Share

Bab 3: Pertemuan yang Melegakan

Penulis: path
last update Terakhir Diperbarui: 2024-04-05 21:47:16

“Gimana semalam?”

Kartu mahasiswa di tangan Mentari terjatuh ke ubin putih dekat sepasang sepatu kets hitam saat ia mendengar suara Gempita berbisik tepat di telinganya.

“Dasar kamu, nih. Untung aja bukan gelas yang kupegang.” ucapnyamelangkah hendak mengambil kartu mahasiswa yang terjatuh di lantai. Terdengar suara Gempita berujar, “Kalau gelas yang jatuh, kamu bakal menjadi OB(Office Boy) dadakan.”

Mentari mengulurkan tangannya hendak memungut kartu mahasiswanya, tapi didahului oleh pemilik sepatu kets hitam. Diulurkannya kartu mahasiswa itu pada Mentari tanpa berkata-kata.

“Terima kasih.” Ucap Mentari tulus sambil tersenyum dan kembali ke tempat Gempita berdiri.

“Siapa ‘tuh? Imut juga.” Mata Gempita membesar memperhatikan pria bersepatu kets hitam yang sekarang tengah berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di tangannya.

“Mau aku kenalin?” canda Mentari.

“Kamu juga ga kenal gimana mau kenalin?” ia kembali menatap Mentari. “Ke mana kalian semalam?” kali ini matanya dipicingkan, penasaran sekaligus usil.

“Makan terus pulang.”

“Gitu aja?” Gempita tidak percaya.

“Emangnya kamu pikir kita mau ke mana?”

“Yaaa, ke mana kek, ke tempat yang romantis gitu.”

“Mau romantisan di empang?”

“Kalau kecebur dan basah-basahan bisa jadi romantis lho.”

Mentari hanya tertawa mendengarnya.

“Aku senang kamu udah kembali ke Mentari yang dulu.” Ada kelegaan dan bahagia di wajah Gempita.

Mentari menatap Gempita dengan wajah tak berdosa, “Emang sebelumnya aku gimana?” tanyanya sembari melangkah meninggalkan loket antrian yang telah kosong.

“Kayak orang bego, terus sedih, terus diam, ga mau ngapa-ngapain kalau diajakin. Ga asyik diajak kulineran, makannya dikiiit.” Gempita menekan kata terakhir dan memperagakannya dengan jari telunjuk dan jempol.

“Sekarang?”

“Sekarang kamu udah ketawa lagi, udah bercanda lagi. Aku senang kamu yang gitu.” Dipeluknya Mentari.

Berbagai ocehan keluar dari mulut Gempita tentang betapa tidak menyenangkan sikap Mentari beberapa bulan terakhir setelah putus dari Bari.

“Semalam aku ketemu Bari.”

Berita itu membuat Gempita kaget. “Apa?” hanya itu yang terucap dari mulutnya. “Maksudku....”

“Kami bertemu di restoran saat hendak pulang.”

Cerita Mentari terus berlanjut tentang bagaimana ia terdiam tak sanggup bereaksi apapun ketika pertemuan yang tak terduga dengan Bari terjadi semalam. Mentari dan Argan sedang menuju ke mobil Argan ketika ia melihat Bari bersama seorang wanita baru keluar dari sebuah mobil. Mentari terdiam membeku di tempatnya memandangi sepasang pengantin baru itu. Bari yang awalnya tidak melihat Mentari, sedang bercakap-cakap dengan wanita itu, hingga akhirnya ia melihat Mentari dan ikut terdiam. Namun Bari lebih bisa mengontrol emosinya setelah terdiam sejenak, ia menyapa Mentari, “Hai, Mentari.”

Mentari tidak sanggup berkata-kata, ia berusaha tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya yang setengah terbuka. Setelah Bari dan wanita itu lebih dekat, Bari memperkenalkan wanita di sampingnya yang adalah istrinya.

Mentari tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Argan tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Mentari dan bertanya, “Temanmu?”

“He-eh.” Itu yang sanggup diucapkan Mentari.

“Kenalin, aku Argan, teman Mentari, teman dekat.” Nada tegas dan percaya diri di dalam suaranya membuat Bari terperangah. Ia tidak menduga Mentari sudah memiliki seseorang yang dekat dengannya setelah Bari.

Kecanggungan dalam suasana itu membuat perkenalan itu hanya berlangsung sebentar saja.

Pikiran Mentari tidak karuan, apalagi perasaannya. Tak ada satupun ucapan Argan yang didengarkannya lagi dalam perjalanan pulang. Argan mengerti. Gempita telah menceritakan kisah cinta Mentari dan Bari padanya sebelumnya.

”Untung aja ada Argan, kalau ga, kamu udah mati kutu di situ.” kata Gempita setelah Mentari selesai bercerita.

“Iya.” Senyumnya berat. “Semalam aku tidak bisa tidur memikirkan semua itu, tapi sekarang aku merasa lebih baik.”

Gempita menatap temannya iba dan sayang. Ia tahu bagaimana sakitnya Mentari melewati itu semua, Gempita adalah saksinya.

“Aku merasa seperti bebanku terangkat setelah melihat Bari dan ...” ada keheningan, “istrinya.” Mentari membasahi bibirnya dan melanjutkan, “Kalau mungkin aku hadir saat pernikahannya, sakit itu tidak akan terasa perih hingga selama ini, 6 bulan.” Ia tersenyum pahit.

“Mungkin waktu itu kamu belum siap, mungkin kamu memang butuh enam bulan untuk siap.”

Mentari memandang Gempita.

“Aku tahu, aku tahu.” Gempita mengibas-ngibaskan tangannya, “Aku memang bijak, kan?”

Suara tawa Mentari memenuhi ruang kelas yang masih kosong. Mereka telah tiba di ruang kelas besar untuk ikut mata kuliah umum.

“Entah di mana kamu mengutip kata-kata itu. Itu benar-benar bukan Gempita.” Tawanya masih berlanjut.

Dalam beberapa menit, ruang kelas mulai terisi, mereka pun berhenti berbicara dan bersiap mengikuti kuliah. Berharap bisa mendapatkan nilai bagus dengan duduk diam dan memperhatikan dosen di depan kelas sambil sesekali menahan kantuk.

Saat keluar dari ruangan, ponsel Mentari berbunyi pendek, ada pesan masuk, dari Argan.

Ayo jalan nanti malam. Aku jemput jam 6.

Gempita yang berjalan di belakang Mentari, mengintip dari balik bahu.

“Ooh... ada yang mau kencan nih. Cieee....”

Mentari terus diberondong ledekan-ledekan usil Gempita sepanjang jalan menuju kantin yang hanya dibalas dengan candaan oleh Mentari.

Ada perasaan hangat di dada Mentari memikirkan akan keluar dengan Argan malam ini. Malam ini akan menjadi kedua kalinya mereka keluar hanya berdua saja setelah beberapa kali sebelumnya mereka selalu keluar jalan bertiga bersama Gempita. Semalam mereka hanya keluar makan sebentar, karena Argan harus mengurus beberapa hal terkait keluarganya, jadi tidak banyak yang mereka bicarakan. Malam ini bisa menjadi malam mereka semakin mengenal. Mentari memiliki banyak pertanyaan di kepalanya untuk Argan. Dia telah menanyakannya pada Gempita, tapi temannya itu berdalih dengan, “Tanyakan langsung sama orangnya.” disertai senyum jahil di wajahnya.

Sesuai janjinya, Argan menjemput Mentari tepat jam 6. Sebenarnya, ia telah tiba sejak 15 menit sebelumnya, tapi dia pikir lebih baik menunggu dulu di mobil.

Mereka mengunjungi taman kota yang ramai dengan bermacam-macam orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk berjualan, ada juga yang sedang berfoto dengan berbagai pose di segala titik yang dianggap estetik, ada juga yang sedang tidur di bangku panjang, bahkan ada bermain kejar-kejaran di antara pohon dan bunga-bunga yang menyebabkan tangkai bunga patah di beberapa bagian.

Semua itu tidak mengalihkan fokus Argan dan Mentari. Keduanya asyik berbincang soal kampus maupun film. Malam terasa pendek bagi keduanya. Jam di ponsel Mentari sudah menunjukkan hampir jam sepuluh ketika ada telepon masuk, dari kakaknya.

“Kamu di mana?” suara di ponsel Mentari menggema hingga ke telinga Argan.

“Aku lagi keluar.” Mentari menjawab sekenanya.

“Tahu kamu lagi keluar, tapi di mana? Sudah mau jam sepuluh, kenapa belum pulang?” suara kakak Mentari semakin membahana.

“Memangnya ada apa?” pelan Mentari bertanya agar kakaknya lebih tenang.

“Kamu ga kenapa-napa ‘kan? Kamu udah lama ga keluar sampai selarut ini.”

Tersenyum Mentari menjawab kakaknya yang terdengar kuatir, “Aku baik-baik aja, ini masih sama teman, yang tadi jemput di rumah. Bentar lagi pulang.”

Selama beberapa saat tidak terdengar apapun di seberang, kemudian, “Ya, sudah, jangan terlalu larut pulangnya.” Kakaknya sudah lebih tenang, “Dan hati-hati.” Tambahnya lalu menutup telepon.

“Wah, kakakmu pasti galak. Aku bisa dengar suaranya sampai sini. Untung aja tadi tidak ketemu.” Canda Argan bergidik lucu. “Ayo, pulang. Aku takut nanti dimarahi kakakmu kalau kita pulang lebih larut.”

Jam 10.20 Mentari telah berdiri di depan pintu rumahnya diantarkan Argan yang celingak-celinguk melirik ke bagian dalam rumah Mentari.

“Kenapa?” Mentari bingung.

“Mana kakakmu yang itu?”

“Yang galak tadi?”

“Iya.”

“Mau aku panggilin? Mau kenalan?”

“Eeh, ga deh, lain kali aja. Aku pamit ya.”

Senyum lebar tersungging di bibir Mentari mengiringi kepergian Argan, kali ini tanpa paksaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 143: Bantuan

    Tiga hari berselang, Mentari menunggu Argan mengabarinya sepanjang hari. Namun, hingga malam tiba, Mentari tidak menerima pesan ataupun telepon pemberitahuan dari Argan. Mentari berharap agar Argan akan langsung mengantarkannya. Namun, harapannya sia-sia. Diapun menelepon Argan penuh kekuatiran. Tak ada respon.Sebenarnya Mentari hendak meminta bantuan Gempita, namun tidak yakin Gempita memiliki waktu untuk menolongnya. Beberapa minggu terakhir ini, dia tidak lagi berkomunikasi dengan sahabatnya itu.Tapi, malam ini dia mencoba mengirimkan pesan, ‘Hai, Gempita, bagaimana kabarmu?’Tak disangka, dia segera mendapatkan balasan.‘Kabarku baik, Tari. Apa kabarmu?’Tak ingin membuang kesempatan, Mentari pun menelepon Gempita. Setelah berbasa-basi, dia pun masuk ke intinya.“Aku perlu bantuan kamu.”“Tari, ada apa? Kamu membuatku kuatir, telah terjadi sesuatu?”Dengan singkat Mentari me

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 142: Terulang Kembali

    Hari ini Mentari berangkat kerja menggunakan motor online, karena tidak ada tindakan dari Argan untuk mengembalikan motornya. Dia telah mengirimkan pesan pengingat, namun seperti biasa, tidak mendapat respon dari Argan. Dia memutuskan untuk menjemputnya nanti sepulang kerja.Dengan ragu, Mentari membuka pintu pagar rumah Argan. Sepanjang malam, dia tidak tertidur nyenyak, terbayang semua kejadian sepanjang hari kemarin dan sepanjang dia tinggal di rumah mertuanya. Ada penyesalan terselip. Penyesalan karena telah berkata-kata dengan nada tinggi pada mertuanya dan penyesalan karena telah mengancam Argan. Namun ketika bayangan tamparan mama melintas, amarahnya menutupi penyesalan itu. Ini kali keduanya menerima tamparan dari keluarga itu. Apa salahnya?Tak terlihat motor Mentari terparkir di garasi atau di jalan masuk. Firasat buruk menghampiri Mentari. Dia meneguhkan hatinya, lalu mengetuk pintu depan. Pada ketukan ke dua kali, pintu terbuka. Dengan wajah kaget, Argan te

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 142: Ungkapan Hati

    Pintu depan terbuka ketika Mentari tiba di rumah Argan. Dia menangkap suara Argan dan mama yang sedang bercakap-cakap. Saat Mentari menampakkan batang hidungnya di ruang tamu, mama segera menyerbunya persoalan kemarin. Dari sekian banyak ucapan mama, satu hal disimpulkan Mentari, bahwa mulai saat ini, Mentari hanya bisa keluar rumah untuk bekerja saja.Amarah Mentari semakin menumpuk, semua hal di sekitarnya seolah menyerangnya tak henti. Perihal kemarin, bukan kesalahannya, malah Argan dan mama yang seharusnya merasa bersalah karena menelantarkan dia dan Feliz hingga malam.Dengan tangan terkepal, Mentari berucap lembut berusaha tersenyum, “Maaf, Ma, saya tidak bisa.”Mama berdiri dan menunjuk Mentari dengan telunjuk kanannya, “Dasar wanita tidak tahu berterima kasih. Bukannya bersyukur telah menjadi anggota keluarga kami dan tinggal bebas di rumah ini, sekarang kamu malah membangkang. Kamu…”Aliran darah Mentari terasa tel

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 141: Surat

    Tak diduga Mentari dapat terlelap semalam. Dia merasa cukup puas telah menebarkan sedikit aroma balas dendam pada keluarga Argan dengan mengirimkan pesan lalu mematikan ponselnya semalam.“Apakah pantas aku melakukan hal itu?” tanya Mentari sambil berbisik pada Cahya saat menyiapkan sarapan pagi ini.Sebelum menjawab, Cahya menoleh ke samping ke arah pintu. Aman, ibu tidak terlihat. “Tidak pantas,” jawabnya tegas.Mentari terlonjak, tidak menduga jawaban kakaknya.“Sepantasnya kamu segera mematikan ponselmu saat tiba di sini semalam. Biarkan mereka menduga-duga sendiri.”Mentari terkikik. “Sempat terpikir olehku, Ka, tapi aku kuatir nanti mereka akan mencariku ke minimarket dan ke tempat lainnya.”“Itu urusan mereka. Jika mereka akan kembali selarut itu, bukankah sudah seharusnya mereka memberitahukanmu? Atau setidaknya mengangkat telepon atau membalas pesanmu. Tidak perlu mencemaskan mer

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 140: Pulang

    Rumah tampak gelap, tidak ada penerangan satupun, bahkan lampu teras depan padam. Dan motor Mentari tidak terlihat. Ragu, Mentari membuka pintu pagar. dia tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam. Mobil yang mengantarkannya dan Feliz pulang, sudah berlalu.Dengan bantuan penerangan dari senter ponselnya yang hanya memiliki sedikit baterai, Mentari membimbing Feliz menaiki tangga depan. Dia mengetok pintu yang tertutup rapat, namun tidak ada jawaban. Dua kali lagi dicobanya, tetap tidak ada yang membukakan pintu baginya. Sudah diduganya bahwa semua orang belum kembali.Jari-jari Mentari mencari nama Argan di daftar pesannya, lalu mengirimkan pesan. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban meskipun telah bercentang dua. Ditungguinya lebih lama lagi, masih belum ada jawaban. Dia menjadi tidak sabaran. Menunggu sedetik terasa seperti sejam. Dia pun menekan tombol panggilan, tapi tidak mendapatkan respon setelah dua kali diulanginya.Dia memutuskan untuk me

  • Pernikahan Tak Seindah Status di Media Sosial   Bab 139: Keluar

    Emosi Mentari berkecamuk. Dia senang akan bertemu sepupu-sepupunya hari ini, namun dia juga mencemaskan motornya. Memang terakhir kali Argan memakai motornya, tidak ada hal yang tidak diinginkan Mentari terjadi. Namun, bayangannya ketika Argan menyebabkan baret pada motornya beberapa waktu lalu, masih jelas terpampang di matanya. Argan bukan pria yang bertanggung jawab, begitulah pikir Mentari.“Bu, ayo!” ajak Feliz menarik dress panjang yang dikenakan Mentari. Satu kaki Feliz maju dengan kekuatan penuh, seolah dengan begitu dapat membuat Mentari bergerak.“Iya, Sayang, sebentar.” Mentari memastikan kembali semua perlengkapan yang diperlukannya sudah terisi dalam tas, lalu memeriksa layanan mobil online di ponselnya. Sebentar lagi tiba.“Ayo, Feliz!”Dengan riang Feliz keluar ke ruang tamu, namun segera terdiam saat melihat punggung neneknya yang telah berpakaian rapi lengkap dengan sanggul tinggi. Hal itu membuat Menta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status