi, "Dan soal layanan tindak lanjut produk yang kamu terima, aku akan serahkan ke Pak Hans untuk ditangani. Mungkin aku memang sudah membawa emosi pribadi untuk menghadapimu."Setelah mengajukan perceraian, sebenarnya dia masih beberapa kali mengalah dan menyesuaikan diri dengannya, masih beberapa kali bekerja sama dengan Rendra.Saat dia mengajukan pengunduran diri, harga saham perusahaan sempat anjlok. Rendra menanggung semuanya sendirian dan tidak menyalahkannya sedikit pun. Saat itu, hatinya sempat tergerak.Namun, belakangan dia
"Dua tahun ini, setiap malam ketika harus tidur sendirian, setiap kali selesai membantumu mengurus semua urusan itu, aku selalu punya dorongan untuk menyerahkan perjanjian itu kepadamu. Tapi, setiap kali juga aku menahannya kembali.""Tapi Rendra, kesabaran manusia itu ada batasnya, toleransi ada batasnya, begitu juga dengan kesediaan untuk terus mengalah. Nggak akan ada siapa pun yang selamanya mau memaklumi kamu, menuruti kamu.""Kamu kira aku memang terlahir bisa menahan diri? Kamu pikir aku benar-benar nggak punya perasaan, nggak akan sedih, nggak akan peduli dengan semua yang kamu lakukan? Kamu benar-benar mengira aku nggak peduli dengan kamu dan Caroline? Benar, sekarang aku memang nggak peduli lagi, karena perasaanku padamu sudah lama terkikis dalam tiga tahun ini, terkikis oleh pengkhianatanmu yang berulang-ulang.""Kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita.""Rendra, kita sudah saling mengenal bertahun-tahun. Jadi kamu seharusnya tahu, sejak aku menyerahkan perjanjian per







