Compartilhar

Bab 4

Autor: Tutut
Saat malam tiba, Ivan baru mengirim pesan.

Nada bicaranya jarang selembut itu, kata-katanya seolah demi kebaikanku.

Namun aku tahu, ini hanyalah bentuk lain dari penahanan.

Ponselku diambil olehnya, aku juga tidak bisa menghubungi dunia luar, hanya bisa menunggu.

Aku tidak mendarat tepat waktu di Isolia, entah bagaimana perasaan orang itu.

Apakah dia akan mengira aku mempermainkannya lagi?

Aku tersenyum kecil, seharusnya tidak.

Bagaimanapun, Ivan membuat nama baikku di internet tercemar, setelah melihat itu dia pasti akan mengerti.

Menunggu itu sangatlah menyiksa.

Terutama sejak tiga tahun lalu aku mengidap klaustrofobia, aku jadi sangat takut sendirian.

Ivan merasa bersalah, meski tidak menunjukkannya. Namun selama aku lama tidak muncul di hadapannya, dia akan diam-diam mencariku.

Dia bagai penguasa di wilayahnya, harus memastikan aku aman, baru bisa tenang.

Saat dia dinas luar kota dan meninggalkanku sendirian di rumah, dia tidak lagi menolak panggilan video dariku.

Saat aku mandi, dia juga akan tetap di kamar, menanggapi ocehan kosongku sesekali.

Dari berbagai detail itu, aku menyusun bukti bahwa Ivan peduli padaku, lalu diam-diam merasa bangga.

Namun kepulangan Isabella menghancurkan seluruh ilusi palsuku, membuatku tak tahu harus menaruh muka di mana.

Selama berada di sini, ketika sadar, sebagian besar waktuku dikuasai rasa cemas.

Namun aku tetap keras kepala karena kesal.

Aku ingin melihat, sejauh mana Ivan bisa bersikap kejam.

Apa dia akan mengingat penyakitku, seperti dulu datang dengan canggung untuk melihatku?

Atau dia sekadar menelepon sekali saja?

Tapi hari demi hari, yang kunantikan hanyalah bibi pengantar makanan dan perawat yang datang mengganti obat.

Lalu dari mulut mereka, aku mendengar kisah kemesraan keduanya.

Isabella melukai pergelangan tangannya, Ivan pun memanggil dokter kulit paling berwenang untuk meracik obat untuknya.

Nafsu makan Isabella memburuk, Ivan menghabiskan waktu di dapur membuat delapan belas hidangan untuk dipilihnya.

Isabella begini, Isabella begitu ....

Perawat menghela napas kagum, mengatakan Isabella beruntung bisa mendapatkan cinta Ivan yang begitu terang-terangan dan penuh kemewahan.

Mereka lalu melirikku dengan tatapan meremehkan, mendengus sinis.

Jelas, demi membersihkan nama baik Isabella, Ivan tak segan-segan menjelek-jelekkanku.

Jelas, selama tujuh hari ini dia sama sekali tidak memikirkanku.

Hatiku dari nyeri yang menyesakkan berubah menjadi mati rasa, hingga tak lagi menimbulkan riak sedikit pun.

Setelah mendapatkan kembali ponselku, tanpa sedikit pun rasa keterikatan, aku bersiap membeli tiket untuk pergi.

Namun sebuah email asing terlebih dulu muncul, entah kenapa aku membukanya.

"... aku nggak percaya kamu sama sekali nggak punya perasaan pada Melinda!" Rekaman berderak, suara Ivan terdengar ingin membuktikan sesuatu.

"Bagaimana supaya kamu percaya? Saat dia mengejarku dulu, semua orang di sekitarku tahu aku sangat terganggu olehnya, bahkan sampai muak. Pernikahan ini juga hanya kerja sama, nggak beda dengan perjodohan."

"Bagaimanapun kalian bersama tujuh tahun, masa nggak ada perasaan yang tumbuh seiring waktu? Bagaimana kamu membuktikannya?"

Ivan terdiam lama sebelum akhirnya berkata, "Aku nggak akan punya anak dengan orang yang nggak kucintai."

"Dia dulu ingin menahanku dengan anak, tapi aku ... nggak bisa menerimanya, jadi aku menyuruh dokter mencari alasan untuk menggugurkannya. Dia sedih lama sekali."

"Setelah itu dia masih belum menyerah, aku nggak menghentikannya, tapi juga nggak memberitahunya bahwa aku sudah vasektomi."

Kepalaku berdengung.

Dunia di depan mata terasa terdistorsi.

Telingaku dipenuhi dengungan, keringat dingin muncul di dahi.

Seolah dalam sekejap kembali ke tahun lalu, saat jatuh dari puncak ke dasar jurang.

Hari sebelumnya mengetahui kehamilan, hari berikutnya dokter mengatakan janin mengalami kelainan dan harus digugurkan.

Aku hancur, menyalahkan diri sendiri, merasa karena sibuk menghadiri jamuan, aku telah kehilangan anak pertama kami.

Namun sekarang justru terungkap ....

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 10

    Melihat bagaimana Ivan bersumpah dengan penuh keyakinan, aku hanya mengajukan satu pertanyaan."Apa kamu mencintaiku?"Aura di sekitar Bryan terasa makin dingin, dia menatapku dengan sedikit tegang.Aku pelan menyentuh punggung tangannya sebagai penenang.Ivan pun tertegun sejenak, lalu menjawab dengan tegas, "Aku mencintaimu!"Ekspresiku tetap tenang, aku bertanya lagi, "Apa kamu mencintai Isabella?"Ivan ragu, alisnya menunjukkan kebingungan."Linda, aku ditipu olehnya, aku mencintaimu. Terhadap dia ... aku nggak punya perasaan."Aku perlahan tersenyum tipis. "Ivan, kamu berbohong."Sebenarnya, terkadang aku lebih memahami Ivan daripada dirinya sendiri.Dia terlihat dewasa, tetapi dalam hal perasaan, justru sangat berbelit.Aku percaya selama tujuh tahun ini dia punya perasaan padaku.Namun dibandingkan dengan yang dia berikan pada Isabella, terlalu sedikit, terlalu tidak berarti."Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu yang membuat pilihan."Bibir Ivan bergetar.Dia teringat saat

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 9

    Ivan mengernyit melihat bubur di atas meja.Namun di kepalanya justru terbayang sosok Melinda di dapur, sibuk membuat bubur penyehat lambung untuknya.Suasana hatinya makin buruk."Aku nggak selera makan."Isabella merasakan sikap dingin Ivan, menggigit bibir bawahnya dengan kesal.Masih tak mau menyerah, dia berkata, "Ivan, kematian Melinda memang pantas. Dia ingin membunuhku, dia memang pantas menerima itu!" Ivan tiba-tiba mencekik lehernya, mengertakkan gigi dan berkata, "Tarik kembali ucapan itu! Melinda nggak mati, dan dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu."Isabella kesulitan bernapas. "Jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta padanya? Jangan lupa! Dulu dia yang mengusirku! Kalau nggak, yang bersama seharusnya kita!"Ivan teringat alasan dia dulu tidak mau menanggapi Melinda.Setelah menikah, sebenarnya dia berniat menjalani kehidupan sebagai pasangan biasa dengan Melinda.Namun saat perjalanan dinas ke luar negeri, dia tanpa sengaja bertemu Isabella dan mengetahui sesua

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 8

    "Bukankah aku baik-baik saja?"Aku berpura-pura santai, tersenyum untuk meredakan suasana.Bryan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya, nada suaranya bergetar."Mulai sekarang aku nggak akan membiarkan siapa pun merebutmu lagi."Saat ini, Ivan berdiri dengan wajah dingin seperti es, menatap ke arah laut.Tim penyelamat naik satu demi satu.Namun tak satu pun membawa kabar baik.Wajah Shuman terlihat pucat. "Pak Ivan, sudah satu hari satu malam pencarian dilakukan, tapi tetap nggak ada jejak.""Nyonya seolah menghilang begitu saja ... apa mungkin ...."Meski pertolongan datang tepat waktu, bagaimanapun itu laut sedalam puluhan ribu meter.Apa pun bisa terjadi.Kalau sampai bertemu jenis ikan yang buas di laut ....Dia tak berani melanjutkan pikirannya.Wajah Ivan tanpa ekspresi, tetapi lengan yang sedikit gemetar sudah membocorkan kepanikan di lubuk hatinya."Perluas area pencarian, tambahkan personel.""Hidup atau mati pun harus ditemukan ...."Sudah melewati waktu terbaik untuk peny

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 7

    "Pak Ivan, tim penyelamat sudah mencari lama, tapi nggak menemukan keberadaan Nyonya!" Mata Ivan sontak membelalak karena marah dan panik. "Apa kamu bilang?"...Dingin.Kedinginan yang menusuk hingga ke tulang.Isabella memelukku dan segera melompat ke laut.Aku hanya sempat mendengar Ivan berteriak memanggil namaku dengan penuh kepedihan.Gendang telinga dipenuhi air laut, lalu yang tersisa hanya detak jantung di tengah kesunyian.Di kejauhan, sebuah sosok berenang ke arahku, naluri untuk hidup membuatku tanpa sadar mengulurkan tangan.Saat ujung jari hampir bersentuhan, terdengar teriakan Isabella dari kejauhan.Ivan terdiam sejenak, lalu dengan tegas berbalik dan berenang ke arah Isabella.Tanganku tidak bisa meraih apapun, dan punggung Ivan seolah bertumpuk dengan bayangan tujuh tahun lalu.Musim dingin itu, saat aku tahu harus menerima perjodohan keluarga dengan seorang bos yang tujuh belas tahun lebih tua dariku.Aku bersembunyi di atap gedung, menangis diam-diam untuk waktu yan

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 6

    Tak lama kemudian, banyak perahu kecil penyelamat bermunculan di permukaan laut.Ivan mengangkat Isabella ke atas kapal layar, di sana sudah ada asisten dan dokter yang menunggu.Dia secara tanpa sadar hendak kembali melompat ke laut, tetapi ditahan oleh Isabella.Tubuh Isabella basah kuyup, gemetar kedinginan."Ivan ... temani aku ...."Alisnya sedikit berkerut, keraguan melintas di matanya.Shuman melirik permukaan laut, lalu berkata, "Pak Ivan, tim penyelamat sudah mulai melakukan pencarian."Maksud tersiratnya, sekarang, kalau Ivan ikut turun ke air lagi, itu hanya akan menjadi penghiburan bagi dirinya sendiri, tidak akan membantu apa pun.Ivan pun berkata dengan suara rendah, "Suruh mereka bergerak lebih cepat."Setelah berganti pakaian bersih, suhu tubuhnya perlahan kembali normal.Seusai diperiksa dokter, selain pipi yang bengkak kemerahan, tubuh Isabella tidak mengalami luka lain.Namun karena jatuh ke laut dan terkejut, mentalnya kurang stabil.Dia bersikeras Ivan harus berada

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 5

    Ternyata bukan karena Ivan tidak menginginkan anak, melainkan dia yang membunuh janin sehat dalam kandunganku.Perut bagian bawah terasa nyeri hebat seperti terkoyak.Aku pun terjatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara.Di tengah suara cemas perawat yang bertanya, terdengar suara rendah."Linda, kamu kenapa?"Wajah Ivan dipenuhi kekhawatiran, lalu berteriak memanggil dokter.Kelembutan yang dulu paling kuharapkan, kini justru bagai ular berbisa yang melilit dan mencekikku.Tubuhku kaku gemetar, Ivan menepuk punggungku seperti saat aku kehilangan anak dulu.Dengan muak aku mendorongnya, berdiri dengan susah payah.Tanpa sadar Ivan mengernyit. Namun saat melihat wajahku yang pucat, ekspresinya melunak, sekilas rasa bersalah melintas di matanya."Linda, beberapa hari ini aku ...."Ivan sudah siap menghadapi aku yang akan menangis, marah, dan menyalahkannya.Namun setelah menenangkan napas, aku hanya menatapnya dengan penuh ejekan, lalu beranjak pergi.Ivan tertegun menatap punggungk

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 3

    "Aku tahu sifat Melinda, setelah dia tahu, dia pasti nggak akan berhenti begitu saja.""Bella sudah tertekan, aku nggak bisa memberinya kesempatan untuk berbicara lagi."Alat medis di samping tempat tidur berbunyi "bip bip".Aku menatap kosong ke langit-langit, membiarkan air mata mengalir ke rambut

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 2

    Aku menjawab tidak perlu, lalu menarik koper dan bersiap pergi ke bandara.Baru saja pintu dibuka, nada dering telepon kembali berbunyi nyaring seolah mendesak.Suara Ivan terdengar dingin menusuk. "Melinda. Berita-berita itu kamu yang suruh orang sebarkan?"Aku tanpa sadar mengernyit. "Apa maksudmu

  • Perpisahan di Malam Salju   Bab 1

    "Sudah dipikirkan baik-baik? Kapan kamu datang?""Penerbangan dua jam lagi."Di ujung telepon terdiam sesaat, lalu terdengar suara pria yang rendah dan dalam."Hmm. Nanti kujemput kamu."Angin dingin mengamuk. Di Kota Jorden akhirnya perlahan turun salju pertama tahun ini.Saat jemariku terangkat, s

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status