Mentari dan Argan menikmati waktu bersama mereka di pantai. Cuaca cerah, matahari bersinar terik, saat yang tepat untuk menikmati indahnya pantai, hanya mereka berdua. Tidak banyak pengunjung di pantai berpasir putih berjarak dua jam perjalanan dari rumah Mentari. Lokasinya berada di dekat perkampungan kecil, namun tidak banyak yang datang berkunjung ke pantai ini, karena pantai ini belum dikomersilkan.
Argan mendapat rekomendasi dari Gempita. ‘Pantainya cantik, bersih juga. Terlebih lagi sepi. Jarang yang tahu pantai itu. Kalian bisa menikmati waktu romantis berdua. Jangan lupa bawa bekal, di sana tidak ada yang jualan. Beli aja nasi kuning, Mentari suka itu. Ga perlu yang mahal-mahal, Mentari ga pemilih kok.’
Argan mengikuti setiap saran yang dianjurkan Gempita. Kantong plastik yang dibawanya berisi dua nasi kuning yang terbungkus kertas makan, beberapa cemilan dan beberapa minuman kemasan yang dibelinya di minimarket dalam perjalanan ke rumah Mentari tadi. ‘Persiapan yang matang, semuanya ada.’ Batin Argan.
Mereka tiba menjelang siang. Angin yang bertiup membuat panasnya sengat matahari terasa sejuk di kulit. Argan mengajak Mentari duduk di atas pasir putih beratapkan langit.
Mentari memandang pasir putih yang terhampar di depannya dan segera mengikuti Argan yang terlebih dulu melangkah menuju ke tengah pasir putih yang membentang dari ujung timur ke barat, lalu duduk meregangkan kakinya.
Dengan pandangan agak bingung, Mentari melihat pasir di samping Argan duduk. Tak ada apapun di situ, hanya pasir. Tak ada sebatang kayu atau pelepah kelapa ataupun sabut kelapa tempat dia bisa duduk. Mentari memegang rok krem panjang berumbai yang dipakainya hari ini, berusaha terlihat manis dan feminin, namun tidak menyangka akan diajak ke pantai. Sebelum-sebelumnya ia diajak ke restoran, ke mall atau ke taman. Ini pertama kalinya Argan membawanya ke pantai, Mentari tidak menduganya sama sekali.
‘Tidak apalah aku duduk di pasir, lagipula pasirnya bersih, tidak akan mengotori rokku.’
Mentari pun duduk dengan posisi canggung, tidak tahu harus menekuk atau meluruskan kakinya, menjaga sesedikit mungkin roknya terkena pasir.
Belum 15 menit mereka berbincang, Mentari merasa panas kecil di lengan kirinya. Dia melihat ada bentolan merah kecil. Gatal. Ia mengusap bentolan itu dengan telunjuknya. Gatalnya reda. Beberapa detik setelahnya dia merasakan gatal lain di lengan kanan atasnya. Kali ini bentolan lebih besar. Kembali dia mengusapnya dengan telunjuk, tapi gatalnya tidak mereda. Ia menggaruk bentolan itu pelan, berusaha tetap terlihat feminim di depan Argan. Tapi, bentolan-bentolan lain bermunculan di kedua lengannya. Ia pun mulai menggaruk dengan pelan setiap bentolan itu.
Argan yang sedari tadi membahas betapa sulitnya ia lulus dari beberapa mata kuliah saking sibuknya dia di beberapa organisasi kampus, akhirnya melirik Mentari.
“Kenapa?” ia terus memperhatikan Mentari yang hanya tersenyum sambil terus menggaruk bentolan-bentolan di kedua lengannya. Argan melihatnya.
“Ya, ampun. Kamu terlalu manis, makanya digigitin nyamuk.”
Mentari tidak tahu harus tertawa dengan lelucon pujian itu atau harus kesal.
“Kita pindah aja.” Argan melirik sekitarnya. Beberapa meter di belakang, banyak pohon kelapa. “Ayo, ke sana.” Ajaknya ke bawah pepohonan kelapa.
Entah nyamuk-nyamuk itu mengikuti mereka atau ada nyamuk-nyamuk lain di bawah pepohonan, karena bentolan-bentolan baru mulai bermunculan di lengan bahkan di pipinya. Argan pun mulai diserang nyamuk.
“Kamu punya obat nyamuk gosok?” Mentari berharap Argan membawanya, karena Mentari selalu membawanya setiap kali dia ke pantai.
“Ga. Tenang, bentar lagi mereka pasti pergi, lagian mereka udah cukup makan.” tergelak dia menunjuk bentolan-bentolan di lengan dan pipi Mentari.
Bagi Mentari itu tidak lucu. Ia terus menggaruk dengan kedua tangannya.
Prediksi Argan salah, nyamuk-nyamuk itu belum cukup makan, mereka terus menggencarkan serangan.
“Ke mobil aja, yuk.”
Mentari merasa lega di dalam mobil. Meskipun masih terus menggaruk, rasa panasnya agak reda. Panas itu bukan hanya berasal dari bentolan-bentolan di tubuhnya, tapi juga teriknya matahari. Angin dari AC membuatnya merasa sejuk, kejengkelannya pun reda.
“Aku haus. Bisa kita cari minum?” Mentari masih agak sungkan dengan Argan, dia selalu berusaha bicara dengan kata-kata dan nada meminta, bukan memaksa.
“Oh, iya, aku lupa.” Argan merogoh kantong plastik di kursi belakangnya. “Aku bawa kok.” Ia mengeluarkan sebotol minuman bening. “Bukan hanya minuman, tapi makanan dan cemilan juga.” Ditunjukkannya semua yang masih tersimpan di dalam kantong plastik. “Persiapan aku oke, kan?”
Mentari tersenyum ragu. ‘Oke? Tidak ada obat nyamuk dan tikar?’ batinnya agak jengkel.
Argan membukakan penutup botol minuman, berharap Mentari terkesan dengan tindakannya itu. Bagi Mentari itu biasa saja, ia sering melakukannya untuk keponakan-keponakannya tanpa diminta. Mentari meneteskan sedikit di telapak tangannya dan mengusapkannya di setiap bentolan di tubuhnya.
“Hahaha... itu bukan minyak kayu putih. Ga bakalan reda gatalnya.” Argan terbahak melihat tingkah Mentari.
“Memang, tapi bisa membuatnya terasa sejuk.” Itulah yang dirasakannya setelah mengusapkan air itu. “Kalau ada air es lebih baik lagi.” Ucapnya pelan yang disambut Argan dengan, “Apa?”
Mentari hanya menggeleng dan berkata singkat, “Ga.”
Mereka makan nasi kuning di dalam mobil dengan pemandangan pantai lewat kaca depan mobil. Mentari tidak senang dengan itu, tapi tidak ingin merusak hari ini. Dia ingin menikmatinya.
Akhir-akhir ini Mentari merasa jauh lebih tenang dan bahagia. Ia tidak lagi memikirkan Bari. Argan terus merecokinya dengan pesan-pesan dan telepon-telepon masuk, sehingga Mentari hanya berkutat dengan hal itu dan kuliahnya. Ia merasa ini sudah saatnya bagi dia untuk move on. Sudah lebih dari sebulan ia mengenal Argan dan dia merasa nyaman bersamanya, meskipun ada beberapa sifat dan sikap Argan yang kadang membuatnya jengkel. Tak ada yang sempura, pikirnya.
Pantai masih sedang terik-teriknya ketika mereka meninggalkannya menuju sebuah kafe estetik yang sedang viral. Kafe itu bergaya Eropa yang dipenuhi taman-taman berbagai macam bunga, rumah-rumah kayu kecil bahkan danau buatan, di mana disewakan sepeda air. Mereka mengelilingi setiap spot yang dianggap menarik, mengambil beberapa foto dan akhirnya duduk di kafe yang lengang. Hujan kembali mengguyur, sebagian pengunjung telah pulang dikarenakan dinginnya udara di sana.
Argan merasa itu saat yang tepat. Setelah mencicipi beberapa menu di kafe itu, dia mengajak Mentari ke sebuah pondok kecil di bawah kafe. Hujan agak reda, mereka berlarian menuju pondok itu. Di kejauhan, tampak matahari memasuki peraduannya, sehingga warna jingga mendominasi langit di sekitarnya.
‘Sempurna.’ Batin Argan.
Tanpa ragu, Argan meraih tangan Mentari yang duduk berhadapan dengannya. Mentari terlonjak dan menatap Argan dengan mata membelalak. Mentari menarik tangannya, tapi Argan menggenggamnya erat.
“Mentari, kamu cantik banget hari ini.” Ucapnya menatap mata Mentari lembut.
Mentari memalingkan tatapannya. Jantungnya berdetak cepat, pipinya terasa terbakar. Sudah lama dia tidak mendengar pujian seperti itu.
Argan menggeser dagu Mentari dengan tangannya kembali menghadap Argan dan menahannya. Kegugupan semakin memenuhi Mentari, dia bisa mendengar degupan jantungnya berpacu.
“Mulai hari ini aku ingin kamu panggil aku Sayang.”
Mentari merasa melihat kelopak-kelopak merah muda bunga sakura berjatuhan di sekitarnya dan pria di depannya terlihat begitu tampan dan mempesona. Dia tahu saat ini akan tiba, tapi dia tidak mampu menghadapinya meskipun ia merasa bahagia.
“Kamu mau, kan?” suara Argan terdengar seperti suara malaikat yang membahana di telinganya, lembut namun tegas di saat yang sama dan begitu mempesona. Meskipun Mentari belum pernah mendengar suara malaikat sebelumnya, mungkin seperti ini?
Tidak ada suara yang terdengar dari mulut Mentari, hanya anggukan pelan dan kedipan lembut serta senyuman di bibir berlipstik merah mudanya.
Dunia Mentari kembali bersinar selama bersama Argan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di sore hingga malam hari setelah kuliah keduanya selesai. Dan akhir pekan adalah waktu bersama sepanjang hari.
“Nikah aja sekalian, seharian barengan terus.” Kakak Mentari sempat berkomentar sinis. Bukannya dia melarang Mentari pacaran, malahan dia senang karena Mentari tidak lagi mengurung diri di kamar atau bersedih memikirkan Bari. Hanya saja, sejak pacaran dengan Argan, Mentari jarang ada di rumah. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya keluar jalan bersama Argan.
“Aku tidak marah kamu jalan sama Argan. Tapi, bisa ‘kan kalian pacaran di rumah juga, aku, ibu dan yang lainnya ingin kenal Argan juga. Dulu Bari sering di sini. Dia malah suka ikut acara keluarga kita.”
Mentari tidak senang kakaknya membawa-bawa Bari. “Argan beda, dia tidak seperti itu.”
“Aku tidak peduli dia berbeda seperti apa, tapi sebagai keluarga, kami harus mengenalnya juga, jadi kami bisa menilai dia baik buat kamu atau ga. Jangan pakai pikiran sendiri. Ujung-ujungnya kamu nangis, siapa yang repot.” Dalam hati Mentari membenarkan ucapan kakaknya.
Selama ini Argan hanya sampai di pintu depan, tidak pernah masuk ke ruang tamu dan berbincang-bincang dengan keluarganya. Keluarganya berhak mengenalnya juga.
“Iya, besok-besok kalau dia ke sini, aku ajakin masuk.”
“Kenapa besok-besok? Nanti sore juga dia datang, ‘kan?”
Benar kata kakak Mentari, Argan akan datang menjemputnya nanti sore hendak ke acara ulang tahun teman Argan.
Sorenya Argan diajak bicara oleh dua kakak Mentari dan ibunya. Argan tidak merasa risih atau canggung, dengan mudah dia dapat berbaur. Kekuatiran Mentari lenyap. Seharusnya sejak sebelumnya dia memperkenalkan Argan kepada keluarganya.
Jalan masa depannya tampak lurus dan mulus di depan Mentari dengan persetujuan keluarganya.
Tiga hari berselang, Mentari menunggu Argan mengabarinya sepanjang hari. Namun, hingga malam tiba, Mentari tidak menerima pesan ataupun telepon pemberitahuan dari Argan. Mentari berharap agar Argan akan langsung mengantarkannya. Namun, harapannya sia-sia. Diapun menelepon Argan penuh kekuatiran. Tak ada respon.Sebenarnya Mentari hendak meminta bantuan Gempita, namun tidak yakin Gempita memiliki waktu untuk menolongnya. Beberapa minggu terakhir ini, dia tidak lagi berkomunikasi dengan sahabatnya itu.Tapi, malam ini dia mencoba mengirimkan pesan, ‘Hai, Gempita, bagaimana kabarmu?’Tak disangka, dia segera mendapatkan balasan.‘Kabarku baik, Tari. Apa kabarmu?’Tak ingin membuang kesempatan, Mentari pun menelepon Gempita. Setelah berbasa-basi, dia pun masuk ke intinya.“Aku perlu bantuan kamu.”“Tari, ada apa? Kamu membuatku kuatir, telah terjadi sesuatu?”Dengan singkat Mentari me
Hari ini Mentari berangkat kerja menggunakan motor online, karena tidak ada tindakan dari Argan untuk mengembalikan motornya. Dia telah mengirimkan pesan pengingat, namun seperti biasa, tidak mendapat respon dari Argan. Dia memutuskan untuk menjemputnya nanti sepulang kerja.Dengan ragu, Mentari membuka pintu pagar rumah Argan. Sepanjang malam, dia tidak tertidur nyenyak, terbayang semua kejadian sepanjang hari kemarin dan sepanjang dia tinggal di rumah mertuanya. Ada penyesalan terselip. Penyesalan karena telah berkata-kata dengan nada tinggi pada mertuanya dan penyesalan karena telah mengancam Argan. Namun ketika bayangan tamparan mama melintas, amarahnya menutupi penyesalan itu. Ini kali keduanya menerima tamparan dari keluarga itu. Apa salahnya?Tak terlihat motor Mentari terparkir di garasi atau di jalan masuk. Firasat buruk menghampiri Mentari. Dia meneguhkan hatinya, lalu mengetuk pintu depan. Pada ketukan ke dua kali, pintu terbuka. Dengan wajah kaget, Argan te
Pintu depan terbuka ketika Mentari tiba di rumah Argan. Dia menangkap suara Argan dan mama yang sedang bercakap-cakap. Saat Mentari menampakkan batang hidungnya di ruang tamu, mama segera menyerbunya persoalan kemarin. Dari sekian banyak ucapan mama, satu hal disimpulkan Mentari, bahwa mulai saat ini, Mentari hanya bisa keluar rumah untuk bekerja saja.Amarah Mentari semakin menumpuk, semua hal di sekitarnya seolah menyerangnya tak henti. Perihal kemarin, bukan kesalahannya, malah Argan dan mama yang seharusnya merasa bersalah karena menelantarkan dia dan Feliz hingga malam.Dengan tangan terkepal, Mentari berucap lembut berusaha tersenyum, “Maaf, Ma, saya tidak bisa.”Mama berdiri dan menunjuk Mentari dengan telunjuk kanannya, “Dasar wanita tidak tahu berterima kasih. Bukannya bersyukur telah menjadi anggota keluarga kami dan tinggal bebas di rumah ini, sekarang kamu malah membangkang. Kamu…”Aliran darah Mentari terasa tel
Tak diduga Mentari dapat terlelap semalam. Dia merasa cukup puas telah menebarkan sedikit aroma balas dendam pada keluarga Argan dengan mengirimkan pesan lalu mematikan ponselnya semalam.“Apakah pantas aku melakukan hal itu?” tanya Mentari sambil berbisik pada Cahya saat menyiapkan sarapan pagi ini.Sebelum menjawab, Cahya menoleh ke samping ke arah pintu. Aman, ibu tidak terlihat. “Tidak pantas,” jawabnya tegas.Mentari terlonjak, tidak menduga jawaban kakaknya.“Sepantasnya kamu segera mematikan ponselmu saat tiba di sini semalam. Biarkan mereka menduga-duga sendiri.”Mentari terkikik. “Sempat terpikir olehku, Ka, tapi aku kuatir nanti mereka akan mencariku ke minimarket dan ke tempat lainnya.”“Itu urusan mereka. Jika mereka akan kembali selarut itu, bukankah sudah seharusnya mereka memberitahukanmu? Atau setidaknya mengangkat telepon atau membalas pesanmu. Tidak perlu mencemaskan mer
Rumah tampak gelap, tidak ada penerangan satupun, bahkan lampu teras depan padam. Dan motor Mentari tidak terlihat. Ragu, Mentari membuka pintu pagar. dia tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam. Mobil yang mengantarkannya dan Feliz pulang, sudah berlalu.Dengan bantuan penerangan dari senter ponselnya yang hanya memiliki sedikit baterai, Mentari membimbing Feliz menaiki tangga depan. Dia mengetok pintu yang tertutup rapat, namun tidak ada jawaban. Dua kali lagi dicobanya, tetap tidak ada yang membukakan pintu baginya. Sudah diduganya bahwa semua orang belum kembali.Jari-jari Mentari mencari nama Argan di daftar pesannya, lalu mengirimkan pesan. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban meskipun telah bercentang dua. Ditungguinya lebih lama lagi, masih belum ada jawaban. Dia menjadi tidak sabaran. Menunggu sedetik terasa seperti sejam. Dia pun menekan tombol panggilan, tapi tidak mendapatkan respon setelah dua kali diulanginya.Dia memutuskan untuk me
Emosi Mentari berkecamuk. Dia senang akan bertemu sepupu-sepupunya hari ini, namun dia juga mencemaskan motornya. Memang terakhir kali Argan memakai motornya, tidak ada hal yang tidak diinginkan Mentari terjadi. Namun, bayangannya ketika Argan menyebabkan baret pada motornya beberapa waktu lalu, masih jelas terpampang di matanya. Argan bukan pria yang bertanggung jawab, begitulah pikir Mentari.“Bu, ayo!” ajak Feliz menarik dress panjang yang dikenakan Mentari. Satu kaki Feliz maju dengan kekuatan penuh, seolah dengan begitu dapat membuat Mentari bergerak.“Iya, Sayang, sebentar.” Mentari memastikan kembali semua perlengkapan yang diperlukannya sudah terisi dalam tas, lalu memeriksa layanan mobil online di ponselnya. Sebentar lagi tiba.“Ayo, Feliz!”Dengan riang Feliz keluar ke ruang tamu, namun segera terdiam saat melihat punggung neneknya yang telah berpakaian rapi lengkap dengan sanggul tinggi. Hal itu membuat Menta