MasukKaterina menghentikan langkahnya, begitu juga dengan ayahnya. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan pertemuan ini. Bisa Katerina lihat mata ayahnya yang berkaca-kaca. Mungkin laki-laki itu menyimpan rindu untuk anak perempuannya yang sudah lama tidak ia temui.Katerina memang tak menghubungi ayahnya sama sekali sejak menikah bahkan sampai ia pergi dari negara ini pun, tak pernah sekalipun ia mencoba melakukannya.Bisa dibilang ia yang menghindari komunikasi dengan laki-laki itu bahkan saat dia belum menikah, hanya berbicara seperlunya saat mereka berada dalam satu rumah.Setiap kali melihat wajah ayahnya, ia selalu teringat dengan tangis diam-diam mendiang ibunya. Dulu sering kali ia dapati sang ibu menangis setiap kali melihat atau mendengar ayahnya bermesraan dengan selingkuhannya.Sampai sekarang pun ia masih mengingat dengan jelas, saat sang ayah marah dan menampar ibunya hanya karena menolak perempuan itu tinggal satu rumah dengan mereka. Memangnya istri mana yang akan dengan l
Setelah melewati perjalanan kurang lebih dua puluh jam, akhirnya Katerina dan Daniel tiba di Indonesia. Lama tak melakukan perjalanan jauh membuatnya kelelahan dan mengantuk berbanding terbalik dengan anaknya yang masih sangat aktif."Daniel!!!"Suara itu membuat si pemilik nama menoleh dan langsung melepaskan genggaman tangan Katerina agar bisa berlari untuk memeluk sang paman - Andrea yang sudah merentangkan tangannya."Uncle Dre!!!" Teriak balita itu sebelum akhirnya jatuh ke pelukan Andrea."Gimana? Seru nggak naik pesawat?"Daniel mengangguk senang. Meski ini adalah pertama kalinya ia menaiki pesawat, tapi menurut bocah itu rasanya menyenangkan. Apalagi bisa melihat awan dari jarak dekat."Tapi Mama ngantuk, uncle." Cicitnya yang masih bisa didengar oleh Katerina.Seketika tawa Andrea menguar begitu saja, lalu beralih menatap ke arah sang adik. "Habis ini kamu istirahat aja. Aku mau ajak Daniel main kalau sudah sampai rumah."Katerina tersenyum kecil, "Makasih, Mas." Gumamnya pel
Amanda terpaku di tempatnya. Ia tak menyangka Bayu akan mengatakan perceraian. Ia tak bisa membiarkan itu terjadi. Selama ini dirinya dan keluarganya bisa hidup enak karena gaya hidup mereka ditopang oleh Bayu. Kalau ia dan laki-laki itu bercerai, maka tidak akan ada lagi yang menjadi mesin uangnya.Bagaimana ia akan menjalani hidup setelah menjanda? Ia sudah lama tidak bekerja, umurnya juga sudah tidak muda untuk bisa diterima kerja menurut standar negeri ini. Lalu bagaimana ia akan membiayai kebutuhan Farel?Maka dengan merendahkan dirinya ia bersimpuh di kaki Bayu, meminta maaf karena telah menipu laki-laki itu. Ia memohon agar tidak ada perceraian di antara mereka."Bayu, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud menipu kamu. Karena aku juga saat itu nggak tahu anak siapa yang sedang aku kandung. Dan.." Amanda menjeda ucapan di sela isakan tangisnya."...dan aku cuma ingat tidur dengan kamu..."Bayu geram mendengar ucapan Amanda. Perempuan itu bahkan masih bisa berbohong meski sudah ter
Bayu masih melamun di kursi tunggu yang berjejer di rumah sakit. Amplop berisi hasil tes DNA itu masih ia pegang. Rasa sesak di dadanya tak kunjung berhenti. Pikirannya melayang kembali pada masa tiga setengah tahun lalu.Betapa bodohnya ia terlena dengan kisah masa lalu yang belum usai dengan Amanda. Lalu terperdaya oleh perempuan itu yang mengaku hamil anaknya. Dan hal yang paling tidak ia lupakan adalah saat ia mengikuti saran Amanda untuk menawarkan perceraian pada Katerina.Saat itu ia pikir Katerina akan tetap bertahan dengannya karena perempuan itu tak punya apa-apa lagi ditambah ia tahu hubungan mantan istrinya dengan sang ayah tidaklah baik. Ia juga sangat yakin Katerina mencintainya, tak mungkin akan mau meninggalkannya.Namun semua pemikiran itu terpatahkan ketika Katerina mantap memilih untuk bercerai dengannya. Ia jelas masih ingat tatapan tak sudi yang perempuan itu beri padanya. Meski di akhir sidang perceraian mereka, Katerina masih mau bersalaman dengannya sebagai per
Katerina duduk dengan diapit oleh Daniel dan Matthias, di depannya ada Andrea dan Kaluna. Di meja mereka sudah tersaji spaghetti yang paling terkenal di hotel ini. Tidak ada menu lain, karena sebenarnya mereka semua sudah kenyang dan hanya Daniel yang lapar. Tapi jelas tidak mungkin mereka yang datang bersama-sama hanya memesan satu porsi spaghetti, malu dong. “Mama, mau es krim. Belum juga spaghetti itu di makan, Daniel sudah meminta hal lain. Tentu saja hal itu langsung ditolak oleh Katerina, tidak ada es krim di malam hari. Ia juga tahu jika anaknya sudah memakan es krim, maka malanan lain tidak akan bocah itu makan. “No, Daniel. Tadi Niel bilang lapar dan mau spagethi, jadi makan spaghettinya dulu jangan minta yang lain.” Anak itu cemberut, lalu beralih pada Andrea dan menatap laki-laki itu dengan tatapan memelas berharap sang paman akan menuruti permintaannya. Namun sebelum Andrea membuka mulutnya, laki-laki itu sudah mendapati tatapan tajam dari Katerina. Ia tak ingin anakny
Matthias menatap Katerina. Laki-laki itu awalnya terkejut, namun akhirnya tersenyum setelah tahu yang memanggilnya adalah perempuan itu.Matthias sebenarnya tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Katerina secepat ini. Laki-laki itu begitu senang, karena sebenarnya ia ingin mendekati perempuan itu dan berniat meminta kontaknya pada Salsa. Tapi takdir ternyata mempertemukan mereka di sini.Tak masalah, kan kalau dia mendekati perempuan itu? Kata Salsa, Katerina itu seorang single parent. Ia juga tak masalah jika harus menjadi ayah sambung Daniel."Oh, hi, Katerina. Saya tidak menyangka kita bertemu lagi di sini. Liburan?" Tanya Matthias mencoba berbasa-basi. Tak mungkin ia langsung meminta kontak Katerina, kan?"Ya bisa dibilang liburan. Kamu sendiri?""Ya, saya liburan. Memanfaatkan cuti untuk liburan sebelum kesibukan menyita waktu saya lagi."Katerina tertawa kecil dan menganggukkan kepala. Ia paham kehidupan orang dewasa memang seperti itu. Lebih banyak sibuknya daripada liburan."O







