LOGINKaterina terdiam cukup lama. Dirinya masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Bisa ia rasakan jantung berdebar cepat, tapi bukan karena sedang berbunga-bunga. Melainkan ia begitu terkejut.Meski sudah pernah mendengar Salsa yang berkata bahwa Matthias menyukainya dan beberapa kali kakaknya juga menggodanya, ia tetap merasa terkejut dengan pernyataan cinta yang dilakukan laki-laki itu.Pertemuan mereka ini bisa dihitung jari, pendekatanpun tidak pernah. Rasanya sulit dipercaya Matthias menyukainya. Apa selama ini ia saja yang tak peka?"Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa menjawabnya, Kate. Saya tidak akan memaksa kamu untuk segera melakukannya.""Maaf, Matt.""It's okay."Matthias lantas tersenyum. Senyum yang membuat Katerina merasa bersalah karena menggantung laki-laki itu. Namun ia juga tak mungkin langsung menerima atau menolak Matthias. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan.Tak berselang lama, mereka pun keluar dari restoran itu. Matthias mengantarkan Katerina kemba
Bayu melangkahkan kakinya mendekati Amanda yang sepertinya tak sadar dengan kehadirannya. Selama ini ia sudah cukup diam dan tak menghukum perempuan itu yang telah menipu dan mempermainkan hidupnya, tapi kali ini rencana Amanda sungguh membuatnya muak."Saya akan kirim uang mukanya setelah ini asal kamu benar-benar menjalankan tugas dari saya dan_"Bayu merebut ponsel itu dan membantingnya ke lantai, membuat Amanda terkejut. Perempuan itu lupa bahwa ada Bayu di rumah ini, karena laki-laki itu datang saat ia sedang keluar dengan teman-temannya dan baru pulang beberapa saat lalu."Mau kamu apakan anakku, Amanda? Hah?!!!"Bayu menatap tajam ke arah Amanda, rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam karena amarah. Amanda seketika merinding. Bertahun-tahun ia mengenal Bayu, tak pernah sekalipun melihat laki-laki itu menunjukkan amarahnya sebesar ini. Bahkan saat tahu Farel bukanlah anaknya, laki-laki itu marah tapi tak seperti sekarang.Refleks Amanda memundurkan langkahnya, namun Bayu ju
"Bi, tolong jaga Daniel sebentar, ya. Saya ada urusan keluar. Nggak akan lama kok."Katerina berpamitan pada ART di rumah kakaknya sebelum keluar untuk menghampiri mobil Matthias yang sudah terparkir di depan gerbang. Malam ini adalah malam ia dan laki-laki itu akan makan malam bersama. Semoga saja Daniel tidak terbangun dan mencarinya agar ia tak mengacaukan makan malam itu dan membuat Matthias kecewa."Maaf ya, kamu harus menunggu sedikit lama. Tadi Daniel sempat tidak mau turun dari gendongan."Katerina berbicara seraya masuk ke dalam mobil Matthias. Tadi Daniel memang sedikit rewel dan tidak mau diturunkan ke ranjang meski mata balita itu sudah terpejam."Tidak apa-apa. Saya justru berharap kalau Daniel bisa ikut makan malam dengan kita.""Mungkin lain kali, Matt." Balasnya sambil tersenyum.Setelah itu mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang tak pernah sepi. Matthias yang gugup karena hanya berdua dengan Katerina menjadi tak banyak berbicara dan memilih untuk memutar radio ya
Dua laki-laki itu saling berhadapan dan sama-sama terdiam seolah sedang berpikir tentang satu sama lain. Dalam pikiran Bayu laki-laki itu pasti bukan hanya sekedar kenalan Katerina. Sedangkan bagi Matthias, laki-laki di hadapannya tak perlu diragukan lagi merupakan ayah kandung Daniel, wajahnya begitu mirip dengan balita itu. Ia juga ingat saat mereka bertemu di Mall beberapa waktu lalu. Mereka masih sama-sama diam hingga akhirnya suara Katerina terdengar dari belakang Bayu. “Hey, Matt. Sini masuk. Aku nggak nyangka kamu datang ke sini.” Sapa perempuan itu dengan bahasa yang santai.Matthias pun tersenyum lalu sedikit membungkukkan badan ke arah Bayu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah melewati pria itu. Ia masih tak menyangka akan bertemu dengan mantan suami Katerina di sini. Sepertinya ia yang salah memilih waktu untuk berkunjung. “Kakakmu belum pulang dari honeymoon?” Tanya Matthias saat sudah duduk di sofa ruang tamu. “Belum, masih lima hari lagi katanya.” Di saat yang sama
Daniel masih menatap ke arah Katerina. Anaknya mungkin bingung kenapa Om yang ia lihat di Mall dan di sore hari itu sekarang berdiri dan mengaku sebagai ayahnya. Kemudian akhirnya ia menunduk, menatap mata jernih milik sang anak. “Mama, kalau Om itu Papanya Niel kenapa waktu itu nggak peluk Niel? Kenapa cuma diam?” Katerina menarik napas. Ia mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada anaknya. Ia tak mungkin berbicara jujur bahwa sebenarnya Bayu juga baru tahu tentang keberadaan Daniel sebagai anaknya. Kini melihat kebingungan di wajah Daniel membuatnya semakin merasa bersalah. “Waktu itu kan Papa lagi kerja, sayang. Jadi nggak bisa peluk Daniel.” Setelah itu, terdengar suara serak milik Bayu yang memanggil sang anak. Bisa Katerina lihat wajah laki-laki itu yang sudah basah karena air mata. “Daniel...” Bocah yang namanya dipanggil itu pun menoleh. Tatapannya masih dipenuhi kebingungan, namun perlahan kakinya melangkah semakin dekat ke arah Bayu."Ini Papa, Nak.
Di sebuah Cafe yang tak jauh dari rumahnya, Amanda duduk menunggu seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Elsa – saudara tiri Katerina. Perempuan itu pasti tahu tentang kabar saudara tirinya itu.Entah mengapa ia begitu penasaran dengan mantan istri Bayu, meski sebenarnya sudah tidak ada gunanya juga semua yang ia lakukan sekarang. Bayu tak mungkin lagi mau kembali padanya, tapi ia juga tak rela jika laki-laki itu kembali pada Katerina. “Sial. Kemana perempuan itu sampai tak datang-datang seperti ini?” Batinnya menggerutu karena Elsa tak datang-datang. Ia melirik jam tangannya, sudah lima belas menit berlalu dari waktu janjian mereka tapi Elsa belum terlihat batang hidungnya. Es batu dalam jus yang ia pesan bahkan sudah mulai mencair. Ia akhirnya mengambil ponsel yang ada di tasnya dan berniat menghubungi perempuan itu dan baru saja ia menekan tombol panggilan, perempuan yang ditunggunya akhirnya datang. “Lo dari mana sih? Janjian jam setengah satu, tapi ini udah mau jam satu







