Mag-log inRahayu berusaha menerima pernikahan kedua yang dibuat suaminya, dia bahkan rela pergi saat suami yang dia cintai mengusirnya. Namun, tak lama kemudian tersiar kabar buruk menimpa suami dan madunya. Suaminya lumpuh, madunya pergi entah kemana. Keluarga suaminya datang menghiba agar dia kembali, bahkan meminta dia sukarela mengasuh anak dari madunya. Bagaimana keputusan berat ini diambil Rahayu, mengingat tentang perlakuan buruk keluarga suaminya? Pembalasan apa yang harus Rahayu lakukan untuk mereka yang sudah merebut kebahagiaannya?
view morePerpustakaan sekolah adalah tempat terakhir yang akan dikunjungi Kenzi dalam keadaan normal. Aroma buku tua dan aturan "Dilarang Berisik" adalah alergi terbesarnya. Namun siang ini, dia nekat melangkahkan kaki ke sana.Di pojok rak buku referensi, dia menemukan Sunny sedang berjinjit, mencoba mengambil sebuah buku tebal di rak paling atas. Hijabnya sedikit tersingkap di bagian bahu saat dia berusaha menggapai buku itu.Tanpa suara, Kenzi melangkah ke belakang Sunny. Dengan tinggi badannya yang mencapai 180 cm, dia dengan mudah mengambil buku tersebut."Buku Sejarah Kebudayaan Indonesia? Berat lho ini, seberat rindu aku ke kamu yang baru lima menit nggak ketemu," bisik Kenzi tepat di belakang telinga Sunny.Sunny tersentak kecil, hampir saja menabrak dada Kenzi. Dia berbalik dan mendapati Kenzi sedang tersenyum lebar sambil menyodorkan buku itu."Kenzi! Kamu... ngikutin aku?" tanya Sunny dengan nada tidak percaya, tapi suaranya tetap terjaga rendah."Bukan ngikutin, cuma memastikan kal
Perpustakaan sekolah adalah tempat terakhir yang akan dikunjungi Kenzi dalam keadaan normal. Aroma buku tua dan aturan "Dilarang Berisik" adalah alergi terbesarnya. Namun siang ini, dia nekat melangkahkan kaki ke sana.Di pojok rak buku referensi, dia menemukan Sunny sedang berjinjit, mencoba mengambil sebuah buku tebal di rak paling atas. Hijabnya sedikit tersingkap di bagian bahu saat dia berusaha menggapai buku itu.Tanpa suara, Kenzi melangkah ke belakang Sunny. Dengan tinggi badannya yang mencapai 180 cm, dia dengan mudah mengambil buku tersebut."Buku Sejarah Kebudayaan Indonesia? Berat lho ini, seberat rindu aku ke kamu yang baru lima menit nggak ketemu," bisik Kenzi tepat di belakang telinga Sunny.Sunny tersentak kecil, hampir saja menabrak dada Kenzi. Dia berbalik dan mendapati Kenzi sedang tersenyum lebar sambil menyodorkan buku itu."Kenzi! Kamu... ngikutin aku?" tanya Sunny dengan nada tidak percaya, tapi suaranya tetap terjaga rendah."Bukan ngikutin, cuma memastikan kal
Pelajaran Sejarah yang dibawakan Bu Rini terasa berjalan ribuan tahun lebih lama bagi Kenzi. Biasanya, dia akan memilih untuk tidur di balik buku paket yang ditegakkan atau menggambar sketsa sepatu basket di buku tulisnya. Namun hari ini, fokusnya terbelah. Wangi parfum soft vanilla yang tipis dari arah Sunny terus menerus mengusik inderanya.Kenzi melirik dari sudut mata. Sunny tampak sangat serius. Jari-jemarinya yang lentik memegang pulpen, mencatat poin-poin penting dari penjelasan Bu Rini dengan rapi. Tidak ada gerakan gelisah, tidak ada upaya untuk mencari perhatian balik."Serius amat, Sun. Sejarah itu masa lalu, yang penting itu masa depan kita," bisik Kenzi lagi, tak kapok meski sudah diabaikan berkali-kali.Sunny menghentikan catatannya sejenak. Dia menoleh, menatap Kenzi dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan dan terhibur. "Kenzi, kalau kamu nggak mencatat, nanti pas ujian mau isi apa? Pakai gombalan?"Kenzi terkekeh pelan, nyaris tanpa suara agar tidak dipeluk
Hari demi hari dilewati Kenzi dengan bahagia. Dia juga semakin dikenal banyak anak anak di sekolah karena dianggap tampan dan pintar dalam olahraga. Meski minus dalam materi sekolah, dia cukup ahli dalam basket, seni musik dan juga beladiri. Bel sekolah berbunyi. Kenzi yang tadinya masih santai dengan rambut berantakan dan baju belum rapinya, langsung berlari dari warung langganannya di luar gerbang. Dia tahu, ibunya akan kecewa jika dia sampai kena tegur guru BP saat dianggap telat masuk kelas. Padahal di warung itu, kadang dia membantu pemilik warung. Bukan nongkrong seperti yang lain.“Bro, masuk!" ujar Jaka.“Oke, kita balapan lari. Siapa yang terlambat masuk kelas, dia yang traktir di kantin." “Okeh!" Jawab teman teman Kenzi kompak.Semuanya bersemangat berlari dan berlomba-lomba masuk kelas. Saat berlari, dia bertabrakan dengan salah satu siswa perempuan yang Kenzi baru mengenalnya. " Sory…,” ujarnya pelan, padahal Kenzi yang menabraknya karena buru buru." Oh nggak papa.”Ke












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu