Mag-log inHari-hari dilewati oleh Bulan dan Alfan dengan tempat dan waktu yang berbeda juga situasi yang hampir delapan puluh persen berbeda.
Jika Alfan sibuk dengan keluarga kecilnya, maka Bulan tengah menikmati liburannya walaupun seorang diri.
Bulan pasrah dan menjalani apa yang memang harus dijalani hingga Tuhan berkata berhenti. Ia telah memasrahkan semuanya kepada sang pemberi kehidupan.
Sosok Bulan masih menjadi wanita masa kini dengan penampilan yang sangat fashionable. Namun begitu ia tak pernah lupa menjalankan kewajiban sholat lima waktu disela kesibukannya selama ini. Keluarga Latief adalah mualaf, mereka berpindah agama sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Tidak memakai hijab bukan berarti mereka lupa menjalankan kewajiban. Jangan melihat seseorang hanya dari luarnya saja, karena dalamnya hati seseorang kita tak pernah tahu.
Bulan menerima perjodohan dengan Alfan karena ia tahu keluarganya jelas memilihkan calon suami yang terbaik dari sekadar yang baik. Tapi pada kenyataannya … entahlah ….
Kembali pada saat ini.
Sesekali mereka bertukar kabar lewat pesan atau panggilan. Sebelum berangkat ke Bali, Alfan telah mentransfer uang pada Bulan dengan alasan sebagai bekal liburannya selama di Bali, anggap saja itu uang kompensasi sebagai imbalan untuknya tutup mulut.
Bulan tak menolaknya juga tak langsung menerimanya. Ia masih memakai uang pribadi miliknya sendiri.
Wanita cantik itu benar-benar menikmati kesendiriannya untuk menenangkan diri. Percuma mengeluh juga tak akan mengubah apa pun yang memang sudah terjadi.
Ibarat kata nasi sudah menjadi bubur, pernikahan ini sudah terjadi dan tak akan mungkin dibatalkan begitu saja. Pernikahan bukanlah permainan yang jika kita bosan kita bisa berhenti memainkannya begitu saja.
Itulah sebabnya yang dibutuhkan orang dalam memulai kehidupan pernikahan bukan hanya kesiapan finansial saja, tapi lebih dari itu yaitu kesiapan mental dan matang secara emosional. Kita akan melihat pasangan dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Tak akan ada kata bosan melihatnya setiap hari.
Semua orang selalu berharap bahwa mereka akan menikah hanya sekali seumur hidup termasuk dirinya.
Bulan yang masih bergelung di dalam selimut memilih turun dari ranjang dan menghirup udara segar di balkon kamarnya. Waktu masih pagi, namun ia akan bersiap untuk keluar membeli banyak oleh-oleh sebelum kembali pulang.
Ini akan menjadi hari terakhirnya di Bali karena hari ini juga Alfan akan kembali ke Jakarta seperti pesan yang kemarin diterima olehnya.
Hari ini ia berencana memborong berbagai macam oleh-oleh khas Bali yang akan dibagikannya kepada orang tua dan mertuanya. Tak lupa juga untuk para pekerja yang bekerja di rumahnya.
Setelah puas menikmati udara pagi, ia memilih berendam air hangat dengan aroma wewangian yang menenangkan.
Setelah mandi, sarapan dan merias diri dengan riasan tipis, Bulan menyambar tas kecil berisi uang dan beberapa kartu debit dan kredit yang dimiliki. Tak lupa ponselnya ia masukkan ke dalam tas sebelum benar-benar keluar dari kamar.
Bulan terlihat cantik dengan dress bunga-bunga berbentuk sabrina yang memperlihatkan bahunya yang mulus. Flat shoes berwarna cream menjadi pilihannya, sangat pas dipakai pada kulitnya yang putih. Selama menginjakkan kakinya di Bali, Bulan mengubah warna rambutnya dari golden brown menjadi blue black dengan gradasi warna abu-abu.
Apa pun yang dilakukan seorang wanita kalau pada dasarnya cantik ya mau apa pun itu tetap terlihat cantik.
Setelahnya Bulan keluar dari hotel dengan berjalan kaki sambil menikmati keramaian para turis-turis asing yang juga sedang berlalu lalang.
Bulan baru saja sampai kembali ke hotel setelah menghabiskan sekitar empat atau lima jam di luar sana dengan berburu aneka ragam oleh-oleh khas Bali. Ada baju, makanan dan berbagai pernak-pernik lucu. Bahkan ia harus membeli koper untuk menampung oleh-olehnya supaya tak repot. Bahkan koper yang dibeli lebih besar dari koper pakaian yang dibawa.
Ponselnya berdering tanda pesan masuk. Bulan langsung mengambilnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
[Alfan : Pesawat jam berapa, Bulan? Jam tiga nanti aku on the way Jakarta.]
[Bulan : Jam lima, Mas.]
[Alfan : Nanti aku jemput.]
[Bulan : Okay. Kamu hati-hati di jalan, Mas.]
[Alfan : Kamu juga hati-hati.]
Setelah bertukar kabar dengan sang suami, Bulan memilih mandi sebelum berangkat ke bandara. Tubuhnya lengket karena seharian berada di luar. Ia juga berniat makan di resto hotel dulu karena ia tadi belum sempat makan ketika berada di luar.
***
Selama seminggu Alfan berada di Bandung menemani Zahra, istrinya. Setelah pengajian selama tujuh hari berturut-turut telah usai, kini waktunya Alfan kembali ke Jakarta.
Sebelumnya, Alfan sudah meminta Zahra dan kedua adiknya untuk ikut ke Jakarta, tapi Zahra menolak karena kedua adiknya sedang menjalani ujian kelulusan.
Beberapa kali Zahra bertanya tentang Bulan namun lelaki itu belum menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan. Bukan ingin menunda kejujuran, tapi ia juga tak akan tega mengatakan kejujuran itu di waktu dan kondisi yang tidak tepat. Zahra baru saja kehilangan ibunya dan tidak mungkin Alfan akan menambah beban pikiran untuk wanita itu.
Zahra baru saja selesai membereskan koper Alfan ketika lelaki itu masuk ke dalam kamarnya.
Alfan duduk di tepi ranjang dan menepuk sisi sebelahnya untuk menyuruh Zahra duduk.
“Ada apa, Mas?” tanya Zahra dengan suara yang lembut seperti biasanya.
Alfan mengeluarkan amplop cokelat ke arah istrinya.
“Pegang ini untuk keperluan kalian selama aku ke Jakarta. Mungkin aku akan datang sebulan sekali setelah ini karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika kurang, kamu bisa kabari dan aku akan mentransfernya,” ucap Alfan. Dalam amplop tersebut berisi sekitar dua puluh lima juta yang baru saja ditarik Alfan dari ATM terdekat.
Biasanya Alfan akan datang dua kali dalam satu bulan. Tapi itu dulu saat dirinya belum menikahi Bulan.
Dan untuk kartu kredit ataupun debit, Zahra memang tak diberikan oleh Alfan mengingat seluruh tagihan kartu tersebut masih dikontrol oleh kedua orang tuanya. Tapi Alfan memiliki tabungan sendiri dari gajinya selama bekerja di perusahaan orang tuanya.
“Kenapa begitu, Mas? Kan’ biasanya juga dua minggu sekali,” tanya Zahra menuntut penjelasan.
“Satu minggu aku sudah cuti. Kalau aku cuti terus menerus, keluargaku bisa curiga. Pekerjaan yang kutinggalkan selama seminggu ini juga pasti sudah menumpuk dan kamu tahu meskipun papa pemiliknya tapi tidak ada keringanan untukku, Ra. Aku tetap harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku.” Alfan mendesah pelan.
“Jadi?”
“Satu bulan sekali aku akan datang. Jika tidak ada halangan, aku usahakan datang sebulan dua kali.”
Meskipun kecewa, Zahra akhirnya mengangguk.
“Terima kasih, Ra. Kamu jaga diri baik-baik. Apa pun yang kamu butuhkan segera hubungi aku ya,” ucap Alfan sambil merangkul bahu istrinya.
“Iya, Mas.”
Zahra adalah sosok gadis lembut dan anggun yang pada akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga melakukan aksi nekat dengan menikahinya secara diam-diam. Keadaan yang tidak mendukung membuatnya memilih jalan yang salah dengan menyembunyikan pernikahan ini. Alfan tahu bahwa orang tuanya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia takut kedua orang tuanya akan menyakiti keluarga Zahra.
Alfan sudah memasukkan kopernya ke dalam mobil. Ia diantar oleh istri dan kedua adik iparnya sampai di depan mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
“Jaga diri kalian baik-baik ya. Zea, Zain belajar yang benar. Jangan bikin Mbak Zahra marah. Harus nurut,,” ujar Alfan mengingatkan.
“Kami nurut kok, Mas.” Keduanya menjawab bersamaan. “Mas hati-hati di jalan.”
Alfan mengangguk sebagai jawaban.
“Mas Alfan, hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik di sana. Aku selalu menunggumu, Mas.” Zahra mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Kamu harus menepati janjimu padaku,” lanjutnya dengan tetesan air mata yang sudah lolos ketika ia berkedip.
Alfan mengangguk dan memeluk Zahra. Memberikan ciuman di kening sebentar kemudian melepaskannya.
Zahra menyambut tangan Alfan dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
Setelah berpamitan Alfan berniat masuk ke dalam mobil sebelum ucapan wanita yang tengah terisak itu kembali menghentikan langkahnya.
“Perasaanku tidak enak, Mas. Mas Alfan tidak menyembunyikan apa pun ‘kan, Mas?”
Deg!
Entah perasaan apa ini? Kenapa ini seperti kita tidak akan bertemu lagi, batin hati Zahra.
To Be Continue ….
Sebelum Dewi tertangkap, Alfan sudah bergerak lebih dulu. Ia bukan tipe pria yang menunggu sampai musuh menyerang dua kali. Di ruang kerjanya malam itu, Alfan berdiri di depan jendela besar sambil menatap taman belakang rumahnya. Di belakangnya, Putu Hendra membuka beberapa berkas tebal di atas meja. “Semua sudah kita kumpulkan,” ujarnya. Alfan menoleh. “Seberapa besar?” “Lebih besar dari yang kita kira.” Putu mendorong satu map ke depan. “Perusahaan keluarga Dewi ternyata hanya kedok.” Alfan membuka berkas itu perlahan. Isinya membuat rahangnya mengeras. Pencucian uang. Perdagangan ilegal. Pemalsuan dokumen impor. Nama keluarga itu muncul di hampir semua laporan. “Sudah berapa lama?” tanya Alfan. “Bertahun-tahun.” Putu menunjuk beberapa halaman lain. “Yang paling menarik mereka menggunakan jaringan agen penyalur tenaga kerja sebagai jalur transaksi.” Alfan langsung teringat sesuatu. Agen tempat Dewi mendaftar. “Jadi itu sebabnya mereka bisa menyusupkan Dewi ke rumahku,
Dewi masih menatap foto di tangannya dengan wajah pucat. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat panik.“Saya hanya keluar sebentar malam itu,” katanya akhirnya.Alfan tertawa pendek. “Keluar sebentar?” ulangnya pelan. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di meja di depan Dewi. “Keluar sebentar sampai bertemu seseorang di luar pagar rumah? Di tengah malam. Diam-diam pula.”Tubuh Dewi menegang. “Saya tidak tahu maksud Tuan.”Putu Hendra menyilangkan tangan. “Jangan berpura-pura bodoh. Foto itu jelas menunjukkan kamu berbicara dengan seseorang.”Dewi menelan ludah. “Itu hanya orang yang salah alamat.”Alfan menatapnya tanpa berkedip. “Lalu kenapa Nena yang melihat kalian justru mati satu jam kemudian?”Kalimat itu membuat Dewi kehilangan kata-kata. Namun ia masih mencoba mempertahankan jawabannya.“Bagaimana Tuan bisa menuduh saya seperti itu? Saya juga sedih atas kematian Nena.”Alfan berdiri tegak. Tatapannya berubah tajam.“Kalau begitu
“Kami menemukan ini. Seratus meter dari lokasi kejadian.”Seorang polisi menyerahkan plastik klip bening berisi ponsel dan dompet milik Nena.Alfan menerima benda itu dengan wajah kaku. “Tidak ada penyelidikan?” tanyanya tajam.“Kami akan tetap memburu pelaku, Tuan,” jawab polisi itu hati-hati. “Kesimpulan sementara tabrak lari. Namun kasus bisa naik kapan saja jika pelaku tertangkap dan motifnya terungkap.”“Plat mobil yang digunakan tidak terdaftar. Jadi cukup sulit untuk mengidentifikasi.”Rahang Alfan mengeras.“Terima kasih. Tolong lakukan apa saja untuk menangkap pelaku. Ini menyangkut nyawa seseorang.”“Lakukan yang terbaik.”Polisi itu mengangguk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah besar itu.Usai para petugas pergi, Alfan berdiri lama di ruang tamu. Plastik berisi ponsel Nena masih berada di tangannya.Tatapannya kosong.Tabrak lari.Kalimat itu terus berputar di kepalanya.Namun, entah kenapa … Hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.Dengan langkah bera
“Kamu kenapa menatap kami seperti itu, Dewi?”Ayesha bertanya kala melihat Dewi menatap mereka tanpa berkedip. Ia tersenyum. Berhasil menggoyahkan pertahanan gadis itu. Dengan sengaja ia mempertontonkan kemesraan bersama sang suami saat gadis itu mengantar minuman.Sengaja.Biar terbakar sekalian.“Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya kagum dengan keluarga Anda yang harmonis. Memiliki anak dan suami yang manis. Saya berharap suatu nanti bisa mendapatkan suami seperti Tuan Alfan.”Ayesha terkekeh pelan. “Kamu tidak tahu saja sebrengsek apa suamiku dulu.”“Maksudnya, Nyonya?”“Aku tidak ingin mengumbar aib suamiku, tapi apa yang kamu lihat manis hari ini adalah buah dari apa yang telah kami lewati. Jika hari ini kami masih bersama, itu karena takdir Tuhan yang masih memberi kami kesempatan kedua.”Alfan mengeratkan pelukan, lalu mengecup kening sang istri singkat. “Terima kasih karena masih mau menerimaku.”“Mom, Dad, yang benar saja. Jangan mengumbar kemesraan di depan anak kecil.” Arzen prote
Dewi menggenggam erat pintu kamar mandi, tubuhnya benar-benar tak terkendali. Wajahnya memerah, keringat bercucuran, napasnya terengah. Bayangan Alfan seolah mengepung dari segala sisi. Membuat tubuhnya semakin bergetar hebat menahan ledakan gairah yang membuncah. “Kenapa bisa begini?!” desisnya panik. Ia tak menyangka obat itu justru berbalik melawan dirinya. Ketukan keras di pintu membuat jantungnya hampir meloncat. “Dewi, kamu kenapa?” suara Nena terdengar keras. “Tidak apa-apa, Mbak. Perutku melilit sekali,” sahut Dewi dengan suara gemetar, berusaha menormalkan nada suaranya. Panik menyeruak. Buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu membuka pintu sedikit. “Maaf, Mbak. Aku tadi masih di kamar mandi. Panas sekali rasanya.” Nena mengamati wajah Dewi yang basah, pipinya merah padam, tubuhnya bergetar pelan. “Kamu sakit?” tanyanya curiga. “Cuma kecapekan, Mbak.” Dewi tersenyum kaku, berusaha menutup pintu lagi. Namun, tatapan tajam Nena menelisik hingga ke hatinya. “K
“Mas, kamu baik-baik saja, kan?” Ayesha yang sejak pagi gelisah, menghubungi suaminya.“Ada apa?” tanya Alfan dengan nada heran.“Tidak apa-apa, hanya saja perasaanku tidak enak.”“Cepatlah pulang. Sepertinya kamu sangat merindukanku,” godanya sambil terkekeh.“Aku serius, Mas!” desis Ayesha.“Semuanya baik-baik saja, Sayang. Cepatlah pulang. Aku merindukanmu.”Ayesha singkirkan perasaan itu dari dalam dirinya. Namun, ketukan pintu di kamarnya membuat wanita itu berpaling.Di depan pintu, kliennya berdiri dengan senyum lebar. Seolah bisa menebak apa yang terjadi, Ayesha langsung menggeleng tegas.“Kali ini tidak ada tawar menawar lagi, Nona. Sudah cukup saya memaklumi permintaanmu.”“Hanya kali ini saja, Nyonya. Saya mohon.”“Saya tidak bisa.”“Saya akan membayar waktu Anda selama di sini.”Ayesha lemparkan senyum lebar, garis halus di sekitar matanya terlihat samar. “Ini bukan tentang nominal, Nona. Ini soal rasa profesional. Kesepakatan Anda sudah terlalu melenceng jauh. Demi bertah
Ayesha menghubungi Sarah, sahabatnya yang bekerja sebagai jurnalis investigasi. Sarah terkenal memiliki akses ke berbagai sumber informasi. “Sarah, aku butuh bantuanmu,” kata Ayesha saat mereka bertemu di sebuah kafe kecil di pusat kota. “Apa ini soal butikmu?” tanya Sarah sambil menyeruput cappu
Melani memutar otak, mencoba mencari celah lain. “Bagaimana kalau kita cari tahu tentang istrinya? Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata.” Pria itu mengangguk setuju. “Hubungi detektif pribadi kita. Minta dia menyelidiki semua tentang wanita itu dan keluarganya. Kalau
“Ternyata suamiku ini memiliki banyak pengagum. Bahkan ada yang melamar meski sudah tahu jika sudah memilki istri. Apakah aku harus bersyukur atau justru takut, ya. Bagaimana menurutmu, Mas?” sindir Ayesha.“Aku benar-benar tidak mengenal mereka. Tiba-tiba datang dan melamar begitu saja.” Meski sama-
Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya berita tentangnya dan sang suami mereda dan tergantikan oleh berita panas lainnya.Butiknya telah kembali buka. Bahkan kini lebih banyak pengunjung yang datang dari kalangan pejabat dan beberapa istri-istri pengusaha.Tentu saja mereka bukan hanya datang karen







