Share

Bab 4

Author: Lezra
Ternyata Adam datang bukan demi Jacob, melainkan demi anaknya Rani.

Jacob tidak tahu liku-liku sulitnya kehidupan orang dewasa, yang dia lihat hanya papanya datang. Matanya langsung berbinar, lalu melepaskan tanganku dan berlari ke arah papanya. "Papa, aku sudah menunggu Papa lama sekali. Kok Papa baru datang?"

Jacob berlari dengan begitu cepat dan gembira, seperti seekor rusa kecil yang berlari di hutan. Namun, sebelum dia sempat mendekat, gadis kecil itu sudah berdiri di depan Adam.

"Kamu siapa? Ini papaku," kata gadis kecil itu dengan suara nyaring.

Karena mendengar ucapan itu, semua orang tua dan anak-anak di sekitar menoleh ke arah kami secara serentak.

Jacob juga membeku di tempat dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Dia mengangkat kepala dan menatap Adam dengan keras kepala, lalu berkata dengan suara bergetar, "Papa ... kamu kan papaku .... Iya, 'kan? Papa bicara dong ...."

Dia mengulurkan tangannya dan hendak menarik Adam.

Adam malah mundur setengah langkah, lalu menatap Jacob dan aku dengan ekspresi tak berdaya. "Aku ini ayahnya Melisa. Adik kecil, kamu salah orang."

Kata salah orang itu terdengar begitu santai, tetapi menghantam hatiku dan Jacob dengan sangat kuat.

Tangan Jacob yang tadinya berhenti di udara pun perlahan-lahan turun dan matanya tetap berkaca-kaca.

Aku menatap Adam dengan tidak percaya. "Adam!"

Ini pertama kalinya aku memanggil nama Adam di tempat umum.

"Papa ...."

Dengan suara yang kecil dan melangkah dengan pelan, Jacob berniat untuk mendekati Adam lagi.

Adam menundukkan kepala dan menatap Jacob. Tenggorokannya bergerak, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Pergi sana! Aku sudah bilang ini papaku!" marah Melisa sambil mendorong Jacob.

Saat Jacob terhuyung-huyung ke belakang, aku buru-buru maju untuk menahannya. "Adam, apa maksudmu ini?"

Mendengar bentakanku, Adam tertegun sejenak.

Sementara itu, aku menatap Adam dengan marah. "Jacob itu anak kandungmu ...."

"Bu!"

Seluruh amarahku dipotong oleh Adam dengan suara yang meninggi dan mengernyitkan alis dengan kesal. "Tolong didik anakmu dengan baik. Aku tahu ibu tunggal nggak mudah membesarkan seorang anak, tapi bukan berarti dia boleh sembarangan mengaku orang lain sebagai ayah."

Melisa mengangkat dagunya dengan bangga. "Dengar, 'kan? Dia ini papaku!"

Rani juga tersenyum, lalu maju dan merangkul lengan Adam dengan lembut. "Sudahlah, Adam. Asalkan sudah dijelaskan saja, nggak perlu marah dengan orang seperti ini."

Anak-anak yang berdiri di belakang juga mulai berbisik dengan pelan.

"Aku sudah bilang kan, Jacob paling suka bohong. Jelas-jelas dia nggak punya papa, tiap hari cuma pandai menipu."

"Kita sudah kenal lama sekali, tapi nggak pernah sekali pun lihat papanya. Dia pasti bohong."

"Hari ini lebih parah lagi, dia malah panggil papanya Melisa sebagai Papa. Hahaha ...."

Jacob menggigit bibirnya, lalu air matanya terus mengalir dengan deras. Dia tidak mengerti mengapa papanya tidak menginginkannya, juga tidak mengerti mengapa papanya malah melindungi anak kecil lain.

Dulu, aku pikir Adam hanya tidak dekat dengan Jacob, tetapi aku tidak menyangka dia begitu tega. Karena suasana di sekitar terlalu kacau, aku menahan amarahku dan berusaha untuk berbicara dengan tenang. "Adam, kita bicara sebentar."

Tak disangka, Jacob malah tiba-tiba menyeka air matanya dengan sedih. Setelah itu, dia berbalik dan berlari pergi.

"Jacob!"

Bibir Adam bergerak sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia akhirnya tetap tidak mengatakan apa-apa.

"Bajingan!" marahku, lalu buru-buru berlari keluar untuk mengejar Jacob.

Adam memijat pelipisnya dengan lelah, lalu tertegun dan menatap sosok punggungku yang berlari menjauh.

Melihat Adam terdiam cukup lama, Rani menarik lengan baju Adam. "Adam, permainan Melisa sudah mau dimulai."

Adam mengalihkan kembali pandangannya. "Ayo."

Dalam sekejap, sosok Jacob sudah tidak terlihat.

Di sekolah, ada banyak orang yang lalu lalang. Aku sudah mencari ke seluruh area sekolah, tetapi tetap tidak menemukan Jacob. Hingga ada seorang penjaga gerbang yang bilang melihat ada seorang anak yang keluar, aku makin panik dan bertanya-tanya dia bisa pergi ke mana.

Aku kembali mencari di sekitar gerbang sekolah, tetapi tetap tidak melihat Jacob. Jantungku berdetak makin cepat dan hatiku merasa sangat tidak tenang.

Saat melihat sebuah mainan kecil yang familier di pinggir taman bunga yang dekat jalanan, rasa takutku mencapai puncak. Itu adalah mainan yang Jacob genggam dengan erat sejak tadi pagi, dia hendak memberikannya pada papanya. Namun, mainan yang putih bersih itu sudah kotor karena diinjak. Dari jejak kaki yang berantakan di sekitarnya, sepertinya itu adalah jejak kaki dari beberapa orang dewasa.

Jacob di mana? Mengapa tidak ada jejak kaki anak kecil di sekitar sini?

Saat itu, aku teringat untuk cepat memeriksa kamera pengawas. Aku menelepon Adam karena dia memiliki saham di sekolah ini, sehingga dia hanya membutuhkan satu kalimat untuk memeriksa kamera pengawas. Tanganku gemetar sampai hampir tidak bisa menggenggam ponsel dan mataku berkaca-kaca.

Panggilan pertama dan panggilan kedua ditolak. Saat melakukan panggilan ketiga, langsung terdengar suara mesin yang berkata ponsel Adam sudah dimatikan. Ternyata dia memblokirku.

Sebelum layar ponselku meredup, Adam mengirimku satu pesan.

[ Aku sedang sibuk. Kalau ada apa-apa, nanti kita bicarakan di rumah. ]

Saat menatap pesan itu, dadaku terasa sesak sampai hampir tidak bisa bernapas dan air mataku mengalir dengan tak terkendalikan.

Adam tidak tega membiarkan anaknya Rani diremehkan orang lain karena ibunya adalah ibu tunggal, sehingga rela menjadi ayah untuk anak itu. Namun, dia malah tega terang-terangan menyangkal identitas anaknya sendiri dan membiarkan anaknya ditertawakan serta dipermalukan orang lain. Atau jangan-jangan ... anak Rani memang anaknya? Yang berarti dia memang ayahnya Melisa?

Jika terus terjerat dengan Adam, aku rasa Jacob hanya akan menderita. Lebih baik aku mengakhiri semua hubungan dengannya secepat mungkin.

Aku menyeka air mata di wajahku, lalu menelepon tim pencarian. "Halo, anakku hilang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 9

    Adam yang begitu sombong itu, pada akhirnya tidak datang lagi untuk memohon dan mengejar.Kemudian, terdengar kabar bahwa dia menggugat Rani ke pengadilan. Pencurian rahasia bisnis, kebocoran data inti perusahaan, dengan bukti yang kuat, sehingga tidak ada ruang untuk membela diri.Mantan kekasih saling berhadapan di pengadilan, merobek habis sisa perasaan yang terakhir.Sebenarnya sejak awal, semua yang dikatakan Rani adalah kebohongan. Mantan suami selingkuh, diusir tanpa harta, semuanya palsu. Yang berselingkuh sejak awal adalah dia sendiri, karena itulah dia dipaksa pergi tanpa membawa apa-apa.Setelah bercerai, pesaing Grup Sulaiman entah dari mana mengetahui masa lalunya dengan Adam, lalu berinisiatif mendekatinya. Dengan uang berjumlah besar dan keuntungan di depan mata, Rani pun tergoda.Akhirnya, Rani dijatuhi hukuman tiga tahun. Semua ini diberitahukan oleh Joko kepadaku. Dia menghela napas dan berkata, "Grup Sulaiman terpukul berat, ke depannya akan sulit."Aku hanya menjawa

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 8

    Sudut pandang Sheila:Karena memiliki sepuluh tahun pengalaman kerja di Grup Sulaiman, aku segera mendapatkan tawaran dari perusahaan besar lain. Gaji tahunannya tiga kali lipat dari Grup Sulaiman dan posisinya adalah direktur divisi pemasaran yang sudah lama kuimpikan.Keesokan hari setelah meninggalkan Keluarga Sulaiman, Adam mengirim pesan.[ Kenapa hari ini nggak masuk kerja? ]Aku menatap kalimat itu sejenak dalam diam, lalu akhirnya tersenyum pahit. Mana mungkin dia benar-benar peduli aku masuk kerja atau tidak. Dia hanya khawatir pekerjaan Rani akan jadi sulit tanpa aku.Aku tidak membalasnya dan langsung memblokir semua kontaknya. Sekarang perusahaan dan hidupku sangat baik. Di sini, aku tidak perlu lagi mengharap pengakuan Adam, tidak perlu peduli dengan emosinya.Dalam bekerja, aku jadi jauh lebih leluasa, lebih tegas, lebih cepat, dan lebih bersemangat dari sebelumnya. Dalam waktu singkat satu minggu, aku sudah berdiri kokoh di perusahaan baru.Soal kebocoran data riset Grup

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 7

    Hari kedua setelah Sheila pergi, seluruh divisi pemasaran langsung kacau.Para karyawan lama yang sudah mengikutinya selama tujuh sampai delapan tahun memang sejak awal tidak menyukai Rani. Direktur yang tiba-tiba ditunjuk itu tidak mengerti bisnis sama sekali, bahkan saat rapat tidak bisa menjelaskan PPT dengan jelas.Sekarang Sheila sudah pergi, mereka pun tidak perlu bertahan lagi. Surat pengunduran diri diajukan satu demi satu. Yang tidak mengundurkan diri karena keluarga pun mulai bekerja asal-asalan.Tidak ada yang memimpin rapat rutin, tidak ada yang mengejar proposal, progres proyek pun tidak ada yang menindaklanjuti.Saat Joko membuka pintu dan masuk ke kantor Adam, dia sedang berdiri di dekat jendela dengan pusing.Setelah mendengar laporan, dia mengerutkan kening dan bertanya kepada Joko, "Soal pengunduran diri Sheila, kenapa nggak minta persetujuan dariku?"Joko adalah karyawan lama di perusahaan. Dulu saat Sheila masuk, dia yang mewawancarainya. Dia juga yang membimbingnya

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 6

    Sudut pandang orang ketiga:Keesokan harinya, Adam pergi ke perusahaan, tetapi tidak melihat Sheila.Selama sepuluh tahun, Sheila tidak pernah terlambat atau mengambil cuti.Dia mengirim pesan kepada Sheila:[ Kenapa hari ini nggak masuk kerja? ]Dulu setiap pesannya selalu dibalas dalam hitungan detik, tetapi kali ini sampai siang pun tidak ada balasan.Adam mulai merasa gelisah sampai tidak bisa fokus bekerja.Hatinya terasa hampa, seolah-olah akan kehilangan sesuatu.Dia melihat kotak percakapan berkali-kali, tetapi Sheila tetap tidak membalas.Apa dia sakit? Di dalam hatinya, muncul sedikit kekhawatiran.Saat itu, Joko tiba-tiba mengirim pesan.[ Pak Adam, Bu Sheila sudah mengundurkan diri. Menurut Bapak, pekerjaannya paling cocok diberikan kepada siapa? ]'Mengundurkan diri?! Sheila mengundurkan diri?' Setelah ragu-ragu untuk beberapa lama, dia bersiap menelepon untuk bertanya.Pada saat itu, dia baru ingat kalau nomor telepon Sheila masih diblokir olehnya. Melihat ratusan panggil

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 5

    Saat mendapat kabar tentang Jacob, langit sudah benar-benar gelap. Aku mencari dari siang sampai malam, sementara Adam tidak memberi kabar lagi setelah mengirim pesan itu.Saat melihat Jacob, kakiku langsung lemas. Aku harus bersandar ke dinding agar bisa berdiri. Dia meringkuk ketakutan di sudut. Begitu melihatku, dia langsung berlari dan memelukku. Air matanya membasahi bajuku. "Mama!"Rasa bersalah dan penyesalan hampir menenggelamkanku. Aku memeluk Jacob erat-erat. Petugas pencarian di samping menghela napas pelan, tetapi justru membuatku sangat malu."Kalau hari ini nggak direbut dari tangan penculik, entah di mana anakmu berada sekarang."Mendengar itu, kepalaku berdengung, seluruh tubuhku gemetar. Tanganku pun bergetar saat memeriksa Jacob dari kepala sampai kaki."Kenapa nggak telepon Mama? Kamu tahu Mama khawatir sekali?"Dia menjawab sambil menangis, air matanya jatuh deras, "Aku ingin Papa yang jemput aku sekali saja .... Aku sudah telepon dia berkali-kali, tapi dia nggak an

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 4

    Ternyata Adam datang bukan demi Jacob, melainkan demi anaknya Rani.Jacob tidak tahu liku-liku sulitnya kehidupan orang dewasa, yang dia lihat hanya papanya datang. Matanya langsung berbinar, lalu melepaskan tanganku dan berlari ke arah papanya. "Papa, aku sudah menunggu Papa lama sekali. Kok Papa baru datang?"Jacob berlari dengan begitu cepat dan gembira, seperti seekor rusa kecil yang berlari di hutan. Namun, sebelum dia sempat mendekat, gadis kecil itu sudah berdiri di depan Adam."Kamu siapa? Ini papaku," kata gadis kecil itu dengan suara nyaring.Karena mendengar ucapan itu, semua orang tua dan anak-anak di sekitar menoleh ke arah kami secara serentak.Jacob juga membeku di tempat dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Dia mengangkat kepala dan menatap Adam dengan keras kepala, lalu berkata dengan suara bergetar, "Papa ... kamu kan papaku .... Iya, 'kan? Papa bicara dong ...."Dia mengulurkan tangannya dan hendak menarik Adam.Adam malah mundur setengah langkah, la

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 2

    Pada akhirnya, aku tetap menghadiri jamuan itu. Ini hanya sebuah jamuan penyambutan, tetapi acara yang disiapkan Adam untuk Rani ternyata lebih megah daripada acara pernikahan kami dulu. Bagaimanapun juga, yang duduk di bawah panggung pada hari pernikahan itu hanya keluarga terdekat dari kedua belah

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 1

    Manajer umum menatap surat pengunduran diriku dengan ekspresi penuh penyesalan. "Sheila, kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi? Soal promosi kali ini, aku masih bisa bantu memperjuangkannya ke Pak Adam ... posisi wakil direktur. Belum tentu nggak ada kemungkinan."Aku hanya menggelengk

  • Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku   Bab 3

    Rani menatap Adam dengan malu-malu, sedangkan Adam merapikan anak rambut di wajahnya dengan lembut."Hubungan Pak Adam dan Bu Rani benar-benar baik. Kapan kami bisa menghadiri pesta pernikahan kalian?"Para karyawan itu memang sangat pandai membaca situasinya. Mereka langsung memecah suasana yang ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status