Share

Bab 189

Author: Emily Hadid
Pertanyaan Clara yang tiba-tiba membuat Rendra tertegun. Dia hanya bisa menatap Clara.

Clara menatap Rendra tanpa berkedip. Melihat dia lama tidak memberi jawaban, Clara perlahan bangkit dari pangkuannya dan berkata pelan, "Istirahatlah lebih awal."

Setelah itu, dia pergi tanpa mengatakan apa pun.

Sampai terdengar suara pintu kamar ditutup, barulah Rendra tersadar dan menoleh ke arah pintu.

Tanpa sepatah kata pun, dia menatap pintu itu cukup lama. Kemudian, Rendra bangkit dan berjalan ke arah jendela besar, mengambil rokok dan pemantik dari lemari samping, lalu menyalakan sebatang rokok.

Asap rokok perlahan mengepul. Alisnya sedikit berkerut.

Di kamar sebelah, setelah masuk, Clara merapikan kamar secara sederhana, memasukkan pakaian yang dilepas ke keranjang baju, lalu mematikan lampu dan beristirahat.

Rendra tidak ingin bercerai, semata-mata karena dalam tiga tahun pernikahan, mereka sudah terbiasa satu sama lain. Clara selalu mengalah kepadanya, tidak pernah mencampuri urusannya, sel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 192

    Ekspresinya tetap tenang dan datar.Setelah rapat selesai, rombongan kembali ke pusat kota. Tepat saat itu juga sudah memasuki jam makan malam. Alain mengatur jamuan makan malam untuk semua orang.Aidan mengatakan bahwa semua pihak telah bekerja keras seharian penuh, terutama beberapa teknisi StarTech, sehingga dia menanggung biaya untuk jamuan makan malam tersebut secara pribadi.....Pada saat yang sama, Rendra sudah tiba di rumah. Begitu menyalakan televisi, berita yang sedang ditayangkan kebetulan adalah liputan kunjungan Aidan ke StarTech.Di dalam berita itu, Clara tampil rapi dan cekatan, dengan sikap yang sangat profesional saat menjelaskan fungsi produk kepada semua orang. Riasannya tipis, pembawaannya anggun, lembut, dan berkelas.Sambil memegang gelas air, Rendra tak kuasa tersenyum tipis saat melihat Clara yang begitu percaya diri dan tenang menghadapi segalanya.Sejak dulu, Clara memang bukan orang yang banyak bicara. Terutama saat masih kuliah. Meskipun menghabiskan sehar

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 191

    Hidungnya mancung, di sudut bibirnya terukir senyum hangat yang lembut, membuat orang mudah merasa dekat dengannya. Pantas saja Renata berkata bahwa di seluruh Kota Ardivo, sosok yang paling menarik perhatiannya adalah Aidan."Pak Aidan.""Profesor Alain, kita bertemu lagi."Setelah saling berjabat tangan dan bertegur sapa, Aidan kembali menyalami Hans dan beberapa pegawai senior lain yang berdiri di depan. Beberapa wartawan yang ikut serta terus mengangkat kamera dan merekam sepanjang waktu.Aidan adalah pejabat nomor dua di Kota Ardivo. Sekali dia turun langsung seperti ini, para wartawan bukan hanya harus menulis artikel sepulangnya nanti, tetapi juga menayangkannya di televisi.Setelah salam singkat, Alain mempersilakan rombongan menuju gedung administrasi. Dia terlebih dahulu memperkenalkan capaian perkembangan StarTech dalam beberapa tahun terakhir, lalu membawa mereka menuju laboratorium.Tempat yang dikunjungi adalah area yang biasa digunakan untuk pengujian. Untuk lokasi yang

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 190

    Aidan?Mendengar nama itu, Clara teringat pada Horace, juga teringat pada kejadian waktu keluar dari rumah Keluarga Kesnandi, ketika mobil mereka berpapasan. Aura Aidan saat sangat kuat. Selain itu, tulisan tangannya juga sangat bagus.Memikirkan hal itu, Clara tersenyum dan berkata, "Kalau kamu suka dia, ya kamu saja yang kejar."Renata mengerutkan kening. "Nggak bisa. Aku sudah dua kali bertemu dengannya dan kepribadian kami nggak cocok. Clara, kamu yang cocok dengannya. Kamu juga cocok dengan kakak pertamaku."Di hati Renata, Clara cocok dengan siapa pun, kecuali dengan Rendra.Mendengar ucapan Renata, Clara tersenyum dan menyahut, "Aku ini perempuan yang mau cerai, mana berani mengincar pria seperti mereka. Lebih baik aku fokus kerja saja."Satu Rendra saja sudah cukup membuatnya kewalahan dan tersiksa. Lebih baik dia fokus bekerja.Renata berkata, "Kamu juga belum punya anak, baru 23 tahun. Kalau aku nggak salah tebak, antara kamu dan kakakku sebenarnya belum terjadi apa-apa, 'kan

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 189

    Pertanyaan Clara yang tiba-tiba membuat Rendra tertegun. Dia hanya bisa menatap Clara.Clara menatap Rendra tanpa berkedip. Melihat dia lama tidak memberi jawaban, Clara perlahan bangkit dari pangkuannya dan berkata pelan, "Istirahatlah lebih awal."Setelah itu, dia pergi tanpa mengatakan apa pun.Sampai terdengar suara pintu kamar ditutup, barulah Rendra tersadar dan menoleh ke arah pintu.Tanpa sepatah kata pun, dia menatap pintu itu cukup lama. Kemudian, Rendra bangkit dan berjalan ke arah jendela besar, mengambil rokok dan pemantik dari lemari samping, lalu menyalakan sebatang rokok.Asap rokok perlahan mengepul. Alisnya sedikit berkerut.Di kamar sebelah, setelah masuk, Clara merapikan kamar secara sederhana, memasukkan pakaian yang dilepas ke keranjang baju, lalu mematikan lampu dan beristirahat.Rendra tidak ingin bercerai, semata-mata karena dalam tiga tahun pernikahan, mereka sudah terbiasa satu sama lain. Clara selalu mengalah kepadanya, tidak pernah mencampuri urusannya, sel

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 188

    Clara mengangkat kepala menatapnya. Melihat suasana hatinya tampak kurang baik dan luka di dahinya juga cukup jelas, dia berkata dengan suara lembut, "Kita nggak cocok."Selama tiga tahun ini, seberapa keras dia sudah berusaha, sekarang justru terlihat betapa mereka tidak cocok.Rendra menatap Clara begitu saja, tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanya pun terdiam dalam kebuntuan.Tak lama kemudian, Rendra yang lebih dulu bergerak. Dia berjalan ke meja kopi, membungkuk, lalu mematikan sisa rokok di asbak.Untuk sesaat, suasana di kamar tidur menjadi agak sesak. Clara menarik kembali pandangannya. Saat dia berbalik tanpa sepatah kata pun dan hendak pergi, Rendra maju cepat dua langkah dan langsung mencengkeram pergelangan tangannya.Clara berbalik, mendongak menatapnya. Namun saat itu juga, Rendra melepaskan tangannya.Dia memalingkan tubuh ke samping, memasukkan kedua tangan ke saku celana, dan untuk sementara tidak mengatakan apa pun.Melihat itu, Clara mengusap pergelangan tangan yang

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 187

    Saat mereka baru menikah dulu, Clara hampir setiap hari menunggunya pulang seperti ini. Namun, dia tidak pernah berhasil menunggu Rendra. Karena itu, belakangan dia tidak lagi menyiapkan apa pun.Clara pergi ke dapur mengambil peralatan makan, lalu menyerahkannya kepada Rendra. Dia melihat Rendra sudah melepas kain kasa di dahinya. Lukanya cukup besar dan cukup jelas.Menerima peralatan makan yang diserahkan Clara, Rendra berkata dengan nada datar, "Duduk."Mendengar ucapannya, Clara duduk di seberangnya, lalu kembali melirik lukanya dan berkata, "Kemarin aku memang nggak sengaja."Kemudian, dia bertanya lagi, "Kamu sudah ke rumah sakit? Sudah suntik tetanus?"Rendra menjawab, "Nggak apa-apa, nanti tinggal dioles obat saja."Kemudian, dia melanjutkan, "Bagian legal sudah menyelesaikan perhitungan aset. Nanti aku kasih satu salinan daftar untukmu, kamu lihat apa ada yang secara khusus kamu inginkan."Rendra tiba-tiba membahas hal ini. Clara langsung mendongak menatapnya. Jadi, obrolan y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status