Share

Bab 125

Author: Emily Hadid
Kalau memang ingin segera menggendong cicit, urusan perceraian antara dia dan Rendra memang harus mulai dijadwalkan.

Mendengar usulan Clara, Rendra menatapnya, lalu menimpali dengan nada malas, "Clara, setiap kali kamu melihatku, apa yang kamu pikirkan itu cuma soal cerai? Nggak bisa memikirkan hal lain?"

Mendengar itu, Clara pun menyadari bahwa belakangan ini dia memang sudah beberapa kali menyinggung masalah itu, seolah-olah sedang mendesak. Jadi, dia menunduk, menarik kembali tatapannya, dan tidak melanjutkan pembahasan itu lagi.

Clara pun bersandar di ranjang seperti Rendra, membalik halaman buku di tangannya. Saat rasa kantuk datang, Clara meletakkan buku, meliriknya sekilas, lalu mengingatkan, "Sudah larut, kamu juga sebaiknya istirahat lebih awal."

Setelah itu, dia tetap tidak bisa menahan diri dan menambahkan satu kalimat, "Soal prosedurnya, kamu sebaiknya luangkan waktu secepatnya. Setelah semua selesai, aku nggak akan membicarakannya lagi dan ke depannya juga nggak akan ada y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 200

    Zafran berkata, "Nggak pernah mikirin hal itu, tapi kamu nggak menjalani hidup dengan baik, malah masih berbelit-belit dengan putri kedua Keluarga Winandy?"Mendengar ucapan sang kakek, Rendra menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku sudah berusaha membujuknya."Sejak kecil hingga dewasa, Rendra jarang sekali mengalah. Melihat kali ini dia tampak kehilangan semangat, Zafran pun malas untuk terus memarahinya dan hanya berkata dengan nada perintah, "Kalau begitu, cepat bujuk dia dengan baik. Ke depannya jalani hidup dengan jujur dan benar."Berkata sampai di sana, Zafran menambahkan lagi, "Tapi kalau Clara memang benar-benar nggak mau melanjutkan hidup denganmu, jangan kamu paksa. Jangan buat dia menderita."Dia melanjutkan lagi, "Selama tiga tahun ini, kamulah yang berutang padanya. Nanti apa yang seharusnya menjadi haknya, jangan kurang sedikit pun. Kalau berani main licik, aku sendiri yang akan menguliti kamu."Mendengar kalimat-kalimat terakhir itu, Rendra tersenyum getir dan menja

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 199

    Saat itu, Clara malah meliriknya sekilas dengan ekspresi biasa, lalu mengingatkan dengan nada lembut, "Lift sudah sampai."Barulah Rendra tersadar. Dia perlahan menggenggam tangan kanannya yang sempat menggantung di udara, lalu dengan gerakan tenang memasukkannya kembali ke saku celana.Keduanya masuk ke dalam lift, satu demi satu. Clara lalu menoleh kepadanya dan bertanya, "Kakek di lantai berapa?"Rendra menjawab datar, "Lantai 23."Clara langsung menekan tombol lantai 23, sama sekali tidak memperhatikan perubahan emosinya. Saat ini, dia juga sudah tidak berniat memperhatikan lagi.Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai 23. Saat mereka mengetuk pintu ruang rawat inap sang kakek, Renata juga berada di dalam. Begitu melihat Clara datang, Renata segera berdiri dan menyapanya, "Clara datang.""Renata." Setelah menyapa Renata, Clara melangkah mendekati ranjang dan menggenggam tangan sang kakek dengan lembut, lalu membungkuk sedikit dan bertanya penuh perhatian, "Kakek, gimana sekarang

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 198

    Sapaan "Pak Rendra" dari Clara membuat Rendra langsung mengangkat pandangannya.Namun ... saat ini dia sedang bersama Caroline. Jika Clara tidak memanggilnya Pak Rendra, memang rasanya tidak ada sebutan lain yang pantas. Melihat Clara hendak pergi, Aidan mengantarnya menuruni tangga.Setibanya di depan mobil Alain, Clara berbalik dan mengucapkan terima kasih kepada Aidan atas jamuan malam ini. Aidan menjabat tangannya dengan ringan sebagai salam perpisahan, lalu membukakan pintu mobil untuknya dengan sangat sopan.Saat Clara membungkuk masuk ke dalam mobil, Aidan bahkan melindungi kepalanya dengan hati-hati.Padahal, selama ini Aidan menemani Horace mengantar para tamu. Hanya Clara yang diantarnya sampai ke bawah tangga dan membukakan pintu mobil untuknya secara khusus. Untuk tamu lainnya, dia hanya berjabat tangan dan berpamitan di pintu masuk.Tak lama setelah Aidan kembali, mobil Rendra pun tiba.Aidan menjabat tangan Rendra dan menepuk lengannya sambil berkata, "Rendra, kita buat j

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 197

    Beberapa hari lalu, dia sempat menanyakan kepada Clara apakah hari ini dia punya waktu. Clara mengatakan bahwa dia sudah punya rencana. Ternyata, dia juga datang untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Pak Horace.Tanpa bergerak sedikit pun, pandangan Rendra tertuju pada Clara. Matanya lama tidak beralih."Rendra."Baru setelah Horace memanggilnya, Rendra tersentak kembali ke kesadarannya. Dia segera menoleh dan tersenyum kepada Horace.Melihat reaksinya, Horace sekalian melirik ke arah ruang tamu kecil dan bertanya, "Lihat orang yang kamu kenal?"Rendra hanya tersenyum tanpa menjawab, tetapi sudut matanya kembali melirik ke arah Clara.Melihat suasana di sana cukup ramai, Horace pun tersenyum sambil memperkenalkan, "Gadis yang bermain catur dengan Aidan itu Clara, teknisi dari StarTech. Alain sangat menaruh harapan besar padanya. Gadis kecil itu pintar, pikirannya lincah, sangat berbakat."Rendra tetap tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sementara itu, Caroline kembali menoleh ke

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 196

    Keduanya duduk berhadapan, masing-masing memegang sisi papan catur. Clara membuka permainan dengan kuda, Aidan pun membalas dengan langkah kuda.Beberapa langkah berlalu, orang-orang di sekitar mulai berkumpul menonton. Melihat jalannya permainan mereka, beberapa kakek yang tadi bermain catur tak henti-hentinya memuji kelincahan pikiran anak muda, terlebih lagi memandang Clara dengan kagum.Gadis kecil ini terlihat pendiam dan lembut, tetapi saat bermain catur, langkah-langkahnya sangat rapi dan matang. Para orang tua itu merasa belum tentu mereka semua bisa mengalahkannya.Satu papan catur berlangsung dengan pertukaran langkah yang intens. Jalur permainan Aidan penuh variasi, sementara Clara sama sekali tidak mengalah.Saat itu, para kakek di samping berkomentar, "Permainan ini seri, nggak bisa ditentukan menang atau kalah.""Anak gadis ini dari mana? Hebat juga. Aidan, dia pasanganmu ya?""Aidan, gadis ini siapa?"Mendengar orang-orang menanyakan latar belakang Clara, Aidan tersenyum

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 195

    Caroline terus mendampingi Rendra tanpa beranjak sedikit pun. Aidan pun mengira Caroline adalah istri Rendra. Bagaimanapun, status Rendra yang sudah menikah bukanlah rahasia.Sapaan "Nyonya Adresta" dari Aidan membuat Rendra tersenyum lalu menjelaskan, "Pak Aidan, ini adalah putri kedua Keluarga Winandy, Caroline. Kami hanya berteman."Aidan tersenyum sambil meminta maaf, "Kalau begitu aku salah paham."Mendengar penjelasan Rendra, Caroline menoleh menatapnya. Sekilas tampak kilatan kecewa di matanya, tetapi dia kembali tenang dan anggun, lalu tersenyum sambil menimpali, "Maaf membuat Pak Aidan keliru."Setelah membalas Caroline dengan senyum tipis yang sopan, Aidan kembali bertanya kepada Rendra, "Istrimu nggak datang hari ini?"Rendra menjawab, "Dia punya agenda lain hari ini, sedang sibuk.""Oh." Aidan menanggapi dengan nada yang bermakna.Saat ketiganya masih berbincang, Horace kembali memanggil Aidan, memintanya menjelaskan beberapa isu kebijakan kepada rekan-rekan lamanya.Di sel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status