Share

Bab 2

Author: Lezra
Pada akhirnya, aku tetap menghadiri jamuan itu. Ini hanya sebuah jamuan penyambutan, tetapi acara yang disiapkan Adam untuk Rani ternyata lebih megah daripada acara pernikahan kami dulu. Bagaimanapun juga, yang duduk di bawah panggung pada hari pernikahan itu hanya keluarga terdekat dari kedua belah pihak.

Saat itu, Keluarga Sulaiman sudah berada di ambang kebangkrutan. Hanya dengan pernikahan aliansi bersama Keluarga Nugroho, mereka baru bisa bangkit kembali. Ini salahku karena dulu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Adam, sehingga begitu bahagia sampai kehilangan akal sehat.

Aku terlalu buru-buru menyetujui pernikahan ini. Aku sama sekali tidak tahu hanya ada cinta pertama yang tidak bisa dimilikinya di hati Adam. Aku juga tidak tahu dia pernah berusaha mati-matian untuk menolak perjodohan denganku.

Bagi Adam, pernikahan yang selama ini sangat kunantikan ternyata hanya sebuah transaksi kepentingan. Bukan hanya menjadi luapan kekesalan dan hatinya hancur setelah Rani menikah dengan orang lain, pernikahan ini juga menjadi aib atas kegagalannya melawan perjodohan keluarga.

Pada malam pernikahan, Adam langsung menandatangani surat perjanjian cerai. Saat itu, dia menatapku dengan ekspresi tenang dan berkata, "Aku nggak akan terikat denganmu dan menderita seumur hidup untuk kepentingan keluarga, tapi aku akan menghormatimu. Aku sudah tanda tangan surat perjanjian cerai ini. Selama kamu mau, kita bisa bercerai kapan pun."

Aku menatap surat perjanjian cerai yang dilemparkan ke depanku itu dan tidak bergerak cukup lama. Aku sangat ingin berkata aku menikah dengannya bukan demi kepentingan keluarga. Namun, kata-kata yang sudah sampai di ujung bibir itu tetap kutelan kembali.

Sejak awal, memang hanya aku sendiri yang jatuh hati, sehingga aku berpikir untuk apa menambah beban Adam. Aku kira waktu akan perlahan-lahan membawaku ke sisinya. Cerita tentang menikah dulu, lalu lama-kelamaan saling jatuh cinta ini pasti bukan hanya ada di novel.

Oleh karena itu, aku meninggalkan jalan yang sudah disiapkan orang tuaku untuk mendekati Adam dan memulai dari posisi paling bawah di perusahaan Keluarga Sulaiman.

Aku kira jika aku menemani Adam bangkit dari masa terpuruknya, dia akan mencintaiku. Aku kira kebersamaan selama tujuh tahun ini akan membuatnya mencintaiku. Aku kira setelah memiliki anak, dia akan mencintaiku. Aku kira ....

Namun, ternyata semua itu hanya pikiranku sendiri.

Setelah tujuh tahun berlalu, aku tidak menyangka kekuasaan Keluarga Nugroho akan perlahan-lahan mundur. Sementara itu, kekuasaan Keluarga Sulaiman selangkah demi selangkah naik ke puncak kejayaan. Hanya ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu Adam tidak pernah mencintaiku.

Dadaku terasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum. Aku tidak minum alkohol, tetapi kesadaranku tidak begitu jernih.

Saat berdiri di atas panggung, Adam menatap Rani dengan tatapan lembut. "Mulai sekarang, Bu Rani adalah satu-satunya atasan kalian di divisi pemasaran."

Adam memang berkata seperti itu, tetapi semua orang yang hadir di sana tahu jelas Adam sedang membangun wibawa dan membuka jalan untuk Rani.

Lampu di atas panggung sangat menyilaukan sampai dadaku juga terasa sesak.

Saat aku baru saja hendak berdiri dan pergi, Rani berjalan mendekat sambil membawa segelas anggur merah. Dia tersenyum manis, lalu berkata dengan suara yang cukup keras agar semua orang bisa mendengarnya, "Bu Sheila, aku menyulangimu. Terima kasih sudah mengatur divisi pemasaran dengan begitu rapi selama sepuluh tahun ini. Kelak, mohon bimbingannya."

Aku mengangkat kepala dan menatap Rani dengan tanpa bergerak. Aku juga bukannya sengaja menentangnya, tetapi gelas itu memang sudah salah diberikan padaku karena aku alergi parah terhadap alkohol.

Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan sebagian besar dari mereka sudah menunggu pertunjukan seru.

Setelah berdiri cukup lama, senyuman palsu di wajah Rani pun mulai sulit dipertahankan. Dia menoleh ke arah Adam untuk meminta bantuan.

Aku juga menoleh ke arah Adam. Bagaimanapun juga, kami masih pasangan yang sah secara hukum. Aku bertaruh dia tidak akan berani mempertaruhkan nyawaku untuk permainan seperti ini.

Namun, Adam hanya mengernyitkan alis dan langsung menatapku dengan tatapan kesal. "Bu Sheila, Bu Rani menyulangimu. Kamu nggak minum berarti ingin berhenti kerja ya?"

Aku tiba-tiba ingin tertawa. Aku memang bodoh, Adam mana mungkin masih ingat soal aku alergi alkohol. Ibu jariku mengusap bibir gelas perlahan-lahan, lalu menghela napas pelan. "Pak Adam, aku alergi alkohol."

Adam tertegun sejenak, lalu menarik kembali tatapan kesalnya. Dia menghindari tatapanku, lalu berkata seolah-olah memberiku sedikit belas kasihan karena baik hati. "Kalau begitu, minum sedikit saja."

Rani tersenyum bangga sambil mengangkat gelas ke arahku. "Kelak, mohon bantuan Bu Sheila."

Sepertinya, aku memang harus meminum anggur di gelas ini. "Bu Rani terlalu sungkan. Kerja keras selama sepuluh tahun jelas nggak sebanding dengan orang yang tiba-tiba muncul."

Ada beberapa karyawan yang tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil, lalu buru-buru menundukkan kepalanya.

Ekspresi Rani sempat berubah, tetapi segera kembali normal. "Bu Sheila memang pandai bercanda."

Setelah itu, Rani mendekat selangkah dan merendahkan suara. "Nggak perlu menyindir. Adam nggak mencintaimu, kamu cuma batu pijakan untuk menutup lubang masalah. Kali ini posisi direktur, lain kali giliran statusmu sebagai Nyonya Sulaiman."

Tanganku yang sedang memegang gelas menjadi agak bergetar, lalu perutku mulai terasa mual dan bergejolak.

Rani tersenyum cerah. Namun, dia baru saja menyesap anggurnya sedikit, Adam langsung mengambil gelasnya.

"Kamu sudah minum cukup banyak, formalitas saja sudah cukup."

Setelah itu, Adam maju selangkah dan tatapannya memperingatkanku. "Bu Sheila, setelah minum gelas ini, kelak bergaullah baik-baik dengan Nini."

Adam menggenggam tangan Rani dan langsung membenturkan gelas Rani ke gelasku. Dia mendesakku dengan tanpa suara.

Melihat bagaimana Adam memeluk Rani dalam posisi melindungi di dalam dekapannya, aku tiba-tiba merasa lelah. Ya sudahlah, hubungan ini sampai di sini saja. Bagi kami, mungkin ini termasuk sebuah kebebasan.

"Baik," kataku, lalu menghabiskan anggur di tanganku dalam sekali teguk.

Sepertinya sempat terlintas rasa terkejut di tatapan Adam, mungkin dia juga tidak menyangka kali ini aku akan begitu tegas.

Adam, setelah segelas anggur ini habis, kita sudah impas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 9

    Adam yang begitu sombong itu, pada akhirnya tidak datang lagi untuk memohon dan mengejar.Kemudian, terdengar kabar bahwa dia menggugat Rani ke pengadilan. Pencurian rahasia bisnis, kebocoran data inti perusahaan, dengan bukti yang kuat, sehingga tidak ada ruang untuk membela diri.Mantan kekasih saling berhadapan di pengadilan, merobek habis sisa perasaan yang terakhir.Sebenarnya sejak awal, semua yang dikatakan Rani adalah kebohongan. Mantan suami selingkuh, diusir tanpa harta, semuanya palsu. Yang berselingkuh sejak awal adalah dia sendiri, karena itulah dia dipaksa pergi tanpa membawa apa-apa.Setelah bercerai, pesaing Grup Sulaiman entah dari mana mengetahui masa lalunya dengan Adam, lalu berinisiatif mendekatinya. Dengan uang berjumlah besar dan keuntungan di depan mata, Rani pun tergoda.Akhirnya, Rani dijatuhi hukuman tiga tahun. Semua ini diberitahukan oleh Joko kepadaku. Dia menghela napas dan berkata, "Grup Sulaiman terpukul berat, ke depannya akan sulit."Aku hanya menjawa

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 8

    Sudut pandang Sheila:Karena memiliki sepuluh tahun pengalaman kerja di Grup Sulaiman, aku segera mendapatkan tawaran dari perusahaan besar lain. Gaji tahunannya tiga kali lipat dari Grup Sulaiman dan posisinya adalah direktur divisi pemasaran yang sudah lama kuimpikan.Keesokan hari setelah meninggalkan Keluarga Sulaiman, Adam mengirim pesan.[ Kenapa hari ini nggak masuk kerja? ]Aku menatap kalimat itu sejenak dalam diam, lalu akhirnya tersenyum pahit. Mana mungkin dia benar-benar peduli aku masuk kerja atau tidak. Dia hanya khawatir pekerjaan Rani akan jadi sulit tanpa aku.Aku tidak membalasnya dan langsung memblokir semua kontaknya. Sekarang perusahaan dan hidupku sangat baik. Di sini, aku tidak perlu lagi mengharap pengakuan Adam, tidak perlu peduli dengan emosinya.Dalam bekerja, aku jadi jauh lebih leluasa, lebih tegas, lebih cepat, dan lebih bersemangat dari sebelumnya. Dalam waktu singkat satu minggu, aku sudah berdiri kokoh di perusahaan baru.Soal kebocoran data riset Grup

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 7

    Hari kedua setelah Sheila pergi, seluruh divisi pemasaran langsung kacau.Para karyawan lama yang sudah mengikutinya selama tujuh sampai delapan tahun memang sejak awal tidak menyukai Rani. Direktur yang tiba-tiba ditunjuk itu tidak mengerti bisnis sama sekali, bahkan saat rapat tidak bisa menjelaskan PPT dengan jelas.Sekarang Sheila sudah pergi, mereka pun tidak perlu bertahan lagi. Surat pengunduran diri diajukan satu demi satu. Yang tidak mengundurkan diri karena keluarga pun mulai bekerja asal-asalan.Tidak ada yang memimpin rapat rutin, tidak ada yang mengejar proposal, progres proyek pun tidak ada yang menindaklanjuti.Saat Joko membuka pintu dan masuk ke kantor Adam, dia sedang berdiri di dekat jendela dengan pusing.Setelah mendengar laporan, dia mengerutkan kening dan bertanya kepada Joko, "Soal pengunduran diri Sheila, kenapa nggak minta persetujuan dariku?"Joko adalah karyawan lama di perusahaan. Dulu saat Sheila masuk, dia yang mewawancarainya. Dia juga yang membimbingnya

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 6

    Sudut pandang orang ketiga:Keesokan harinya, Adam pergi ke perusahaan, tetapi tidak melihat Sheila.Selama sepuluh tahun, Sheila tidak pernah terlambat atau mengambil cuti.Dia mengirim pesan kepada Sheila:[ Kenapa hari ini nggak masuk kerja? ]Dulu setiap pesannya selalu dibalas dalam hitungan detik, tetapi kali ini sampai siang pun tidak ada balasan.Adam mulai merasa gelisah sampai tidak bisa fokus bekerja.Hatinya terasa hampa, seolah-olah akan kehilangan sesuatu.Dia melihat kotak percakapan berkali-kali, tetapi Sheila tetap tidak membalas.Apa dia sakit? Di dalam hatinya, muncul sedikit kekhawatiran.Saat itu, Joko tiba-tiba mengirim pesan.[ Pak Adam, Bu Sheila sudah mengundurkan diri. Menurut Bapak, pekerjaannya paling cocok diberikan kepada siapa? ]'Mengundurkan diri?! Sheila mengundurkan diri?' Setelah ragu-ragu untuk beberapa lama, dia bersiap menelepon untuk bertanya.Pada saat itu, dia baru ingat kalau nomor telepon Sheila masih diblokir olehnya. Melihat ratusan panggil

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 5

    Saat mendapat kabar tentang Jacob, langit sudah benar-benar gelap. Aku mencari dari siang sampai malam, sementara Adam tidak memberi kabar lagi setelah mengirim pesan itu.Saat melihat Jacob, kakiku langsung lemas. Aku harus bersandar ke dinding agar bisa berdiri. Dia meringkuk ketakutan di sudut. Begitu melihatku, dia langsung berlari dan memelukku. Air matanya membasahi bajuku. "Mama!"Rasa bersalah dan penyesalan hampir menenggelamkanku. Aku memeluk Jacob erat-erat. Petugas pencarian di samping menghela napas pelan, tetapi justru membuatku sangat malu."Kalau hari ini nggak direbut dari tangan penculik, entah di mana anakmu berada sekarang."Mendengar itu, kepalaku berdengung, seluruh tubuhku gemetar. Tanganku pun bergetar saat memeriksa Jacob dari kepala sampai kaki."Kenapa nggak telepon Mama? Kamu tahu Mama khawatir sekali?"Dia menjawab sambil menangis, air matanya jatuh deras, "Aku ingin Papa yang jemput aku sekali saja .... Aku sudah telepon dia berkali-kali, tapi dia nggak an

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 4

    Ternyata Adam datang bukan demi Jacob, melainkan demi anaknya Rani.Jacob tidak tahu liku-liku sulitnya kehidupan orang dewasa, yang dia lihat hanya papanya datang. Matanya langsung berbinar, lalu melepaskan tanganku dan berlari ke arah papanya. "Papa, aku sudah menunggu Papa lama sekali. Kok Papa baru datang?"Jacob berlari dengan begitu cepat dan gembira, seperti seekor rusa kecil yang berlari di hutan. Namun, sebelum dia sempat mendekat, gadis kecil itu sudah berdiri di depan Adam."Kamu siapa? Ini papaku," kata gadis kecil itu dengan suara nyaring.Karena mendengar ucapan itu, semua orang tua dan anak-anak di sekitar menoleh ke arah kami secara serentak.Jacob juga membeku di tempat dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Dia mengangkat kepala dan menatap Adam dengan keras kepala, lalu berkata dengan suara bergetar, "Papa ... kamu kan papaku .... Iya, 'kan? Papa bicara dong ...."Dia mengulurkan tangannya dan hendak menarik Adam.Adam malah mundur setengah langkah, la

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 3

    Rani menatap Adam dengan malu-malu, sedangkan Adam merapikan anak rambut di wajahnya dengan lembut."Hubungan Pak Adam dan Bu Rani benar-benar baik. Kapan kami bisa menghadiri pesta pernikahan kalian?"Para karyawan itu memang sangat pandai membaca situasinya. Mereka langsung memecah suasana yang ta

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 1

    Manajer umum menatap surat pengunduran diriku dengan ekspresi penuh penyesalan. "Sheila, kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi? Soal promosi kali ini, aku masih bisa bantu memperjuangkannya ke Pak Adam ... posisi wakil direktur. Belum tentu nggak ada kemungkinan."Aku hanya menggelengk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status