Mag-log in“Mas, lepasin tangan aku.” Katerina berusaha melepas tangannya yang digandeng oleh Bayu.
“Memangnya kenapa? Salah saya gandeng istri sendiri?” Saat mengatakan itu, Bayu tak menoleh ke arah istrinya. ia hanya terus berjalan, menggenggam tangan istrinya lebih erat yang berusaha melepaskan diri.
“Kamu aneh tahu hari ini. Jadi banyak ngomong, ini lagi main gandeng-gandeng aja. Ada maunya ya kamu, Mas?”
Mendengar tuduhan istrinya, Bayu terkekeh “Bisa tidak kamu itu jangan berburuk sangka sama saya?”
Katerina hanya mendengus, ia akhirnya pasrah saja digandeng oleh Bayu. Bahkan sampai di hotel suaminya itu masih menggandeng tangannya. Tautan tangan itu terlepas ketika mereka sampai di kamar hotel dan Katerina memilih untuk mandi.
Akibat kelelahan karena satu hari bepergian, setelah mandi Katerina langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Matanya mengantuk, sudah tidak bisa ditahan lagi. Sedangkan Bayu yang baru saja selesai mandi, melihat istrinya sudah terlelap dan berkelana di alam mimpi akhirnya ikut merebahkan diri di samping istrinya.
Kali ini Katerina tidur mengadap sisi ranjang tempat Bayu tidur, mungkin karena kelelahan istrinya itu tidak memperhatikan posisi tidurnya yang biasa memunggungi Bayu.
Menatap wajah cantik Katerina, Bayu berpikir mungkin setelah ini ia harus mulai mempertimbangkan tentang rumah tangga mereka. Tak perlu lagi memikirkan hal yang tak pasti, mungkin ini saatnya ia harus bersyukur dengan apa yang ia miliki. Tak terasa ia pun ikut terlelap tidur menghadap Katerina. Dan untuk pertama kalinya, mereka kini tidur tidak saling memunggungi.
***
“Mmmhh...”
Katerina bergumam lirih, apakah ini sudah pagi? Rasanya nyaman sekali, aku malas bangun – batinnya bersuara. Namun saat ia akan terlelap kembali, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan memeluknya erat. Katerina langsung membuka matanya, dada bidang yang tercetak jelas di balik kaos tipis menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Tentu saja ia kaget dan langsung mendorong kuat-kuat dada itu dari hadapannya.
Berdecak kesal, Bayu akhirnya membuka mata “Kamu apa-apaan sih? Ini masih pagi, Katerina! Ganggu saya tidur aja!”
“Mas Bayu yang apa-apaan peluk-peluk aku?! Modus ya!”
“Padahal kamu yang tadi malam peluk saya duluan.” Jawab Bayu yang tak terima dituduh modus oleh istrinya. Tapi memang kenyataannya Katerina lah yangs semalam memeluk Bayu lebih dulu. Saat itu Bayu baru saja terlelap dan tanga Katerina tiba-tiba memeluknya erat.
“Nggak mungkin aku peluk mas duluan, ini pasti Mas ngarang kan?!”
“Ya sudah kalau kamu tidak percaya.” Bayu membalikkan badan memnunggungi Katerina dan melanjutkan tidurnya
Katerina masih tak percaya bahwa ia yang memeluk suaminya saat tidur semalam. Rasanya sungguh tidak mungkin,pasti suaminya yang mencuri-curi kesempatan. Kemarin saja Bayu menggandeng tangannya tiba-tiba, bisa saja semalam laki-laki itu yang memeluknya dan mungkin mala-malam selanjutnya akan ada yang lebih dari pelukan, membayangkannya saja Katerina sudah merinding.
Bangkit dari ranjang, Katerina langsung membersihkan diri. Selanjutnya ia menghubungi salah satu pegawai di butiknya, karena saat ini waktu pagi di Paris, maka di Indonesia sudah siang dan butiknya pasti sudah buka. Katerina ingin mengetahui keadaan usahanya itu setelah ditinggal beberapa hari, sekalian ia mengirim foto sketsa yang kemarin ia gambar, jaga-jaga jika kertas gambarnya hilang dan sktesanya belum sempat ia simpan di ponsel.
Perutnya berbunyi minta diisi membuat Katerina akhirnya memesan makanan melalui layanan hotel. Sambil menunggu makanannya datang, ia menggulir ponselnya menjelajahi sosial media tapi tak ada yang menarik di matanya. Lalu akhirnya ia mencari informasi tentang tempat atau festival yang bisa ia kunjungi di Paris.
Tak berselang lama akhirnya ia menemukan sebuah informasi tentang Salon du Chocolat atau dalam Bahasa Indonesia bernama festival coklat. Sebuah pertunjukkan yang diselenggarakan untuk para ahli pembuat coklat dari seluruh penjuru Eropa. Yang lebih membuat Katerina tertarik adalah adanya Chocolate Fashion Show di mana akan ada pakaian-pakaian rancangan designer yang terbuat dari coklat dan bisa dimakan. Festival itu ternyata akan diselenggarakan hari ini, untung saja ia tidak telat mengetahui informasi itu.
Akhirnya setelah meneyelesaikan sarapannya, Katerina mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi. Bayu yang baru saja bangun dari tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang melihat istrinya sudah rapi, tidak bisa menyembunyikan tanya “Kamu mau ke mana?”
Katerina yang sedang memakai lipstik menghentikannya sebentar, “Mau ke Festival Coklat. Mas Bayu mau ikut?”
Bayu menggelengkan kepala, “Tidak, saya ada pekerjaan.”
“Oke.” Katerina lalu memasukkan lipstik miliknya ke dalam tas “Kalau begitu aku pergi dulu ya, Mas.”
Bayu pun mengangguk, setelahnya Katerina pun keluar dari kamar hotel itu.
***
Festival itu sangat ramai pengunjung, orang-orang pecinta coklat dari penjuru Eropa bahkan mungkin dunia pasti datang ke sini. Katerina sungguh menikmati berbagai pertunjukkannya, meskipun ia datang sendirian tapi di sini ia beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang berasal dari Indonesia. Dari mulai kalangan mahasiswa, pekerja, atau orang-orang seperti dirinya yang sedang berlibur. Katerina bahkan tak sadar bahwa hari sudah sangat sore.
Di sisi lain Bayu yang telah selesai bekerja, kemudian mengistirahatkan diri dengan membaringkan tubuh di sofa. Mencoba menghilangkan kebosanan dengan menonton televisi yang ada di kamar hotelnya, tetapi pikirannya justru tertuju pada Katerina yang belum kembali dan tak memberinya kabar.
Perempuan itu memang suka sekali tak memberi kabar kalau bepergian – ucapnya dalam hati. Meskipun ada sedikit rasa khawatir, Bayu mencoba mengeyahkannya. Egonya yang tinggi tidak memberinya izin untuk sekedar mengirim pesan menanyakan keberadaan istrinya. Tapi...
Kemarin kan udah Lo duluan yang nyari, sekarang harusnya dia lah yang kirim kabar.
Tapi gimana pun juga dia istri Lo, meskipun Lo nggak cinta dia tetap tanggung jawab Lo.
Suara-suara yang saling bertolak belakang itu yang entah dari mana datangnya malah semakin membuatya pusing. Tapi akhirnya ia memilih untuk menghubungi istrinya.
Sedangkan Katerina yang masih asik melihat-lihat berbagai pertunjukkan para ahli coklat, tersentak kaget ketika ada yang menabraknya sampai membuat es krim coklat yang ia pegang jatuh.
“I’m so sorry.” Ucap perempuan yang menabrak Katerina.
Katerina mengangguk dan tersenyum ramah, “It’s okay.”
Ketika perempuan itu akan mengatakan sesuatu lagi, terdengar dering ponsel dari dalam tas Katerina. Segera Katerina mengangkat panggilan itu, dan menunduk berpamitan kepada perempuan yang menabraknya
“Hallo. Iya Mas, ini juga aku mau pulang.”
“Nggak usah, aku otw pulang ini.”
Tanpa Katerina ketahui, perempuan itu masih menatap ke arahnya.
Bayu bisa melihat keterkejutan di wajah Katerina. Ia tahu kedatangannya ini tiba-tiba, pasti mantan istrinya tak pernah menduga ia akan menemuinya. Matanya lalu melihat anak kecil yang berdiri di sebelah perempuan itu, lalu tubuhnya yang mungil berangsur mundur bersembunyi di balik tubuh Katerina saat matanya tak sengaja menatap mata kecilnya. Apakah anak itu takut padanya? Tapi sepertinya tidak, ia bisa melihat anak itu curi-curi pandang ke arahnya. Lucu sekali, siapa kira-kira namanya? “Kamu mau bicara apa?” Suara Katerina mengalihkan perhatiannya, membuatnya kembali mendongak menatap mata sang mantan istri. Untuk sesaat ia terpaku, tatapan mata perempuan itu tak lagi sama. Tidak lagi memancarkan luka seperti saat terakhir kali mereka bertemu di pengadilan tiga tahun lalu, kini tatapan itu datar. Mungkin sudah tak ada perasaan apa pun lagi untuknya di hati Katerina dan itu membuat hatinya terluka. Bukankah seharusnya Bayu tak merasakan itu? Ia yang dulu menghianati perempuan itu
Katerina masih diam di tempatnya. Saat ia mulai sadar dan berniat menghampiri Daniel, anak perempuan yang bernama Riri itu justru menghampirinya."Tante, ini cilok buat Tante." Ucapnya sambil menyodorkan satu bungkus cilok tanpa sambal dan kecap."Eh, terima kasih." Balas Katerina, menerima pemberian Riri."Pasti Tante temannya Ibu, ya? Jadi aku beliin cilok juga." Lanjut Riri dengan ceria, berbanding terbalik dengan keadaan orang tuanya yang tak akur.Katerina tersenyum ramah, lalu tak lama setelahnya anak itu berbicara dengan ayahnya. Laki-laki itu lalu berpamitan pada perempuan yang duduk di sampingnya dan hanya dibalas dengan anggukan dan senyum singkat. Katerina yakin itu juga terpaksa, karena ada anak di sekitar mereka."Maaf ya, Mbak tadi jadi dengerin masalah saya. Maaf kalau buat Mbak nggak nyaman." Ucap perempuan itu pada Katerina."Saya juga minta maaf, Mbak karena jadi tahu masalahnya. Saya nggak bermaksud menguping." Katerina juga sebenarnya merasa tak enak mendengarkan p
"Terima kasih, Matt. Mari mampir dulu ke rumah kakak saya."Katerina yang akan keluar dari mobil Matthias tak lupa menawari laki-laki itu untuk singgah sebentar di rumah Andrea. Namun sayangnya tawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Matthias."Terima kasih, Kate. Tapi mungkin lain kali saja, ya. Saya ada urusan dengan rekan-rekan pengajar."Ia pun tak memaksa dan hanya mengangguk membiarkan mobil Matthias berlalu dari depan rumah Andrea. Setelahnya ia masuk ke dalam sambil mengendong Daniel yang tidur terlelap.Membaringkan tubuh anaknya ke ranjang, Katerina tak buru-buru keluar dari kamar. Ia memandangi wajah sang anak yang sangat mirip dengan ayahnya. Tak heran jika tadi anaknya itu bertanya saat melihat Bayu, mungkin Daniel sadar dengan kemiripan mereka. Mungkinkah Bayu juga sadar akan hal itu?Jujur saja ia cemas, gelisah, dan takut jika Bayu mengetahui semuanya dan tak terima karena ia menyembunyikan anaknya selama ini. Mungkinkah laki-laki itu akan mengambil Daniel darinya?
Bayu terpaku di tempatnya. Tidak hanya pertemuannya dengan Katerina yang membuatnya terkejut, tapi juga karena anak kecil yang memanggil Katerina dengan sebutan 'Mama' sangat mirip dengannya. Apa sekarang ia sedang bermimpi?Mulutnya sudah terbuka, tapi lidahnya kelu, semua katanya seperti tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, debarannya sama seperti saat ia terbangun dari mimpinya waktu itu."Mama... Mama..."Suara itu kembali terdengar, membuat Bayu terus menatap anak itu. Ia ingat di depannya ini adalah anak yang sama seperti kemarin yang hampir tertabrak mobilnya.Saat ia kembali menatap Katerina, ia melihat mantan istrinya itu masih terdiam bahkan seolah tidak mendengar suara anak yang sedang memanggilnya sampai_"Katerina."Panggil seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri di belakang perempuan itu. Laki-laki itu juga menepuk pundak Katerina pelan hingga membuatnya menoleh.Bayu menyipitkan kedua matanya, bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki itu? Terlihat beg
Katerina kembali ke meja di mana Daniel, Matthias, Salsa dan Ben berada di sana. Tangannya membawa dua piring berisi makanan untuknya dan Daniel. Dari kejauhan ia bisa melihat anaknya sudah kembali ceria dan kini sedang bercanda dengan Salsa. Rasa lega menyelimuti hatinya.Tidak ada hal paling membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anaknya tersenyum bahagia."Niel, sini makan dulu. Mama ambilin ayam kecap."Daniel memang suka sekali dengan ayam kecap. Anak itu akan makan sangat lahap jika dengan lauk itu.Kini anaknya kembali berpindah ke pangkuan Katerina, makannya minta disuapi sang ibu meski Salsa sudah menawarkan diri untuk melakukannya."Kalian ambil makan saja dulu, biar kita makan sama-sama." Ucap Katerina pada Salsa, Ben, dan juga Matthias."Untuk Ben dan Matthias, semoga makanannya cocok di lidah kalian, ya." LanjutnyaMereka tertawa mendengar apa yang dikatakan Katerina. Memang benar lidah orang Indonesia dengan orang Eropa pasti berbeda. Terlebih di hampir semua maka
"Niel digendong sama Uncle aja, mau?" Andrea mengulurkan tangannya kepada Daniel yang masih berada di gendongan Katerina. Namun anak itu menggeleng, tidak mau lepas dari gendongan sang ibu. "Biar Papa saja yang berdiri di sebelah Elsa. Kamu ke sini, Nak." Ucapnya pada Katerina yang masih melirik tajam pada Elsa. Akhirnya tanpa berkata apa-apa, Katerina berpindah tempat dengan masih menggendong Daniel. Nanti setelah acara ini selesai, ia akan membuat perhitungan dengan Elsa. Apa sebenarnya masalah perempuan itu dengannya? Sesaat setelah mereka selesai berfoto bersama, Katerina langsung turun dari panggung pelaminan dan saat akan duduk untuk memangku Daniel, suara Salsa tiba-tiba terdengar. "Hallo, ponakan Onty." Daniel yang biasanya langsung menyambut sapaan itu dengan ceria, kali ini tidak. Wajahnya masih tertekuk di pundak Katerina. Hal itu tentu saja membuat Salsa, Ben, dan juga Matthias bingung. Mereka bertiga memang datang bersama ke pernikahan Andrea. "Kenapa?" Salsa berbisi







