Share

Pernikahan yang Aku Batalkan
Pernikahan yang Aku Batalkan
Author: Katerina

Bab 1

Author: Katerina
“Sidik jari tidak dikenali.”

Lampu merah kembali berkedip. Aku tempelkan ibu jariku pada pemindai kunci pintu itu sekali lagi. Nggak ada yang berubah. Sebulan lalu, Adrian Murwadi beli penthouse di Tribeca. Tempat itu seharusnya jadi rumah kita setelah pernikahan. Beberapa teman dekatnya sudah datang lebih awal untuk bantu siapkan pesta pindah rumah yang akan digelar besok malam. Namun, aku nggak bisa buka pintunya.

Lukas Hariadi tertawa di sampingku.

“Sudahlah, Claire. Nggak usah dicoba lagi. Sidik jari Mia sudah didaftarkan kemarin.”

Beberapa teman lama Adrian berdiri di lorong sambil pegang gelas minuman, dan semuanya perhatikan aku.

“Adrian bertaruh dengan kita,” kata Lukas. “Katanya, kamu pasti akan hilang kendali begitu tahu itu.”

Seseorang menimpali, “Tapi dia juga bilang akhirnya kamu sudah belajar kasih dia sedikit ruang. Kalau malam ini kamu nggak buat keributan, besok dia akan daftarkan sidik jarimu dan pernikahan kalian bakal tetap berjalan sesuai rencana.”

Aku menatap ke dalam melalui jendela yang terbuka. Adrian bersandar di meja bar sambil pegang segelas wiski, cukup dekat untuk dengar setiap kata. Namun, dia nggak lakukan apa pun untuk hentikan mereka.

Mia Denina berdiri nggak jauh darinya, kenakan salah satu kemeja cadangan yang tersimpan di lemari penthouse. Begitu sadar aku sedang menatapnya, dia tersenyum.

“Aku tumpahkan anggur ke blusku waktu kita sedang siapkan semuanya. Adrian suruh aku cari pakaian bersih untuk dipakai.”

Tiga hari yang lalu, aku pasti sudah bertengkar dengan dia. Namun, sekarang aku hanya tarik tanganku dari pemindai kunci itu.

“Nggak perlu repot.”

Akhirnya, Adrian jalan hampiri aku.

“Nggak perlu repot apanya?”

“Daftarkan sidik jariku.”

Aku sampirkan tas ke bahuku.

“Kalian bisa lanjutkan semuanya.”

Lukas menyeringai. “Kamu sudah mau pergi? Kalau kamu pergi tanpa buat keributan, Adrian menang.”

Aku berhenti melangkah.

“Sebenarnya, kalian bertaruh tentang apa?”

“Aku bilang kamu akan meledak begitu tahu Mia sudah punya akses ke tempat ini sebelum kamu. Adrian bilang kamu nggak akan lakukan itu. Menurutnya, akhirnya kamu sudah belajar.”

Jadi, itu alasan semua orang perhatikan aku. Mereka sedang tunggu reaksiku. Aku menatap Adrian. Wajahnya tampak begitu tenang, seolah jadikan hubungan kita sebagai hiburan untuk teman-temannya, bukanlah masalah besar.

“Kalau gitu, selamat.”

Aku jalan menuju lift. Adrian susul dan cengkeram pergelangan tanganku.

“Claire, kamu ngapain?”

“Pergi.”

“Aku sudah bilang besok aku akan daftarkan sidik jarimu.” Suaranya merendah. “Semua orang ada di sini malam ini. Jangan buat aku kejar kamu hanya karena kamu mau cari perhatian.”

Aku tarik pergelangan tanganku hingga terlepas dari genggamannya.

“Nggak perlu.”

Ekspresinya mengeras.

“Kalau kamu masuk ke lift itu, jangan mulai lagi pakai pernikahan kita untuk ancam aku.”

Dia tahu persis bagian mana yang harus ditekan.

“Selama bertahun-tahun kamu ingin menikah dengan aku.”

Dulu, kalimat itu selalu berhasil. Lima tahun lalu, sebelum Adrian jadi kepala mafia Keluarga Murwadi, kita tinggal bersama di sebuah apartemen sempit.

Pada suatu malam musim dingin di Pulau Caiti, dia habiskan 32 ribu untuk menangkan aku sebuah boneka beruang cokelat murahan, selipkan tanganku yang membeku ke dalam mantelnya, lalu janji kalau suatu hari nanti dia akan kasih aku sebuah rumah yang nggak akan bisa direbut siapa pun. Aku percaya dengan dia. Sekarang, rumah itu ada di belakangku. Dan Mia sudah punya akses ke sana sebelum aku.

Aku menatap mata Adrian.

“Oke.”

Keningnya berkerut. “Apa?”

“Kita nggak akan nikah.”

Pintu lift mulai menutup. Lukas melangkah maju.

“Adrian, apa kita harus ….”

“Biarkan dia pergi.”

Adrian tertawa dingin.

“Memangnya dia mau pergi ke mana? Sebelum tengah malam, dia pasti akan telepon aku.”

Pintu lift tertutup. Aku nggak noleh ke belakang. Ketika akhirnya aku kembali ke apartemen yang telah kita tinggali selama lima tahun, tempat itu sudah gelap. Aku ambil sebuah kantong sampah hitam dan mulai bereskan kamar. Sepasang cangkir kopi, foto-foto yang dibingkai, suvenir dari perjalanan kita. Satu demi satu, semuanya masuk ke dalam kantong itu. HP-ku menyala.

[Claire, sudah cukup.]

Pesan berikutnya menyusul.

[Malam ini aku sudah kasih kamu jalan keluar. Jangan terus pancing aku sampai kesabaranku habis.]

Aku baca kedua pesan itu, lalu hapus nomor Adrian tanpa balas dia. Selama berbulan-bulan, Adrian telah ajari aku kalau cintai dia berarti telan setiap luka, ragukan naluriku sendiri, dan tetap diam setiap kali dia lewati batas.

Akhirnya aku ngerti bahwa seberapa besar pun cintanya ke aku, dia lebih inginkan kepatuhanku daripada kebahagiaanku. Karena itu, aku pilih pergi sebelum nggak ada lagi yang tersisa dari diriku, selain wanita yang telah dia bentuk untuk jadi sesuai keinginannya. Aku sudah berhenti melawan karena aku sudah lelah tunggu dia berubah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 10

    Cuaca di Somala begitu indah pada hari pernikahan kita. Upacara pernikahan digelar di teras lantai paling atas sebuah hotel yang menghadap ke teluk. Bunga-bunga putih berjajar di sepanjang lorong, sementara angin yang berembus dari arah laut angkat ujung kerudung pengantinku.Ibuku jalan bersamaku menuju pintu masuk. Justin sudah tunggu aku di ujung sana. Sejak pertama kali lihat aku muncul, dia nggak pernah alihkan pandangannya. Begitu aku sampai di hadapannya, dia genggam tanganku. Telapak tangannya hangat. Justin ucapkan janji pernikahannya dengan sederhana.“Claire, aku nggak akan pernah buat kamu menebak-nebak seperti apa posisimu di sisiku.”“Kalau kamu merasa nggak yakin, tanya saja ke aku. Kalau aku sakitin kamu, kasih tahu aku.”Jemarinya genggam tanganku sedikit lebih erat.“Kamu nggak perlu buktikan kalau dirimu layak dicintai dengan lihat seberapa banyak kamu mampu bertahan.”Untuk sesaat, seluruh teras jadi sunyi. Mataku terasa panas. Adrian telah habiskan bertahun-tahun u

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 9

    Enam bulan berikutnya berlalu. Seminggu sebelum pernikahan, aku ada di studio desainer untuk lakukan pengepasan terakhir gaunku. Sang desainer sedang rapikan lapisan terakhir kerudung pengantinku ketika HP-ku berdering.Lukas.Aku menatap nama itu selama beberapa detik sebelum akhirnya angkat telepon.“Claire.”Suaranya terdengar tegang.“Adrian tahu kamu akan nikah.”Aku menatap bayanganku di cermin.“Oh.”Lukas jelas nggak nyangka itu akan jadi satu-satunya reaksiku.“Tadi malam ada orang yang kasih kabar tentang kamu dan Justin. Adrian lihat itu dan benar-benar hilang kendali.”Jadi, begitu caranya dia tahu.Keluarga Justin telah umumkan pernikahan kita beberapa hari sebelumnya. Kabar itu dengan cepat dimuat oleh salah satu kolom sosialita Somala dan beberapa akun yang bergerak di industri desain.Lukas lanjutkan, “Dia kembali ke penthouse Tribeca dan hancurkan separuh ruang tamu. Hampir semua barang yang dulu Mia pilih, sudah dia hancurkan.”“Sekarang dia duduk di dekat pintu depan

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 8

    Tiga bulan kemudian, hujan deras mengguyur Somala. Konferensi desain baru saja berakhir, dan aku sedang tinggalkan hotel bersama beberapa rekan kerja ketika seorang pria tiba-tiba menerobos hujan dan jalan ke arahku. Petugas keamanan hentikan dia sebelum dia mencapai anak tangga.Aku hentikan langkahku. Itu Adrian. Mantel hitamnya basah kuyup, rambut gelapnya menempel di dahinya. Dia sama sekali nggak terlihat seperti ketua mafia Keluarga Murwadi yang aku ingat, pria yang selalu tenang dan selalu pegang kendali.“Claire.” Suaranya serak.Aku nggak gerak. Adrian menatapku lama. Lalu dia lepaskan diri dari petugas keamanan dan hilangkan sisa jarak di antara kita. Detik berikutnya, dia berlutut. Semua orang di sekitar kita terdiam.“Aku salah.”Air hujan mengalir basahi wajahnya.“Mia sudah nggak kerja untuk Keluarga Murwadi lagi. Apa pun yang telah dia lakukan, para pengacara sedang urus itu.”“Aku juga sudah ganti kunci penthouse di Tribeca.”Matanya sudah memerah ketika dia mendongak m

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 7

    Beberapa minggu kemudian, kepala bagian keuangan Grup Murwadi bergegas masuk ke kantor Adrian.“Ada masalah dengan salah satu rekening operasional.”Adrian angkat pandangannya.“Berapa jumlahnya?”“Sekitar 28.8 miliar.”Uang itu telah disisihkan untuk pembayaran tahap berikutnya ke para kontraktor dan pemasok dalam salah satu proyek hotel mereka.“Ke mana uang itu pergi?”Ekspresi pria itu jadi tegang.“Tadi malam Mia yang lakukan transfer itu dengan gunakan akses administratifnya. Saat bank menandainya sebagai transaksi mencurigakan, uangnya sudah terpecah dan dikirim ke beberapa rekening di luar perusahaan.”Adrian ambil HP-nya dan telepon Mia. Langsung masuk ke pesan suara. Dia kirim beberapa orang ke apartemen Mia. Tempat itu sudah dikosongkan. Pakaian, dokumen, koper. Semuanya telah lenyap.Adrian menatap catatan transaksi bank yang tergeletak di atas mejanya, dan ekspresinya berubah dingin.Selama ini dia tahu Mia nikmati gaya hidup yang datang karena kedekatannya dengan Keluarga

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 6

    Somala, jam delapan pagi.Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca setinggi langit-langit di ruang konferensi ketika aku mengeklik halaman terakhir presentasiku.“Itu keseluruhan revisiku untuk area publik hotel.”“Makasih.”Ruangan itu hening selama dua detik sebelum tepuk tangan terdengar. Pria yang duduk di ujung meja menutup berkas di hadapannya.Justin Handoko. Pendiri sekaligus direktur desain firma arsitektur internasional itu, dan pria yang secara pribadi rekrut aku dari Nevala.“Bagus sekali.”Perhatiannya kembali tertuju pada layar.“Terutama sirkulasi di area lobi. Kamu berhasil tingkatkan daya tarik visualnya tanpa korbankan pergerakan orang-orang yang benar-benar gunakan ruang itu.”Aku letakkan remote presentasi.“Makasih.”Justin serahkan berkas itu ke manajer proyek yang duduk di sebelahnya.“Kita akan gunakan versi Claire.”Nggak seorang pun pertanyakan aku hanya karena aku masih baru. Nggak ada yang ambil hasil kerjaku, poles itu, lalu cantumkan nama o

  • Pernikahan yang Aku Batalkan   Bab 5

    Adrian menolak untuk percayai itu. Aku telah cintai dia selama lima tahun. Dulu, jika dia pulang terlambat satu jam saja, aku akan tanya dia di mana. Terkadang, ketika Adrian sengaja abaikan pesan-pesanku, aku akan tetap terjaga hingga tengah malam tungguin dia.Gimana mungkin orang seperti aku bisa pergi begitu saja tanpa tinggalkan apa pun? Dia segera suruh anak buahnya cari tahu ke mana aku pergi. Hampir satu jam kemudian, mereka berhasil pastikan kalau sore itu aku telah tinggalkan Nevala melalui bandara JAK.Kurang dari satu jam setelahnya, anak buahnya pastikan kalau sore itu aku telah naik pesawat menuju Somala. Empat kardus dari apartemen juga telah dikirim ke sana. Aku nggak pergi selama beberapa hari hanya untuk tenangkan diri. Aku benar-benar pindah.Adrian langsung setir mobil menuju firma arsitektur dan desain tempatku dulu bekerja. Saat itu hampir jam sepuluh malam, dan hanya beberapa orang yang masih ada di kantor. Salah satu partner di firma itu kenal Adrian dan tampak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status