Short
Pernikahan yang Aku Batalkan

Pernikahan yang Aku Batalkan

By:  KaterinaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pertama kali aku temukan Adrian Murwadi dan asisten pribadinya, Mia Denina, saling kirim pesan selamat malam setelah lewat tengah malam, kita bertengkar hebat. Setelah itu, ketika aku minta dia jaga jarak dengan Mia, dia justru sengaja semakin mendekat ke wanita itu, bertekad buat aku berhenti bersikap terlalu sensitif. Adrian ajak Mia belanja furnitur untuk rumah yang kelak akan kita tempati, biarkan Mia duduk di sampingnya di dalam mobil, dan ketika aku sakit demam, dia tinggalkan aku sendirian sementara dirinya bawa Mia ke kediaman Keluarga Murwadi. Setiap kali aku bilang kalau sesuatu telah sakiti aku, Adrian selalu dorong batas itu sedikit lebih jauh. Pada akhirnya, aku berhenti tanya. Adrian kira akhirnya dia menang. Di pesta pindah rumah untuk penthouse baru kita di Tribeca, aku tempelkan jariku pada pemindai kunci pintu. [Sidik jari tidak dikenali.] Teman-temannya tertawa. “Sudahlah, Claire. Nggak usah dicoba lagi. Sidik jari Mia sudah didaftarkan beberapa hari lalu.” Lalu salah satu dari mereka menyeringai. “Adrian bertaruh kamu nggak akan buat keributan. Katanya, kalau kamu bisa hadapi ini, berarti akhirnya kamu siap jadi Nyonya Murwadi.” Semua orang tunggu sampai aku meledak. Aku menatap lampu merah itu dan sadar kalau Adrian benar-benar telah dapatkan apa yang dia inginkan. Aku sudah nggak peduli lagi. “Kalau gitu, nggak usah daftarkan sidik jariku.” Aku berbalik menuju lift. “Batalkan pernikahannya juga.” Lagian, aku memang akan pergi. Nggak ada gunanya lagi lanjutkan pernikahan itu.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Sidik jari tidak dikenali.”

Lampu merah kembali berkedip. Aku tempelkan ibu jariku pada pemindai kunci pintu itu sekali lagi. Nggak ada yang berubah. Sebulan lalu, Adrian Murwadi beli penthouse di Tribeca. Tempat itu seharusnya jadi rumah kita setelah pernikahan. Beberapa teman dekatnya sudah datang lebih awal untuk bantu siapkan pesta pindah rumah yang akan digelar besok malam. Namun, aku nggak bisa buka pintunya.

Lukas Hariadi tertawa di sampingku.

“Sudahlah, Claire. Nggak usah dicoba lagi. Sidik jari Mia sudah didaftarkan kemarin.”

Beberapa teman lama Adrian berdiri di lorong sambil pegang gelas minuman, dan semuanya perhatikan aku.

“Adrian bertaruh dengan kita,” kata Lukas. “Katanya, kamu pasti akan hilang kendali begitu tahu itu.”

Seseorang menimpali, “Tapi dia juga bilang akhirnya kamu sudah belajar kasih dia sedikit ruang. Kalau malam ini kamu nggak buat keributan, besok dia akan daftarkan sidik jarimu dan pernikahan kalian bakal tetap berjalan sesuai rencana.”

Aku menatap ke dalam melalui jendela yang terbuka. Adrian bersandar di meja bar sambil pegang segelas wiski, cukup dekat untuk dengar setiap kata. Namun, dia nggak lakukan apa pun untuk hentikan mereka.

Mia Denina berdiri nggak jauh darinya, kenakan salah satu kemeja cadangan yang tersimpan di lemari penthouse. Begitu sadar aku sedang menatapnya, dia tersenyum.

“Aku tumpahkan anggur ke blusku waktu kita sedang siapkan semuanya. Adrian suruh aku cari pakaian bersih untuk dipakai.”

Tiga hari yang lalu, aku pasti sudah bertengkar dengan dia. Namun, sekarang aku hanya tarik tanganku dari pemindai kunci itu.

“Nggak perlu repot.”

Akhirnya, Adrian jalan hampiri aku.

“Nggak perlu repot apanya?”

“Daftarkan sidik jariku.”

Aku sampirkan tas ke bahuku.

“Kalian bisa lanjutkan semuanya.”

Lukas menyeringai. “Kamu sudah mau pergi? Kalau kamu pergi tanpa buat keributan, Adrian menang.”

Aku berhenti melangkah.

“Sebenarnya, kalian bertaruh tentang apa?”

“Aku bilang kamu akan meledak begitu tahu Mia sudah punya akses ke tempat ini sebelum kamu. Adrian bilang kamu nggak akan lakukan itu. Menurutnya, akhirnya kamu sudah belajar.”

Jadi, itu alasan semua orang perhatikan aku. Mereka sedang tunggu reaksiku. Aku menatap Adrian. Wajahnya tampak begitu tenang, seolah jadikan hubungan kita sebagai hiburan untuk teman-temannya, bukanlah masalah besar.

“Kalau gitu, selamat.”

Aku jalan menuju lift. Adrian susul dan cengkeram pergelangan tanganku.

“Claire, kamu ngapain?”

“Pergi.”

“Aku sudah bilang besok aku akan daftarkan sidik jarimu.” Suaranya merendah. “Semua orang ada di sini malam ini. Jangan buat aku kejar kamu hanya karena kamu mau cari perhatian.”

Aku tarik pergelangan tanganku hingga terlepas dari genggamannya.

“Nggak perlu.”

Ekspresinya mengeras.

“Kalau kamu masuk ke lift itu, jangan mulai lagi pakai pernikahan kita untuk ancam aku.”

Dia tahu persis bagian mana yang harus ditekan.

“Selama bertahun-tahun kamu ingin menikah dengan aku.”

Dulu, kalimat itu selalu berhasil. Lima tahun lalu, sebelum Adrian jadi kepala mafia Keluarga Murwadi, kita tinggal bersama di sebuah apartemen sempit.

Pada suatu malam musim dingin di Pulau Caiti, dia habiskan 32 ribu untuk menangkan aku sebuah boneka beruang cokelat murahan, selipkan tanganku yang membeku ke dalam mantelnya, lalu janji kalau suatu hari nanti dia akan kasih aku sebuah rumah yang nggak akan bisa direbut siapa pun. Aku percaya dengan dia. Sekarang, rumah itu ada di belakangku. Dan Mia sudah punya akses ke sana sebelum aku.

Aku menatap mata Adrian.

“Oke.”

Keningnya berkerut. “Apa?”

“Kita nggak akan nikah.”

Pintu lift mulai menutup. Lukas melangkah maju.

“Adrian, apa kita harus ….”

“Biarkan dia pergi.”

Adrian tertawa dingin.

“Memangnya dia mau pergi ke mana? Sebelum tengah malam, dia pasti akan telepon aku.”

Pintu lift tertutup. Aku nggak noleh ke belakang. Ketika akhirnya aku kembali ke apartemen yang telah kita tinggali selama lima tahun, tempat itu sudah gelap. Aku ambil sebuah kantong sampah hitam dan mulai bereskan kamar. Sepasang cangkir kopi, foto-foto yang dibingkai, suvenir dari perjalanan kita. Satu demi satu, semuanya masuk ke dalam kantong itu. HP-ku menyala.

[Claire, sudah cukup.]

Pesan berikutnya menyusul.

[Malam ini aku sudah kasih kamu jalan keluar. Jangan terus pancing aku sampai kesabaranku habis.]

Aku baca kedua pesan itu, lalu hapus nomor Adrian tanpa balas dia. Selama berbulan-bulan, Adrian telah ajari aku kalau cintai dia berarti telan setiap luka, ragukan naluriku sendiri, dan tetap diam setiap kali dia lewati batas.

Akhirnya aku ngerti bahwa seberapa besar pun cintanya ke aku, dia lebih inginkan kepatuhanku daripada kebahagiaanku. Karena itu, aku pilih pergi sebelum nggak ada lagi yang tersisa dari diriku, selain wanita yang telah dia bentuk untuk jadi sesuai keinginannya. Aku sudah berhenti melawan karena aku sudah lelah tunggu dia berubah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status