Home / Rumah Tangga / Pernikahan Rahasia Suamiku / BAB 8 - KEMBALI BERTEMU

Share

BAB 8 - KEMBALI BERTEMU

Author: Memey Yin
last update publish date: 2021-08-17 13:00:00

Alfan sudah sampai di Jakarta lebih dulu. Hanya memerlukan waktu sekitar dua setengah jam untuk sampai di Jakarta. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata mengingat ini malam minggu, ia tak ingin terjebak kemacetan di jalan.

Matanya melirik ke arah jam di pergelangan tangan, ia memilih langsung menjemput Bulan karena ia yakin bahwa istrinya telah tiba. 

Perbedaan waktu Jakarta-Bali hanya satu jam. Seharusnya sekitar pukul lima atau setengah enam, Bulan sudah tiba. 

Alfan menunggu di pintu kedatangan. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu namun tak kelihatan kehadiran Bulan. 

Ia mengeluarkan ponsel berniat menghubungi istrinya ketika tepukan di bahu membuatnya terkejut. Segera saja ia menoleh dan melihat seorang wanita dengan jumpsuit panjang dengan rambut yang acak-acakan berdiri di hadapannya. Wajahnya tertutup masker hingga tak terlalu jelas terlihat.

“Mas Alfan,” panggilnya.

Suara itu … Alfan yang mengenali suaranya langsung membelalakkan mata.

“Bulan?” tebak Alfan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh wanita itu. “Dari mana? Kok dari arah lain?” tanyanya karena Bulan tidak keluar dari pintu kedatangan melainkan dari arah lain.

“Dari toilet sebentar,” jawabnya.

Alfan menatap Bulan seolah meneliti penampilannya. Namun tidak ada yang aneh, semuanya masih sama hanya saja ia menyadari bahwa warna rambut istrinya telah berganti.

“Kamu warnai rambutmu?” 

“Iya,” jawab Bulan singkat.

Setelahnya tak ada lagi obrolan. Alfan mengambil dua koper yang dibawa istrinya. 

“Kamu bawa baju sebanyak ini?” tanya Alfan ketika mereka berjalan menuju tempat dimana mobilnya berada.

Bulan menggeleng. “Bukan, Mas. Yang satu koper isinya oleh-oleh.” 

“Sebanyak itu? Apa saja yang kamu beli,” gumamnya diiringi keterkejutan di wajahnya. 

Bulan tak merespon. Ia masuk ke dalam mobil lebih dulu ketika Alfan masih memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.

Mobil kemudian melaju membelah jalanan kota Jakarta yang mulai padat merayap.

“Langsung ke rumah Mama Silvi ya, Mas. Aku sudah berjanji akan langsung ke sana,” kata Bulan. 

“Okay!” 

Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit akhirnya mobil yang dikendarai Alfan telah tiba di sebuah perumahan mewah dengan pemandangan yang hijau dan asri dengan tumbuhan segar di sepanjang jalan masuk ke dalam perumahan.

Mediterania Town, namanya.

Berada di sini saat pagi hari mungkin akan menyenangkan karena suasana yang damai seperti di desa.

“Di sini sejuk ya,” gumam Bulan.

Alfan mengangguk setuju. 

“Kenapa Mas Alfan tidak membeli rumah di sini saja?” tanya Bulan.

“Mahal, tabunganku belum cukup.” Diiringi dengan ledakan tawa pelan seolah ucapannya menunjukkan keseriusan.

Bulan menatap Alfan dengan menaikkan alisnya. “Aku serius bertanya, Mas.” 

Alfan menghentikan tawanya. Ia menoleh ke arah Bulan yang juga tengah melirik ke arahnya. 

“Memang benar. Uangku tidak cukup untuk beli rumah di sini. Apa kamu mau pindah? Jika ya aku akan meminta papa meminjamkan aku uang untuk membeli rumah di sini,” ucap Alfan dengan nada serius. 

Bulan menggeleng. “Aku tidak bermaksud, hanya bertanya saja. Permata Greenland sudah cukup mewah bagiku,” jawabnya sungguh-sungguh.

Bulan masih sedikit kaku jika berbicara dengan Alfan. Ia masih menggunakan bahasa baku seperti kepada orang asing yang belum dikenal.

Mobil masuk ke halaman rumah yang luas. Di kanan dan kiri terdapat tanaman yang dirawat dengan rapi dan indah. 

“Ayo turun,” ucap Alfan. 

Bulan mengikuti Alfan yang sudah lebih dulu turun. Lelaki itu mulai mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi. 

“Biar saya bantu bawa ke dalam, Den.” Salah satu satpam yang tadi membukakan pintu membantu membawa koper Bulan yang besar. 

“Tolong bawakan ke kamarku di lantai dua ya, Pak.” 

“Baik, Den.”

Ketika keduanya melangkah masuk ke dalam rumah. Terlihat wanita paruh baya yang masih cantik itu berjalan dengan senyum mengembang ke arahnya.

Mereka saling berpelukan sebentar sebelum Mama Silvi membawa menantunya untuk duduk. 

“Kenapa tidak berkabar kalau mau datang?” 

“Kami baru saja pulang, Ma. Dari bandara langsung ke mari,” jawab Bulan.

Senyum wanita paruh baya itu semakin lebar. “Kalian pasti lelah, bersihkan diri dan istirahat sebentar. Mama mau bantuin masak untuk menyambut kedatangan kalian.” 

“Mama tidak perlu repot-repot,” ucap Bulan segan.

“Tidak repot. Mama senang. Sudah, Alfan ajak istrimu ke kamar.” 

Alfan mengangguk. “Papa ke mana, Ma?” 

“Masih di jalan. Sebentar lagi mungkin sampai.” 

Alfan mengajak Bulan naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Setelahnya lelaki itu langsung menjatuhkan diri di atas ranjang dengan mata yang langsung terpejam.

Bulan maklum. Mungkin saja Alfan lelah karena perjalanan Jakarta-Bandung yang harus ditempuh seorang diri. 

Tangannya membuka koper dan mengambil pakaian ganti sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin berendam di dalam bathtub dengan air panas supaya pegal-pegal yang dirasakan sedikit berkurang. 

“Mas, Mas Alfan,” panggil Bulan membangunkan suaminya. 

“Bangun Mas.” Ia mengguncang tubuh Alfan hingga lelaki itu membuka mata. “Mandi dulu, Mas.” 

Dengan malas Alfan bangun dan meneguk segelas air yang ada di atas meja. 

“Jam berapa?” tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

“Setengah delapan. Mandi dulu supaya badanmu segar. Mama dan papa sudah nunggu buat makan malam.” 

Alfan mengangguk. 

“Mau aku siapkan air panas dalam bathtub?” tawar Bulan dengan penuh perhatian. 

Alfan menggeleng. “Tidak perlu.” 

Selama Alfan mandi, Bulan menyiapkan pakaian suaminya dan meletakkannya di atas ranjang. Setelah itu ia memilih turun untuk membuat kopi. 

“Di mana Alfan, Bulan?” Mama Silvi yang kebetulan lewat bertanya. 

“Masih mandi, Ma. Sepertinya Mas Alfan kelelahan.” 

Arti ucapan Bulan terdengar berbeda di telinga Mama Silvi yang sudah berpikir jauh. Wanita paruh baya itu tersenyum sendiri membuat Bulan bergidik ngeri

“Aku permisi mau ke dapur, Ma.” Secepat kilat ia langsung menghindar. 

Setelah membuatkan kopi, Bulan langsung menuju ruang makan. Alfan sudah berada di sana dengan tampilan yang segar dan semakin terlihat tampan.

“Terima kasih,” ucap Alfan diiringi senyum tipis.

Mama Silvi tersenyum dengan perhatian yang ditunjukkan Bulan. Mereka tak salah dalam memilih menantu yang baik dan memiliki latar belakang yang jelas.

Makan malam dilanjutkan dalam diam. Tidak ada yang bersuara kecuali suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.

“Terima kasih Mama sudah merepotkan diri dengan memasak banyak makanan untuk kami,” ucap Bulan ketika mereka baru saja selesai makan malam.

Mama Silvi mengangguk. Sedangkan Papa Andre terpanah dengan ucapan menantunya yang bahkan berterima kasih dengan hal-hal yang terkadang dianggap sepele. 

“Jangan begitu, kamu menantu di keluarga ini. Kita sekarang keluarga, apapun yang kamu butuhkan bisa minta pada kami atau suamimu.” Papa Andre menimpali. 

Bulan hanya mengangguk dan tersenyum.

Tengah malam keduanya baru saja masuk ke dalam kamar setelah menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan obrolan-obrolan ringan yang tak ayal mampu membuat Bulan sedikit melupakan beban dalam pikirannya.

Setelah mencuci tangan dan kakinya, Bulan naik ke atas ranjang sebelah kanan, sedang suaminya sudah bersandar di sisi sebelah kiri. Di tengah-tengah mereka terdapat guling pembatas antara area keduanya.

“Mas, kamu sudah cerita ke istrimu tentang pernikahan kita? Bagaimana responnya?” tanya Bulan, “aku benar-benar merasa bersalah dengan dia. Tapi semua ini bukan salahku semata karena ini terjadi akibat dari keegoisanmu. Demi harta kamu mengorbankan dua hati yang tidak bersalah,” sambungnya dengan lirih.

Alfan menoleh ke arahnya. 

“Aku bicara fakta, jangan tersinggung.” Bulan menambahkan lagi.

“Kamu memang benar. Semua salahku, bukankah aku terlihat serakah?” 

Bulan mengangguk.

Kau memang serakah. Menginginkan kebahagiaan bersama dengan istrimu juga harta orang tuamu tapi mengorbankan aku yang tidak tahu apapun. 

“Maafkan aku,” ujar Alfan dengan nada rendah. 

“Sudahlah, pembahasan selesai. Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas.”

Bulan sebenarnya enggan membahas masalah ini karena ia sudah pasrah dengan takdir yang memang seharusnya dijalani. Ia akan mencoba menerima semuanya dengan lapang dada walau dalam hatinya ia masih belum ikhlas menerima kenyataan pahit ini.

Alfan menoleh menatapnya. “Aku belum bicara. Ini masih dalam suasana duka. Aku akan mengatakannya nanti. Berikan aku waktu sedikit lagi.” 

“Jangan mengundur lagi, Mas. Kamu saja bisa memberikanku duka di saat aku baru saja mencapai bahagia. Lalu kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama padanya?” 

Alfan menghembuskan napas pelan enggan menjawab. 

“Tentu karena kamu sangat mencintainya. Sedangkan aku? Siapa aku? Aku hanyalah wanita yang kamu nikahi karena sebuah tujuan.” Bulan menyela lagi dengan nada penuh kepiluan. “Aku benar-benar menjadi wanita yang malang.”

Bulan tersenyum miris seraya menghapus air mata yang keluar begitu saja.

Alfan membuang muka ke arah lain. Karena ia tak tega melihat Bulan yang tengah berderai air mata karena ulahnya. 

“Maaf, maaf dan maaf. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Kita sudah berjanji akan memulainya dari awal. Kita akan hidup dengan saling berdampingan,” ujar Alfan.

Saling berdampingan? Lucu sekali, Alfan. Wanita mana yang mau hidup berdampingan dengan membagi suami? Kamu tetap menjadi lelaki yang egois dengan mempertahankan Bulan demi harta dan Zahra karena cinta. 

“Apa kamu yakin bisa adil dengan memiliki dua istri?”

To Be Continue ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yen San
susah untuk bersikap adil
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 144 - AKHIR PERJALANAN & MENJEMPUT BAHAGIA

    Sebelum Dewi tertangkap, Alfan sudah bergerak lebih dulu. Ia bukan tipe pria yang menunggu sampai musuh menyerang dua kali. Di ruang kerjanya malam itu, Alfan berdiri di depan jendela besar sambil menatap taman belakang rumahnya. Di belakangnya, Putu Hendra membuka beberapa berkas tebal di atas meja. “Semua sudah kita kumpulkan,” ujarnya. Alfan menoleh. “Seberapa besar?” “Lebih besar dari yang kita kira.” Putu mendorong satu map ke depan. “Perusahaan keluarga Dewi ternyata hanya kedok.” Alfan membuka berkas itu perlahan. Isinya membuat rahangnya mengeras. Pencucian uang. Perdagangan ilegal. Pemalsuan dokumen impor. Nama keluarga itu muncul di hampir semua laporan. “Sudah berapa lama?” tanya Alfan. “Bertahun-tahun.” Putu menunjuk beberapa halaman lain. “Yang paling menarik mereka menggunakan jaringan agen penyalur tenaga kerja sebagai jalur transaksi.” Alfan langsung teringat sesuatu. Agen tempat Dewi mendaftar. “Jadi itu sebabnya mereka bisa menyusupkan Dewi ke rumahku,

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 143 - AKHIR KEJAHATAN

    Dewi masih menatap foto di tangannya dengan wajah pucat. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat panik.“Saya hanya keluar sebentar malam itu,” katanya akhirnya.Alfan tertawa pendek. “Keluar sebentar?” ulangnya pelan. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di meja di depan Dewi. “Keluar sebentar sampai bertemu seseorang di luar pagar rumah? Di tengah malam. Diam-diam pula.”Tubuh Dewi menegang. “Saya tidak tahu maksud Tuan.”Putu Hendra menyilangkan tangan. “Jangan berpura-pura bodoh. Foto itu jelas menunjukkan kamu berbicara dengan seseorang.”Dewi menelan ludah. “Itu hanya orang yang salah alamat.”Alfan menatapnya tanpa berkedip. “Lalu kenapa Nena yang melihat kalian justru mati satu jam kemudian?”Kalimat itu membuat Dewi kehilangan kata-kata. Namun ia masih mencoba mempertahankan jawabannya.“Bagaimana Tuan bisa menuduh saya seperti itu? Saya juga sedih atas kematian Nena.”Alfan berdiri tegak. Tatapannya berubah tajam.“Kalau begitu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 142 - RAHASIA NENA

    “Kami menemukan ini. Seratus meter dari lokasi kejadian.”Seorang polisi menyerahkan plastik klip bening berisi ponsel dan dompet milik Nena.Alfan menerima benda itu dengan wajah kaku. “Tidak ada penyelidikan?” tanyanya tajam.“Kami akan tetap memburu pelaku, Tuan,” jawab polisi itu hati-hati. “Kesimpulan sementara tabrak lari. Namun kasus bisa naik kapan saja jika pelaku tertangkap dan motifnya terungkap.”“Plat mobil yang digunakan tidak terdaftar. Jadi cukup sulit untuk mengidentifikasi.”Rahang Alfan mengeras.“Terima kasih. Tolong lakukan apa saja untuk menangkap pelaku. Ini menyangkut nyawa seseorang.”“Lakukan yang terbaik.”Polisi itu mengangguk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah besar itu.Usai para petugas pergi, Alfan berdiri lama di ruang tamu. Plastik berisi ponsel Nena masih berada di tangannya.Tatapannya kosong.Tabrak lari.Kalimat itu terus berputar di kepalanya.Namun, entah kenapa … Hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.Dengan langkah bera

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 141 - MENINGGAL

    “Kamu kenapa menatap kami seperti itu, Dewi?”Ayesha bertanya kala melihat Dewi menatap mereka tanpa berkedip. Ia tersenyum. Berhasil menggoyahkan pertahanan gadis itu. Dengan sengaja ia mempertontonkan kemesraan bersama sang suami saat gadis itu mengantar minuman.Sengaja.Biar terbakar sekalian.“Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya kagum dengan keluarga Anda yang harmonis. Memiliki anak dan suami yang manis. Saya berharap suatu nanti bisa mendapatkan suami seperti Tuan Alfan.”Ayesha terkekeh pelan. “Kamu tidak tahu saja sebrengsek apa suamiku dulu.”“Maksudnya, Nyonya?”“Aku tidak ingin mengumbar aib suamiku, tapi apa yang kamu lihat manis hari ini adalah buah dari apa yang telah kami lewati. Jika hari ini kami masih bersama, itu karena takdir Tuhan yang masih memberi kami kesempatan kedua.”Alfan mengeratkan pelukan, lalu mengecup kening sang istri singkat. “Terima kasih karena masih mau menerimaku.”“Mom, Dad, yang benar saja. Jangan mengumbar kemesraan di depan anak kecil.” Arzen prote

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 140 - SENGGATA DEWI AMBARANI

    Dewi menggenggam erat pintu kamar mandi, tubuhnya benar-benar tak terkendali. Wajahnya memerah, keringat bercucuran, napasnya terengah. Bayangan Alfan seolah mengepung dari segala sisi. Membuat tubuhnya semakin bergetar hebat menahan ledakan gairah yang membuncah. “Kenapa bisa begini?!” desisnya panik. Ia tak menyangka obat itu justru berbalik melawan dirinya. Ketukan keras di pintu membuat jantungnya hampir meloncat. “Dewi, kamu kenapa?” suara Nena terdengar keras. “Tidak apa-apa, Mbak. Perutku melilit sekali,” sahut Dewi dengan suara gemetar, berusaha menormalkan nada suaranya. Panik menyeruak. Buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu membuka pintu sedikit. “Maaf, Mbak. Aku tadi masih di kamar mandi. Panas sekali rasanya.” Nena mengamati wajah Dewi yang basah, pipinya merah padam, tubuhnya bergetar pelan. “Kamu sakit?” tanyanya curiga. “Cuma kecapekan, Mbak.” Dewi tersenyum kaku, berusaha menutup pintu lagi. Namun, tatapan tajam Nena menelisik hingga ke hatinya. “K

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 139 - SENJATA MAKAN TUAN

    “Mas, kamu baik-baik saja, kan?” Ayesha yang sejak pagi gelisah, menghubungi suaminya.“Ada apa?” tanya Alfan dengan nada heran.“Tidak apa-apa, hanya saja perasaanku tidak enak.”“Cepatlah pulang. Sepertinya kamu sangat merindukanku,” godanya sambil terkekeh.“Aku serius, Mas!” desis Ayesha.“Semuanya baik-baik saja, Sayang. Cepatlah pulang. Aku merindukanmu.”Ayesha singkirkan perasaan itu dari dalam dirinya. Namun, ketukan pintu di kamarnya membuat wanita itu berpaling.Di depan pintu, kliennya berdiri dengan senyum lebar. Seolah bisa menebak apa yang terjadi, Ayesha langsung menggeleng tegas.“Kali ini tidak ada tawar menawar lagi, Nona. Sudah cukup saya memaklumi permintaanmu.”“Hanya kali ini saja, Nyonya. Saya mohon.”“Saya tidak bisa.”“Saya akan membayar waktu Anda selama di sini.”Ayesha lemparkan senyum lebar, garis halus di sekitar matanya terlihat samar. “Ini bukan tentang nominal, Nona. Ini soal rasa profesional. Kesepakatan Anda sudah terlalu melenceng jauh. Demi bertah

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 126 - PERTEMUAN DUA JIWA

    Ternyata waktu satu bulan mampu dilewati oleh Alfan dengan susah payah. Lelaki itu sering kali mengirimkan kalimat penuh kerinduan via pesan. Kadang kala ia akan datang diam-diam dan mengikuti Ayesha bagaikan penguntit.Ia tidak bisa datang ke rumah karena pasti Papi Jacob dan Mami Tari

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 125 - PERJALANAN

    Zahra menjalani hukuman seumur hidup dengan kasus pembunuhan berencana yang mengakibatkan tiga orang tak bernyawa.Namun, sayang sekali setelah satu tahun mendekam di penjara, wanita itu kehilangan kewarasan dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa akibat percobaan bunuh diri.Wanita

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 123 - TUJUAN SANG PECINTA

    Sejak Alfan memergoki dua lelaki yang masih mendekati Ayesha. Ia seolah menghilang dari peredaran hanya untuk meyakinkan diri, meyakinkan orang tua dan calon mertuanya.Alfan hanya akan berkabar dengan Arzen, tetapi tidak pernah lagi menghubungi Ayesha atau menemuinya.Diam-diam ketidakhadirannya menu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 122 - RUMIT

    Setelah menyaksikan sunset, mereka memutuskan makan lebih dulu di restoran yang ada di sepanjang tepi pantai.Senja memang indah, seperti sebuah rasa yang masih baru. Cantik dan mempesona. Namun, jika indahnya senja menjadi tolak ukur sebuah rasa, lalu gelapnya malam disebut apa.Tubuh mereka lelah. H

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status