Home / Rumah Tangga / Pernikahan Penuh Luka / 117.Harga dari Sebuah Diam

Share

117.Harga dari Sebuah Diam

Author: Lusiana
last update Last Updated: 2026-01-10 16:52:10

Keheningan setelah ucapan Bela terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Ruang keluarga itu seperti kehilangan udara. Aku bisa mendengar detak jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menghitung mundur sesuatu yang tak terlihat namun pasti akan meledak.

Ayah berdiri dari duduknya. Gerakannya lambat, tapi penuh wibawa yang membuat siapa pun enggan menyela. Tatapannya tajam mengarah pada Bela, lalu beralih kepadaku. Dadaku bergetar saat mata itu berhenti tepat di wajahku.

“Kamu,” katanya dingin, “sejak kapan kamu belajar diam seperti ini, Bara?”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Semua kalimat berdesakan di kepala, tapi tak satu pun berani keluar.

“Ayah bicara denganmu,” tekan ayah.

Bu Indah ikut berdiri. “Pak, jangan begitu. Bara juga sedang tertekan.”

“Tertekan?” ayah tersenyum miring. “Dia yang memilih jalan ini. Dia yang memutuskan melukai amanat orang lain.”

Aku mengangkat kepala. Kali ini, aku tak bisa lagi bersembunyi. “Ayah,” suaraku se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Penuh Luka   120.Jejak yang Tak Kunjung Sampai

    **** Malam kembali turun, membawa dingin yang menyusup ke sela-sela keresahan. Di kamar yang redup, Bara terjaga meski matanya terpejam. Tidurnya tak pernah benar-benar utuh sejak satu nama terus berputar di kepalanya Aisyah. Dan satu wajah kecil yang selalu hadir bersamanya Arka. Ia menahan napas, mencoba mengatur denyut jantungnya sendiri. Di sampingnya, Bela bergerak pelan, memeluk selimut lebih erat, seolah dunia baik-baik saja. Namun dunia Bara tidak. Pagi tadi, ia kembali menyusuri jalan yang sama. Gang sempit, deretan kontrakan tua, warung kecil yang dulu pernah disebut Aisyah sambil tersenyum. Bara berdiri lama di sana, menatap papan kayu kusam yang kini digembok. Tetangga sekitar hanya menggeleng. “Sudah pindah, Pak. Lama,” kata mereka. Tak ada alamat, tak ada petunjuk. Seakan Aisyah dan Arka menelan dirinya sendiri dari peta kehidupan. Bara mengepalkan tangan. Ia sudah menyewa orang. Ia sudah menghubungi kenalan lama. Ia bahkan menurunkan harga dirinya, bertanya ke s

  • Pernikahan Penuh Luka   119.Bayang-Bayang di Balik Senyum

    **** Malam kian larut, tapi mataku masih enggan terpejam. Aku memandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang berkelindan. Di sampingku, Bara sudah terlelap, napasnya teratur seolah tak ada badai yang baru saja mengguncang rumah ini. Dadaku terasa sesak. Ada kepuasan tipis yang mengendap bukan karena menang, melainkan karena aku sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Aku memutar tubuh, menatap punggung Bara. Lelaki yang dulu kuanggap segalanya, kini terasa seperti medan perang yang harus kuperebutkan. Dalam diam, aku menggenggam ponselku, memastikan pesan itu masih ada. Centang biru. Rencana sudah bergerak. Aku tersenyum kecil, pahit. “Semua ini demi kita,” bisikku pelan, seolah meyakinkan diriku sendiri. **** Di rumah kontrakan yang sederhana, aku Aisyah menyandarkan punggung di dinding setelah memastikan Arka tertidur. Tubuhku lelah, tapi hati terasa ringan. Pesanan besok membuat pikiranku sibuk menyusun rencana: bangun lebih pagi, belanja bahan, memastikan semuanya m

  • Pernikahan Penuh Luka   118.Amarah Yang Tak Pernah Padam

    **** “Kenapa sih semuanya harus ada Aisyah, Aisyah, dan Aisyah?” gumamku penuh amarah. Dadaku naik turun, napasku terasa sesak. Sejak tadi kepalaku dipenuhi satu nama itu nama perempuan yang terus menghantui hidup Bara dan, tanpa sadar, merenggut posisiku sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak lagi. Aisyah harus benar-benar pergi dari kehidupan Bara. Harus. Hanya dengan begitu bapak tua itu ayah mertua yang selalu memandangku sebelah mata akan mau menerima kehadiranku sepenuhnya. Langkah kakiku terasa berat saat keluar dari ruang tamu, meninggalkan kedua mertuaku yang barusan saja membuat harga diriku seperti diinjak-injak. Senyum palsu, tatapan sinis, dan kalimat-kalimat halus yang menyudutkanku masih terngiang jelas di kepala. Aku menutup pintu kamar agak keras, lalu duduk di tepi ranjang dengan tangan gemetar. Rasa dongkol dan marah itu belum juga reda. Dadaku panas. Tanganku meraih ponsel tanpa ragu. Aku membuka kontak seseorang yang selama ini kerap memb

  • Pernikahan Penuh Luka   117.Harga dari Sebuah Diam

    Keheningan setelah ucapan Bela terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Ruang keluarga itu seperti kehilangan udara. Aku bisa mendengar detak jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menghitung mundur sesuatu yang tak terlihat namun pasti akan meledak. Ayah berdiri dari duduknya. Gerakannya lambat, tapi penuh wibawa yang membuat siapa pun enggan menyela. Tatapannya tajam mengarah pada Bela, lalu beralih kepadaku. Dadaku bergetar saat mata itu berhenti tepat di wajahku. “Kamu,” katanya dingin, “sejak kapan kamu belajar diam seperti ini, Bara?” Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Semua kalimat berdesakan di kepala, tapi tak satu pun berani keluar. “Ayah bicara denganmu,” tekan ayah. Bu Indah ikut berdiri. “Pak, jangan begitu. Bara juga sedang tertekan.” “Tertekan?” ayah tersenyum miring. “Dia yang memilih jalan ini. Dia yang memutuskan melukai amanat orang lain.” Aku mengangkat kepala. Kali ini, aku tak bisa lagi bersembunyi. “Ayah,” suaraku se

  • Pernikahan Penuh Luka   116.Retakan di Ruang Keluarga

    Kami turun berdua dari tangga rumah itu. Bela tetap menggenggam tanganku, jemarinya erat seolah takut aku akan menghilang jika dilepaskan. Senyum tipis masih bertengger di bibirnya, senyum yang dipaksakan, tapi cukup untuk memberi ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tangan satunya mengusap pundakku pelan, sebuah isyarat yang seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, dadaku justru terasa semakin sesak. Begitu kami memasuki ruang keluarga, tatapanku langsung bertemu dengan ayah. Matanya menatap Bela tanpa sedikit pun usaha menyembunyikan ketidaksukaan. Raut itu terlalu jelas dingin, menilai, dan penuh jarak. Seolah Bela adalah tamu tak diundang di rumah ini. Bela, dengan sikap yang tetap terjaga, menyalami ayah dan ibu. Bu Indah tersenyum, senyum seorang ibu yang selalu berusaha menjaga suasana tetap hangat meski retakan mulai tampak di mana-mana. Kami pun duduk. Bela masih di sampingku, masih menggenggam tanganku. Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara ayah. “Sudah se

  • Pernikahan Penuh Luka   115.Bertmeu Ayah 2

    Sambungan telepon itu sudah kumatikan sejak beberapa menit lalu, namun kegelisahan justru semakin menyesakkan dadaku. Ponsel di tanganku terasa berat, seolah menyimpan beban yang tak sanggup kutanggung sendiri. Aku berdiri di dekat jendela, menatap halaman rumah yang masih lengang, sementara pikiranku dipenuhi bayangan wajah ayah tatapan tajamnya, suaranya yang tegas, dan prinsip hidupnya yang tak pernah bisa ditawar. “Mas, kamu kenapa sih? Dari tadi kelihatan gelisah,” suara Bela terdengar ceria, seolah tak ada awan gelap yang sedang menggantung di atas kepala kami. Ia mendekat, menyentuh lenganku dengan senyum penuh keyakinan. “Katamu kamu sudah cerita sama ayah. Aku yakin ayah kamu pasti merestui kita. Setelah itu, kita bakal bisa bersama selamanya.” Aku tak langsung menjawab. Kata-kata Bela berputar-putar di kepalaku, namun tak satu pun mampu keluar dari mulutku. Bukan karena aku tak ingin bersamanya, tapi karena aku tahu betul siapa ayahku. Ia bukan pria yang mudah diyakinkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status