Share

82.Maaf

Penulis: Lusiana
last update Tanggal publikasi: 2025-12-23 12:18:34

****

Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Detiknya berdetak pelan, seolah ikut menemani kegelisahanku. Arka telah tertidur sejak satu jam lalu, tubuh kecilnya meringkuk nyaman di tempat tidur. Setelah memastikan ia benar-benar lelap, aku kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa, menunggu Bara pulang.

Rumah terasa terlalu sunyi malam ini. Lampu-lampu menyala redup, dan suara kipas angin menjadi satu-satunya teman. Berkali-kali aku melirik ke arah pintu, berharap sua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   212.Rumah yang Utuh

    **** Waktu terasa berjalan lebih cepat setelah itu. Perutku mulai benar-benar terlihat. Bukan lagi rahasia kecil yang hanya kami tahu, tapi kenyataan yang ikut bergerak setiap kali aku melangkah. “Mas, perut Ibu sudah kayak balon,” komentar Bara suatu sore sambil menempelkan pipinya. “Balon mahal,” sahut Bara cepat. Aku tertawa kecil. “Kenapa mahal?” “Karena isinya dua.” Arka terlihat bangga setiap kali orang bertanya, “Kembar ya?” Ia akan menjawab dengan dada dibusungkan, “Iya. Adek satu dan adek dua. Aku kakaknya.” **** Memasuki bulan terakhir, langkahku makin pelan. Nafasku lebih pendek. Dan malam-malamku lebih sering terbangun. Suatu malam, kontraksi kecil datang seperti gelombang tipis. Aku menggenggam lengan Bara. “Mas…” Ia langsung terbangun. “Kenapa? Sakit?” “Kayaknya mulai.” Wajahnya berubah tegang dalam satu detik. “Sekarang?” “Belum terlalu kuat. Tapi teratur.” Ia sudah duduk, meraih ponsel, tas rumah sakit yang memang sudah disiapkan seja

  • Pernikahan Penuh Luka   211.Retak yang Diperbaiki

    **** Pagi itu suasana rumah sedikit tegang. Bara sudah siap berangkat, tapi ponselnya terus berdering tanpa henti. Nama manajer proyeknya muncul berkali-kali. “Ada apa lagi, Mas?” tanyaku dari meja makan sambil menyuapi Arka. Ia menjawab telepon dengan wajah serius. “Iya… saya sudah bilang, jangan mulai pengecoran sebelum saya cek ulang… Tidak, jangan ambil keputusan sendiri.” Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Setelah telepon ditutup, ia mengusap wajahnya kasar. “Mas?” panggilku pelan. “Ada supplier yang coba main cepat. Mereka mau pakai material alternatif tanpa approval.” “Lebih murah?” tanyaku. “Iya. Tapi kualitasnya belum jelas.” Arka yang sedang makan tiba-tiba menyela, “Ayah jangan pakai yang jelek.” Bara menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Iya, Mas. Ayah nggak mau rumahnya retak.” Arka mengangguk puas lalu kembali makan. Aku berdiri dan mendekat ke Bara. “Mas terlalu keras tadi.” Ia menghela napas. “Kalau aku lembek, mereka anggap bisa ditekan.

  • Pernikahan Penuh Luka   210.Pondasi yang Kuat

    **** Pagi itu Bara sudah rapi sebelum jam tujuh. Kemeja putihnya licin, jam tangan terpasang, wajahnya lebih serius dari biasanya. Aku berdiri di depan lemari sambil memperhatikan dari pantulan cermin. “Mas mau ke kantor pusat hari ini?” tanyaku. “Iya,” jawabnya singkat. “Kantor proyek atau yang di pusat?” “Pusat. Ada rapat direksi.” Aku tersenyum kecil. “Serius banget nadanya.” Ia menoleh dan mendekat. “Ini pertama kali aku pimpin rapat sejak Ayah resmi serahkan operasional penuh.” Aku mengangguk pelan. Perusahaan properti itu memang dibangun dari nol oleh Pak Sofiyan. Perumahan, ruko, sampai apartemen—semuanya berdiri dari kerja kerasnya. Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan Bara. “Kamu siap, Mas?” tanyaku lembut. Ia terdiam sebentar. “Harus siap.” Aku mendekat dan membenarkan kerah kemejanya. “Mas itu bukan cuma anak pemilik perusahaan. Mas itu orang yang kerja dari bawah. Semua orang di sana tahu itu.” Bara tersenyum tipis. “Ibu juga bilang beg

  • Pernikahan Penuh Luka   209.Belajar Membagi

    **** Kabar tentang dua detak itu menyebar lebih cepat dari yang kuduga. Belum genap dua hari, Bu Indah sudah datang membawa dua kantong besar berisi pakaian bayi. “Ini netral semua ya. Kalau nanti satu laki-laki, satu perempuan, tetap bisa dipakai,” katanya sambil mengeluarkan satu per satu baju mungil dari tas. Aku tertawa kecil. “Bu, ini masih lama.” “Lama dari mana? Kembar itu waktunya terasa dua kali lebih cepat,” jawabnya yakin. Bara berdiri di samping lemari, memperhatikan tumpukan baju yang makin tinggi. “Bu, rumah kita bukan gudang.” Bu Indah melotot. “Ini bukan gudang. Ini persiapan.” Pak Sofiyan masuk beberapa menit kemudian, kursi rodanya didorong perlahan oleh Bara. “Apa lagi yang diborong?” tanyanya santai. “Cuma sedikit,” jawab Bu Indah defensif. “Sedikit versi Ibu itu biasanya setengah toko,” balasnya tenang. Aku dan Bara saling pandang, menahan tawa. Arka tiba-tiba muncul membawa dua mobil-mobilan kecil. “Nenek, ini buat adek satu dan adek d

  • Pernikahan Penuh Luka   208.Dua Detak

    **** Pagi itu aku terbangun karena merasa ingin muntah,lalu pergi ke kamar mandi. “Aisyah!” suara Bara terdengar panik. Aku baru sadar suara itu. Bara sudah berdiri di sampingku, memegang rambutku, menepuk punggungku pelan. “Pelan… pelan… sudah, sudah…” Aku terengah. “Kayaknya lebih parah dari kemarin.” “Ini bukan ‘kayaknya’. Ini jelas lebih parah,” jawabnya tegas tapi lembut. Arka tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. “Bunda kenapa?” Bara langsung menggendongnya menjauh sedikit. “Bunda lagi mual, Mas.” Arka mengerutkan dahi. “Adek nakal?” Aku tertawa lemah. “Nggak. Adek cuma lagi tumbuh.” Arka berpikir serius. “Kalau tumbuh jangan bikin Bunda muntah dong.” Bara menahan senyum. “Nanti Ayah bisikin adek, ya.” Arka mengangguk mantap. “Iya. Bilangin jangan nakal.” Siang itu, karena mualku tak juga mereda, Bara memutuskan mengajakku kontrol lebih cepat. “Kita nggak usah tunggu jadwal,” katanya sambil membantu aku memakai cardigan.

  • Pernikahan Penuh Luka   207.Setelah Riuh

    **** Perjalanan pulang malam itu lebih sunyi dari biasanya. Arka tertidur di car seat, kepalanya miring dengan mulut sedikit terbuka. Nafasnya teratur, seolah keributan tadi hanyalah suara angin yang lewat tanpa makna. Di kursi depan, Bara menggenggam setir lebih erat dari biasanya. “Kamu marah sama Ibu?” tanyaku pelan. Ia menghela napas panjang. “Aku… nggak tahu harus marah atau sedih.” “Karena Bu Indah menyerang duluan?” “Karena aku pikir semua sudah selesai.” Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahaya lampu jalan memantul di kaca, membuat wajah Bara terlihat lelah. “Kamu takut itu terulang lagi?” tanyaku. Ia menoleh sekilas. “Aku takut kamu capek. Kamu lagi hamil, harusnya nggak perlu menghadapi hal seperti tadi.” Aku tersenyum kecil. “Aku nggak sendiri.” Bara terdiam, lalu mengangguk pelan. “Iya. Kita.” Sesampainya di rumah, kami memindahkan Arka ke tempat tidur. Ia bergumam pelan, “Aku jaga Bunda…” sebelum kembali tenggelam dalam mimpi. Aku dan Bara du

  • Pernikahan Penuh Luka   176.Keputusan yang Tak Bisa Ditunda

    **** Aku berdiri di depan Bela dengan dada terasa kosong. Aneh tak ada lagi amarah yang membakar, tak ada teriakan, tak ada keinginan untuk berdebat. Semua sudah selesai bahkan sebelum kami benar-benar mengucapkannya. Bela duduk di sofa, wajahnya pucat, matanya sembab. Bayi itu tertidur di boks

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Pernikahan Penuh Luka   164.Jarak yang Bernama Diam

    **** Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik itu. Dunia seolah menahan napas, memberi ruang pada jarak yang tiba-tiba membesar di antara kami. Arka mencengkeram kakiku lebih erat. Jemarinya kecil, tapi tekanannya penuh ketakutan yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya. “Bu…” panggil

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Pernikahan Penuh Luka   174.Dering di Ujung Sunyi

    **** Perdebatan itu tidak berakhir dengan kemenangan siapa pun. Bara berdiri lebih dulu, kursinya bergeser kasar hingga menimbulkan suara nyaring yang menyayat telinga. Rahangnya mengeras, napasnya berat, seolah setiap kata yang barusan terucap masih bergema di kepalanya. “Aku butuh waktu,” kat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Pernikahan Penuh Luka   182.Ketukan yang Mengganggu

    **** Hujan sudah berhenti, tapi udara malam masih menyimpan sisa lembap yang menempel di kulit. Rumah kontrakan Aisyah tampak lebih sunyi dari biasanya sunyi yang tidak menenangkan. Lampu teras menyala kuning pucat, menarik bayangan panjang di lantai semen. Aku sedang melipat pakaian Arka ketik

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status