LOGINSetelah berkeliling hampir ke seluruh sudut kota, mencari Aisyah dengan sisa harapan yang terus menipis, aku akhirnya menyerah. Tidak ada jejaknya. Tidak ada bayangannya. Seakan perempuan itu benar-benar menghilang dari hidupku, pergi membawa luka yang tak sempat kuobati. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan sejenak. Menunduk, menahan napas yang terasa berat di dada. Kepalaku penuh oleh satu pertanyaan yang terus berputar: ke mana Aisyah pergi? Tapi kota ini terlalu luas, dan aku terlalu terlambat menyadari betapa pentingnya dia. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan pusat kota, aku melirik ponselku. Layarnya menyala menampilkan puluhan pesan masuk. Semua dari Bela. Pesan-pesan yang saling menyusul, bernada cemas, marah, sekaligus menuntut. Mas, kamu di mana? Kenapa belum pulang? Ini sudah malam. Kamu sama siapa? Mas, jawab aku! Aku menghela napas panjang lalu mematikan layar ponsel tanpa membalas satu pun pesannya. T
Malam terasa semakin pekat saat aku keluar dari rumah orang tuaku. Langkah kakiku gontai, seolah seluruh tubuh kehilangan tenaga. Kata-kata ayah masih terngiang jelas di kepalaku, berulang tanpa ampun. Itu kezaliman, Bara. Aku masuk ke mobil, menutup pintu dengan keras. Tanganku gemetar saat menggenggam setir. Napasku memburu, dadaku sesak seperti dihimpit beban yang terlalu berat. “Aisyah…” gumamku lirih. Aku menyalakan mesin dan melajukan mobil tanpa tujuan pasti. Jalanan kota tampak lengang, namun pikiranku penuh sesak. Aku menelpon nomor Aisyah berkali-kali. Tidak aktif. Pesan-pesanku hanya berderet centang satu. Ke mana kamu pergi? Aku berhenti di pinggir jalan, memukul setir dengan frustasi. “Sial!” teriakku, suaraku pecah. Bayangan wajah Aisyah saat aku mengusirnya kembali terlintas. Tatapannya waktu itu bukan marah, melainkan kecewa kecewa yang dalam dan dingin. “Aku cuma lagi emosi,” kataku pada diriku sendiri, tapi suara itu terdengar kosong. Tidak ada pemb
Pak Sofiyan tiba-tiba menarik tangannya dari genggamanku. Gerakan itu tegas, membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Namun aura amarahnya begitu nyata hingga membuat ruangan terasa semakin sempit. “Berdiri kamu, Bara,” ucapnya dingin. Aku tersentak. Dengan tubuh gemetar, aku bangkit berdiri. Air mataku belum berhenti mengalir, tapi ayahku sama sekali tak menunjukkan belas kasihan. Tatapannya tajam, menusuk tepat ke dadaku. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua pengakuanmu barusan?” tanyanya dengan suara berat. Aku menggeleng pelan. “Bukan karena kamu menikah lagi,” lanjutnya. “Bukan juga karena kamu berbohong pada istrimu. Tapi karena kamu dengan mudahnya mengusir perempuan yang sudah mengorbankan hidupnya untukmu.” Aku terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan mana pun. “Ayah…” suaraku nyaris tak terdengar. Pak Sofiyan menghela napas kasar. Tangannya mengepal, jelas menahan emosi yang hampir meledak. “Aisyah datang ke keluarga ini d
Aku tidak langsung pulang ke rumah setelah keluar dari kantor. Setir mobil justru kubelokkan menuju rumah kedua orang tuaku. Entah sejak kapan keputusan itu muncul, yang jelas kakiku terasa berat, sementara dadaku semakin sesak. Di sepanjang perjalanan, pikiranku tak pernah benar-benar tenang. Nama Aisyah dan Arka terus berputar di kepalaku seperti rekaman yang diputar tanpa henti. Ke mana kamu sekarang, Aisyah? Kenapa kamu benar-benar pergi? Aku memukul setir pelan, menahan emosi yang bercampur antara marah, menyesal, dan takut. Bayangan wajah Aisyah yang dingin, serta Arka yang menatapku polos namun terluka, terus menghantuiku. “Aku harus jujur sama ayah,” gumamku lirih. Mobil akhirnya berhenti di pekarangan rumah yang sejak kecil menjadi tempatku pulang. Rumah yang dulu selalu terasa hangat, namun malam ini justru membuat langkahku ragu. Aku menarik napas panjang sebelum turun, seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi hukuman yang tak terelakkan. Aku masuk ke dalam r
**** Aku duduk di tepi ranjang kamarku, menatap lantai yang dingin. Rumah ini kembali menerimaku tanpa syarat, tanpa tanya. Namun justru itu yang membuat dadaku terasa makin sesak. Seharusnya aku pulang dengan kepala tegak, bukan dengan hati remuk dan masa depan yang terasa buram. Arka duduk di kursi kecil, memainkan ujung bajuku dengan jari-jarinya yang mungil. Tatapannya sesekali terangkat ke arahku, penuh rasa ingin tahu. “Bu, kita di sini lama?” tanyanya polos. Pertanyaan sederhana itu menghantam dadaku lebih keras dari apa pun. Aku menelan ludah. “Entahlah, Nak. Ibu belum tahu.” Aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tak tahu harus melangkah ke mana setelah ini. Hidupku seperti berhenti di satu titik di saat aku memilih pergi dari rumah Bara dengan membawa Arka dan luka yang belum sempat sembuh. Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kembali semua yang terjadi. Wajah Bara terlintas jelas di benakku. Dingin. Jauh. Seolah aku tak pernah berarti apa-apa da
**** Setelah keluar dari rumah Bara, aku tidak langsung pulang ke tempat tinggalku yang sementara. Kakiku melangkah tanpa tujuan yang pasti, sementara pikiranku dipenuhi kekacauan yang tak kunjung reda. Arka kugenggam erat, seolah jika kulepaskan sedikit saja, dunia akan benar-benar runtuh di hadapanku. Aku keluar dari rumah Bara mengendarai motor,motor pemberian kedua orang tuaku. Aku memutuskan kembali ke rumah kedua orang tuaku. Rumah kecil yang dulu menjadi saksi masa kecilku, tempat aku belajar tentang arti pulang dan bertahan. Aku tak ingin merepotkan Dokter Aldi lebih jauh. Kebaikannya sudah terlalu banyak untuk kubalas, sementara aku sendiri masih tenggelam dalam luka yang belum sembuh. Sepanjang perjalanan, Arka terdiam di pangkuanku. Matanya sesekali menatapku, seolah ingin bertanya mengapa ibunya terlihat begitu lelah dan kosong. Aku tersenyum tipis padanya, meski hatiku bergetar. “Sebentar lagi kita sampai, Nak,” bisikku lirih. Motor berhenti di depan halaman ru







